Iqbal Hasanuddin

Pesona “Kampung Inggris” Pare

Posted by iqbalhasanuddin pada Agustus 20, 2011

Kampung Inggris adalah sebutan bagi Desa Telungrejo, Pare, Kediri, Jawa Timur. Telungrejo disebut sebagai kampung Inggris karena di desa tersebut terdapat banyak sekali tempat kursusan bahasa Inggris. Bahkan, seringkali disebutkan bahwa kursusan di Telungrejo berjumlah lebih dari 100 lembaga kursus. Kursusan-kursusan tersebut menawarkan berbagai macam program kursus bahasa Inggris, mulai dari grammar, speaking, listening, translation, writing, reading, pronunciation, hingga Test of English as a Foreign Language (TOEFL) dan International English Language Testing System (IELTS).

Siapa saja yang datang ke Telungrejo akan menyaksikan nuansa Inggris yang sangat menonjol. Di jalan-jalan utama desa, terdapat banyak spanduk yang sengaja dipasang oleh beragai lembaga untuk menawarkan berbagai program kursus bahasa Inggris. Penawaran program biasanya juga ditulisakan pada baliho besar yang terletak di depan tempat kursus masing-masing. Kebanyakan nama lembaga kursusan juga sangat bernuansa Inggris karena menggunakan bahasa Inggris atau mengambil nama lembaga-lembaga terkenal di negara-negara berbahasa Inggris. Beberapa lembaga kursus tersebut di antaranya adalah Basic English Course (BEC), Smart International Language College (ILC), English Language as Foreign Application Standard (Elfast), Webster, Harvard, Oxford, Cambridge, The Daffodils, Marvelous, Accurate American English School (Acces) dan The Eminence.

Nuansa Inggris semakin lengkap terasa tatkala banyak orang yang tinggal di Kampung Inggris tersebut tidak saja belajar bahasa Inggris di ruangan-ruangan kelas, tapi juga mempraktikkan bahasa Inggris dalam kegiatan sehari-hari di luar kelas. Di saat makan siang atau makan malam misalnya, banyak orang yang datang ke warung-warung untuk makan secara bersama-sama sambil bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Bahkan, di Kampung Inggris ini, terdapat juga tempat tinggal sewaan (camp) yang menyediakan program English area (EA) di mana setiap orang yang tinggal di dalamnya diwajibkan berbahasa Inggris selama 24 jam.

Selain kental bernuansa Inggris, Kampung Inggris di desa Telungrejo ini juga diwarnai oleh nuansa kampung atau pedesaan. Telungrejo adalah salah satu desa di Pare yang oleh Clifford Geertz, dalam buku the Religion of Java yang terkenal itu, disebut sebagai Mojokuto. Telungrejo berjarak sekitar 30 KM dari kota Kediri. Telungrejo adalah sebuah desa yang di beberapa sisinya masih di kelilingi oleh area persawahan. Banyak di antara warganya yang berprofesi sebagai petani, baik sebagai pemilik lahan pertanian ataupun buruh tani. Keberadaan lebih dari 100 tempat kursusan tampaknya telah memberikan berkah tersendiri bagi warga desa Telungrejo. Mereka tidak hanya bergantung pada lahan pertanian, tapi banyak di antaranya juga yang menyewakan kamar atau rumah bagi para pendatang, menyewakan sepeda, atau membuka warung makan.

Kesederhanaan yang menjadi ciri khas kampung atau desa juga mewarnai Kampung Inggris di Telungrejo. Berbeda dengan lembaga-lembaga kursus bahasa Inggris di kota-kota besar seperti Jakarta yang memiliki ruangan nyaman ber-AC, tempat belajar di Kampung Inggris sangatlah sederhana. Tempat belajar di kursusan-kursusan Kampung Inggris biasanya terdiri dari rumah yang disulap jadi ruangan-ruangan kelas. Kebanyakan di antaranya tidak memiliki meja dan kursi untuk belajar. Para peserta kursus biasanya duduk lesehan. Memang, ada lembaga kursus yang sudah menggunakan fasilitas kursi dan meja seperti sekolah-sekolah formal pada umumnya, tapi kursusan semacam ini sangat sedikit jumlahnya. Bahkan, tidak jarang ruangan-ruangan kelas untuk belajar hanya merupakan sebuah gubuk sederhana yang didirikan di halaman rumah, tanah kosong atau kebun.

Kesederhanaan fasilitas tempat belajar di kursusan-kursusan di Kampung Inggris ini berbanding lurus dengan murahnya biaya kursus. Untuk program kursus dua-mingguan, yang kelasnya dimulai pada tanggal 10 atau 25 di setiap bulannya, biaya yang dikenakan kepada para peserta kursus berkisar Rp. 30.000 sampai Rp. 75.000. Kegiatan belajar untuk program dua mingguan ini berlangsung pada hari Senin sampai Jumat setiap minggunya. Setiap pertamuan terdiri dari 90 menit atau 1,5 jam. Jadi, total pertemuan untuk program dua mingguan adalah 10 hari. Jumlah biaya kursus ini tentu saja tampak sangat murah jika dibandingkan dengan biaya kursus bahasa Inggris di lembaga-lembaga mapan di kota-kota besar seperti Jakarta yang memasang tarif ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah untuk kursus dua kali pertemuan dalam seminggu.

Dengan biaya semurah itu, para peserta kursus bisa menikmati tawaran-tawaran kursus bahasa Inggris program dua-mingguan yang beragam di Kampung Inggris. Misalnya, Kresna Institute menawarkan program kursus grammar yang disebut dengan Helping Program (HP) 1 sampai 9. Webster menawarkan program speaking, dari tingkat ground speaking, pre-communicative speaking, communicative speaking hingga master speaking. Logico menyediakan program kursus TOEFL dua-mingguan yang terdiri dari program listening, structure and written expression dan reading. The Eminence menawarkan program dua-mingguan untuk speaking 1 dan 2, vocabulary and expression 1 dan 2, serta pronunciation 1 dan 2. Oxford juga dikenal sebagai lembaga kursus spesialis program dua-mingguan yang menawarkan progam grammar, speaking, TOEFL dan IELTS.

Untuk program satu bulanan, biaya yang dikenakan kepada para peserta kursus juga relatif murah. Dengan waktu kursus 90 menit atau 1,5 jam setiap Senin sampai Jumat, The Daffodils misalnya menawarkan program speaking, dari steping stone sampai step three, serta listening dan pronunciation, dengan biaya masing-masing Rp. 150.000. Sementara itu, Elfast menawarkan program pre-TOEFL (3 jam per hari) dengan biaya Rp. 145.000 dan TOEFL  (4,5 jam per hari) dengan biaya Rp. 185.000. Selain itu, Elfast juga menawarkan program Basic Gramar 1 dan 2 (masing-masing 4,5 jam per hari) dengan biaya per programnya adalah Rp. 125.00. Biaya program-program bulanan yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga lain seperti Smart ILC dan Harvard berada pada kisaran tersebut. Sebagai perbandingan, biaya untuk kursus TOEFL dan IELTS dalam satu bulan di beberapa lembaga kursus di Jakarta bisa mencapai 4 juta hingga 5 juta rupiah.

Kesederhanaan yang menjadi kekhasan sebuah kampung atau desa juga tampak dalam murahnya harga makanan dan minuman yang disediakan oleh warung-warung di Kampung Inggris. Sepiring nasi lengkap dengan daging ayam serta sayur-sayuran berharga Rp. 4.500.  Jika daging ayamnya diganti dengan telur, maka harganya Rp. 3.000. Bahkan, di lingkungan Kampung Inggris, masih ada menu makanan yang harga satu porsinya Rp. 1.500. Harga untuk minuman tentu jauh lebih rendah lagi.

Selain itu, biaya tempat tinggal di Kampung Inggris juga relatif murah. Harga satu kamar per bulan berkisar dari Rp. 80.000 hingga Rp. 200.000. Kamar tersebut bisa diisi oleh satu orang saja atau kadang juga dua orang. Sedangkan asrama English area (EA) biasanya berharga dari Rp. 100.000 hingga Rp. 300.000 ribu. Selain tempat tinggal, asrama semacam ini juga memberikan beberapa program tambahan seperti speaking, vocabulary and expression, pronunciation, grammar dan lain-lain. Asrama English area ini juga melatih orang-orang yang tinggal di dalamnya untuk selalu berbahasa Inggris selama 24 jam.

Satu hal lagi yang menjadi ciri khas Kampung Inggris adalah sepeda sebagai alat transportasi utama. Dari tempat tinggal menuju tempat kursus atau warung makan, para peserta kursus memang biasanya memakai sepeda. Lalu-lalang sepeda biasanya terjadi pada saat pagi tatkala para peserta kursus keluar dari tempat tinggal, siang hari saat waktu makan, dan sore hari menjelang pulang kursus dan makan malam. Sepeda tampak berjejer rapih di parkiran tempat kursus atau warung makan. Sepeda juga biasanya dipakai oleh para penghuni Kampung Inggris untuk pergi berrekreasi pada hari sabtu hingga minggu, baik ke Garuda Park pada sabtu malam atau ke Gua Surowono pada minggu pagi. Di Kampung Inggris, sepeda bisa dibeli dengan harga Rp. 150.000 hingga Rp. 350.000 atau sewa seharga Rp. 50.000 per bulan.

Daya tarik Kampung Inggris telah membawa banyak orang dari berbagai propinsi di seluruh Indonesia datang ke Telungrejo. Di Kampung Inggris, mereka belajar bahasa Inggris, sebuah bahasa yang digunakan sebagai bahasa internasional. Dengan mempelajari bahasa Inggris, mereka tidak saja mencoba mengerti bagaimana menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi, tapi juga memahami dunia orang-orang yang menggunakan bahasa ini. Misalnya, mereka juga belajar tentang adat-istiadat dan pola pikir orang Amerika, Kanada, Inggris, Australia dan lain-lain. Sebab, bahasa bukan semata-mata alat komunikasi, tapi juga sarana membangun dan mengorganisasi dunia. Karenanya, di Kampung Inggris, orang-orang Indonesia dari Sabang sampai Marauke telah mempraktikkan dialog kebudayaan melalui pembelajaran bahasa Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: