Iqbal Hasanuddin

KETIKA FILSAFAT MENJADI PRAXIS: MEMBACA BHAGAVAD GITA MELALUI MAHATMA GANDHI

Posted by iqbalhasanuddin pada Februari 14, 2014

PENGANTAR

Mahatma Ghandi dikenal oleh banyak kalangan sebagai orang yang membawa India merdeka dari jajahan Inggris. Kekerasan demi kekerasan yang dijalankan oleh Pemerintah Inggris di India guna mempertahankan dominasinya itu justru akhirnya harus menyerah pada gerakan satyagraha-ahimsa yang dijalankan oleh Ghandi dan bangsa India menjelang tahun kemerdekaan pada 1947. Satyagraha-ahimsa (kebenaran dan nirkekerasan) diakui sendiri oleh Ghandi sebagai upayanya menerjemahkan nilai-nilai yang terkandung dalam Bhagavad Gita ke dalam kehidupan praktis. Demikian, di tangan Ghandi, filsafat yang terkandung di dalam Bhagavad Gita tidak semata-mata menjadi teori-teori metafisik, tapi justru menjadi kekuatan praxis-emansipatoris yang membawa bangsa India merdeka dari penjajahan Inggris.[i]

Bagaimana sebenarnya Ghandi menginterpretasikan filsafat yang terkandung di dalam Bhagavad Gita? Tulian ini bermaksud menjawab pertanyaan ini. Anak judul tulisan ini berbunyi “Membaca Bhagavad Gita Melalui Mahatma Ghandi” bukan “Membaca Bhagavad Gita Bersama Mahatma Ghandi”. Dengan demikian, tulisan ini bukanlah sebuah upaya untuk menjelaskan pemahaman Ghandi atas bacaannya terhadap Bhagavad Gita. Tapi lebih dari itu, tulisan ini mencoba menunjukan bagaimana filsafat yang terkandung di dalam Bhagavad Gita menjadi demikian hidup di dalam kiprah seorang Mahatma Ghandi melalui satyagraha dan ahimsa yang dijalankannya.

Untuk itu, tulisan ini disusun dengn sistematika sebagai berikut. Pada “Filsafat Bhagavad Gita dalam Perspektif Mahatma Ghandi”, dijelaskan bagaimana Ghandi memahami Bhagavad Gita. Kemudian, pada bagian “Satyagraha dan Ahimsa”, diuraikan bagaimana Ghandi menerjemahkan nilai-nilai fisolofis yang terkandung dalam Bhagavad Gita ke dalam konsep-konsep gerakan nirkekerasan. Terakhir, tulisan ini ditutup dengan sebuah cacatan penutup.

FILSAFAT BHAGAVAD GITA DALAM PERSPEKTIF MAHATMA GHANDI

Bhagavad Gita sebenarnya tergolong muda di antara teks-teks keagmaan Hindu. Kitab Veda, misalnya, sudah ditulis pada 2000 sebelum Masehi. Sementara itu, Kitab-kitab Upanishad ditulis sejak 700 sebelum Masehi. Adapun Bhagavad Gita kemungkinan baru ditulis pada tahun 400 sebelum Masehi (atau bahkan ada yang mengatakan baru ditulis pada tahun 200 sebelum Masehi).[ii] Meskipun tergolong relatif muda, Bhagavad Gita justru memperoleh popularitas yang paling besar dan mempunyai kedudukan yang sangat penting di lingkungan pemeluk agama Hindu.[iii]

Pertanyaannya adalah: Mengapa Bhagavad Gita yang kelahirannya relatif belakangan dibandingkan dengan kitab-kitab Veda lainnya dengan segera mendapat sambutan hangat di para pemeluk agama Hindu? Tidak banyak orang yang mampu memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Salah satu yang dikenal sebagai orang yang dapat menajwab persoalan ini adalah Mahatma Ghandi. Bagi Ghandi, penerimaan Bhagavad Gita yang sangat luas dikarenakan oleh nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya. Selain itu, teks Gita juga mudah dipahami, karena ditulis dalam bahasa Sankrit yang sederhana. Lebih dari itu, Gita juga menawarkan nilai-nilai moral yang mudah dipahami oleh masyarakat biasa. Hal ini berbeda dengan kitab-kitab suci Hindu lainya, yang menurut Ghandi penuh dengan catatan tambahan, remang-remang artinya, penuh dengan elaborasi teknik dan dogmatik, sehingga memerlukan keahlian akademik dan waktu panjang untuk memahaminya.[iv] Dari sisi kandungan filosofisnya, Bhagavad Gita memberikan perhatian yang sangat besar pada hakikat jatidiri manusia dan pembebasannya, sampai pada perjumpaanya dengan Tuhan, Yang Mahatinggi.[v]

Persoalan hakikat jatidiri manusia dan proses pembebasannya inilah yang menjadi fokus perhatian Mahatma Ghandi ketika berbicara tentang Bhagavad Gita. Bagi Ghandi, keseluruhan isi Bhagavad Gita hanyalah tafsiran dari tiga kata sederhana: Tinggalkan dan nikmatilah! Menurut Ghandi, inilah yang menjadi puncak kebijaksanaan manusia. Ketiga kata tersebut memiliki makna bahwa untuk dapat menikmati hidup, kita tidak boleh dengan egoisnya bergantung pada apa pun, uang, harta benda, kekuasaan, atau gengsi, bahkan keluarga atau teman. Ketika kita melekat pada hal-hal tersebut, kita menjadi tahanannya. Dengan demikian, dalam filsafat Bhagavad Gita, pelepasan diri adalah “kemahiran dalam bertindak”. Manusia yang senantiasa gelisah berkenaan dengan hasil kerjanya tidak mampu melihat tujuannya dengan jelas; Di matanya, apa yang tampak hanya perlawanan dan rintangan. Dalam kondisi seperti itu, manusia tersebut cenderung merasa tidak mampu mengatasi kesulitan. Akibatnya, ia pasrah dan seringkali beralih ke jalan kekerasan. Di sini, kekerasan adalah akar dari rasa frustasi dan putus asa. Namun, orang yang melepaskan dirinya dari hasil semata dan berupaya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya tanpa memikirkan keuntungan, kekuasaan, atau gengsi, tidak akan riasu ketika menghadapi kesulitan.[vi]

Bhagavad Gitalah yang mengajarkan seni hidup dalam kebebasan ini kepada Mahatma Ghandi secara nyata. Bahkan, bisa dikatakan bahwa pada akhirnya Ghandi adalah eksemplar seorang anak manusia yang mencoba menerjemahkan Bahagavad Gita melalui keseluruhan hidupnya. Dengan kata lain, Ghandi adalah “anak” dari Gita. Mengamati kiprah Ghandi di bidang politik, ekonomi, atau perlawanan nirkekerasan, kita bisa melihat bahwa Bhagavad Gita begitu hidup di dalam keseharian Ghandi. Menurut Ghandi: “Gita telah menjadi ibu bagi saya semenjak saya mengenalnya pada 1889. Saya berpaling padanya setiap kali menemui kesulitan dan bimbingan yang saya dambakan senantiasa datang kepada saya. Ibu spiritual ini menyediakan pengetahuan baru, harapan, dan kekuatan kepada para penganutnya selama hidup.”[vii]

Jika kita dapat memahami Bhagavad Gita sebagai suatu pedoman dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat memahami Ghandi. Namun, tidaklah mungkin memahami Gita dengan cara ini tanpa mencoba mempraktikkannya, sebagaimana yang telah dilakukan Ghandi.[viii] Tentang hal ini, Ghandi mengatakan:

“Di dalam Gita tertulis, ‘Kerjakan pekerjaan yang menjadi bagian Anda, tetapi tolaklah buahnya—lepaskan diri dan bekerjalah—jangan mengharapkan imbalan dan bekerjalah’. Ini jelas adalah ajaran Gita. Ia yang menolak untuk bertindak akan jatuh. Ia yang menolak imbalan akan bangkit. Namun, penolakan terhadap buah sama sekali bukanlah berarti tidak peduli terhadap hasil. Untuk setiap tindakan seseorang harus tahu hasil yang diharapkan terjadi, cara untuk mewujudkannya, dan kapasitas untuk mencapainya. Ia, yang siap sedia, yang tidak mengharapkan hasil, tetapi sepenuhnya tenggelam dalam usaha memnuhi tugas di hadapannya dengan sebaik mungkin, adalah orang yang telah menolak buah dari tindakannya. Penganut sejati Gita tidak mengenal rasa kecewa. Ia senantiasa berada dalam kebahagiaan dan kedamaian kekal yang melewati batas pemahaman manusia. Namun, kedamaian dan kebahagiaan itu tidak menghampiri orang skeptis atau yang membanggakan intelektualitas atau pendidikannya. Kedua hal ini hanya ditujukan bagi orang-orang rendah hati yang memujanya dengan penuh keyakinan dan konsentrasi yang tak terbagi.”[ix]

Apa yang Ghandi katakana tentang konsentrasi yang tak terbagi adalah analog dengan apa yang dimaksudkan Gita dengan Yoga. Yoga adalah kebalikan total dari “perang sipil” antara intelektualitas, indra, emosi, dan insting yang biasanya terjadi di pikiran kita. Yoga adalah reintegrasi dari semua fragmen ini di segala tingkat kepribadian seseroang. Yoga adalah suatu proses untuk menjadi utuh. Prinsip dari meditasi adalah Anda menjadi apa yang Anda meditasikan. Ghandi bermeditasi “dengan konsentrasi yang tak terbagi” tentang apa yang menjadi idealisme dalam Bhagavad Gita: orang yang menolak segala sesuatu demi kecintaannya melayani orang lain dan hidup dalam kebebasan serta kebahagiaan. Ghandi mengatakan:

“Delapan belas ayat terakhir di dalam bab kedua dari Gita memberitahukan secara ringkas rahasia dari seni menjalani kehidupan. Selama ini, ayat-ayat itu senantiasa terukir di sanubari saya. Bagi saya, ayat-ayat itu berisi seluruh pengetahuan. Kebenaran-kebenaran yang diajarkannya kepada saya adalah ‘kebenaran kekal’. Terdapat penalaran di dalam ayat-ayat ini, tetapi hal itu mewakili pengetahuan yang telah terwujud. Selama ini, saya membaca banyak hasil terjemahan dan ulasan, serta telah memperdebatkan serta memikirkannya berulang-ulang hingga saya puas. Namun, kesan yang saya dapatkan dari kali pertama membacanya tidak pernah hilang. Ayat-ayat itu adalah kunci dari menafsirkan Gita.”[x]

Ghandi juga menekankan intisasi dari bab kedua Bhagavad Gita yang berakhir dengan kesadaran tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang manusia. Hal ini merupakan ungkapan sepenuhnya dari idealisme yang ada dalam Gita. Ketika cintamu sangat mendalam, Sri Krishna berkata kepada Arjuna bahwa segala kebergantungan egoistis, segala rasa frustasi, segala rasa tidak aman, dan segala rasa putus asa yang dibawanya akan sirna. Arjuna bertanya dengan antusias, “Bagaimana saya dapat mengenali orang semacam itu ketika saya melihatnya? Apa pertanda orang-orang yang selalu hidup dalam kebijaksanaan dan sepenuhnya merasa mapan dengan dirinya sendiri? Katakana kepada saya bagaimana cara ia bicara, bagaimana cara ia bertindak, bagaimana cara ia bersikap ketika diserang.” Lalu, Krishna menjawab:[xi]

Mereka hidup dalam kebijaksanaan.

Mereka melihat diri mereka dalam semua orang dan semua orang dalam diri mereka.

Setiap hasrat egoistis dan keinginan indiawi menyiksa hati mereka.

Tidak gelisah akibat duka ataupun mendambakan kesenangan, mereka hidup terlepas dari nafsu dan rasa takut dan kemarahan.

Tidak lagi terbelenggu oleh kebergantungan egoistis, mereka tidak merasa gembira akibat nasib baik ataupun merasa tertekan akibat nasib buruk.

Begitulah diramalkan….

Saat kamu terus memikirkan tentang benda-benda indriawi, kebergantungan muncul. Kebergantungan melahirkan hasrat, nafsu untuk memiliki, yang jika dihalangi, berubah menjadi kemarahan. Kemarahan mempengaruhi penilaian dan merenggut dayamu untuk belajar dari kesalahan pada masa lalu. Hilanglah kemampuan untuk membedakan dan hidupmu menjadi sia-sia. Namun, jika kamu beralih dari dunia indriawi, bebas dari kebergantungan dan kebencian, kedamaian akan datang dan segala duka sirna, dan kamu hidup di dalam kebijaksanaan diri.

Pikirkan yang terpecah belah jauh dari bijaksana; bagaimana bisa ia bermeditasi? Bagaimana ia bisa merasa damai?

Jika kamu tidak mengenal kedamaian, bagaimana bisa mengenal kebahagiaan?

Jika kamu membiarkan pikiranmu terbawa olh bujuk rayu indriawi, mereka akan menghanyutkan akal sehatmu layaknya angin puyuh menerpa sebuah kapal hingga keluar jalur, menuju kehancuran….

Layaknya sungai-sungai kecil mengalir ke lautan, tetapi tidak dapat membuat lautan luas tumpah.

Begitu pula aliran-aliran sungai dunia indriawi yang menuju lautan kedamaian bernama Kebijaksanaan.

Mereka yang terbiasa terlepas dari belenggu kegoisan dari kata saya dan milik saya telah terbebas selamanya untuk bisa bersatu dengan Tuhan Yang Maha Pengasih.

Ini adalah yang paling agung. Capailah ini dan lewati kematian menuju keabadian.

Ayat-ayat ini tampak dalam bentangan sejarah hidup Ghandi. Selama lebih dari lima puluh tahun, ia bermeditasi pagi dan malam berdasarkan ayat-ayat ini. Ghandi mengabdikan segala daya upaya untuk mewujudkan ayat-ayat ini, dengan bantuan mantra, ke dalam tindakannya sehari-hari. Dengan berbekal initisari filsafat Bhagavad Gita tersebut, Ghandi mengubah dirinya demi dunia.

SATYAGRAHA DAN AHIMSA

Ghandi lahir dari keluarga sudra/pedagang pada 2 Oktober 1869 di kota pinggir laut Porbandar (sekarang dikenal dengan nama Gujarat), India bagian barat laut.[xii] Jauh sebelum kelahiran Ghandi, India sudah berada di bawah kekuasaan organisasi perdagangan British East Indian Company (BEIC). BEIC menghisap habis kemakmuran India. Tanah India dikenai pajak, dan banyak desa di India tidak mampu bertahan. Jutaan orang kelaparan. Pada 1858, Pemerintah Inggris meletakkan kakinya di tanah India dan menjadikan India sebagai koloni kerajaan. BEIC dibubarkan pada 1877. Ini menandai era di mana Inggris mendominasi India sepenuhnya.

Pada 1888, Ghandi muda berlayar dari Bombay ke London untuk belajar ilmu hukum. Pada masa-masa belajar inilah, Ghandi bergabung dengan komunitas vegetarian, serta bersama para teosofi membaca Bhagavad Gita, Kitab di Bukit, dan the Light of Asia (kisah hidup Budha). Setelah menyelesaikan masa studinya, Ghandi kembali ke India pada 1891. Ghandi kemudian mendirikan firma hukum. Namun demikian, upayanya ini menuai kegagalan. Kemudian, pada 1893, Ghandi berangkat ke Natal, Afrika Selatan, untuk menjalani kontrak satu tahun dengan firma hukum milik Muslim asal Porbandar. Pada 1894, Ghandi setuju untuk menetap sebagai pelobi, penasihat, dan pengacara untuk kemunitas India di Natal.

Tahun 1906 adalah saat yang sangat penting dalam perjalanan Ghandi sebagai pejuang gerakan nirkekerasan. Inilah saat kelahiran satyagraha. Pada Juli 1906, Ghandi menyaksikan penderitaan yang dialami oleh orang-orang Zulu sebagai akibat perlawanannya kepada penguasa, Ghandi bersumpah dua hal: non-kepemilikan dan mengabdikan hidupnya untuk melayani orang banyak. Pada 1913, Ghandi mulai memimpin kampanye satyagraha menetang Undang-undang Imigrasi Asia dan melawan aturan-aturan yang menyatakan bahwa hanya pernikahan yang dilaksanakan dengan agama Kristen yang dianggap legal. Kemudian, pada 1814, Ghandi jatuh sakit. Ia lantas kembali ke India. Ketika tiba di India pada 1915, Ghandi kemudian dijuluki sebagai Mahatma (jiwa yang hebat). Ia juga mendirikan ashram di Kocrhrab, dekat Ahmedabad, menerima keluarga Hindu Harijan yang pertama serta terlibat dalam Kongres Nasional India.

Pada 1917 sampai 1922, Ghandi sangat aktif melakukan perjuangan nirkekerasan melawan Inggris di India. Pada 1922, Ghandi ditangkap oleh Pemerintah Inggris dan kemudian dipenjara di Yeravada untuk menjalani hukuman selama 6 tahun.  Di dalam penjara yang ada di Afrika Selatan inilah, Ghandi mulai menulis satyagraha. Setelah kemudian dibebaskan dari penjara dan melanjutkan perjuangan yang berhasil menggerakan seluruh orang India untuk menuntut kemerdekaan.

Satyagraha adalah nama yang diberikan Ghandi pada metode baru guna mengatasi ketidakadilan. Satyagraha berarti ‘berpegang pada kebenaran’ atau ‘kekuatan jiwa’. Satya dalam bahasa Sanskerta artinya ‘kebenaran’. Gagasan di balik satya adalah bahwa hanya kebenaranlah yang benar-benar ada, karena kebenaran bukan apa yang membawa kebaikan pada waktu dan tempat tertentu saja atau dalam kondisi tertentu saja, melainkan apa yang tidak pernah berubah. Ghandi berpendapat bahwa kejahatan, ketidakadilan, dan kebencian hanya ada selama kita mendukungnya. Kejahatan, ketidakadilan, dan kebencian tidak memiliki keberadaan dengan sendirinya. Tanpa kerja sama kita, disengaja atau tanpa sengaja, kejahatan, ketidakadilan dan kebencian, tidak mungkin berlanjut.

Pandangan bahwa kejahatan, ketidakadilan dan kebencian sesunggunya tidak memiliki status ontologism yang tetap tampak berada di balik nonkooperasi tanpa kekerasan. Selama orang-orang menerima eksploitasi, yang mengeksploitasi dan yang terekploitasi akan terjerat dalam ketidakadilan. Namun, sekali yang tereksploitasi menolak untuk menerima hubungan itu, menolak untuk bekerja sama dengannya, mereka akan merdeka. Ghandi malakukan eksperimentasi konsep satyagraha yang dikemukakannya di Afrika Selatan selama tujuh tahun. Ghani memandang bahwa hal itu bisa berjalan baik. Kemudian, ketika pulang ke India, Ghandhi sudah punya pengalaman yang cukup untuk menjadi pejuang kemerdekaan dengan metode nirkekerasan, perlawanan tanpa kekerasan. Ghandhi sangat tahu bahwa bangsa India bisa membebaskan dirinya secara politik dari kekuasaan Inggris tanpa perang, tanpa kekerasan, jika penduduk India bersedia menerima kepemimpinannya dan patuh sepenuhnya dengan syarat tanpa kekerasan yang ia sodorkan ke hadapan mereka.

Ghandi mengatakan:

“Tentukan tujuan kalian,” ia menantang, “tanpa pamrih, tanpa memikirkan kesenangan atau keuntungan pribadi, lalu gunakan cara-cara yang tanpa pamrih untuk mencapai tujuan kalian. Jangan samapai menggunakan kekerasan, sekalipun pada awalnya tampak menjanjikan keberhasilan. Itu hanya akan menyangkal tujuan kalian. Gunakan cara-cara kasih saying dan rasa hormat sekalipun hasilnya tampak jauh atau tidak pasti. Kemudian, terjunkan hati dan jiwamu ke dalam kampanye, tidak ada harga yang terlalu tinggi bekerja demi kesejahteraan mereka yang ada di sekitarmu. Setiap kemunduran, setiap kekalahan, akan membawamu lebih jauh ke dalam sumber dayamu yang terdalam. Kekerasan tak akan pernah dapat mengakhiri kekerasan; yang bisa dilakukannya hanyalah memancing kekerasan yang lebih besar. Namun, jika kita mampu bersetia pada nirkekerasaan penuh dalam pikiran, ucapan, dan tindakan, kemerdekaan India sudah dipastikan.”[xiii]

Lalu, bagaimana hubungan antara satyagraha dengan ahimsa? Satya dan ahimsa, kebenaran dan nirkekerasan, menjadi semboyan tetap Ghandi dalam perjuangannya. Dalam pengalamannya, keduanya adalah “dua sisi dari mata uang yang sama”, dua cara dalam memandang kenyataan yang dialami. Baginya, satya berarti kebenaran yang paling dalam tentang kehidupan, yaitu semua kehidupan adalah satu. Satyagraha artinya berpegang teguh pada kebenaran dalam setiap keadaan, tidak peduli seberapa dahsyat badai yang menerjang. Karena ia tidak menginginkan apa pun demi bagi dirinya, maka orang yang berpartisipasi dalam satyagraha (satyagrahi) sejati tidak gentar memasuki konflik apa pun demi kepentingan orang-orang di sekitarnya, tanpa permusuhan, tanpa benci, bahkan tanpa kata-kata kasar. Dihadapkan pada provokasi yang paling keras sekalipun, ia tidak pernah membiarkan dirinya lupa bahwa ia dan penyerangnya adalah satu. Inilah ahimsa, yang lebih dari sekadar tidak hanya kekerasan; ini adalah kasih yang sangat kuat.

Kata Sanskerta ahimsa tidak mengandung konotasi negatif atau pasif seperti dalam terjemahan Inggrisnya “non-violence” (nirkekerasan)”. Maksud dari ahimsa adalah ketika semua kekerasan hilang dari hati manusia, keadaan yang tersisa adalah kasih saying. Ini bukan sesuatu yang harus kita dapatkan; ini selalu hadir dan hanya perlu ditemukan. Ini adalah sifat dasar kita yang sebenarnya, bukan sekadar mencintai seseroang di sini, seseorang lagi di sana, tapi menjadi cinta itu sendiri. Satyagraha adalah cinta dalam tindakan nyata. Menurut Ghandi:

“Seorang satyagrahi mengucapkan selamat tinggal pada ketakutan. Oleh karena itu, ia tidak pernah takut mempercayai lawannya. Bahkan, jika lawannya mempermainkannya sebanyak dua puluh kali, satyagrahi akan siap mempercayainya untuk kali kedua puluh satu karena kepercayaan mutlak pada sifat manusia merupakan inti dari keyakinan.”

Kemudian, Ghandi mengatakan:

“Dalam styagraha bukan kuantitas yang dihitung, mealinkan kualitas, terlebih ketika kekuatan kekerasan sedang berada pada puncaknya. Kemudian, seringkali terlupakan bahwa tidak pernah menjadi tujuan seorang satyagrahi untuk memperlakukan pelaku kesalahan. Sasarannya bukanlah pada ketakutannya, melainkan senantiasa harus pada hatinya. Tujuan satyagrahi adalah mengubah, bukan memaksa, pelaku kesalahan. Ia harus menghindari kepalsuan dalam semua perbuatannya. Ia bertindak secara alami dan berdasarkan keyakinan dalam dirinya. Satyagraha bersifat lembut, tidak pernah melukai. Satyaghara tidak boleh merupakan akibat dari kemarahan atau kedengkian. Satyagraha tidak pernah rewel, tidak pernah tergesa-gesa, tidak pernah heboh. Satyagraha adalah kebalikan dari paksaan. Satyagraha disusun sebagai pengganti penuh kekerasan. Ahimsa adalah darma kita, hukum pusat keberadaan kita, tertulis dalam setiap sel kita. Ghandi pernah mengatakan bahwa ‘hukum rimba’ tidak jadi masalah untuk binatang; kekerasan adalah darma mereka. Namun, bagi manusia, melakukan kekerasan sama saja dengan membalik alur evolusi dan melawan sifat dasar kita, yakni mencintai, menanggung, dan memaafkan.”

PENUTUP

Bhagavad Gitalah yang mengajarkan seni hidup dalam kebebasan ini kepada Mahatma Ghandi secara nyata. Bahkan, bisa dikatakan bahwa pada akhirnya Ghandi adalah eksemplar seorang anak manusia yang mencoba menerjemahkan Bahagavad Gita melalui keseluruhan hidupnya. Dengan kata lain, Ghandi adalah “anak” dari Gita. Mengamati kiprah Ghandi di bidang politik, ekonomi, atau perlawanan nirkekerasan, kita bisa melihat bahwa Bhagavad Gita begitu hidup di dalam keseharian Ghandi. Jika kita dapat memahami Bhagavad Gita sebagai suatu pedoman dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat memahami Ghandi. Namun, tidaklah mungkin memahami Gita dengan cara ini tanpa mencoba mempraktikkannya, sebagaimana yang telah dilakukan Ghandi. Ghandi bermeditasi “dengan konsentrasi yang tak terbagi” tentang apa yang menjadi idealisme dalam Bhagavad Gita: orang yang menolak segala sesuatu demi kecintaannya melayani orang lain dan hidup dalam kebebasan serta kebahagiaan.

Satyagraha dan ahimsa adalah dua konsep yang digunakan Ghandi untuk menerjemahkan pesan-pesan filosofis yang terkandung dalam Bhagavad Gita ke dalam kehidupan praktis. Satya dan ahimsa, kebenaran dan nirkekerasan, adalah “dua sisi dari mata uang yang sama”, dua cara dalam memandang kenyataan yang dialami. Bagi Ghandi, satya berarti kebenaran yang paling dalam tentang kehidupan, yaitu semua kehidupan adalah satu. Satyagraha artinya berpegang teguh pada kebenaran dalam setiap keadaan, tidak peduli seberapa dahsyat badai yang menerjang. Karena ia tidak menginginkan apa pun demi bagi dirinya, maka orang yang berpartisipasi dalam satyagraha (satyagrahi) sejati tidak gentar memasuki konflik apa pun demi kepentingan orang-orang di sekitarnya, tanpa permusuhan, tanpa benci, bahkan tanpa kata-kata kasar. Dihadapkan pada provokasi yang paling keras sekalipun, ia tidak pernah membiarkan dirinya lupa bahwa ia dan penyerangnya adalah satu. Inilah ahimsa, yang lebih dari sekadar tidak hanya kekerasan; ini adalah kasih yang sangat kuat.


[i] Karen Armstrong menyebut Mahatma Ghandhi, Martin Luther Jr., Nelson Mandela serta Dalai Lama sebagai pemimpin dunia penuh kasih dan berprinsip yang senantiasa dirindukan oleh masyarakat dunia. Lih. Karen Armstrong, Comppassion: 12 Jalan Menuju Hidup Berbelas Kasih, terj. Yuliani Liputo, (Bandung: Mizan, 2012), h. 17.

[ii] Untuk penjelasan singkat tentang agama Hindu dan teks-teks keagamaannya, lih. Huston Smith, Agama-agama Manusia, terj. Saafroedin Bahar, (Jakarta: Yayasan Obor, 2001), h. 16-104; John M. Koller, Filsafat Asia, terj. Donatus Sermada, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2010), h. 3-247; James K. Feiblemen, Understanding Oriental Philosophy (Menthor Book, 1916).

[iii] A. Sudiarja, Membaca Bhagavad-Gita Bersama Prof. R.C. Zaehner (Yogyakarta: Penerbit Sanata Dharma: 2012), h. 4.

[iv] Isi kitab Bhagavad Gita sendiri berbicara tentang dialog antara Krishna dan Arjuna sesaat sebelum perang Bharata Yuda antara Pandawa dan Kurawa di Kurukhsetra. Pandawa dan Kurawa sebenarnya masih satu keluarga yang berasal dari satu kakek (Resi Abiyasa). Pandawa adalah lima orang bersaudara, putra-putra Pandu. Sementara Kurawa adalah seratus orang bersaudara, putra-putri Dhristarashtra. Raja Pandu meninggal ketika kelima anaknya masih kecil-kecil. Oleh karena itu, kerajaannya dipercayakan kepada kakaknya yang buta, Dhristarshtra, sampai saat nantinya para Pandawa cukup dewasa untuk meemrintah. Akan tetapi, ketika saat itu tiba, Yudhistira, putra sulung Pandu yang seharusnya menggantikan tahta itu ditipu dalam permainan dadu oleh anak-anak Dhristarashtra, sehingga mengalami kekalahan. Ia diharuskan menyerahkan tahtanya selama tiga belas tahun. Selama waktu itu, Yudhistira dan saudara-saudaranya harus mengungsi ke hutan. Setelah tiga belas tahun lewat, putra-putra Kurawa menolak mereka. Inilah yang menjadi alasan peperangan besar antara mereka. Lih. A. Sudiarja, Membaca Bhagavad-Gita Bersama Prof. R.C. Zaehner, h. 11.

[v] Arjuna, tokoh dalam Bhagavad Gita ini, adalah anak ketiga dari kelima bersaudara dalam keluarga Pandawa. Sementara itu, Shri Krishna adalah sais keretanya. Dialog dalam Bhagavad Gita menuliskan keadaan Arjuna yang bimbang untuk menjalankan tugasnya sebagai kshatrya untuk berperang. Dia menghadapi dilemma antara menjalankan dharma untuk berperang dan mengalahkan musuhnya atau tidak menjalankannya, karena musuhnya tak lain adalah saudaranya sendiri, khususnya Karna. Untuk itu, Krishna kemudian mewahyukan seluruh misteri tentang kodrat manusia dan yang ilahi kepada Arjuna. Lih. A. Sudiarja, Membaca Bhagavad-Gita Bersama Prof. R.C. Zaehner, h. 11.

[vi] Eknath Easwaran, Ghandi The Man: Seorang Pria yang Mengubah Dirinya Demi Dunia, terj. Yendhi Amalia & Hari Mulayana, (Yogyakarta: Bentang, 2013), h. 142.

[vii] Easwaran, Ghandi The Man, h. 143.

[viii] Menerjemahkan Gita ke dalam bahasa lain adalah perkara yang berbeda dengan menerjemahkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama merupakan praktik intelektual yang berada pada tingkat permukaan kepribadian saja, terlepas dari sebesar apa pun bakat dan pengetahuan yang mungkin dilibatkan. Yang kedua menjangkau tingkat kesadaraan yang paling dalam dan berujung pada transformasi menyeluruh terhadap sifat dan perilaku. Apa yang Ghandi lakukan adalah menerjemahkan Bhagavad Gita ke dalam kehidupan nyata.

[xi] Easwaran, Ghandi The Man, h. 165-167.

[xii] Pada 30 Januari 1946, Ghandi terbunuh dalam sebuah acara doa bersama.

[xiii] Sejarawan J.B. Kripalani, yang menjadi salah seroang  rekan kerja terdekat Ghandi, mengatakan bahwa kali pertama mendengar Ghandi berkata seperti itu, ia sangat terkejut sehingga langsung mendekat dan berkata secara blakblakan, “Mr. Ghandi, Anda mungkin tahu semua soal Alkitab dan Bhaghavad Gita, tetapi Anda sama sekali tidak tahu apa-apa soal sejarah. Tidak pernah sebuah Negara mampu membebaskan dirinya sendiri tanpa kekerasan.” Ghandi pun tersenyum. ‘Anda yang tidak tahu apa-apa soal sejarah,” ia membetulkan dengan halus. “Hal pertama yang harus Anda pelajari soal sejarah adalah hanya karena sesuatu tidak pernah terjadi pada masa lalu, bukan berarti itu tidak dapat terjadi di masa depan.” Lih. Easwaran, Ghandi The Man, h. 72-73.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: