Iqbal Hasanuddin

FALSAFAH ISLAM DALAM EMPAT PERTANYAAN

Posted by iqbalhasanuddin pada Oktober 1, 2016

Pengantar

Dua hal yang perlu dijelaskan di awal tentang Falsafah Islam adalah persoalan istilah dan definisi. Terkait istilah, perlu diklarifikasi terlebih dahulu istilah manakah yang tepat untuk dipakai di antara “falsafah” ataukah “filsafat” di dalam penggunaannya dalam bahasa Indonesia untuk merujuk kepada kegiatan berpikir falsafi. Hal lain yang memerlukan juga penjelasan adalah penggunaan istilah “hikmah” untuk menyebut falsafah sebagaimana digunakan oleh Suhrawardi dan Mulla Shadra misalnya. Selain tentang peristilahan tersebut, hal lainnya yang sejatinya dijelaskan dari permulaan adalah soal definisi dan konsepsi Falsafah Islam sendiri: Apakah yang dimaksud dengan Falsafah Islam? Mengapa tidak menggunakan istilah Falsafah Arab? Mengapa bukan Falsafah Muslim? Apakah Falsafah Islam itu semata-mata terkait dengan pembahasan agama Islam dari sudut pandang falsafi atau mencakup juga pembahasan tema-tema pokok falsafah pada umumnya yang bersifat universal?

Makalah ini mencoba menjelaskan istilah, definisi dan konsepsi Falsafah Islam dengan tujuan untuk menentukan keabsahan posisinya sebagai bidang kajian yang khas dalam kajian-kajian sejarah falsafah dunia pada umunya. Secara khusus, makalah ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Falsafah Islam bukanlah Falsafah Yunani yang berbaju Arab. Falsafah Islam memang banyak dipengaruhi oleh Falsafah Yunani. Namun sejarah menunjukkan bahwa Falsafah Islam juga merumuskan persoalan-persoalan falsafinya sendiri yang khas berdasarkan konteks budaya dan pandangan dunia Islam.

Untuk itu, makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Pada bagian “Falsafah, Falsafat, Filosofi atau Filsafat?”, istilah-istilah yang biasa digunakan di dalam bahasa Indonesia untuk kegiatan berpikir falsafi ditelaah secara analitis. Kemudian, bagian “Falsafah atau Hikmah?” berisi penjelasan soal mengapa istilah falsafah lebih tepat digunakan daripada istilah hikmah. Bagian “Falsafah Islam, Falsafah Muslim atau Falsafah Arab?” berisi telaah analitis dan kritis atas istilah-istilah yang tepat dipakai untuk merujuk pada kegiatan berpikir falsafi dalam Islam, beserta berbagai konsepsi yang ada di balik istilah-istilah itu. Bagian “Apa yang Khas dari Falsafah Islam?” berisi penjelasan ihwal Falsafah Islam sebagai bidang kajian yang khas dalam sejarah falsafah. Makalah ini diakhiri dengan sebuah “Kesimpulan”.

Falsafah, Falsafat, Filosofi atau Filsafat?

Ketika kita sedang berbicara tentang pemikiran falsafi dalam Islam, apakah kita harus menyebutnya sebagai Falsafah Islam, Falsafat Islam, Filosofi Islam atau Filsafat Islam? Persoalan ini muncul tidak saja pada saat kita merujuk kepada kegiatan berpikir falsafi dalam Islam, tapi juga kegiatan berpikir falsafi pada umumnya. Kita terbiasa begitu saja menggunakan istilah falsafah, falsafat, filosofi atau filsafat. Bahkan, banyak ahli yang menulis tentang berbagai pokok bahasan dalam bidang kajian falsafi dalam bahasa Indonesia yang tidak pernah mempertanyakan terlebih dahulu mengapa ia menggunakan istilah filsafat ketimbang falsafah, falsafat atau filosofi, misalnya. Atau, ketika kita merujuk kepada orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi, kita terbiasa menyebutnya sebagai filsuf atau filosof, bukan failasuf ataupun filosofer, tanpa memikirkan dulu apakah penggunaan istilah ini tepat atau tidak. Berikut ini akan diulas soal tepat atau tidaknya penggunaan kata falsafah, falsafat, filosofi dan filsafat untuk merujuk pada kegiatan berpikir falsafi. [1]

Pertama, istilah falsafah. Kata falsafah dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab. Memang, di dalam buku-buku berbahasa Arab, kata falsafah digunakan untuk merujuk kepada kegiatan berpikir falsafi. Misalnya, al-Kindi menggunakan kata falsafah untuk judul bukunya, Fi al-Falsafah al-Ula. Kata falsafah dalam bahasa Arab ini juga merupakan serapan dari kata “philosophos” dari bahasa Yunani. Orang-orang Arab mungkin merasa kesulitan menggunakan istilah Yunani philosophos. Karena itu, mereka menggunakan pola morfologi yang ada dalam bahasa Arab untuk menyerap kata philosophos itu. Pola yang dimaksud adalah pola kata yang terdiri dari empat hurup fa’lala untuk kata kerja lampau dan fa’lalatan untuk kata bendanya, serta fai’lalun untuk kata pelaku atau subyek. Karenanya, setelah diarabkan, kata Yunani philosophos menjadi falsafa (berfalsafah [kata kerja]), falsafatan (falsafah [kata beda]) dan failasuf (orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi [kata pelaku, subyek atau agen]).[2]

Kedua, istilah falsafat. Kata falsafah dalam bahasa Arab bisa dibaca falsafah atau falsafat. Orang-orang Arab sendiri biasa membacanya dengan sebutan falsafah. Adapun pembacaan kata falsafah menjadi falsafat biasanya dilakukan oleh orang-orang Persia. Artinya, ketika orang Indonesia menggunakan kata falsafah, maka itu tentu diambil langsung dari bahasa Arab. Namun, ketika ada orang Indonesia menggunakan kata falsafat, maka itu tentu banyak dipengaruhi oleh cara baca orang-orang Persia. Meskipun demikian, seperti halnya orang Arab, orang Persia pun menyebut “orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi” dengan kata failasuf. Selanjutnya, orang Arab dan orang Persia berbeda dalam menyebut kata sifat untuk “hal-hal yang terkait dengan kegiatan berpikir falsafi”; orang Arab menyebutnya dengan kata falsafi, sementara orang Persia menyebutnya dengan kata falsafati.[3]

Ketiga, istilah filosofi. Pemakaian istilah filosofi dalam bahasa Indonesia tentunya diambil dari kata philosophy dalam bahasa Inggris. Filosofi (bahasa Indonesia) dan philosophy (bahasa Inggris) dipakai untuk menyebut kegiatan berpikir falsafi. Namun demikian, pengambilan istilah philosophy dari bahasa Inggris itu tidak diikuti dengan pengambilan kata philosopher ke dalam bahasa Indonesia menjadi filosofer untuk merujuk kepada orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi. Hampir jarang terdengar ada orang Indonesia yang menyebut kata filosofer. Sementara itu, kata sifat untuk kata Inggris philosophy adalah philosophical yang berarti “bersifat falsafi atau terkait dengan kegiatan berpikir falsafi”. Orang Indonesia tampaknya juga sering menggunakan kata filosofis sebagai kata sifat yang diambil dari kata philosophical tersebut.[4]

Keempat, istilah filsafat. Dalam bahasa Indonesia, kata filsafat adalah kata yang paling lazim dipakai ketimbang falsafah, falsafat atau filosofi untuk menunjuk pada kegiatan berpikir falsafi. Kata lain yang masih terkait dengan kata filsafat dan sama lazimnya adalah kata filsuf atau filosof untuk merujuk pada “orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi”. Namun demikian, kelaziman penggunaan kata filsafat, filsuf dan filosof ini berbanding terbalik dengan kejelasan asal-usul dari mana kata ini diambil. Apakah kata filsafat, filsuf dan filosof ini diambil dari bahasa-bahasa daerah di Indonesia seperti Melayu, Jawa, Sunda, Aceh, Bugis, Makassar dan lain-lain? Kita tampaknya sulit untuk memberikan jawaban positif terhadap pertanyaan dugaan ini. Tidak ada penjelasan yang menyatakan bahwa kata filsafat diambil dari suatu bahasa daerah di Indonesia. Atau, apakah kata-kata itu diambil dari bahasa Inggris? Jawabannya pasti tidak. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, jika kita menyerap kata-kata itu dari bahasa Inggris, kita tentu akan menyebut kata filosofi dan filosofer, bukan filsafat dan filsuf atau filosof.[5]

Jangan-jangan kata filsafat dan filsuf atau filosof dalam bahasa Indonesia ini diambil dari bahasa Arab falsafah dan failasuf? Atau, kata filsafat itu diambil dari kata falsafat seperti biasa dipakai oleh orang-orang Persia? Ya, itu mungkin saja. Tapi, jika memang demikian adanya, mengapa kata falsafah atau falsafat berubah menjadi filsafat ketika diserap dari bahasa Arab atau Persia ke dalam bahasa Indonesia? Tidak ada alasan apapun yang bisa menjelaskan perubahan dari falsafah ke filsafat. Juga dengan kata failasuf yang berubah menjadi filsuf atau filosof; tidak ada alasan apapun yang cukup masuk akal untuk dijadikan dasar pembenaran bagi perubahan dari failasuf ke filsuf atau filosof. Dengan demikian, perubahan dari kata falsafah ke filsafat serta dari kata failasuf ke filsuf atau filosof ini besar kemungkinan lebih disebabkan oleh ketidaktahuan dan kesalahpahaman dalam proses transliterasi dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.[6]

Oleh karena itu, istilah terbaik dalam bahasa Indonesia yang bisa digunakan untuk merujuk pada “kegiatan berpikir falsafi” adalah falsafah atau falsafat. Adapun kata yang tepat untuk menunjuk “orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi” adalah failasuf (jama’-nya: falasifah), serta kata yang tepat untuk menujuk kata sifat bagi segala hal terkait kegiatan berfalsafah adalah falsafi atau falsafati.[7] Sebagai alternatif yang mungkin bagi kata falsafah ini, kita bisa juga menggunakan istilah filosofi yang diambil dari kata philosophy dalam bahasa Inggris. Hanya saja, kita juga sebaiknya konsisten untuk menggunakan kata filosofer yang diambil dari kata philosopher dalam bahasa Inggris juga.

Menurut hemat saya, khusus untuk menyebut kegiatan berpikir falsafi dalam Islam, sebaiknya kita tetap menggunakan kata Falsafah Islam dan kata failasuf untuk menunjuk orang yang melakukan kegiatan berfalsafah, serta falsafi untuk kata sifatnya.[8] Selain sebagian besar sumber-sumber utama Falsafah Islam ditulis dalam bahasa Arab, tentu kurang masuk akal bagi kita untuk menyebut para pemikir Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan sebagainya dengan julukan filosofer (diambil dari kata bahasa Inggris philosopher), serta menyebut kegiatan berpikir mereka sebagai filosofi (diambil dari kata bahasa Inggris philosophy). Sebab, mereka sendiri menyebut kegiatan berpikir yang mereka lakukan dengan istilah falsafah. Mereka juga menyebut diri mereka dengan sebutan failasuf (jamak: falasifah).

Falsafah atau Hikmah?

Lantas, bagaimana dengan penggunaan kata “hikmah” untuk menyebut apa yang kita maksudkan sebagai Falsafah Islam? Kata “hikmah” memang digunakan juga oleh beberapa pemikir Muslim. Misalnya, Ibn Sina menggunakan kata “hikmah” untuk judul buku yang ditulisnya, ‘Uyun al-Hikmah; Ibn Rusyd juga menulis sebuah buku dengan memakai kata “hikmah” di dalam judulnya, Fashl al-Maqal wa Taqri ma Baina al-Syari’ah wa al-Hikmah min al-Ittishal;  Suhrawardi menulis buku berjudul Hikmah al-Isyraq; dan Mulla Shadra menyebut pemikiran falsafinya dengan istilah al-Hikmah al-Muta’aliyah.

Dilihat dari segi artinya, kata falsafah dan hikmah memang memiliki arti yang sama: kebijaksanaan. Jika kata falsafah merupakan hasil serapan dari bahasa Yunani philosophos yang berarti “mencintai kebijaksanaan”, kata “hikmah” sendiri diambil dari kata bahasa Arab sendiri yang berarti “bijaksana”. Kedua istilah ini memang biasa digunakan oleh para failasuf untuk merujuk pada kegiatan berpikir falsafi. Jika banyak failasuf Muslim yang menggunakan kata “hikmah” juga untuk menyebut falsafah, mengapa kita tidak menggunakan istilah hikmah saja? Untuk menjawab pertanyaan ini, setidaknya ada dua alasan yang bisa dikemukakan.

Pertama, sebagaimana dijelaskan oleh Seyyed Hossein Nasr, istilah “hikmah” tidak hanya digunakan oleh para failasuf, tapi juga oleh para ahli ilmu kalam dan ahli tasauf. Sebagai seorang ahli ilmu kalam, Fakhr al-Din al-Razi misalnya memandang bahwa ilmu kalam lah yang pantas disebut sebagai hikmah, bukan falsafah. Sementara itu, para sufi juga biasa menggunakan kata “hikmah” untuk menjelaskan pemikiran mereka tentang tasauf. Misalnya, Ibn ‘Arabi menggunakan kata “hikam” (bentuk plural dari kata hikmah) dalam bukunya yang berjudul Fushush al-Hikam.[9] Bagi para ahli ilmu kalam, hikmah adalah pengetahuan yang dihasilkan dari proses interpretasi rasional atas teks-teks keagamaan (al-Qur’an); sementara bagi kaum sufi, hikmah adalah “kebenaran ilahi” yang dihasilkan bukan dengan menggunakan metode berpikir rasional, melainkan melalui metode yang bersifat mistik atau spiritual. Oleh karena itu, jika kita menggunakan kata hikmah untuk merujuk kepada kegiatan berpikir falsafi, kita akan dihadapkan pada persoalan ambiguitas makna dari kata hikmah itu sendiri.

Dengan tetap menggunakan istilah falsafah, bukan hikmah, kita bisa membedakan satu bidang kajian dengan bidang-bidang kajian lainnya di dalam ilmu-ilmu keislaman berdasarkan pokok bahasan dan metodenya. Sebagaimana dipahami oleh para failasuf sendiri, falsafah adalah “suatu kajian tentang wujud atau realitas dengan menggunakan metode rasional (burhan)”. Ini bisa kita bedakan dengan Ilmu Kalam yang merupakan “suatu kajian tentang makna-makna yang ada di dalam al-Qur’an sebagai Kalam Allah dengan menggunakan metode dialektis (jadali). Karena itu, Ilmu Kalam sering juga disebut sebagai ilmu teologi dialektis.[10] Terakhir, kita juga bisa membedakan falsafah dari tasawuf di mana istilah yang terakhir ini merujuk kepada “suatu kajian tentang pengetahuan ketuhanan dengan menggunakan metode mistik atau spiritual (‘irfan).[11]

Kedua, seperti dijelaskan juga oleh Nasr, kata hikmah dipakai oleh Suhrawardi dan Mulla Shadra dengan sengaja untuk menyebut aliran falsafah yang lebih berorientasi pada falsafah iluminasi (isyraqi) atau falsafah transenden (muta’aliyah). Oleh keduanya, hikmah ini dibedakan dari aliran falsafah lain yang lebih berorientasi pada penjelasan rasional (burhani) atas wujud, atau yang sering disebut juga sebagai aliran Peripatetik. Jika Suhrawardi dan Mulla Shadra kita kelompokkan ke dalam para failasuf beraliran Hikmah, baik isyraqi maupun muta’aliyah, kita bisa meneyebut para failasuf seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Rusyd sebagai failasuf beraliran Peripatetik.[12]

Pertanyaannya kemudian, di manakah posisi Ibn Sina? Apakah Ibn Sina bisa kita masukkan ke dalam aliran Paripatetik ataukah aliran Hikmah, baik yang Isyraqi maupun Muta’aliyah? Dalam hal ini, posisi Ibn Sina sangat unik. Sebagai seorang failasuf yang memiliki nama besar di dalam sejarah Falsafah Islam, ia biasa dimasukkan ke dalam aliran Peripatetik maupun aliran Hikmah. Jika kita semata-mata melihat Kitab al-Syifa yang ditulis oleh Ibn Sina, kita bisa menganggapnya sebagah seorang failsuf aliran Peripatetik. Namun demikian, selain Kitab al-Syifa, Ibn Sina juga menulis buku-buku lain yang memiliki orientasi kepada Falsafah Iluminasi atau Hikmah al-Isyraq. Seperti dijelaskan oleh Nasr, di luar Kitab al-Syifa, Ibn Sina justru menawarkan sebuah al-Hikmah al-Masyriqiyyah atau Falsafah Ketimuran. Memang, keseluruhan buku ini hilang, sehingga yang tersisa hanya pembukaannya yang diberi judul Manthiq al-Masyriqiyyin. Bahkan, menurut Nasr, pembelaan Ibn Sina terhadap gnostisisme atau pengalaman mistik juga sudah tampak di dalam bab kesembilan buku al-Isyarat wa al-Tanbihat yang diberi judul Fi Maqamat al-‘Arifin.[13]

Dari uraian ini, kita bisa simpulkan bahwa posisi Ibn Sina sebaiknya ditempatkan di dalam aliran al-Hikmah al-Masyriqiyyiyah dalam sejaraah Falsafah Islam. Selain itu, saat ini kita juga mengetahui bahwa pendiri aliran ini bukanlah Suhrawardi atau Ibn ‘Arabi sebagaimana diduga oleh banyak orang selama ini. Sebaliknya, Ibn Sinalah yang menjadi perintis aliran Hikmah ini di mana Suhrawardi, Ibn ‘Arabi, Mulla Shadra menjadi para penurus Ibn Sina. Di tangan Ibn Sinalah, Falsafah Islam kemudian dibawa keluar dari tradisi rasionalisme (burhani) sebagaimana diperjuangkan oleh al-Kindi, al-Farabi dan Ibn Rusyd menuju falsafah tentang “pembebasan jiwa dari penjara tubuh” melalui jalan-jalan spiritual dan pengalaman-pengalaman mistik (‘irfan).[14]

Pada titik ini, kita bisa katakan bahwa istilah yang tepat untuk menyebut kegiatan berpikir falsafi dalam Islam adalah tetap dengan istilah Falsafah Islam. Adapun istilah Hikmah bisa kita gunakan untuk menyebut sebuah corak khusus atau aliran tertentu yang ada di dalam Falsafah Islam, yakni Falsafah Iluminasionis yang dikembangkan oleh Ibn Sina, Suhrawardi, Mulla Shadra dan para penerusnya. Pada saat yang sama, di samping aliran Hikmah ini, kita juga bisa menyebut aliran lain dalam Falsafah Islam yang lebih bercorak rasional atau burhani dengan sebutan al-Falsafah al-Masysyaiyah yang diusung oleh al-Kindi, al-Farabi, Ibn Rusyd dan para penerusnya. Di sini, baik al-Hikmah al-Masyriqiyah maupun al-Falsafah al-Masysyaiyah merupakan dua aliran utama yang ada di dalam Falsafah Islam.

Falsafah Islam, Falsafah Muslim atau Falsafah Arab?

Setelah menjelaskan alasan pemilihan untuk memakai kata “falsafah” ketimbang “falsafat”, “filosofi”, “filsafat” dan bahkan “hikmah”, tugas lain yang harus segera dilakukan adalah menjelaskan kata “Islam” yang tertuang dalam istilah Falsafah Islam. Kenapa istilah Falsafah Islam yang pakai? Kenapa bukan Falsafah Muslim? Kenapa bukan Falsafah Arab? Karena pada dasarnya saya memilih untuk menggunakan istilah Falsafah Islam, maka pertama-tama saya akan menjelaskan terlebih dulu mengapa pemakaian istilah Falsafah Arab atau Falsafah Muslim kurang tepat. Setelah itu, saya akan menjelaskan alasan mengapa istillah Falsafah Islam adalah istilah yang paling tepat dipakai untuk merujuk kepada “kegiatan berpikir falsafi di dalam Islam”.

Pertama, istilah Falsafah Arab. Penggunaan istilah Falsafah Arab ini mengandaikan bahwa orang-orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi di sini adalah orang-orang Arab, atau kegiatan berfalsafah itu dijalankan dalam kerangka kebudayaan Arab dan hasil pemikirannya dituliskan dengan menggunakan bahasa Arab. Jika dilihat dari asal-usul kebangsaannya, tidak semua orang yang terlibat di dalam bidang kajian falsafi dalam sejarah Falsafah Islam ini adalah orang-orang Arab. Para failasuf seperti Ibn Sina, Suhrawardi, dan Mulla Shadra, dan banyak lagi yang lainnya, bukanlah orang Arab. Namun, jika dilihat dari kenyataan bahwa para failsuf besar itu, mulai dari al-Kindi sampai Suhrawardi dan Mulla Shadra, berpikir dan menuliskan karya-karya falsafinya yang utama di dalam bahasa Arab, maka apa yang kita sebut sebagai Falsafah Islam itu bisa saja disebut juga sebagai Falsafah Arab.

Persoalan yang muncul dari penggunaan istilah Falsafah Arab untuk apa yang kita maksud dengan Falsafah Islam itu adalah keterbatasan dalam pengembanganya pada masa kini dan masa depan. Selain memang ada beberapa failsuf Muslim kontemporer yang menulis karya-karyan falsafinya dalam bahasa Arab seperti Mohammed ‘Abid al-Jabiri, Hassan Hanafi, Abd al-Rahman Badawi, Ibrahim Madkour dan Adonis, saat ini banyak juga failsuf Muslim yang tidak menulis dalam bahasa Arab.[15] Banyak di antaranya menulis dalam bahasa Persia, sebagian lagi dalam bahasa Inggris dan bahasa Prancis, serta sedikit di antaranya dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Apa yang menyatukan para failasuf Muslim dari berbagai bangsa itu tentu bukan kesamaan bahasa yang mereka gunakan dalam melakukan kegiatan berpikir falsafi, melainkan kesamaan pokok bahasan yang mereka geluti, yakni: mengkaji berbagai persoalan-persoalan falsafi yang bersifat universal dalam terang pandangan dunia Islam, serta mengkaji persoalan-persoalan yang ada dalam pandangan dunia Islam melalui metode berpikir falsafi yang bersifat rasional. Jika kriteria pokok bahasan ini bisa disetujui untuk menentukan istilah apa yang tepat untuk menjelaskan kegiatan berpikir falsafi dalam Islam, maka istilah Falsafah Islam lebih memadai untuk digunakan ketimbang istilah Falsafah Arab.

Kedua, istilah Falsafah Muslim. Penggunaan istilah Falsafah Muslim menggandaikan bahwa orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi ini adalah seorang Muslim. Masalahnya adalah istilah ini terlalu menekankan pada sifat kemusliman orangnya, namun tidak begitu mempedulikan isi atau hal yang dijadikan pokok bahasan di dalam kegiatan berpikir falsafinya. Misalnya, jika ada seorang Muslim yang menjadikan “Masalah Tuhan dan Manusia dalam Falsafah Yahudi” sebagai pokok bahasan di dalam kegiatan berpikir falsafinya misalnya, apakah lantas renungan falsafinya itu pantas disebut sebagai Falsafah Muslim? Tentu saja, status kemusliman seorang pemikir tidak lantas bisa mengubah kenyataan bahwa pokok bahasan “Masalah Tuhan dan Manusia dalam Falsafah Yahudi” menjadi bukan Falsafah Yahudi. Tema itu akan tetap menjadi bagian dari kajian Falsafah Yahudi meskipun yang membahasnya adalah seorang Muslim. Di sini, kata Muslim lebih tepat dilekatkan kepada orangnya, bukan pada pokok bahasan seperti falsafah. Dengan kata lain, sifat yang bisa dilekatkan kepada suatu kegiatan berpikir falsafi adalah pokok bahasannya, bukan agama si pembahasnya. Oleh karena itu, istilah Falsafah Muslim tidak bisa dipakai untuk menjelaskan kegiatan berpikir falsafi dalam Islam yang kita maksudkan.

Penggunaan istilah Falsafah Muslim juga tampak akan menihilkan kontribusi para failasuf Kristen dan Yahudi dalam kegiatan berpikir falsafi dalam Islam, terutama jika kita memahami kata Islam di sini bukan semata-mata sebagai agama Islam, melainkan sebagai peradaban Islam. Sejarah mencatat bahwa selain berjasa dalam melakukan penerjemahan karya-karya falsafi dari bahasa Yunani dan bahasa Suryani ke dalam bahasa Arab, orang-orang Kristen di Syiria dan Baghdad pada abad ke-8 sampai 10, seperti Yahya ibn al-Bithriq, Hunain ibn Ishaq, Hubasyi, Isa ibn Yahya, Ishaq ibn Hunain, Asthat, Abu Bishr Matta dan Yahya ibn Adi, juga aktif mengembangkan pemikiran-pemikiran falsafi dengan menggunakan bahasa Arab.[16] Selain itu, para failasuf beragama Yahudi pada abad ke-9 sampai 12, seperti Sa’diah al-Fayyumi, Ibn Gabriol, Judah Halevi, dan Musa ibn Maimun (Moses Maimonides), juga aktif menulis karya-karya falsafi sistematis dalam bahasa Arab.[17]

Ketiga, istilah Falsafah Islam. Sebagaimana telah disinggung di atas, istilah ini mengandaikan bahwa apa yang menjadi pokok bahasan dalam Falsafah Islam adalah sebagai berikut: mengkaji berbagai persoalan-persoalan falsafi yang bersifat universal dalam terang pandangan dunia Islam, serta mengkaji persoalan-persoalan yang ada dalam pandangan dunia Islam melalui metode berpikir falsafi yang bersifat rasional. Di sini, Falsafah Islam adalah irisan antara pandangan dunia yang bersifat khas Islam dan metode berpikir falsafi yang bersifat rasional. Dalam Falsafah Islam, segala warisan pemikiran falsafi dari Yunani, Persia dan lain-lain yang tidak sesuai dengan pandangan dunia Islam ditafsirkan ulang secara kreatif sehingga memunculkan sesuatu yang baru. Sementara itu, Falsafah Islam menjadikan metode berpikir falsafi yang bersifat rasional sebagai kerangka dalam memahami pandangan dunia Islam secara baru.[18]

Ketika menyebutkan Falsafah Islam sebagai irisan antara pandangan dunia Islam dan metode berpikir falsafi yang bersifat rasional, saya sebetulnya di saat yang sama tengah menyetujui arti dari istilah Falsafah Islam sebagai “Falsafah dalam Islam”, atau, “kegiatan berpikir falsafi dalam Islam”. Tentu saja, kata Islam di sini tidak dipahami secara sempit sebagai agama, melainkan sebagai kebudayaan atau peradaban yang didasarkan pada pandangan dunia Islam. Dalam konteks ini, hasil karya para failasuf Kristen dan Yahudi yang berfalsafah di dalam kerangka berpikir peradaban Islam bisa kita kategorikan sebagai Falsafah Islam. Selain itu, hasil karya para failasuf yang dituliskan di dalam bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Indo-Melayu, bahasa Prancis, bahasa Inggris dan sebagainya, asalkan dipikirkan di dalam kerangka pandangan dunia Islam serta menggunakan metode falsafi yang bersifat rasional, juga bisa kita masukkan ke dalam kategori Falsafah Islam.

Apa yang Khas dari Falsafah Islam?

Dengan menyatakan bahwa Falsafah Islam adalah kegiatan berpikir falsafi dalam Islam, saya sebetulnya berada pada pihak yang berpendapat bahwa falsafah pada dasarnya bersifat universal. Universalitas yang ada pada falsafah terletak pada penggunaan metode rasionalnya. Namun demikian, universalitas falsafah itu juga mendapatkan dimensi-dimensi khususnya ketika falsafah berkembang pada kebudayaan tertentu. Dalam kebudayaaan Yunani, falsafah berjalin sedemikian rupa dengan padangangan dunia Yunani. Sementara dalam kebudayaan Islam, universalitas falsafah itu mendapatkan kekhususannya tatkala bertemu pandangan dunia yang khas Islami. Begitu pula, ketika falsafah dikembangkan dalam lingkungan Yahudi, Kristen, serta kebudayaan-kebudayaan Barat yang tidak lagi didasarkan pada pandangan dunia agama tertentu, universalitas falsafah mendapatkan dimensi-dimensi khususnya. Tentu saja, ini juga berlaku pada kebudayaan-kebudayaan lainnya ketika falsafah dikembangkan sebagai bagian penting dari kebudayaannya itu.[19]

Terkait dengan Falsafah Islam, kita tentu perlu mengemukakan persoalan-persoalan apa saja yang dimunculkan secara baru oleh Falsafah Islam, serta persoalan-persoalan apa saja yang telah ada sebelum kemunculan Falsafah Islam yang kemudian tidak diubah sama sekali oleh Falsafah Islam. Di sini, kita sedang mencoba mengungkapkan apa saja sumbangan Falsafah Islam bagi falsafah itu sendiri. Secara khusus, kontribusi Falsafah Islam ini perlu dikemukakan sehubungan dengan pandangan yang menyatakan bahwa Falsafah Islam hanya berfungsi sebagai penghubungan antara Falsafah Yunani dan Falsafah Eropa Modern tanpa sedikit pun memberikan sumbangan berarti di dalamnya.

Tentang hal ini, saya berpijak pada penjelasan-penjelasasn yang dikemukakan oleh Murthadha Muthahhari. Menurut Muthahhari, memang ada persoalan-persoalan yang menjadi pokok bahasan dalam Falsafah Yunani dan tidak mengalami perubahan dalam Falsalah Islam. Namun, ada pula persoalan-persoalan dalam Falsafah Yunani yang kemudian dikembangkan oleh Falsafah Islam. Selain itu, ada pula persoalan-persoalan yang ada dalam Falsafah Yunani yang mengalami perubahan isi dalam Falsafah Islam. Terakhir, Falsafah Islam juga membahas perasoalan-persoalan baru yang sama sekali tidak dibahas oleh Falsafat Yunani. Berikut adalah penjelasan yang lebih rinci sebagaimana dikemukakan oleh Muthahhari.[20]

Pertama, persoalan-persoalan yang tetap tidak berubah. Di sini, Falsafah Islam tetap mempertahankan pokok bahasan yang ada dalam Falsafah Yunani dalam bentuk dan karakter aslinya, tanpa mengubah dan mengembangkannya sama sekali. Pokok bahasan yang termasuk ke dalam kelompok pertama ini mencakup persoalan-persoalan logika, sepuluh kategori, empat sebab, klasifikasi ilmu, dan pembagian serta jumlah fakultas jiwa. Tentu saja, para failasuf Muslim mengemukakan pendapat yang beda-beda tentang persoalan-persoalan ini, sebagaimana para failasuf Yunani juga memiliki perbedaan pandangan soal ini. Apa yang tetap dan tidak berubah adalah persoalan-persoalan yang dibahasnya. Misalnya, soal sepuluh kategori yang dikemukakan oleh Aristoteles. Ibn Sina dan Mulla Shadra mengemukakan pandangan-pandangan mereka sendiri, meskipun sepuluh kategori Aristoteles itu tetap mempertahankan karakter aslinya.[21]

Kedua, persoalan-persoalan yang mengalami perkembangan. Pokok bahasan falsafi yang ada dalam kelompok kedua ini telah ada dalam Falsafah Yunani, tapi kemudian dikembangkan secara lebih mendalam serta diberikan pendasaran falsafi yang lebih baik oleh Falsafah Islam. Kelompok kedua ini meliputi persoalan-persoalan tentang ketidakmungkinan kemunduran tak terbatas, nonmaterialitas jiwa, bukti-bukti bagi eksistensi Wujud Mutlak Ada, Kesatuan Wujud Mutlak Ada, dan ketidakmungkinan munculnya “yang banyak” dari “yang satu”. Salah satu pokok soal yang terkenal di sini misalnya tentang padangan Aristoteles mengenai “penggerak pertama yang tidak bergerak”, yang dikembangkan sedemikian rupa oleh Ibn Sina melalui rumusannya tentang wujud niscaya atau al-wujud al-wajib (necessary being), yang dibedakan dari wujud yang mungkin atau al-wujud al-mumkin (contingent being).[22]

Ketiga, persoalan-persoalan yang mengalami perubahan isi. Pokok bahasa falsafi dalam kelompok ini adalah persoalan-persoalan dengan nama atau istilah yang sama sebagaimana digunakan oleh para failasuf Yunani, namun isi persoalan-persoalan yang dibahas oleh para fasilasuf Muslim itu sendiri telah jauh berbeda. Misalnya, gagasan tentang “idea-idea” dalam falsafah Plato yang dalam bahasa Arab disebut dengan istilah “mutsul”. Tentu saja, para fasilasuf Muslim banyak membahas gagasan tentang “mutsul” ini, tapi dengan pandangan yang berbeda. Seperti dijelaskan oleh Muthahhari, Aristoteles dan Ibn sina menolak “ide-ide bawaan Platonik” ini, sementara Suhrawardi dan Mulla Shadra membela keberadaannya. Meskipun memberikan pembelaan terhadap gagasan “mutsul” ini, Suhrawardi dan Mulla Shadra merumuskan isinya yang berbeda dari apa yang telah dirumuskan oleh Plato.[23]

Keempat, persoalan-persoalan baru. Pokok bahasan dalam kelompok keempat ini adalah betul-betul hasil kreasi Falsafah Islam yang sebelumnya tidak pernah dibahas sama sekali oleh Falsafah Yunani. Seperti dijelaskan oleh Muthahhari, persoalan-persoalan baru yang diangkat oleh Falsafah Islam di antaranya adalah tentang realitas fundamental eksistensi (ashalah al-wujud), gerakan substansial (al-harakah al-jauhariyyah), immaterialitas jiwa binatang, immaterialitas jiwa manusia di samping immaterialitas intelektualnya, asal-usul fisik dan keabadian spiritual jiwa, kesatuan tubuh dan jiwa, kebangkitan fisik di alam barzakh, diketahuinya waktu sebagai dimensi keempat, dan lain-lain.[24]

Berdasarkan paparan yang diberikan oleh Muthahhari tersebut, kita bisa melihat bahwa Falsafah Islam tidak bisa disebut semata-mata sebagai Falsafah Yunani yang berbaju Arab. Dengan kata lain, Falsafah Islam bukanlah penjiplak buta Falsafah Yunani. Sebaliknya, Falsafah Islam belajar banyak kepada Falsafah Yunani, tapi juga bersifat sangat kritis. Selain itu, Falsafah Islam juga sangat kreatif memikirkan ulang persoalan-persoalan falsafi yang pernah dibahas oleh Falsafah Yunani dalam konteks kebudayaan dan pandangan dunia Islam, serta memberikan jawaban-jawaban baru atasnya. Falsafah Islam juga berhasil merumuskan persoalan-persoalan falsafi baru yang sebelumnya tidak pernah dibahas sama sekali oleh para failasuf Yunani, serta menawarkan jawaban-jawaban yang sangat khas Falsafah Islam.

Sepeninggal Ibn Rusyd, Falsafah Islam aliran rasionalisme Peripatetik yang diwariskan oleh al-Kindi, al-Farabi dan Ibn Rusyd diadopsi oleh kebudayaan Eropa dan menjelma menjadi sebuah gerakan intelektual Averroisme Latin,[25] Falsafah Islam aliran iluminasi yang fondasinya diberikan oleh Ibn Sina dan Suhrawardi tumbuh mekar di kawasan Persia dan mengalami kemajuan yang sangat pesat di tangan Mulla Shadra. Belakangan, Falsafah Islam aliran ini muncul sebagai proyek falsafi bangsa Persia serta menjadi identitasnya yang sangat menonjol.[26]

Kesimpulan

Berdasarkan kajian dalam makalah ini, beberapa persoalan yang muncul pada bagian awal bisa dijawab dengan baik. Persoalan-persoalan itu adalah sebagai berikut. Istilah manakah yang tepat untuk dipakai di antara “falsafah” ataukah “filsafat” di dalam penggunaannya dalam bahasa Indonesia? Bagaimana dengan penggunaan istilah “hikmah” untuk menyebut falsafah? Apakah yang dimaksud dengan Falsafah Islam? Apa definisi dan konsepsi Falsafah Islam? Mengapa istilah Falsafah Islam yang dipakai, bukan Falsafah Arab atau Falsafah Muslim? Kemudian, apakah Falsafah Islam itu semata-mata terkait dengan pembahasan agama Islam dari sudut pandang falsafi atau mencakup juga pembahasan tema-tema pokok falsafah pada umumnya yang bersifat universal?

Pertama, dalam kajian sejarah Falsafah Islam secara akademis, istilah falsafah lebih tepat digunakan daripada istilah filsafat. Sebab, istilah filsafat (kata benda) dan filsuf/filosof (pelaku) sulit dicari dasarnya dari mana istilah itu muncul. Kemungkinan besar, munculnya istilah filsafat dan filsuf atau filosof disebabkan ketidaktahuan dan kesalahpahaman dalam proses transliterasi dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia untuk kata falsafah (kata beda) dan failsuf (pelaku). Istilah falsafah dan fasilasuf dalam bahasa Arab sendiri merupakan serapan dari kata Yunani “philosophos”. Oleh karena itu, berdasarkan kaidah-kaidah transliterasi Arab-Indonesia, kata yang tepat untuk merujuk pada “kegiatan berpikir falsafi” adalah falsafah, sementara kata untuk “orang yang melakukan kegiatan berpikir falsafi” adalah failasuf (jama’-nya: falasifah), serta kata yang tepat untuk menujuk kata sifat bagi segala hal terkait kegiatan berfalsafah adalah falsafi.

Kedua, istilah falsafah juga lebih tepat digunakan untuk merujuk “kegiatan berpikir falsafi dalam Islam” ketimbang hikmah. Sebab, selain bahwa istilah “hikmah” ini lazim digunakan juga dalam bidang kajian Ilmu Kalam dan Tasauf, istilah “hikmah biasanya juga digunakan untuk menyebut sebuah corak khusus atau aliran tertentu yang ada di dalam Falsafah Islam, yakni Falsafah Iluminasionis yang dikembangkan oleh Ibn Sina, Suhrawardi, Mulla Shadra dan para penerusnya. Pada saat yang sama, di samping aliran Hikmah ini, kita juga bisa menyebut aliran lain dalam Falsafah Islam yang lebih bercorak rasional atau burhani dengan sebutan al-Falsafah al-Masysyaiyah yang diusung oleh al-Kindi, al-Farabi, Ibn Rusyd dan para penerusnya. Di sini, baik al-Hikmah al-Masyriqiyah maupun al-Falsafah al-Masysyaiyah merupakan dua aliran utama yang ada di dalam Falsafah Islam. Atas dasar alasan itu, istilah istilah falsafah lebih tepat digunakan ketimbang hikmah untuk menejelaskan “kegiatan berpikir falsafi dalam Islam”.

Ketiga, istilah Falsafah Islam lebih tepat digunakan ketimbang Falsafah Arab atau Falsafah Muslim. Penggunaan istilah Falsafah Arab tidak tepat karena tidak memberikan ruang bagi para failasuf Muslim yang tidak berasal dari bangsa Arab serta tidak menggunakan bahasa Arab sebagai medium berfalsafahnya. Sementara itu, penggunaan Falsafah Muslim juga kurang tepat karena itu berarti menihilkan orang-orang yang beragama Kristen dan Yahudi dalam kemunculan dan perkembangan Falsafah Islam. Selain itu, sifat yang bisa dilekatkan kepada falsafah bukanlah sifat dari si pembahasnya entah itu Muslim, Kristen, Yahudi dan sebagainya, melainkan karakter dari pokok bahasannya. Dalam hal ini, Falsafah Islam disebut Islam karena pokok bahasannya banyak terkait dengan persoalan-persoalan falsafi dalam kebudayaan yang berpijak pada pandangan dunia Islam. Atas dasar alasan-alasan itu, penggunaan istilah Falsafah Islam lebih tepat.

Keempat, Falsafah Islam bukan semata-mata pembahasan persoalan-persoalan dalam agama Islam dari sudut pandang falsafi, melainkan seluruh “kegiatan falsafi dalam Islam”. Dengan menyatakan bahwa Falsafah Islam adalah kegiatan berpikir falsafi dalam Islam, saya sebetulnya berpadangan bahwa falsafah pada dasarnya bersifat universal. Universalitas yang ada pada falsafah terletak pada penggunaan metode rasionalnya. Namun demikian, universalitas falsafah itu juga mendapatkan dimensi-dimensi khusunya ketika falsafah berkembang pada kebudayaan tertentu. Dalam kebudayaaan Yunani, falsafah berjalin sedemikian rupa dengan padangangan dunia Yunani. Sementara dalam kebudayaan Islam, universalitas falsafah itu mendapatkan kekhususannya tatkala bertemu pandangan dunia yang khas Islami. Begitu pula, ketika falsafah dikembangkan dalam lingkungan Yahudi, Kristen, serta kebudayaan-kebudayaan Barat yang tidak lagi didasarkan pada pandangan dunia agama tertentu, universalitas falsafah mendapatkan dimensi-dimensi khususnya.

BAHAN BACAAN

Al-Jabiri, Mohammad ‘Abed, Nahnu wa al-Turats: Qiraah Mu’ashirah fi Turatsina al-Falsafi, cet. Ke-5, (al-Dar al-Baidl: Markaz Ttsaqafi al-‘Arabi: 1986).

Boulatta, Issa J., Dekonstruksi Tradisi: Gelegar Pemikiran Arab Islam, terj. Imam Khoiri, (Yogyakarta: LKIS, 2001).

Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Perta Kronologis, terj. Zaimul Am, cet. Ke-2, (Bandung: Mizan, 2002).

Hayman, Arthur, “Filsafat Yahudi di Dunia Islam” dalam  Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklodedi Tematis Filsafat Islam Jilid I, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003).

Madjid, Nurcholish (ed.), Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

Muthahhari, Murtadha, Mengenal Espistemologi: Sebuah Pembuktian terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, terj. Mouhammad Jawab Bafaqih, (Jakarta: Penerbit Lentera).

______________, Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2002).

Nasr, Seyyed Hossein, “Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam” dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklodedi Tematis Filsafat Islam Jilid I, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003).

______________, “’Filsafat Timur’ Ibn Sina” dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklodedi Tematis Filsafat Islam Jilid I, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003).

______________, Islamic Philosphy from its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy, (New York: State University of New York Press, 2006).

Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam: Falsafat Islam, Mistitisme Islam-Tasawuf, cet. Ke-12, (Jakarta: Bulan Bintang, 2014).

Rahman, Fazlur, Islam, terj. Ahsin Mohammad, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1984).

Schimmel, Annemarie, Dimensi Mistik dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Damono dkk, cet. Ke-3, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2009).

Tahqiq, Nanang, Ilmu Ushuluddin, Vol.2, No.2, Juli-Desember 2014: 163-84.

______________, Asas-asas Falsafah Islam, (Ciputat: Hipius, 2006).

Yazdi, Muhammad Taqi Misbah, Buku Daras Filsafat Islam: Orientasi ke Filsafat Islam Kontemporer, terj. Musa Kazim dan Saleh Baqir, (Jakarta: Shadra press, 2010).

[1] Salah seorang pengkaji falsafah di Indonesia yang telah mencoba mempertanyakan ketepatan penggunaan istilah-istilah falsafah, falsafat, filosofi dan filsafat adalah Nanang Tahqiq, seorang dosen Falsafah Islam pada Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat. Dalam telaah Tahqiq, kegamangan orang Indonesia dalam penggunaan istilah falsafah, falsafat, filosofi dan filsafat disebabkan oleh kerancuan bahasa Indonesia dalam menggunakan kaidah-kaidah penerjemahan atau transliterasi kata-kata serapan dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, khususnya kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sebagian besar ulasan saya di sini didasarkan kepada kajian Tahqiq tersebut. Lih. Nanang Tahqiq, Ilmu Ushuluddin, Vol.2, No.2, Juli-Desember 2014: 163-84.

[2] Nanang Tahqiq, Asas-asas Falsafah Islam, (Ciputat: Hipius, 2006), h. 7-12.

[3] Tahqiq, Asas-asas Falsafah Islam, h. 7-12.

[4] Tahqiq, Asas-asas Falsafah Islam, h. 7-12.

[5] Tahqiq, Asas-asas Falsafah Islam, h. 7-12.

[6] Tahqiq, Asas-asas Falsafah Islam, h. 7-12.

[7] Harus Nasution memilih menggunakan istilah “falsafat”, sementara Nurcholish Madjid memilih menggunakan istilah “falsafah”. Lih. Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam: Falsafat Islam, Mistitisme Islam-Tasawuf, cet. Ke-12, (Jakarta: Bulan Bintang, 2014); bdk. Nurcholish Madjid (ed.), Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

[8] Di sini, saya setuju dengan pandangan Nanang Tahqiq. Lih. Tahqiq, Asas-asas Falsafah Islam, h. 34.

[9] Seyyed Hossein Nasr, “Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam” dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklodedi Tematis Filsafat Islam Jilid I, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003), h. 29-30.

[10] Lih. misalnya, Fazlur Rahman, Islam, terj. Ahsin Mohammad, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1984), h. 116.

[11] Tentang tasawuf dan metodenya, lih. misalnya, Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Damono dkk, cet. Ke-3, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2009), h. 1-4.  Bdk. Murtadha Muthahhari, Mengenal Espistemologi: Sebuah Pembuktian terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, terj. Mouhammad Jawab Bafaqih, (Jakarta: Penerbit Lentera), h. 113-116.

[12] Nasr, “Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam”, h. 32.

[13] Seyyed Hossein Nasr, “’Filsafat Timur’ Ibn Sina” dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklodedi Tematis Filsafat Islam Jilid I, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003), h. 308.

[14] Nasr, “’Filsafat Timur’ Ibn Sina”, h. 309.

[15] Tentang para failasuf Arab kontemporer ini, lih. Issa J. Boulatta, Dekonstruksi Tradisi: Gelegar Pemikiran Arab Islam, terj. Imam Khoiri, (Yogyakarta: LKIS, 2001).

[16] Tentang kontribusi orang-orang Kristen bagi Falsafah Islam, lih. Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Perta Kronologis, terj. Zaimul Am, cet. Ke-2, (Bandung: Mizan, 2002), h. 8-10.

[17] Tentang kontribusi orang-orang Yahudi bagi Falsafah Islam, lih. Arthur Hayman, “Filsafat Yahudi di Dunia Islam” dalam  Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklodedi Tematis Filsafat Islam Jilid I, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003), h. 952-955.

[18] Pembahasan mendalam tentang segi-segi khusus Falsafah Islam serta dimensi kesejarahannya, lih. Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosphy from its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy, (New York: State University of New York Press, 2006).

[19] Tentang universalitas kajian falsafah ini, saya mendasarkannya pada definisi falsafah yang dirumuskan oleh Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Menurut Misbah Yazdi, falsafah adalah “ilmu yang membahas keadaan-keadaan maujud mutlak; atau ilmu yang memaparkan hukum-hukum umum kemaujudan; atau sehimpunan proposisi dan masalah menyangkut maujud sejauh ia adalah maujud.” Selain itu, Misbah Yazdi juga menekankan metode rasional sebagai sarana dalam memecahkan masalah-masalah falsafi. Lih. Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam: Orientasi ke Filsafat Islam Kontemporer, terj. Musa Kazim dan Saleh Baqir, (Jakarta: Shadra press, 2010), h. 49-50.

[20] Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2002), h. 63-64.

[21] Muthahhari, Filsafat Hikmah, h. 66-67.

[22] Muthahhari, Filsafat Hikmah, h. 67-68.

[23] Muthahhari, Filsafat Hikmah, h. 69-70.

[24] Muthahhari, Filsafat Hikmah, h. 70.

[25] Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, h. 11-12.

[26] Tentang telaah kritis atas corak aliran ilmuniasi dalam Falsafah Islam serta upaya untuk menghidupkan kembali corak aliran Peripatetik dalam Falsafah Islam kontemporer, lih. Mohammad ‘Abed al-Jabiri, Nahnu wa al-Turats: Qiraah Mu’ashirah fi Turatsina al-Falsafi, cet. Ke-5, (al-Dar al-Baidl: Markaz Ttsaqafi al-‘Arabi: 1986).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: