Iqbal Hasanuddin

DARI ‘FAKTA SOSIAL’ KE ‘PRAKTIK SOSIAL’: ANALISIS ATAS PERGESERAN PARADIGMA DALAM SOSIOLOGI

Posted by iqbalhasanuddin pada Februari 14, 2014

PENGANTAR

Kata ‘new’ (baru) dalam judul buku Anthony Giddens, New Rules of Sociological Method,[i] betul-betul menunjukan sesuatu yang baru dalam diskursus metode sosiologi kontemporer. Bagi Gidedens, sebagai salah satu pemikir sosial terkemuka masa kini, buku ini memang ditulis sebagai sebuah manifesto bagi sosiologi baru, sekaligus maklumat tentang krisis yang dialami oleh sosiologi lama, yang menifestonya ditulis oleh Emile Durkheim dalam The Rules of Sociological Method.[ii] Kebaruan dalam pemikiran sosial Giddens merupakan suatu petanda bagi munculnya suatu cara berpikir baru atau—meminjam istilah Thomas Kuhn—paradigma baru.[iii] Jika dikatakan bahwa ‘metode sosiologi’ yang dirumuskan oleh Durkheim adalah paradigm lama, sementara ‘metode sosiologi baru’ dari Giddens adalah paradigma baru, maka hal ini betul-betul menunjukan suatu proses pergeseran paradigma dalam sosiologi.

Sepanjang karirnya, Emile Durkheim terpanggil untuk melembagakan sosiologi sebagai satu disiplin akademis. Pada awal karirnya, Durkheim merasakan bahwa pendekatan filsafat tradisional sudah tidak relevan lagi dalam menjelaskan masalah-masalah sosial, karena pendekatan filsafat menurutnya cenderung bersifat abstrak dan spekulatif. Sebaliknya, dalam pandangan Durkheim, masalah-masalah sosial sejatinya dijelaskan secara lebih empiris dan objektif. Durkheim rupanya terinspirasi dengan keberhasilan ilmu-ilmu alam yang berhasil keluar dari dominasi filsafat untuk kemudian merumuskan objek (material maupun formal) kajiannya sendiri. Bagi Dukrheim, ilmu tentang masyarakat harus memiliki objek material dan formal yang berbeda dari filsafat, biologi dan bahkan psikologi. Dengan memiliki objek material dan formalnya sendiri, ilmu kemasyarakatan akan dianggap layak untuk menjadi satu disiplin akademis tersendiri.

Melalui berbagai upaya akademis yang dilakukan oleh Durkheim, sosiologi akhirnya berkembang menjadi ilmu yang memiliki kedudukan tersendiri di dunia ilmu pengetahuan. Bahkan, lebih dari itu, sosiologi Durkheimian kemudian meemiliki pengaruh dominan dalam ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Dalam hal ini, ‘metode sosiologi” yang dirumuskan oleh Durkheim kemudian menjadi ‘standar normal’ bagi ilmu-ilmu sosial moden dan kontemporer. Memang, sosiologi Weberian dan Marxian juga memiliki pengikut di dalam ilmu-ilmu sosial modern dan kontemporer, namun pengaruh keduanya tidak sekuat pengaruh Durkheim. Ilmuwan-ilmuwan sosial besar seperti Talcott Parsons dan Samuel Huntington bekerja dalam tradisi akademis yang ‘aturan-aturan metodis’-nya telah disusun oleh Durkheim.[iv]

Adalah Anthony Giddens—bersama dengan Jurgen Habermas[v] dan Pierre Bourdieu[vi]—yang menjadi pendobrak bagi paradigma sosiologi Durkhemian. Bagi Giddens, ‘aturan-aturan metode sosiologi’ yang dirumuskan Durkheim sudah tidak lagi memadai dalam menjelaskan berbagai gejala sosial yang ada. Karena itu, Giddens kemudian melakukan berbagai pengkajian teoritis untuk dapat merumuskan paradigma baru dalam sosiologi. Untuk itu, Giddens kemudian menulis ‘Aturan-aturan Baru Metode Sosiologi’ sebagai pengganti “Aturan-aturan Metode Sosiologi’ yang ditulis oleh Durkheim.

Pertanyaannya adalah: Apa isi dari paradigma lama dalam sosiologi, serta asumsi-asumsi apa yang menjadi pijakan dasarnya? Apa isi dari paradigma baru dalam sosiologi, serta asumsi-asumsi apa yang menjadi pijakan dasarnya? Kedua pertanyaan ini juga terkait dengan perbedaan di antara kedua paradigma sosiologi tersebut. Apakah pergeseran paradigma di dalam sosiologi ini ada kaitanya dengan perkembangan di dalam bidang pemikiran filosofis? Apa implikasi dari pergeseran paradigma dalam sosiologi tersebut bagi ilmu-ilmu sosial kontemporer pada umumnya?

Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk itu, tulisan ini ditulis dengan susunan sebagai berikut. Pada bagian “Pergeseran Paradigma”, dijelaskan pengertian ‘paradigma’ sebagaimana dimaksudkan oleh Thomas Kuhn, serta dipaparkan juga arti dari istilah pergeseran paradigma. Kemudian, bagian “Sosiologi Lama: Paradigma Fakta Sosial” berisi tentang paradigma sosiologi sebagaimana dirumuskan oleh Emile Durkheim yang akhirnya menjadi standar bagi sosiologi modern. Pada bagian “Sosiologi Baru: Paradigma Praktik Sosial”, dijelaskan upaya Giddens untuk merumuskan paradigma baru sosiologi untuk menggantikan sosiologi Durkheimian.

PERGESERAN PARADIGMA

Dalam The Structure of Scientific Revolution, Thomas Kuhn (1922-1996) menjelaskan bahwa Paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai-nilai, metode-metode, atau prinsip dasar yang dianut oleh suatu masyarakat ilmiah pada suatu tertentu. Apabila suatu cara pandang tertentu mendapat tantangan dari luar atau mengalami krisis, kepercayaan terhadap cara pandang tersebut menjadi luntur, dan cara pandang yang demikian menjadi kurang berwibawa, pada saat itulah menjadi pertanda telah terjadi pergeseran paradigma. Dalam pemikiran Kuhn, paradigma secara tidak langsung mempengaruhi proses ilmiah dalam empat hal, yakni: Apa yang harus dipelajari dan diteliti; pertanyaan yang harus ditanyakan; struktur sebenarnya dan sifat dasar dari pertanyaan itu; dan bagaimana hasil dari riset diinterpretasikan.[vii]

Kuhn menyampaikan bahwa sains tidak berkembang secara bertahap menuju kebenaran, melainkan mengalami revolusi periodik yang dia sebut sebagai ‘pergeseran paradigma’. Analisis Kuhn tentang sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa praktek saintifik berjalan dalam empat tahapan, yakni:

  1. Tahap Pra-ilmiah. Pada tahap ini, tidak ada konsensus tentang teori apapun. Di sini, fase Pra-ilmiah pada umumnya ditandai oleh beberapa teori yang tidak sesuai dan tidak lengkap. Akhirnya, salah satu dari teori muncul menjadi pemenang dalam kontestasi yang keras. Teori ini menjadi normal science.[viii]
  2. Tahap Normal Science. Para ilmuwan yang bekerja dalam satu paradigma yang telah dirumuskan dan menjadi normal science. Dalam tahap ilmu pengetahuan normal, tugas ilmuwan adalah memperumit, memperluas, dan membenarkan paradigma.[ix]
  3. Tahap krisis. Akhirnya, sekuat apapun suatu paradigma berjalan, ada satu masalah saintifik muncul yang tidak bisa dijelaskan oleh normal science. Jika kondisi ini semakin kuat dan noral science kehilangan posisi dominannya, maka munculah tahap krisis.[x]
  4. Tahap Pergeseran Paradigma. Ketika paradigma lama tidak bisa menjelaskan kondisi krisis, dan kemudian muncul suatu teori baru yang bisa lebih menjelaskan dan akhirnya menjadi paradigma baru, maka itu menunjukkan telah terjadi pergeseran paradigma.[xi]

Dalam tradisi filsafat ilmu dan filsafat pengetahuan pada umumnya, konsep ‘paradigma’ yang dimunculkan oleh Kuhn sebenarnya memiliki kesamaan dengan konsep-konsep seperti ‘permainan-bahasa’ (Wittgenstein), ‘realitas multipel’ (James, Schultz), ‘problematik’ (Althuser, Bachelard), dan ‘episteme’ (Foucault). Secara umum, konsep-konsep ini merujuk kepada pemahaman bahwa setiap setiap istilah, ungkapan atau deskripsi (baik filosofis ataupun ilmiah) senantiasa merujuk kepada suatu ‘sistem pengatahuan’ atau ‘kerangka makna’ di mana di dalamnya terdapat ‘aturan-aturan metodis-epistemologis” yang analog dengan norma-norma dalam kehidupan sosial. Semua ‘aturan-aturan metodis-epistemologis’ tersebut membatasi tapi sekaligus memungkinkan para ilmuwan atau filsuf untuk memikirkan dan mewacanakan ‘realitas’melalui kaca mata ‘aturan-aturan’ tersebut.[xii]

Apa yang dipikirkan oleh Kuhn dengan paradigma sebetulnya banyak dilatarbelakangi oleh masalah-masalah yang ada dalam tradisi ilmu-ilmu alam. Karenanya, dalam kadar tertentu, akan muncul beberapa masalah ketika konsep paradigma tersebut diaplikasikan kepada dunia ilmu-ilmu sosial. Hal ini terutama karena perbedaan antara ‘alam’ yang menjadi objek kajian ilmu alam dan ‘masyarakat’ yang menjadi ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi. Di sini, upaya untuk mengaplikasikan konsep paradigma Kuhnian dalam ilmu-ilmu sosial harus disertai dengan beberapa catatan dalam rangka kehati-hatian sebagai berikut.

Pertama, melalui konsep ‘paradigma’, Kuhn cenderung melebih-lebihkan kesatuan internal dari suatu paradigma. Konsep ‘paradigma’ mengacu kepada asumsi-asumsi yang tidak dipertanyakan dan tidak-teruji kebenaranya, yang dimiliki secara bersama-sama oleh komunitas ilmuwan. Namun demikian, dalam konteks ilmu-ilmu sosial, biasanya tidak terdapat madzhab teoritis yang betul-betul bisa dikategorikan sebagai ‘ilmu normal’ karena beragamnya ‘kerangka acuan metodis-epistemologis’ dalam ilmu-ilmu sosial. Misalnya, paradigma ‘fakta sosial’ Durkhemian memang memiliki pengaruh yang sangat dominan dalam sosiologi klasik dan modern. Namun, masih banyak komunitas ilmuwan di lingkungan ilmu-ilmu sosial yang tidak bekerja dalam paradigma Durkheimian, tapi lebih kepada paradigma Weberian atau Marxian. Karenanya, tak heran jika orang seperti George Ritzer menyebut sosiologi sebagai ilmu yang memilki multi-paradigma.[xiii]

Kedua, perkembangan ilmu pengetahuan sosial terus-menerus terjalin dengan, dan dipengaruhi oleh, pengaruh dan kepentingan sosial yang berada di luar lingkup ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh karakteristik dari struktur ontologis dan epistemologis di dalam ilmu-ilmu sosial sendiri. Jika di dalam ilmu-ilmu alam, alam sebagai objek kajian ilmiahnya cenderung memiliki keajegan (setidaknya bagi kalangan realis), maka dalam masyarakat yang menjadi objek kajian ilmu-ilmu sosial cenderung tidak memilki keajegan sebagaimana alam di dalam ilmu-ilmu alam. Dalam setiap masyarakat yang dikaji dalam ilmu-ilmu sosial, terdapat ‘hukum’nya sendiri. Bahkan, konstruksi suatu pengetahuan atau ilmu pengetahuan di dalam suatu masyarakat akan sangat tergantung pada, misalnya, ideologi yang dianut oleh masyarakat tertentu. Di dalam sebuah masyarakat atau Negara sosialis misalnya, akan sulit dicari ilmuwan sosial yang bekerja dalam paradigma Durkheimian atau Weberian. Mereka tentunya akan lebih banyak bekerja dalam paradigma Marxian.

Meskipun disertai catatan-catatan tersebut, upaya untuk menggunakan konsep paradigma atau pergeseran paradigma di dalam ilmu-ilmu sosial tetap memiliki signifikansi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dalam kadar tertentu, sejarah ilmu-ilmu sosial menunjukan pembenaran atas konsep pergeseran paradigma tersebut. Dalam tulisan ini, saya memunculkan pergeseran paradigma dalam ilmu-ilmu sosial dari paradigma dominan yang sering disebut sebagai dengan paradigma ‘fakta sosial’ yang dasar-dasarnya dirumuskan oleh Durkheim ke paradigma baru yang banyak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan pemikiran dalam tradisi filosofis, terutama oleh ‘peralihan ke bahasa’ yang digagas oleh Martin Heidegger dan Ludwig Wittgenstein.[xiv] Paradigma baru ilmu-ilmu sosial yang dipengaruhi oleh ‘perlaihan ke bahasa’ terutama dimotori oleh Anthony Giddens di Inggris, Jurgen Habermas di Jerman dan Pierre Bourdieu di Perancis. Namun, karena keterbatasan ruang, maka dalam tulisan ini, pemikiran teoritis Anthony Giddens dipilih sebagai contoh dari paradigma baru ilmu-ilmu sosial kontemporer.

SOSIOLOGI LAMA: PARADIGMA ‘FAKTA SOSIAL’

Sebagaimana telah dikatakan, Durkheim berjuang untuk melembagakan sosiologi sebagai satu disiplin akademis. Pada awal karirnya, Durkheim merasakan bahwa pendekatan filsafat tradisional sudah tidak relevan lagi dalam menjelaskan masalah-masalah sosial, karena pendekatan filsafat menurutnya cenderung bersifat abstrak dan spekulatif. Sebaliknya, dalam pandangan Durkheim, masalah-masalah sosial sejatinya dijelaskan secara lebih empiris dan objektif. Durkheim rupanya terinspirasi dengan keberhasilan ilmu-ilmu alam yang berhasil keluar dari dominasi filsafat untuk kemudian merumuskan objek (material maupun formal) kajiannya sendiri. Bagi Durkheim, ilmu tentang masyarakat harus memiliki objek material dan formal yang berbeda dari filsafat, biologi dan bahkan psikologi. Dengan memiliki objek material dan formalnya sendiri, ilmu kemasyarakatan akan dianggap layak untuk menjadi satu disiplin akademis tersendiri.

Untuk itu, Durkheim menulis The Rules of Sociologiocal Method sebagai manifesto bagi disiplin akademis baru tersebut. Di dalam buku ini, Durkheim mengemukakan asumsi-asumsi umum yang paling fundamental yang mendasari pendekatan Durkheim terhadap sosiologi sebagai berikut:

(1)   Gejala sosial itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atrau karakteristik individu lainnya.

(2)   Karena gejala sosial merupakan fakta yang riil, gejala-gejala itu dapat dipelajari dengan metode-metode empirik, yang memungkinkan satu ilmu sejati tentang masyarakat dapat dikembangkan.

Tekanan Durkheim pada kenyataan gejala sosial yang objektif itu bertentangan tidak hanya dengan individualism yang berlebih-lebihan, tapi juga dengan para ahli teori yang pendekatannya terlampau spekulatif dan filosofis.[xv]

Bagi Durkheim, fakta sosial berbeda dengan fakta individu. Tekanan Durkheim pada kenyataan gejala sosial yang objektif itu ditentang oleh kalangan individualis dengan argumen berikut. Gejala sosial mencerminkan proses mental subjektif yang tidak dapat sesuai dengan pengukuran-pengukuran objektif, atau bahwa untuk menjelaskan perilaku manusia menurut hukum-hukum ilmiah akibatnya akan menyangkal kemungkinan kebebasan manusia dalam mengadakan pilihan. Menurut Durkheim, fakta sosial itu tidak dapat direduksikan ke fakta individu, melainkan memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial.

Untuk menunjukan bahwa fakta sosial berbeda dari fakta individu, Durkheim kemudian mengemukakan apa yang disebutnya sebagai karakteristik fakta sosial karakteristik ini dibuat dengan sengaja untuk membedakan gejala sosial dengan gejala-gejala yang benar-benar individual (atau psikologis)? Durkheim mengemukakan dengan tegas tiga karakteristik fakta sosial sebagai berikut:[xvi]

(1)   Fakta sosial bersifat eksternal terhadap individu. Bagi Durkheim, fakta sosial seperti bahasa, system moneter, norma-norma professional, dan lain-lain, tidak lain adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan sifat yang menunjukan sebagai sesuatu yang berada di luar individu. Memang, banyak dari fakta sosial ini akhirnya diendapkan oleh individu melalui proses sosialisasi, tapi individu sejak awalnya mengkonforntasikan fakta sosial itu sebagai sesuatu kenyataan eksternal. Misalnya, orang yang masuk ke dalam suatu lingkungan baru pasti akan melihat kebiasaan dan norma di lingkungan barunya itu sebagai sesuatu yang eksternal;

(2)   Fakta sosial itu memaksa individu. Dalam hal ini, individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi pleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. Tipe-tipe perilaku ini mempunyai kekuatan memaksa yang karenanya mereka memaksa individu terlepas dari kemauan individu itu sendiri. Ini tidak berarti bahwa individu itu harus mengalami paksaan fakta sosial dengan cara yang negative atau membatasi seperti memaksa seseorang untuk berperilaku yang bertentangan dengan kemauannya. Jika proses sosialisasi individu di lingkungan sosialnya berjalan dengan baik, maka bagi Durkheim, individu itu sudah mengendapkan fakta sosial yang cocok sedemikian menyeluruhnya sehingga perintah-perintahnya akan kelihatan sebagai hal yang biasa, sama sekali tidak bertentangan dengan kemauan individu.

(3)   Fakta sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat. Dalam hal ini, fakta sosial itu merupakan milik bersama, bukan bersifat individu perseorangan. Sifat umum ini bukan sekadar hasil dari penjumlahan beberapa fakta individu. Fakta sosial benar-benar bersifat kolektif, dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat  kolektifnya ini. di sini, Durkheim ingin menekankan pentingnya tingkat sosial daripada menarik kenyataan sosial dari karakteristik individu.

Sesudah menentukan sifat fakta sosial, bagaimana Durkheim mengembangkan sosiologi sebagai suatu ilmu empiris yang didasarkan pada faka sosial ini? Menurut Durkheim jawabannya adalah sebagai berikut:[xvii]

(1)   Fakta sosial harus dijelaskan dalam hubungannya dengan oleh fakta sosial lainnya. Ini adalah asas pokok yang mutlak. Kemungkinan lain yang paling besar untuk menjelaskan fakta sosial adalah dengan menghubungkannya dengan gejala individu (seperti kemauan, kesadaran, kepentingan pribadi individu, dan seterusnya) seperti yang dikemukakan oleh para ahli ilmu ekonomi klasik dan oleh Spencer. Dengan ini, sosiologi lalu tidak punya isi sama sekali, jarena mereduksikannya ke tingkat psikologis (atau biologis). Durkheim mengatakan bahwa sebab yang menentukan dari suatu fakta sosial harus dicari di antara fakta sosial lainnya yang mendahuluinya dan bukan di antara keadaan-keadaan kesadaran individu itu.

(2)   Asal-usul suatu gejala sosial dan fungsi-fungsinya merupakan dua masalah yang terpisah. Menurut Durkheim, apabila penjelasan mengenai suatu gejala sosial diberikan, kita harus memisahkan sebab yang mengakibatkannya (efficient causes) yang menghasilkan gejala itu, dengan fungsi yang dijalankannya. Prinsip ini berhubungan dengan prinsip sebelumnya. Kalau sebab suatu gejala sosial berupa fungsi atau tujuan yang dicapainya, hal ini mengandung implikasi bahwa maksud yang sadar untuk mencapai tujuan serupa itu adalah sesuatu yang menghasilkan gejala tertentu yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Sekali lagi, hal ini akan mereduksi penjelasan sosiologis pada maksud-maksud subjektif individu dan akan mematahkan pendirian Durkheim yang lebih dulu tentang pengaruh fakta sosial yang memaksa itu. Di sini, pertanyaan mengenai akibat sosial dari tindakan individu adalah terlepas dari pertanyaan tentang apa tujuan-tujuan yang dibayangkan individu. Jadi, misalnya, individu-individu menikah karena alasan yang sangat pribadi: hasilnya adalah suatu angka perkawinan tertentu. Atau individu membuat keputusan pribadi untuk masuk perguruan tinggi. Hasilnya adalah suatu permintaan tertentu akan fasilitas institusi pendidikan, suatu kenaikan dalam tingkat pendidikan dalam masyarakat dan seterusnya. Perubahan keputusan-keputusan individu ini menjadi hasil yang bernilai sosial merupakan dasar dalam fungsionalisme modern.

Sesudah menentukan bahwa penjelasan tentang fakta sosial harus dicari di dalam fakta sosial lainnya, Durkheim memberikan strategi tentang ‘perbandingan terkendali’ sebagai metode yang paling cocok untuk mengembangkan penjelasan kausal dalam sosiologi. Pada intinya, motode perbandingan terkendali ini meliputi klasifikasi silang fakta sosial tertentu untuk menentukan sejauh mana mereka berhubungan. Kalau korelasi antara dua himpunan fakta sosial dapat ditunjukan sebagai valid dalam berbagai macam keadaan, hal ini member satu petunjuk penting bahwa dua tipe fakta itu mungkin berhubungan secara kausal. Artinya, variasi dalam nilai dari suatu tipe variable mungkin merupakan sebab dari variasi dalam niali variable yang kedua. Namun, kovariasi statistik yang konsisten tidak cukup dengan sendirinya untuk membuktikan kausalitas. Harus ada juga hubungan yang logis antara kedua fakta itu. Dalam hal ini, tidak ada suatu hubungan  yang sedemikian itu, korelasi statistic yang diamati itu mungkin menyangkut hubungan timbale-balik antara kedua tipe fakta sosial itu dengan fakta sosial yang ketiga. Durkheim misalnya mencatat bahwa korelasi statistic antara bunuh diri dan pendidikan terjadi, karena kedua variable itu dipengaruhi oleh “semakin melemahnya tradisionalisme agama. Teknik analisa multivariat sekarang ini, di mana korelasi statistik antara variable diuji dengan pengaruh-pengaruh yang mengacaukan dari variable-variabel luar yang terkendali, memperlihatkan satu uraian mengenai logika dasar tentang perbandingan terkendali seperti yang dikemukakan oleh Durkheim.[xviii]

Dalam pengantar bagi buku Durkheim, The Rules of Sociological Method, Steven Lukes mengatakan bahwa pemikiran sosial Durkheim sangat dipengaruhi oleh filsafat Cartesian. Dengan kata lain, The Rules of Sociological Method tidak lain adalah pantulan bunyi Discourse on Method-nya Descartes di dalam ilmu-ilmu sosial. Dalam hal ini, Durkheim adalah seorang realis dalam ilmu pengetahuan. Berdiri di dalam barisan pengikut Descartes, Durkheim terobsesi untuk mencapai ‘konsep absolut pengetahuan’ di mana ‘konsepsi realitas independen dari pikiran manusia, namun representasi dari realitas tersebut dan pikiran manusia bisa dihubungkan melalui upaya untuk mengatasi bias-bias yang mendistorsi pengetahuan manusia. Sebagai sosiolog yang bekerja dalam tradisi Cartesian ini, Durkheim mencanangkan suatu metode sosiologis untuk mencapai eksplanasi absolut atas ‘fakta sosial’.[xix]

Tidak memadainya lagi ‘aturan-aturan metode sosiologi’ yang dirumuskan oleh Durkheim kemudian mengemuka belakangan sebagaimana dicetuskan oleh para pemikir sosial seperti Habermas, Bourdieu dan Giddens. Pada intinya, kekurangan mendasar dalam paradigma ‘fakta sosial’ Durkheimian adalah: Pertama, dengan melihat ‘fakta sosial’ seperti halnya benda-benda yang ada alam, maka paradigma Durkheimian tidak mampu menangkap dinamika-dinamika sosial yang bersifat mikro di mana perbedaan-perbedaan detilnya sangat ditentukan oleh pemaknaan-pemaknaan aktor-aktor sosial. Karena terlalu fokus pada masyarakat secara keseluruhan, maka peranan tindakan bermakna sebagaimana dimanifestokan oleh Weber tidak bisa diberikan tempat yang layak. Akibatnya, dalam soiologi Durkheimian, agensi manusia disubordinasikan di bawah struktur sosial.

Kedua, sementara dalam pemahamannya tentang ontologi dalam sosiologi manusia sedemikian tidak berdaya di bawah subordiasi masyarakat atau struktur sosial, dalam bidang epistemologi sosialnya, Durkheim juga memandang manusia dapat memahami dengan baik fakta sosial apa adanya. Di satu sisi, ini menampakan bahwa rasio manusia demikian kuatnya, sehingga ia bisa sampai kepada ‘fakta sosial’ pada dirinya, serta mampu terlepas dari bias-bias subjektif. Padahal, sebagaimana dijelaskan oleg Richard Rorty, jikalau rasio manusia dianggap seperti cermin yang mampu menampilkan realitas atau ‘fakta sosial’, maka cermin itu adalah sebuah cermin yang retak; rasio manusia hanya memantulkan realitas secara acak, tidak terpola sebagaimana layaknya cermin retak yang memantulkan bayangan kenyataan di depannya.

Paradigma ‘fakta sosial’ Durkheimian memiliki keterbatasan sebagaimana keterbatasan yang ada pada paradigma Cartesian. Kemunculan fenomenologi, khususnya sebagaimana diproyeksikan oleh Martin Heidegger, dan konsep pluralitas ‘permainan bahasa” seperti yang dicanangkan oleh Wittgenstein, telah menandai pemahaman baru tentang relasi antara manusia dan masyarakat, atau antara agensi dan struktur sosial. Misalnya, konsep Dasein sebagai ‘being-in-the world’ telah membuka cakrawala pemikiran sosial kontemporer bahwa pengetahuan manusia dibatasi oleh historisitasnya sebagai pengada yang ada-di dunia. Dunia sedemikian dekat dengan manusia sehingga dunia selalu menjadi konteks bagi pengetahuan manusia serta cara bertindaknya. Namun demikian, manusia juga bukan merupakan pengada yang pasif, melainkan aktif memaknai dunianya, membuat proyeksi-proyeksi. Demikian, manusia bisa melakukan transendensi dari dunia, tapi transendensi dimaksud selalu merupakan transendensi yang sangat terbatas.

Untuk lebih jelasnya, bagian berikut akan menjelaskan secara lebih rinci bagaimana sebetulnya pokok-pokok paradigma ‘praktik sosial’ yang dikembangkan oleh Giddens. Tentu saja, paparan berikut tidak merangkum keseluruhan dan kedalaman pemikiran Gidens. Namun, paparan itu akan menampilkan pokok-pokok pemikiran Giddens tentang ‘aturan-aturan baru metode sosiologi’ sebagaimana ditulisnya dalam New Rules of sociological Method. Aturan-aturan ini secara sengaja dirumuskan sedemikian rupa sebagai pengganti ‘aturan-aturan metode sosiologi’ yang dirumuskan Durkheim dalam The Rules of Sociological Method.

SOSIOLOGI BARU: PARADIGMA ‘PRAKTIK SOSIAL’

Dalam buku New Rules of sociological Method, Giddens merumuskan ‘aturan-aturan baru metode sosiologi’ sebagai berikut:[xx]

A

  1. Sosiologi tidak terkait dengan semesta objek yang ‘telah ada sebelumnya’, tetapi dengan semesta yang dibentuk atau direproduksi oleh tindakan aktif para subjek. Manusia mentransformasi alam secara sosial dan, dengan ‘memanusiakan’ alam, mereka mentransformasikan dirinya sendiri; tetapi mereka, tentu saja, tidak memproduksi dunia alam, yang dibangun sebagai dunia-objek yang independen dari eksistensinya. Jika dalam mentransformasi dunia itu mereka menciptakan sejarah, dan kemudian hidup dalam sejarah, mereka melakukannya karena produksi dan reproduksi masyarakat tidak ‘diprogram secara biologis’, seperti dalam binatang yang lebih rendah tingkatannya. Teori-teori yang dikembangkan manusia mungkin, melalui aplikasi teknologi mereka, mempengaruhi alam, tetapi mereka tidak bisa membentuk fitur-fitur dari dunia alam seperti yang mereka lakukan pada dunia sosial.
  2. Oleh karenanya, produksi dan reproduksi masyarakat harus diperlakukan sebagai perbuatan terampil pada pihak anggota-anggotanya, bukan hanya sebagai rangkaian proses mekanis. Bagaimanapun, menekankan hal ini tentu saja tidak untuk mengatakan bahwa actor sepenuhnya sadar apa keahlian-keahlian itu atau bagaimana mereka melatihnya; atau bahwa bentuk-bentuk kehidupan sosial cukup dipahami sebagai hasil yang tidak sengaja dari tindakan.

B

  1. Dunia agensi manusia bersifat terbatas. Manusia memproduksi masyarakat, meski mereka malakukannya sebagai aktor yang berada dalam sejarah dan tidak di bawah kondisi pilihan mereka sendiri. Bagaimanapun, batas yang tidak stabil antara perilaku yang bisa dianalisis sebagai tindakan sengaja dan perilaku yang harus dianalisis secara nomologis sebagai serangkaian ‘kejadian’. Dalam hubungannya dengan sosiologi, tugas penting analisis nomologis dapat ditemukan dalam penjelasan mengenai properti struktural sistem-sistem sosial.
  2. Struktur harus tidak dikonseptualisasikan hanya sebagai menempatkan batasan pada agensi manusia, tetapi sebagai sesuatu yang memberi kemungkinan. Inilah yang saya sebut sebagai dualitas struktur. Struktur, pada prinsipnya, selalu bisa diamati dalam hubungannya dengan strukturasi. Menyelidiki strukturasi praktik-praktik sosial adalah menejelaskan bagaimana bisa struktur dibentuk melalui tindakan dan, sebaliknya, bagaimana tindakan dibentuk secara struktural.
  3. Proses strukturasi melibatkan keadaan saling mempengaruhi antara makna, norma, dan kekuasaan. Tiga konsep ini secara analitis sepadan sebagai istilah ‘primitif’ dalam ilmu sosial, dan secara logis diindikasikan dalam konsep tindakan sengaja dan struktur: setiap tahanan kognitif dan moral pada saat yang bersamaan merupakan system kekuasaan, yang melibatkan ‘horison legitimasi’.

C

  1. Pengamat sosiologi tidak bisa membuat kehidupan sosial tersedia sebagai ‘fenomena’ untuk observasi secara independen dari menggunakan pengetahuannya mengenai kehidupan sosial itu sebagai sumber yang dengannya kehidupan sosial itu yang dianggap sebagai ‘topik penyelidikan’. Dalam pemahaman ini, posisi pengamat tidak berbeda dari anggota masyarakat yang lain; ‘pengetahuan bersama’ bukan merupakan rangkaian hal yang dapat dikoreksi, namun merepresentasikan skema interpretative yang digunakan, dan harus digunakan, oleh sosiolog dan aktor awam untuk ‘memahami’ aktivitas sosial—yaitu, untuk menghasilkan karakterisasi ‘yang dapat-dikenali’ mengenai aktivitas itu.
  2. Keterlibatan dalam satu bentuk kehidupan merupakan satu-satunya, dan diperlukan, alat sehingga pengamat mampu menghasilkan karakterisasi. Namun, ‘keterlibatan’ di sini—katakanlah, dalam hubungannya dengan budaya asing—tidak berarti ‘menjadi anggota penuh’ dari komunitas, dan tidak bisa berarti demikian. Untuk ‘mengetahui’ bentuk kehidupan asing adalah untuk mengetahui bagaimana menemukan cara seseorang di dalamnya, mampu berpartisipasi di dalamnya sebagai rangkaian praktik. Namun, bagi pengamat sosiologis, hal ini merupakan sebuah mode untuk menghasilkan deskripsi yang harus dimediasi, yaitu, ditransformasi ke dalam kategori-kategori wacana ilmu sosial.

D

  1. 1.      Dengan demikian, konsep-konsep sosiologis mematuhi suatu hermenutik ganda:

(a)    Skema teoritis apapun dalam ilmu sosial ataupun alam, dalam pengertian tertentu, merupakan sebuah bentuk kehidupan dalam dirinya sendiri, konsep-konsep yang harus dikuasai sebagai suatu mode aktivitas praktis yang menghasilkan jenis deskripsi khusus. Bahwa ini sudah merupakan tugas hermeneutik dengan jelas ditunjukkan dalam filsafat ilmu yang dirumuskan Kuhn dan yang lainnya.

(b)   Bagaimanapun, sosiologi berurusan dengan semesta yang sudah dibangun dalam kerangka makna oleh aktor-aktor sosialnya sendiri dan menginterpretasi ulang semua itu dalam skema teoritisnya, memediasi bahasa teknis dan sehari-hari. Hermeneutik ganda sangatlah kompleks karena hubungannya tidak hanya satu arah; ada semacam ‘selip’ terus-menerus dari konsep-konsep yang dibangun dalam sosiologi, di mana hal ini kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang yang perilakunya mula-mula akan mereka analisis dan , oleh karenanya, cenderung menjadi fitur integral dari perilaku itu (dengan demikian, pada kenyataannya, berpotensi mengkompromikan penggunaan aslinya dalam kosakata teknis ilmu sosial).

  1. 2.      Sebagai rangkuman, tugas utama analisis sosiologi adalah sebagai berikut:

(a)    Penjelasan hermeneutic dan mediasi atas berbagai bentuk kehidupan yang berbeda dalam metabahasa deskriptif ilmu sosial;

(b)   Penjelasan mengenai produksi dan reproduksi masyarakat sebagai hasil yang dicapai agen manusia.

Demikian, konsep Heideggerian tentang Dasein diterjemahkan oleh Giddens menjadi konsep strukturasi. Di sini, konsep Dasein atau ‘being-in-the word’ jika diterjemahkan ke dalam bahasa sosiologis menjadi seperti berikut. Manusia adalah agensi yan dibatasi tapi sekaligus dimampukan untuk melakukan tindakan oleh struktur sosial. Struktur sosial hanya ada sejauh diproyeksikan dan direproduksi oleh agensi manusia. Sebagaimana hubungan manusia dan dunia yang sedemikian dekat, maka relasi agensi dan struktur sosial juga sedemikian lekat sehingga sulit untuk memisahkan keduanya. Keduanya bisa dibedakan, tapi tidak dapat dipisahkan. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Tidak ada agensi tanpa struktur, dan tidak ada struktur tanpa agensi. Dualitas agensi dan struktur sosial menandai proses strukturasi yang tercermin dalam praktik-praktik sosial.[xxi]

Dalam konteks inilah, teori strukturasi yang dikemukakan oleh Giddens tidak lain adalah penerjemahan Giddens atas konsep Dasein (being-in-the word) yang digagas oleh Heidegger. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa parallel dengan kritik Haidegger atas humanism Cartesian, maka Giddens juga menampilkan paradigma ‘prakik sosial’ untuk mengkritik paradigma ‘fakta sosial’ Durkheimian. Dengan kata lain, jika paradigma Heideggerian menggantikan paradigma Cartesian di bidang filsafat, maka paradigma Giddensian juga menggantikan paradigma Durkheimian dalam sosiologi. Pergeseran paradigma dalam wilayah pemikiran filosofis juga berbanding lurus dengan pergeseran dalam bidang sosiologi, atau ilmu-ilmu sosial pada umumnya.

 

PENUTUP

Durkheim berjuang untuk melembagakan sosiologi sebagai satu disiplin akademis. Pada awal karirnya, Durkheim merasakan bahwa pendekatan filsafat tradisional sudah tidak relevan lagi dalam menjelaskan masalah-masalah sosial, karena pendekatan filsafat menurutnya cenderung bersifat abstrak dan spekulatif. Sebaliknya, dalam pandangan Durkheim, masalah-masalah sosial sejatinya dijelaskan secara lebih empiris dan objektif. Durkheim rupanya terinspirasi dengan keberhasilan ilmu-ilmu alam yang berhasil keluar dari dominasi filsafat untuk kemudian merumuskan objek (material maupun formal) kajiannya sendiri. Bagi Durkheim, ilmu tentang masyarakat harus memiliki objek material dan formal yang berbeda dari filsafat, biologi dan bahkan psikologi.

Durkheim mengemukakan dengan tegas tiga karakteristik fakta sosial sebagai: 1) bersifat eksternal terhadap individu; 2) memaksa individu; 3) bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat. Untuk menjelaskan fakta sosial dengan karakteristik-karakteristik seperti itu, Durkheim juga merekomendasikan metode pengkajian sosiologi dengan asumsi: 1)  fakta sosial harus dijelaskan dalam hubungannya dengan oleh fakta sosial lainnya; 2) asal-usul suatu gejala sosial dan fungsi-fungsinya merupakan dua masalah yang terpisah.

Paradigma ‘fakta sosial’ Durkheimian memiliki keterbatasan sebagaimana keterbatasan yang ada pada paradigma Cartesian. Kemunculan fenomenologi, khususnya sebagaimana diproyeksikan oleh Martin Heidegger, dan konsep pluralitas ‘permainan bahasa” seperti yang dicanangkan oleh Wittgenstein, telah menandai pemahaman baru tentang relasi antara manusia dan masyarakat, atau antara agensi dan struktur sosial. Misalnya, konsep Dasein sebagai ‘being-in-the world’ telah membuka cakrawala pemikiran sosial kontemporer bahwa pengetahuan manusia dibatasi oleh historisitasnya sebagai pengada yang ada-di dunia. Dunia sedemikian dekat dengan manusia sehingga dunia selalu menjadi konteks bagi pengetahuan manusia serta cara bertindaknya. Namun demikian, manusia juga bukan merupakan pengada yang pasif, melainkan aktif memaknai dunianya, membuat proyeksi-proyeksi. Demikian, manusia bisa melakukan transendensi dari dunia, tapi transendensi dimaksud selalu merupakan transendensi yang sangat terbatas.

Dalam konteks inilah, teori strukturasi yang dikemukakan oleh Giddens tidak lain adalah penerjemahan Giddens atas konsep Dasein (being-in-the word) yang digagas oleh Heidegger. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa parallel dengan kritik Haidegger atas humanism Cartesian, maka Giddens juga menampilkan paradigma ‘prakik sosial’ untuk mengkritik paradigma ‘fakta sosial’ Durkheimian. Dengan kata lain, jika paradigma Heideggerian menggantikan paradigma Cartesian di bidang filsafat, maka paradigma Giddensian juga menggantikan paradigma Durkheimian dalam sosiologi. Pergeseran paradigma dalam wilayah pemikiran filosofis juga berbanding lurus dengan pergeseran dalam bidang sosiologi, atau ilmu-ilmu sosial pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bourdieu, Pierre, Outline of a Theory of Practice (Cambridge: Cambridge University Press, 1977).

________, The Logic of Practice (Cambridge: Polity Press, 1990).

Durkheim, Emile, The Rules of Sociological Method and Selected Texts on Sociology and its Method, trans. W.D. Halls & ed. with an introduction by Steven Lukes, (London: The Macmillan Press, 1982).

Giddens, Anthony, New Rules of Sociological Method: A Positive Critique of Interpretive Sociologies (New York: Basic Books, 1976).

________, Central Problems in Social Theory: Action, Structure and Contradiction in Social Analysis, (London: The Macmillan Press LTD, 1979), h. 3-4.

________, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration, (London: Polity Press, 1984).

________, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya-tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, terj. Soeheba Kramadibrata (Jakarta: UI-Press, 1986);

Habermas, Jurgen, The Theory of Communicative Action (Vol. 1): Reason and the Rationalization of Society, trans. Thomas McCarthy, (Boston: Beacon Press, 1984)

________, The Theory of Communicative Action (Vol. 2): LIfeworld and System: A Critique of Functionalist Reason, trans. Thomas McCarthy, (Boston: Beacon Press, 1987).

Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern (2 Jilid), terj. Robert M.Z. Lawang, (Jakarta: Gramedia, 1986).

Kuhn, Thomas S., The Structure of Scientific Revolutions, (Chicago: The University of Chicago Press, 1962).

Ritzer, George, Sociological Theory, (New York: The McGraw-Hill Companies, 1992), h. 494-497.

Turner, Jonathan H., The Structure of Sociological Theory, (California: Wadsworth, 1991).


[i] Anthony Giddens, New Rules of Sociological Method: A Positive Critique of Interpretive Sociologies (New York: Basic Books, 1976).

[ii] Emile Durkheim, The Rules of Sociological Method and Selected Texts on Sociology and its Method, trans. W.D. Halls & ed. with an introduction by Steven Lukes, (London: The Macmillan Press, 1982).

[iii] Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, (Chicago: The University of Chicago Press, 1962).

[iv] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern (2 Jilid), terj. Robert M.Z. Lawang, (Jakarta: Gramedia, 1986); Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya-tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, terj. Soeheba Kramadibrata (Jakarta: UI-Press, 1986); Jonathan H. Turner, The Structure of Sociological Theory, (California: Wadsworth, 1991).

[v] Jurgen Habermas, The Theory of Communicative Action (Vol. 1): Reason and the Rationalization of Society, trans. Thomas McCarthy, (Boston: Beacon Press, 1984) & The Theory of Communicative Action (Vol. 2): LIfeworld and System: A Critique of Functionalist Reason, trans. Thomas McCarthy, (Boston: Beacon Press, 1987).

[vi] Pierre Bourdieu, Outline of a Theory of Practice (Cambridge: Cambridge University Press, 1977) & The Logic of Practice (Cambridge: Polity Press, 1990).

[vii] Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, h.

[viii] Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, h. 10-22.

[ix] Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, h. 23-34,

[x] Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, h. 66-76.

[xi] Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, h. 77-91.

[xii] Giddens, New Rules of Sociological Method, h. 142.

[xiii] George Ritzer, Sociological Theory, (New York: The McGraw-Hill Companies, 1992), h. 494-497.

[xiv] Anthony Giddens, Central Problems in Social Theory: Action, Structure and Contradiction in Social Analysis, (London: The Macmillan Press LTD, 1979), h. 3-4.

[xv] Durkheim, The Rules of Sociological Method,h. 159-161.

[xvi] Durkheim, The Rules of Sociological Method, h. 50-59.

[xvii] Durkheim, The Rules of Sociological Method, h. 119-144.

[xviii] Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Jilid 1), h. 180-181.

[xix] Steven Lukes, “Introduction” dalam Durkheim, The Rules of Sociological Method, h. 11-12.

[xx] Seluruh bagian ini didasarkan pada Giddens, New Rules of Sociological Method, h. 160-162.

[xxi] Untuk uraian lebih lanjut tentang teori strukturasi, lih. Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration, (London: Polity Press, 1984).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: