Iqbal Hasanuddin

THERAVADA DAN MAHAYANA: TELAAH ATAS DUA ALIRAN UTAMA AGAMA BUDDHA DI INDIA

Posted by iqbalhasanuddin pada Oktober 1, 2016

PENGANTAR

India adalah saksi bagaimana Buddhisme lahir, menjadi agama besar, namun akhirnya kembali menjadi agama minoritas. Kemunculan Buddhisme pada kurun antara 560 s.d. 600 S.M. tidak bisa dilepaskan dari sosok Siddharta Gautama yang mendapatkan pencerahan spiritual pada usia sekitar 30 tahun untuk kemudian menyebarkan ajarannya ke seluruh pelosok India selama 45 tahun.[1] Kemudian, Buddhisme menjadi agama terbesar di India berkat kepemimpinan raja Asoka pada 273 sampai 231 S.M.[2] Lantas, karena beberapa faktor yang sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan, Buddhisme mulai kehilangan daya tariknya di kalangan orang-orang India mulai 232 S.M.[3]

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab redupnya daya tarik Buddhisme di India? Apakah perpecahan yang terjadi di antara Theravada dan Mahayana menjadi penyebab utama redupnya daya tarik Buddhisme di India? Apakah orientasi Theravada pada kehidupan biara telah menyebabkan Buddhisme menjadi sangat elitis sehingga kurang bisa menyentuh hati mayoritas masyarakat awam India? Atau apakah orientasi mistik dan sinkretik Mahayana telah mendorong orang-orang India untuk tetap berada di dalam Hinduisme? Bagi orang-orang India, jika Mahayana menawarkan ajaran berorientasi mistik yang sama dengan tradisi Hinduisme, lantas atas dasar apa mereka merasa harus keluar dari Hinduisme dan menjadi pemeluk ajaran Sang Buddha?

Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyan itu melalui analisis atas munculnya aliran Theravada dan Mahayana di dalam Buddhisme, serta karakteristik khasnya masing-masing. Secara khusus, tulisan ini mencoba menunjukan dua hal. Pertama, dua dimensi pencerahan Sang Buddha yang ikut memberi andil dalam kemunculan kedua aliran tersebut. Kedua, munculnya kedua aliran tersebut menjadi tanda adanya hubungan dialektis antara Buddhisme dengan tradisi keagamaan dan filsafat India. Pada satu sisi, Buddhisme berhasil menyerap ajaran-ajaran India kuno untuk kemudian memperbaharuinya. Namun demikian, di lain sisi, Buddhisme juga dipengaruhi kembali oleh praktik-praktik keagaamaan serta filsafat India yang pada giliranya ikut mendorong munculnya Theravada dan Mahayana.

Tulisan ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Bagian “Dua Dimensi Pencerahan Siddharta Gautama” menjelaskan adanya “syarat-syarat kemungkinan” di dalam pencerahan spiritual Buddha sendiri yang mendorong munculnya aliran Theravada dan Mahayana. Kemudian, bagian “Munculnya Perpecahan antara Theravada dan Mahayana” berisi telaah historis dan kultural atas munculnya kedua aliran tersebut. Bagian “Perbedaan-perbedaan antara Theravada dan Mahayana” menjelaskan beberapa karakteristik utama yang membedakan kedua aliran ini, yang mencakup pandangan tentang metafisika, agama dan etika. Terakhir, tulisan ini ditutup dengan sedikit tanggapan penulis.

DUA DIMENSI DALAM PENCERAHAN SIDDHARTA GAUTAMA

Siddharta Gautama lahir pada 560-an SM. di India bagian timur laut, kira-kira seratus mil dari Benares. Siddharta adalah nama kecilnya. Gautama adalah nama keluarganya. Ayahnya adalah seorang bangsawan feodal di daerah itu—kadang juga disebut sebagai seorang raja. Ibu Siddharta meninggal dunia seminggu setelah melahirkannya. Karenanya, Sidhharta kecil diasuh dan dibesarkan oleh bibinya dalam kemewahan lingkungan kerajaan. Pada usia 16 tahun, ia menikahi seorang putri negara tetengga bernama Gopa atau Yahodara. Bersamanya istrinya ini, ia mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Rahula. Dalam hal ini, sebagai anak raja, Siddharta adalah orang yang sangat dihormati serta menikmati kemewahan harta. Ia juga berkeluarga dengan istri dan anak di sisinya.[4]

Namun demikian, di usia 20-an, Siddharta mulai merasakan kegelisahan eksistensial terkait derita kehidupan manusia, yang lantas mendorongnya untuk meninggalkan kehidupan istana dan keluarganya.[5] Karenanya, pada usia 29 tahun, Siddharta memutuskan untuk memulai petualangannya mencari kebenaran sebagai obat dari kegelisahan eksistensialnya. Pada tengah malam, ia secara diam-diam berpamitan kepada istri dan anaknya yang sedang tertidur. Setelah itu, ia pergi ke arah hutan belantara dengan menggunakan kuda dan diiringi oleh pelayannya. Ia sampai di hutan itu pada pagi hari. Ketika itu, ia mengganti pakiannya dengan pakian yang sangat sederhana serta menyerahkan kudanya kepada pelayannya untuk dibawa kembali ke istana sambil memberitahukan keputusannya untuk pergi kehutan kepada keluarga istana. Dengan pakaian sangat sederhana dan rambut yang sudah dicukur, Siddharta masuk ke dalam hutan belantara itu.[6]

Dalam upayanya menemukan kebenaran, Siddharta berada di hutan selama kurang lebih empat tahun. Pertama-tama ia menemui dua orang guru Hindu terkemuka ketika itu untuk belajar tentang ajaran-ajaran Hindu, termasuk di dalamnya filsafat dan raja yoga. Setelah itu, Siddharta bergabung dengan sekelompok pertama untuk mempraktikkan ajaran-ajaran dari gurunya. Ketika itulah, ia begitu keras menjalankan upayanya sehingga tubuhnya menjadi sangat lemah. Saking lemahnya, sampai-sampai ia jatuh pingsan. Sampai di sini, upaya Siddharta untuk menemukan kebenaran belum terpenuhi. Ia menyimpulkan bahwa sangat sia-sia untuk menjalankan pertapaan seperti itu. Upayanya itu tidak mendatangkan hasil. Karenanya, Siddharta kemudian meninggalkan pertapaan dan memulai upaya pencarian kebenaran dengan menjalankan raja yoga, yakni upaya untuk menggabungkan pikiran yang tenang (meditasi) dengan konsentrasi mistik. Ia menjalankan meditasi raja yoga dengan duduk di bawah pohon ara yang belakangan dikenal sebagai pohon Bodhi yang berarti penerangan rohani.[7] Setelah sekian lama bermeditasi, Siddharta akhirnya mencapai apa yang selama ini ia cari: Pencerahan.[8] Melalui pencerahan ini, Siddharta Gautama kemudian menjadi Sang Budhha, orang yang menerima pencerahan.[9]

Setelah itu, diceritakan bahwa Sang Buddha sebetulnya masih digoda dengan satu persoalan: segera masuk ke Nirvana yang abadi atau kembali ke dunia untuk menyelamatkan dunia? Meskipun pencapaiannya pada level Buddha adalah puncak dari pencarian spiritual yang akan segera mengantarkan Siddharta Gautama ke Nirvana, namun Sang Buddha lebih memilih untuk menyebarkan dharma di dunia dan berharap ada banyak orang yang mendapatkan pencerahan sebagaimana dialaminya. Ini tentu bukan persoalan mudah karena pencerahan seperti dialami oleh Gautama Buddha bersifat sangat personal. Jika pengalaman ini akan disampaikan kepada masyarakat, maka terdapat kendala-kendala yang bersifat kebahasaan. Tapi keputusan Gautama Buddha sudah bulat. Kebenaran hendak disampaikan ke seluruh dunia betapapun sulitnya itu.[10]

Keputusan Sang Buddha untuk menyampaikan kebenaran kepada seluruh dunia telah membawanya berkeliling India selama 45 tahun. Selama itu, Sang Buddha meraih banyak pengikut yang terdiri dari dua kelompok: para bhikhu (rahib) dan orang-orang awam yang tetap bekerja di dalam masyarakat. Selain melatih secara ketat para  muridnya yang menjadi anggota ordo (para bhikhu), Sang Buddha juga sangat rajin berkotbah di muka umum atau memberikan bimbingan secara pribadi kepada orang-orang tertentu. Ini dilakukan sampai kira-kira tahun 480 Sebelum Masehi ketika ajal menjemputnya.[11]

Dari latar belakang kehidupannya, peristiwa pencerahan spiritual dan berbagai kegiatan menyebarkan dharma setelah pencerahan itu menampilkan dua dimensi dari sosok Sang Buddha dan ajarannya. Dimensi pertama adalah sosok Siddharta Gautama yang meningalkan kehidupan duniawi dan hidup bertapa demi pencerahan spiritual. Upaya ini diteruskan oleh Sang Buddha kepada murid-muridnya yang memutuskan untuk menjadi anggota ordo Buddhis (bikhu). Para bhikhu dan bhikhuni anggota ordo Buddhis membiarkan diri mereka membentuk kelompok khusus yang terpisah dari kehidupan masyarakat pada umumnya demi upaya mencapai pencerahan. Dimensi kedua adalah sosok Sang Buddha yang setelah memperoleh pencerahan spiritual memilih untuk menunda masuk ke dalam Nirvana agar bisa membantu orang lain memperoleh pencerahan. Dimensi kedua dari Buddha dan ajaran sosialnya ini banyak diminati oleh pemeluk Buddhis dari kelompok awam, di luar para bhikhu dan bhikuni anggota ordo Buddhis. Pada perkembangan berikutnya, dua dimensi sosok Sang Buddha dan ajarannya itu ikut mendorong kemunculan dua aliran utama di dalam Buddhisme, yakni: aliran Theravada yang lebih cenderung kepada dimensi pertama dan aliran Mahayana yang berpijak pada dimensi kedua.[12]

MUNCULNYA PERPECAHAN ANTARA THERAVADA DAN MAHAYANA

Sejak memperoleh pencerahan spiritual, Sang Buddha tampil sebagai seorang guru spiritual sekaligus pemimpin organisasi keagamaan yang didirikannya. Murid-murid dan para anggota organisasi keagamaannya itu terdiri dari dua kelompok: para bhikhu dan bhikuni yang menjalankan kehidupan biara secara ketat serta orang-orang awam yang menjalani kehidupan biasa. Kedua kelompok ini menjalankan ajaran-ajaran Sang Buddha dengan cara yang berbeda.[13]

Wafatnya Gautama Buddha telah memunculkan suatu persoalan besar bagi organisasi keagamaan yang didirikan Sang Buddha: hilangnya guru sekaligus pemimpin. Padahal, ketika itu, Buddhisme masih merupakan agama baru di India di tengah-tengah dominasi berbagai kelompok Brahmanisme. Kehilangan Sang Buddha tampak merupakan persoalan yang akan mengancam keberlangsungan ajaran dan organisasi keagamaan dari Sang Buddha. Terlebih, sebagaimana dikisahkan oleh berbagai sumber Buddhisme, tidak ada satu orang pun di antara murid-murid atau pengikut dari Sang Buddha yang memiliki kualitas spiritual dan kepemimpinan sepadan dengan Sang Buddha.[14]

Dalam keadaan seperti ini, muncul inisiatif dari para murid dan pengikut Sang Buddha untuk membicarakan keberlangsungan ajaran dan organisasi keagamaan mereka. Inisiatif ini diwujudkan dalam bentuk pertemuan  pertama  para murid dan pengikut Sang Buddha di tahun yang sama dengan tahun wafatnya Sang Buddha. Pertemuan itu dilaksanakan di Saptaparna-guha atau Gua Tujuh Daun, di sebuah lereng di Rajagaha, ibu kota kerajaan Magadha. Pertemuan ini dipimpin oleh Mahakasyapa, Ananda, Upali dan beberapa orang lain di antara Sepuluh Murid terkemuka Sang Buddha. Pertemuan ini dihadiri oleh lima ratus bhiksu dan bhiksuni.[15]

Di dalam pertemuan tersebut, sebagai orang yang paling tua di antara para murid Sang Buddha, Mahakasyapa mempersilahkan Ananda untuk menyampaikan ajaran Sang Buddha tentang doktrin kepercayaan atau Dharma yang kemudian dikenal sebagai sutra. Ananda kemudian mulai menjelaskan berbagai hal terkait sutra, termasuk di dalamnya khotbah pertama Sang Buddha tentang Empat Kebenaran Mulia di depan lima orang muridnya di Taman Rusa di kota Sarnath, beberapa saat sebelum memasuki Benares. Setelah itu, Mahakasyapa juga meminta Upali untuk menyampaikan ajaran-ajaran Sang Buddha tentang sejumlah peraturan disiplin (vinaya). Ditambah dengan sejumlah shastra (tafsir atas ajaran-ajaran Sang Buddha), sutra dan vinaya itu kemudian membentuk apa yang sekarang dikenal sebagai Tripitaka atau kanon Buddhisme.[16]

Seratus tahun setelah Pertemuan Pertama, para pemeluk ajaran Sang Buddha kembali berkumpul di dalam Pertemuan Kedua. Pada petemuan inilah, Buddhisme terpecah menjadi dua kelompok besar: Theravada (Ajaran Orang Tua) dan Mahasanghika (Anggota-anggota Ordo Besar). Pada perkembangkan berikutnya, Mahasanghika ini menjadi cikal-bakal dari aliran Buddha Mahayana. Berbeda dengan latar belakang diadakannya Pertemuan Pertama yang didorong oleh keinginan untuk mempertahankan keberlangsungan ajaran-ajaran Sang Buddha setelah wafatnya, alasan diadakannya Pertemuan Kedua ini lebih disebabkan oleh faktor munculnya perbedaan interpretasi atas substansi ajaran-ajaran Sang Buddha. Secara khusus, Pertemuan Kedua ini dipicu oleh usulan yang diajukan oleh para bhiksu dari suku Vajji di kota Vashali yang ingin mengubah sepuluh perbuatan yang awalnya terlarang bagi anggota Ordo Buddhis menjadi boleh dilakukan. Usulan itu di antaranya terkait dengan larangan bagi para bhiksu untuk menyimpan bahan makanan macam apapun. Mereka mengusulkan agar para bhiksu diperbolehkan untuk menyimpan garam. Selain itu, mereka juga mengusulkan agar para bhiksu diperbolehkan makan setelah jam dua belas siang serta dalam keadaan tertentu diperbolehkan menggunakan perlengkapan tidur, tikar dan jubah yang berbeda dari apa yang telah ditetapkan oleh peraturan ordo. Usulan itu juga termasuk di dalamnya untuk memperbolehkan minum berbagai minuman yang awalnya dilarang. Terakhir, usulan itu menghendaki agar para bhiksu diperbolehkan untuk menerima hadiah berupa mas dan perak di mana sebelumnya penerimaan hadiah dalam bentuk apapun dilarang.[17]

Menyikapi beberapa usulan dari para bhiksu Vaishali tersebut, sejumlah bhiksu dari kalangan tua dari berbagai wilayah di India mengadakan pertemuan di Vaishali. Sepuluh orang di antaranya diminta untuk mengkaji usulan-usulan itu. Sebagai hasilnya, kesepuluh bhiksu dari kalangan tua itu menyatakan bahwa “Sepuluh Petunjuk dari Bhiksu Vaishali dalam sorotan ajaran tentang disiplin yang diturunkan dari Pertemuan Pertama adalah tidak sah.” Namun demikian, di samping penolakan oleh para bhiksu dari kalangan tua atas usulan-usulan para bhiksu Vaishali, ada banyak pula yang mengapresiasinya sebagai upaya untuk mereinterpretasi ajaran-ajaran Sang Buddha berdasarkan substansinya, bukan semata-mata berdasarkan formalitasnya. Dikatakan bahwa di luar kelompok tua yang berkumpul di dalam Pertemuan Kedua, ada juga pertemuan lainnya yang melibatkan sepuluh ribu bhiksu. Pertemuan ini disebut sebagai “Pengajian Kelompok Besar” atau “Para Anggota Ordo Besar”. Inilah titik awal perpecahan antara ordo bhiksu dari ajaran kalangan tua (Theravada) dan ordo besar (Mahasanghika).[18]

Demikian, Mahasanghika adalah cikal-bakal dari aliran Buddhisme Mahayana. Namun, ajaran-ajaran dan filsafat Mahayana sendiri sebetulnya baru dirumuskan dengan baik oleh para pemikir seperti bhiksu Ashvahgosa dan bhiksu Nagarjuna. Ashvagosa menulis karya-karyanya pada abad pertama dan kedua Masehi, sementara Nagarjuna menuliskan filsafatnya pada abad kedua dan ketiga Masehi. Setelah keduanya, muncul Vasubandhu yang menulis pada abad kelima Masehi. Ketiga orang ini pada awalnya adalah pengikut Buddhisme Theravada atau Hinayana, tapi kemudian beralih menjadi para pemikir Buddhisme Mahayana.[19]

PERBEDAAN ANTARA THERAVADA DAN MAHAYANA

Menurut Radhakrishnan, munculnya Buddhisme Theravada (Hinayana) adalah suatu perkembangan logis dari prinsip-prinsip yang ada dalam Pali Canon sebagai kitab suci mereka.[20] Aliran Buddhisme yang banyak berkembang di Myanmar, Thailand, dan tempat-tempat lain di Asia Tenggara ini memang mendasarkan ajaran-ajaranya pada Pali Canon, yang dipercayai sebagai catatan paling akurat tentang apa yang dikatakan dan dilakukan Buddha.[21] Buddhisme Theravada menekankan bahwa Buddha hanyalah seorang manusia, seseorang yang telah mencapai pencerahan, dan bahwa pencerahan dapat dicapai dengan mengikuti teladan dan pengajarannya.[22]

Di dalam komunitas Therevada, terdapat dua kelompok umat. Pertama, para biarawan dan biarawati atau rahib Buddha, yang disebut bhikku—yang sama sekali tergantung pada kaum awam Buddha untuk makanan dan pakaian mereka—adalah mereka yang bebas dari tugas rumah tangga sehingga mereka mempunyai kesempatan yang baik untuk mencapai Nirvana. Di antara mereka, yang paling dekat pada pencerahan adalah para “rahib hutan”, yang menjalankan meditasi dengan sangat ketat. Hampir tidak mungkin bagi orang awam untuk mendapatkan pencerahan. Karenanya, jika seseorang ingin mendapatkan pencerahan, ia harus menjadi seorang rahib—seorang bhikku. Kedua, pemilik rumah tangga yang akan menerima kemurahan kelahiran kembali pada masa yang akan datang dengan cara memberikan makanan, pakaian, dan uang kepada para rahib.[23]

Sementara itu, Buddhisme Mahayana mengembangkan ajaran-ajaran Buddha yang memiliki karakteristik berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Buddhisme Theravada. Kata “Mahayana” dalam istilah Buddhisme Mahayana berarti “kendaraan besar”. Buddhisme Mahayana memandang Siddharta Gautama sebagai manusia yang memiliki kelebihan. Mereka percaya bahwa pernah ada Buddha, ada Buddha, dan akan ada banyak Buddha lainnya. Buddhisme Mahayana menyatakan bahwa mereka lebih banyak memberikan peluang bagi siapapun untuk mendapatkan pencerahan daripada Buddhisme Theravada.[24]

Buddhisme Mahayana mendasarkan ajaran-ajarannya pada kitab suci yang pada masa-masa awalnya ditulis dalam bahasa Sanskerta, yaitu bahasa India pertama. Kebanyakan isinya dapat dijumpai dalam Pali Canon tetapi dengan penambahan kitab-kitab lainnya. Dinyatakan bahwa kitab-kitab tambahan ini dipercayai sebagai “sabda Buddha”. Salah satu di antaranya yang paling terkenal ialah Sutra Vimalakirti, yang berisi tentang seseorang yang berumah tangga tetapi hidupnya lebih suci daripada semua Boddhisattva. Sementara itu, umat Buddha Tibet yang beraliran Mahayana percaya bahwa banyak kitab suci masih tersembunyi sampai komunitas Buddha siap menerima dan mengerti ajarannya.[25]

Di antara kedua aliran utama dalam Buddhisme ini, terdapat beberapa perbedaan pandangan sebagai berikut. Sementara Theravada memandang setiap manusia sebagai pribadi, Mahayana berpandangan bahwa seluruh manusia saling terkait; nasib seorang manusia juga terhubung dengan nasib manusia-manusia lainnya. Terkait dengan ajaran tentang keselamatan, Theravada memandang bahwa keselamatan manusia tergantung pada upaya dirinya sendiri, sementara Mahayana meyakini perlunya bantuan Boddhisattva untuk bisa memperoleh keselamatan. Di dalam Theravada, kebajikan utama adalah kerarifan, sementara di dalam Mahayana adalah belas kasih (karuna). Aliran Theravada berpusat pada kalangan bhikhu-bhikhuni, sementara Aliran Mahayana menyandarkan diri pada kalangan awam. Tujuan yang ingin dicapai olah Theravada adalah menjadi Arahat (orang yang telah memperoleh pencerahan), sementara Mahayana ingin menjadi Boddhisattva, yakni orang yang kendati telah mencapai pintu gerbang Nirvana namun secara sukarela menunda masuk ke Nirvana demi kembali ke dunia agar bisa membantu orang lain mencapai Nirvana. Perbedaan tentang tujuan dari kedua aliran ini disebabkan oleh perbedaan pandangan tentang sosok Sang Buddha. Bagi Theravada, Sang Buddha adalah seorang guru, sementara bagi Mahayana ia adalah seorang juru selamat. Kemudian, dalam persoalan metafisika, Hinayana cenderung menolak untuk bermetafisika dan lebih memilih untuk menjalankan disiplin sebagaimana diajarkan di dalam Pali Canon. Sementara itu, Mahayana cenderung berorientasi kepada pemikiran-pemikiran metafisika yang bersifat spekulatif.[26]

Perbedaan-perbedaan antara Theravada dan Mahayana tersebut bisa dipaparkan dengan bagan sebagai berikut:

PERBEDAAN-PERBEDAAN ANTARA THERAVADA DAN MAHAYANA

NO DIMENSI AJARAN THERAVADA MAHAYANA
1 Hubungan antar-manusia Manusia sebagai pribadi Manusia terlibat dengan sesamanya
2 Hubungan manusia-alam Manusia sendirian dalam alam Manusia tidak sendirian
3 Kebajikan utama Kearifan Karunia, belas kasih
4 Cita-cita Arhat Boddhisatva
5 Posisi Buddha Guru Penyelamat
6 Orientasi pada metafisika Menghindari metafisika Mendalami metafisika

 

Agar sedikit lebih rinci, pandangan-pandangan dari aliran-aliran Buddhisme ini akan dielaborasi, terutama terkait dengan pandangannya tentang metafisika, agama dan etika. Tentu saja, karena Mahayana lebih banyak tertarik pada persoalan-persoalan metafisika yang bersifat spekulatif, maka banyak dari isi ulasan berikut terkait dengan pandangan-pandangan Mahayana. Sementara pandangan Theravada sedikit diulas jika diperlukan untuk membandingkannya dengan Mahayana.

Pandangan tentang Metafisika

Perbedaan pandangan filosofis antara Buddhisme Theravada dan Buddhisme Mahayana disebabkan oleh perbedaan cara pandang dalam melihat: Apakah ada sebuah dunia yang abadi? Apakah realitas adalah mental atau fisikal, atau bukan keduanya? Perbedaan padangan tentang realitas (ontologi) ini menimbulkan perbedaan pemahaman soal epistemologi: Kemudian muncul juga pertanyaan epistemologis, seperti: bagaimana kita dapat mengetahui realitas? Apakah kita mengetahui realitas secara langsung atau tidak langsung?[27] Terkait dengan persoalan filosofis ini, Theravada memunculkan dua filsafat: Vaibhashika dan Saurantika. Sementara itu, Mahayana memberikan tanggapan filosofis melalui dua filsafat utamanya: Yogacara dan Madhyamaka.[28]

Bagi Vaibhashika, realitas adalah objek jasmani dan batin. Substansi benda-benda memiliki eksistensi tetap di masa lampau, sekarang dan akan datang. Mereka berargumen bahwa objek eksternal diketahui secara langsung melalui persepsi, bukan melalui penyimpulan. Pengetahuan kita tentang objek-objek eksternal bukan merupakan ciptaan pikiran subjektif, tetapi penemuan objek-objek yang disodorkan kepada kita. Dari sini, kita mengetahui bahwa objek eksternal harus ada, karena tidak akan ada persepsi tanpa objek persepsi. Karenanya, aliran Vaibhasika meyakini teori realisme langsung yang dualistis.[29]

Sementara itu, Sautrantika berpandangan bahwa realitas adalah objek jasmani dan batin, tetapi kita tida memiliki persepsi langsung terhadap objek eksternal. Apa yang kita persepsikan secara langsung adalah ide-ide, yang bukan merupakan objek riil, namun hanya salinan/tiruan saja. Menurut aliran Sautrantika, persepsi objek eksternal tergantung pada empat hal, yakni: objek jasmani, pikiran subjektif, indera, dan kondisi-kondisi pendukung. Dalam memahami objek eksternal, ada empat hal yang harus ada: (1) objek yang memberikan bentuk tertentu kepada kesadaran; (2) pikiran yang menyebabkan kesadaran akan bentuk; (3) sebuah indera untuk menentukan apa itu kesadaran; dan (4) kondisi pendukung seperti cahaya dan posisi. Semua unsur ini akan disatukan sehingga menghasilkan persepsi. Karenanya, aliran Sautrantika percaya bahwa dunia atau objek luar telah kehilangan sebagian dari realitasnya dan menjadi penyebab hipotesis imaji-imaji kita. Imaji atau ide kita adalah sebuah ‘kemiripan’ antara objek  dan kesadaran. Dengan memahami sebuah ide, kita dapat menyimpulkan eksistensi objek luar, karena tidak mungkin ada ide tanpa penyebab.[30]

Berbeda dengan dualisme ontologis yang ada di dalam aliran Theravada (Vaibhashika dan Sautrantika), filsafat Madhyamaka dan Yogacara dari aliran Mahayana lebih mengarah kepada monisme. Di sini, filsafat Madhyamaka berpijak pada padangan monistik (non-dualisme) dalam metafisika. Bagi Madhyamaka, relitas bersifat transenden terhadap konstruksi pikiran atau konvensi lingustik apapun. Dalam epistemologinya, Madhyamaka menolak empirisisme dan lebih mendukung ajaran tentang kritisisme dialektis.[31] Sementara itu, filsafat Yogacara adalah kritik langsung atas filsafat Sautrantika. Dengan kata lain, realisme tidak langsung dari Sautrantika telah membuka jalan bagi idealisme filsafat Yogacara. Argumen Yogacara adalah bahwa jika kita mengenal ide-ide, dan objek-objek sebagai hasil penyimpulan ide, maka hanya pikiran atau ide yang riil; dan objek luar hanyalah merupakan proyeksi mental.[32]

Dalam tulisan-tulisan para pemikir Buddhisme Mahayana, realitas sering disebut juga sebagai Nirvana. Kata ‘Nirvana’ berarti “penghapusan” (extinction), yakni: penghapusan ego dan keinginan. Menurut Buddhisme, dengan menghapuskan keinginan (desire), dan kebodohan-kebodohan batin (avidya), maka penghapusan penderitaan akan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kecemasan dan keputusasaan akan dicapai secara serentak. Dengan hilangnya penderitaan, yang tertinggal hanyalah kedamaian serta keheningan absolut, yakni Nirvana.[33]

Pandangan tentang Agama

Pandangan tentang metafisika yang bersifat monistik di dalam Mahayana telah melahirkan karakteristik agama yang bersifat politeistik. Bagi Mahayana, semua agama adalah pewahyuan dari Dharmakaya yang sama dan membawa pesan kebenaran yang juga sama. Dharma adalah segala hal yang merembes ke dalam semua kekuatan spiritual, prinsip kehidupan yang maha dan puncak. Upaya pertama untuk mempersonifikasikan dharma adalah dengan membuat konseptualisasi Adi-Buddha, sebab pertama, Tuhan yang abadi, lebih utama dari apapun, yang pertama dari semua Buddha. Adi-Buddha ini tidak bekerja di dunia, karena yang datang ke dunia adalah para Buddha. Dalam hal ini, ada banyak Buddha di masa lalu, masa kini dan masa depan.[34]

Sebagaimana dikatakan Matius Ali, ini terkait dengan konsep “Tiga Tubuh Sang Buddha” (Trikaya): Nirmanakaya, Dharmakaya dan Sambhogakaya. Pertama, Dharmakaya adalah tubuh hukum. Dharmakaya adalah Realitas, kekosongan, sang Absolut; ia adalah Buddha universal dan transenden. Dharmakaya ini tidak dapat dijelaskan atau digambarkan, tetapi merupakan sumber serta tujuan akhir semua Buddha dan semua usaha menuju pencerahan. Dharmakaya dapat membuat segala sesuatu menjadi sarana untuk mengkomunikasikan dirinya pada orang-orang yang masih bodoh atau gelap batinnya (avidya). Kedua, Sambhogakaya (the Glorious Buddha) adalah tubuh kemuliaan; ini adalah kedudukan di mana sang Buddha atau Boddhisattva tinggal di dunia atau alam lainnya. Konsep Sambhogakaya melihat Buddha sebagai objek iman dan devosi tertinggi. Ketiga, Nirmanakaya adalah tubuh transformasi; ini adalah tubuh Buddha sejarah (historis), tubuh dalam bentuk temporer di mana Buddha muncul sebagai manusia biasa dan mengajarkan dharma dalam bahasa manusia. Tubuh pertama tidak bermanifestasi; tubuh kedua bermanifestasi hanya bagi mata iman (Boddhisattva); dan tubuh ketiga bermanifestasi secara empiris. Dalam pandangan Mahayana, Nirmanakaya merupakan fokus dari aliran Hinayana atau Theravada.[35]

Pandangan tentang Etika

Dalam bidang etika, Buddhisme Mahayana mengidealkan sosok Boddhisattva. Boddhisattva berarti orang yang memiliki pengetahuan sempurna. Secara historis, istilah ini juga dikaitkan dengan sosok Siddharta Gautama yang setelah memperoleh pencerahan spiritual memilih untuk tidak masuk ke dalam Nirvana, melainkan menyebarkan cinta kepada semesta agara semuanya bisa masuk Nirvana juga. Boddhisattva dari Mahayana ini bisa dilawankan dengan Arahat yang menjadi sosok ideal kalangan Theravada. Arahat adalah orang yang sudah mencapai pencerahan, namun betul-betul sudah melepaskan diri dari ikatan dunia.[36]

Siapapun yang ingin mencapai tahap ke-Buddhaan harus menjalani Delapan Jalan Mulia: (1) Mengerti Empat Kebenaran Mulia dengan benar; (2) Berpikir yang benar, yang membawa kepada sifat mencintai semua bentuk-bentuk kehidupan, bahkan juga kepada kehidupan yang tingkatannya paling rendah sekalipun; (3) Berbicara yang benar, dengan tujuan yang murni, mulia, dan baik; (4) Berbuat yang benar, menyangkut tindakan yang bermoral, penuh perhatian kepada sesama, dan melakukan kebaikan terhadap semua makhluk hidup; (5) Mata pencaharian yang benar, maksudnya ialah supaya umat Buddha jangan mencari mata pencaharian dari hal-hal yang mengakibatkan kekerasan, atau harus mengikuti ajaran agamanya; (6) Usaha yang benar untuk mengusir semua pikiran jahat; (7) Perhatian yang benar, yang menyangkut kesadaran terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain; (8) Konsentrasi yang benar dengan menggunakan meditasi, yang dapat menciptakan ketenangan batin seseorang dan rasa damai dengan diri sendiri maupun dengan dunia.[37]

Kedelapan Jalan itu bisa digolongkan ke dalam tiga kelompok: Pertama, Sila yang luhur, yakni orang dituntut untuk menjadi sempurna tingkah lakunya serta pergaulannya; takut akan pelanggaran-pelanggaran walaupun yang terkecil, melatih dirinya sendiri dalam peraturan Sila yang luhur; kedua, Perenungan yang luhur (Samadhi). Latihan Samadhi yang luhur adalah bilamana seorang dapat bebas dari hal-hal yang berhubungan dengan nafsu, bebas dari karma tidak baik, sehingga ia masuk ke dalam jhana (‘absorption’, trance, meditation); dan ketiga, Kebijaksanaan yang luhur (prajna). Latihan di dalam prajna berarti ia mengerti menurut kenyataan, apa adanya penderitaan, apa adanya sumber penderitaan, apa adanya pelenyapan penderitaan, dan apa adanya jalan yang menuju lenyapnya penderitaan.[38]

TANGGAPAN

Berdasarkan telaah atas kelahiran Buddhisme dan kemunculan Theravada dan Mahayana di dalam paper ini, saya membuat beberapa kesimpulan sebagai berikut. Pertama, Buddhisme lahir dan besar di India, namun kemudian menjadi minoritas di negara itu. Buddhisme adalah ajaran-ajaran yang diwejangkan oleh Siddharta Gautama setelah memperoleh pencerahan spiritual dalam konteks tradisi India kuno. Tentu saja, apapun yang muncul dalam ajaran-ajarannya senantiasa bisa dilihat dalam keterkaitannya dengan tradisi India secara keseluruhan yang banyak didominasi oleh Hinduisme. Pada perkembangan berikutnya, Buddhisme terpecah ke dalam dua aliran besar: Theravada dan Mahayana. Terakhir, Buddhisme mengalami kemunduran di India.

Kedua, Sang Buddha menyerap ajaran-ajaran yang berasal dari filsafat India. Kemudian, ia membuat pembaruan spiritualitas. Namun, ajaran-ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha tidak bisa terlepas dari pengaruh praktik keagamaan dan filsafat India yang ikut mengubah ajaran-ajarannya itu. Ini terbukti dengan munculnya dua aliran di dalam Buddhisme: Theravada dan Mahayana. Di satu sisi, Theravada mengambil inspirasi dari ajaran Sang Buddha untuk tidak terjebak di dalam pemikiran spekulatif, namun di sisi lain, aliran ini membentuk kelompok pertapa yang menjauhkan diri dari kehidupan bermasyarakat. Padahal, Sang Buddha menolak cara-cara Brahmanisme dalam mencapai kebenaran. Sementara itu, Mahayana keluar dari tradisi pertapaan Brahmanisme, tapi masuk kembali ke dalam pemikiran-pemikiran spekulatif metafisis khas India.

Ketiga, kemunculan aliran Theravada dan Mahayana di dalam Buddhisme India tidak bisa dilepaskan dari adanya dua dimensi di dalam pencerahan spiritual yang dialami Sang Buddha dan berbagai kegiatan menyebarkan dharma. Dimensi pertama adalah ajaran Buddha untuk meningalkan kehidupan duniawi dan hidup bertapa demi pencerahan spiritual. Dimensi kedua adalah adalah ajaran Sang Buddha untuk menunda masuk ke dalam Nirvana agar bisa membantu orang lain memperoleh pencerahan. Kedua dimensi ajaran Sang Buddha ini telah mendorong kemunculan dua aliran utama di dalam Buddhisme, yakni aliran Theravada yang lebih cenderung kepada dimensi pertama dan aliran Mahayana yang berpijak pada dimensi kedua.

Keempat, perpecahan aliran Theravada dan Mahayana sangat berpengaruh pada kemunduran Buddhisme India. Aliran Theravada yang berorientasi kepada upaya untuk meningalkan kehidupan duniawi dan hidup bertapa telah mengabaikan upaya untuk menyebarkan Buddhisme kepada masyarakat awam yang jumlahnya sangat banyak. Sementara itu, aliran Mahayana memang berorientasi kepada masyarakat awam yang berjumlah banyak, namun orientasi mistik dan sinkretik Mahayana, sebagaimana terdapat di dalam ajaran-ajaran India pra-Buddha, telah menyebabkan orang-orang India merasa tidak perlu menjadi bagian dari Buddhisme. Sebab, jika Mahayana memang merupakan bentuk lain dari ajaran India pra-Buddha, maka bagi orang-orang India, bukankah Mahayana akan tampak menjadi semacam gerakan reformasi bagi Hinduisme? Orang-orang India akan menerima beberapa reformasi yang diusulakan oleh Buddhisme, tapi tetap berada di dalam Hinduisme. Penerimaan atas reformasi keagamaan yang dilakukan oleh Buddhisme atas Hinduisme ini tampak misalnya dalam bentuk penghargaan orang-orang India terhadap hewan dan lingkungan.

 

 

 

BAHAN BACAAN

Ali, Matius, Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme & Buddhisme (Jakarta: Sanggar Luxor, 2010).

Ikeda, Daisaku, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, ter. T.W. Kamil, (Jakarta: Indira, 1993).

Keene, Michael, Agama-agama Dunia, terj. F.A. Soerapto (Yogyakarta: Kanisius, 2006).

Radhakrishnan, Sarvepalli, Indian Philosophy, Volume-I, (London: George Allen & Unwin LTD, 1948).

Smith, Huston, Agama-agama Manusia, terj. Saafroedin Bahar, (Jakarta: Yayasan Obor, 2008).

 

[1] Huston Smith, Agama-agama Manusia, terj. Saafroedin Bahar, (Jakarta: Yayasan Obor, 2008), h. 113.

[2] Sarvepalli Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, (London: George Allen & Unwin LTD, 1948), h. 582.

[3] Tentang kemunduran Buddhisme di India ini, lih. Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 605-608.

[4] Michael Keene, Agama-agama Dunia, terj. F.A. Soerapto (Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 68.

[5] Lih. Keene, Agama-agama Dunia, h. 68-69.

[6] Smith, Agama-agama Manusia, h. 108-109.

[7] Smith, Agama-agama Manusia, h. 110-11.

[8] Keene, Agama-agama Dunia, h. 69.

[9] Smith, Agama-agama Manusia, h. 111-112.

[10] Smith, Agama-agama Manusia, h. 112.

[11] Smith, Agama-agama Manusia, h. 113.

[12] Daisaku Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, ter. T.W. Kamil, (Jakarta: Indira, 1993), h. 87-92.

[13] Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, h. 91.

[14] Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, h. 6.

[15] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 581; Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, h. 9

[16] Lihat, Smith, Agama-agama Manusia, h. 129; Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, h. 9-12.

[17] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 581; Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, h. 21-22.

[18] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 581-582; Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, h. 32.

[19] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 583; Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, h. 92-93.

[20] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 586.

[21] Keene, Agama-agama Dunia, h. 69.

[22] Matius Ali, Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme & Buddhisme (Jakarta: Sanggar Luxor, 2010), h. 187.

[23] Keene, Agama-agama Dunia, h. 69.

[24] Keene, Agama-agama Dunia, h. 69.

[25] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 585; Keene, Agama-agama Dunia, h. 69.

[26] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 586 & 592; Smith, Agama-agama Manusia, h. 159-163; Ikeda, Buddhisme Seribu Tahun Pertama, h. 92-99; Ali, Filsafat India, h. 190.

[27] Ali, Filsafat India, h. 187.

[28] Tentang hal ini, baca Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 611-669.

[29] Lih. Ali, Filsafat India, h. 187.

[30] Ali, Filsafat India, h. 188-189.

[31] Ali, Filsafat India, h. 206-207.

[32] Ali, Filsafat India, h. 189.

[33] Ali, Filsafat India, h. 179-180.

[34] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 598.

[35] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 599; Ali, Filsafat India, h. 212.

[36] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 600.

[37] Radhakrishnan, Indian Philosophy, Volume-I, h. 601; tentang Delapan Jalan Mulia ini, lihat Smith, Agama-agama Manusia, h. 129.

[38] Ali, Filsafat India, h. 170-174.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: