Iqbal Hasanuddin

Mengenang Sosok Kyai Haji Ahmad Maksum Nawawi

Posted by iqbalhasanuddin pada Agustus 20, 2011

Kyai Haji Ahmad Maksum Nawawi adalah sebuah nama yang mewakili satu sosok insan yang di dalam dirinya terdapat dua kualitas sekaligus; ulama sekaligus da’i, atau “intelektual cum aktivis.” Kedua kualitas dalam diri KHA. Maksum Nawawi ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan satu sama lain secara dialektis. Dalam seluruh bentangan hidupnya, tidak ada kosa kata ilmu untuk ilmu. Baginya, ilmu haruslah menjadi pembimbing dalam kehidupan nyata masyarakat manusia. Karenanya, ilmu haruslah disertai dengan suatu dakwah nyata demi terciptanya masyarakat yang lebih baik di masa depan. Namun demikian, pengaruh dakwah atau “keterlibatan dalam aktivisme sosial” terhadap refleksi ilmiah juga tidak bisa dipandang sebelah mata.  Demikianlah, KHA. Maksum Nawawi adalah sosok—meminjam istilah Ali Syariati—”rausan fikr,” yakni ulama yang peduli terhadap kondisi masyarakatnya, serta tergugah untuk memperbaikinya. Di dalam dirinya, ilmu dan dakwah merupakan dua sisi dari satu keping mata uang: Keduanya bisa dibedakan, tapi tidak bisa dipisahkan.

Dalam konteks keulamaan, KHA. Maksum Nawawi dikenal sebagai ulama yang sangat mumpuni dalam berbagai kajian keislaman, mulai dari ilmu-ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, ilmu tafsir, ilmu hadis, dan sebagainya) hingga ilmu-ilmu inti, yakni yang mencakup kajian tafsir, hadis, fiqh, dan lain-lain. Kapasitasnya dalam bidang keilmuan ini tidak saja membawa KHA Maksum Nawawi sebagai guru yang cemerang (di Dar al-Ulum PUI Majalengka), tapi juga dipercaya menjadi pempimpin lembaga pendidikan (Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Sukaraja dan al-Mudir al-‘Am atau Pimpinan Pesantren Persatuan Islam Majalengka, sebuah persantren yang Ia dirikan). Lebih dari itu, kapasitas keulamaan KHA. Maksum Nawawi terbukti mendapat pengakuan dari organisasi Persatuan Islam (Persis), tempat dia mengabdikan diri, melalui pengangkatannya sebagai salah satu anggota Dewan Hisbah Pimpinan Pusat (PP) Persis. Dalam lembaga ini, para ulama yang ahli dalam bidang keagamaan (tafaquh fi al-din) berkumpul untuk melakukan berbagai macam ijtihad dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya di kalangan jemaat Persis.

Sementara sebagai da’i atau aktivis sosial, KHA. Maksum Nawawi juga tampak sangat menonjol. Tatkala bertindak sebagai pelajar, Ia bergabung dengan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Melalui PII inilah, Ia bersama-sama dengan M. Husni Thamrin terlibat aktif dalam gerakan Kesatuan Aksi Pemuda-Pelajar Islam (KAPPI) menentang kecenderungan otoriter rezim Orde Lama. Pada waktu yang hampir bersamaan, Ia juga aktif dalam kepengurusan Pemuda PUI. Selanjutnya, tatkala memutuskan keluar dari PUI dan bergabung dengan Persis, kapasitas kepemimpinannya tampil sedemikian rupa sehingga secara berturut-turut, Ia terpilih menjadi Ketua Umum Pimpinan Cabang Persis Majalengka (1983-1992), Ketua Umum Pimpinan Daerah Persis Majalengka (1993-1998), dan Pengurus Wilayah Persis Jawa Barat (1998-2000). Bahkan, dalam rangka merayakan datangnya era Reformasi pada 1997, KHA. Maksum Nawawi bersama-sama dengan rekan-rekan ketika aktif di KAPPI serta elemen-elemen organisasi Islam lainnya membantu berdirinya Partai Bulan Bintang (PBB) yang digadang-gadang sebagai penerus cita-cita Masyumi, sebuah partai yang sudah dibubarkan oleh rezim Sukarno. Dalam partai ini, KHA. Maksum Nawawi bahkan sempat terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PBB Jawa Barat (1998-2000).

Kualitas “rausan fikr” yang ada dalam diri KHA. Maksum Nawawi tersebut tentu tidak datang begitu saja dari langit, melainkan sesuatu yang terbentuk dalam rentangan waktu yang sangat panjang. Mengingat kehidupannya yang terrentang dari 1935 hingga 2000, maka bisa dipastikan bahwa sosok KHA Maksum Nawawi adalah manusia “lima zaman:” Hindia-Belanda, Pendudukan Jepang, Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi. Karenanya, dalam diri KHA. Maksum Nawawi, pengalaman yang merentang dalam lima zaman tersebut akan mengubah “waktu alamiah” (time) menjadi “waktu yang dihayati secara pribadi” (dure). Di sini, sosok KHA. Maksum Nawawi adalah memori historis lima zaman yang mengkristal menjadi kesadaran, pikiran dan kehendak yang kemudian menjadi faktor determinan bagi orientasi tindakan, baik yang bersifat individual maupun sosial.

Ditilik dari sisi gagasan, KHA. Maksum Nawawi tampaknya bisa dikategorikan sebagai seorang Muslim modernis. Sebagaimana telah dikemukakan, aktivitasnya dalam organisasi-organisasi seperti PII, PUI, Persis dan juga partai politik PBB memberikan bukti sahih atas orientasi modernisnya. Namun demikian, salah satu hal yang patut dicermati adalah bahwa peralihan afiliasi organisasi dari PUI ke Persis pada (1983) bukan saja menunjukan bahwa KHA. Maksum Nawawi telah melakukan perpindahan organisasi, tapi juga telah mengalami pergeseran gagasan, dari orientasi Islam “semi-modernis” (atau bahkan “tradisionalis”) menuju “Islam modernis.”

Tentang hal ini, Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 menyebutkan bahwa selain Jamiat Khair, al-Irsyad, serta Muhammadiyah, dua organisasi yang pernah “disinggahi” oleh KHA. Maksum Nawawi, yakni PUI dan Persis, juga termasuk sebagai bagian dari rangkaian “gerakan Modern Islam di Indonesia.” Gerakan ini diilhami oleh gagasan pembaruan yang batu-bata gagasannya diilhami oleh pembaruan yang dilakukan oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasid Ridha dan Muhammd ibn Abd al-Wahab. Dalam gerakan ini, slogan ijtihad dan tajdid berupa ajakan untuk “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” memiliki resonansi yang sangat kuat (1995:71-113).

Namun demikian, dari sisi gagasan, ada perbedaan mendasar antara PUI dengan Persis. Menurut Deliar Noer, Persis adalah organisasi modern yang didasari oleh gagasan pembaruan Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasid Ridha dan Muhammd ibn Abd al-Wahab tersebut. Persis juga dikenal kental dengan gagasan pembaruan seperti ijtihad dan tajdid berupa ajakan untuk “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah.” Sementara itu, demikian Deliar Noer, karekter modernis yang dilekatkan kepada PUI hanya terbatas pada upaya pembaruan yang bersifat sosial, seperti penyelenggaraan sekolah dengan sistem klasikal, pelayanan sosial terpadu, serta kegiatan ekonomi dengan management modern. Hanya saja, jika dilihat dari sisi lain, PUI tidak melakukan pembaruan di wilayah gagasan sehingga tetap berada dalam kelompok Islam tradisionalis. Demikian, kalau Persis adalah organisasi Islam modernis, sementara PUI adalah organisasi Islam “tradisionalis” atau setidak-tidaknya “semi-modernis” (1995:71-113).

Pada titik ini, bisa dikatakan bahwa mencermati bentangan panjang perjalanan hidup KHA. Maksum Nawawi hampir selalu berarti bergerak dalam horizon pemikiran yang sangat luas yang dipenuhi dengan ide-ide besar nan cemerlang, serta bergerak dalam pergulatan pikiran tidak henti, berjalan dari satu titik tranformasi ke tranformasi berikutnya. Mencermati sosok KHA. Maksum Nawawi beserta keseluruhan sejarah hidupnya juga berarti melihat berjalin-berkelindannya (seperti dirumuskan oleh Alex Inkeles, sosiolog dari Harvard University) antara personalitas dan struktur sosial. Jika struktur sosial dimaknai sebagai peluang, hambatan atau tantangan dalam kelembagaan dengan aneka infrastruktur sosio-ekonomi dan sosio-politiknya, maka di dalamnya meniscayakan adanya karakteristik personal yang unik dalam menyikapi berbagai peluang, hambatan dan tantangan tersebut, yang berujung pada munculnya berbagai tindakan sosial serta perwujudan kelembagaan sebagai respon atasnya (1986: 3-18).

Pada gilirannya, bisa dikatakan bahwa respon KHA. Maksum Nawawi terhadap berbagai peluang, hambatan, dan tantangan yang melingkupinya adalah sebuah warisan yang pantas ditangkap oleh para penerusnya serta diteladani. Tentu saja, upaya menangkap semangat dan teladannya bukan selalu berarti “membebek” begitu saja dan tenggelam dalam berbagai peninggalan yang sudah diberikan KHA. Maksum Nawawi. Satu hal yang paling penting adalah mewarisi kreativitas dan kehendaknya yang tanpa henti mempertanyakan situasi masyarakat sekitar serta kehendak untuk membawanya ke arah yang lebih baik di masa depan. Dengan kata lain, warisan terbesar yang diberikan oleh KHA. Maksum Nawawi adalah teladan tentang bagaimana menjadi seorang “rausan fikr” yang di dalamnya terdapat kualitas keilmuan dan aktivisme sosial sekaligus.

Dalam konteks menangkap dan menteladani warisan tersebut, penulisan buku biografi KHA. Maksum Nawawi dipandang mutlak untuk dilakukan. Melalui sebuah buku biografi, warisan besar yang diberikannya tidak hanya terrekam dalam ingatan dan cerita dari mulut ke mulut yang mudah luntur, atau mungkin juga sebaliknya, semakin lama semakin rentan untuk tambah-tambahi akibat adanya pengkultusan berlebihan, tapi diikat dalam rangkaian kata-kata tertulis. Karenanya, melalui penulisan biografi ini, diharapkan warisan besar KHA. Maksum Nawawi menjadi abadi. Hal ini analog dengan pepatah yang mengatakan bahwa “peristiwa yang tidak dituliskan akan hilang begitu saja dibawa angin, tapi peristiwa yang diikat dalam kata-kata akan abadi selamanya.”

Bahan Bacaan

Inkeles, Alex, “Personality and Social Structur” dalam Talcott Parsons (ed.), Knowledge and Society: American Sociology (Washington DC: Voice of American Forum Lectures, 1986)

Noer, Deliar Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Cet. Ketujuh, (Jakarta: LP3ES, 1995).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: