Iqbal Hasanuddin

KHA. Maksum Nawawi di antara “Siyasah” dan “Tarbiyah”

Posted by iqbalhasanuddin pada Oktober 17, 2011

Mengapa KHA. Maksum Nawawi memiliki gairah yang besar untuk terlibat dalam dunia pendidikan, aktivisme sosial dan aktivisme politik? Mengapa Ia sangat tertarik untuk menjadi guru sekaligus pemimpin di sebuah lembaga pendidikan? Mengapa Ia mencerburkan dirinya dalam dinamika gerakan sosial-keagamaan? Mengapa Ia begitu bergairah dengan datangnya era Reformasi, serta merayakannya melalui keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan politik praktis?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita tampaknya harus menengok kembali ke belakang, yakni ke masa di mana KHA. Maksum Nawawi dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana kita ketahui, Ia lahir dan besar  di Majalengka pada rentang waktu antara akhir kekuasaan Hindia-Belanda, Pendudukan Jepang, hingga era Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketika tumbuh menjadi dewasa, baik secara intelektual maupun emosional, Ia terlibat dalam proses pergulatan bangsa Indonesia dalam rangka mencapai, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Dengan kata lain, pada saat Ia mulai membangun kedewasaannya, bangsa Indonesia juga tengah dihinggapi oleh suatu zeitgeist atau “semangat zaman” untuk keluar dari masalah: Bagaimana agar bangsa Indonesia dapat menggapai kemerdekaan dan keluar dari segala bentuk keterbelakangan sosio-kultural akibat sistem kolonialisme yang sangat melemahkan kaum pribumi itu?

Dalam konteks ini, Maksum Nawawi muda dihadapkan pada dua model perjuangan sekaligus: Pertama, model “gerakan politik” yang ditawarkan oleh Sukarno. Model ini berasumsi bahwa sumber utama keterbelakangan bangsa Indonesia adalah adanya kekuasaan asing yang menjajah Tanah Air Indonesia. Karenanya, untuk bisa bangkit dari keterbelakangan, maka bangsa Indonesia harus mampu mengusir kekuasan asing tersebut. Kedua, model “gerakan pendidikan” yang ditawarkan oleh Mohammad Hatta. Model ini berasumsi bahwa justeru karena bangsa Indonesia terbelakang secara sosio-kultural, maka kekuasaan asing bisa bercokol sedemikian lamanya di Indonesia. Karenanya, untuk memperoleh kemerdekaan politik seperti yang diinginkan oleh Sukarno, Hatta memandang bangsa Indonesia terlebih dahulu harus melakukan “gerakan pendidikan” demi menciptakan kader-kader bangsa berkualitas, yang tidak saja mampu memperjuangkan kemerdekaan, tapi juga mampu mengisinya dengan baik.

Dua model gerakan yang ditawarkan oleh Sukarno dan Hatta di Indonesia ini sebetulnya analog dengan gerakan “siyasah” yang ditawarkan oleh Jamaluddin al-Afghani dan gerakan “tarbiyah” yang ditawarkan oleh Muhammad Abduh. Kalau Afghani lebih memilih untuk menggalang umat Islam di seluruh dunia melalui gerakan Pan-Islamisme guna mengusir kekuasaan asing yang sedang bercokol, maka Abduh lebih memilih melakukan pembaruan pendidikan di dunia Islam; Kalau Afghani bekerja sama dengan seluruh elemen umat Islam dalam rangka mengusir Inggris, maka Abduh lebih memilih bekerja sama dengan Inggris untuk melakukan reformasi di Universitas al-Azhar (Kairo) dan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya; bagi Afghani, mengambil alih kekuasaan politik adalah kata kunci dalam gerakan “siyasah”-nya, sementara bagi Abduh, pembaruan pemikiran umat Islam adalah kata kunci dalam gerakan “tarbiyah”-nya.

Dalam konteks gerakan Islam di Indonesia, dua model tersebut memiliki representasinya masing-masing. Pertama, Syarikat Islam dan Masyumi hadir dalam dinamika gerakan Islam sebagai representasi dari gerakan “siyasah” ala Sukarno dan Afghani. Kedua, Muhammadiyah, NU, Persis, PUI, dan organisasi keagamaan lainnya tampil sebagai representasi gerakan “tarbiyah” ala Hatta dan Abduh. Meskipun model “siyasah” dan “tarbiyah” ini kadang kala saling bersinggungan satu sama lain akibat ada kesamaan tujuan, tapi kedua model gerakan ini tetap saja memiliki “hakikat” yang berlainan. Sebab, keduanya berbeda dalam hal cara yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Kalau gerakan “siyasah” berusaha menggunakan instrument kekuasaan negara, maka gerakan “tarbiyah” lebih memilih menggunakan perangkat-perangkat sosio-kultural yang ada di dalam masyarakat.

Pada titik ini, bisa dikatakan bahwa KHA. Maksum Nawawi sedari awal sudah bersentuhan dengan—dan dipengaruhi oleh—dua model gerakan tesebut: “Siyasah” sebagaimana direpresentasikan oleh Syarikat Islam dan Masyumi, serta “tarbiyah” sebagaimana direpresentasikan oleh Muhammadiyah, Persis, NU, PUI, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: