Iqbal Hasanuddin

Kritik dan Utopia: Telaah atas Gagasan M. Dawam Rahardjo dalam “Mengkaji Ulang Muhammadiyah sebagai Organisasi Islam Berorientasi Pembaruan”

Posted by iqbalhasanuddin pada Agustus 20, 2011

“Mengkaji Ulang Muhammadiyah sebagai Organisasi Islam Berorientasi Pembaruan” adalah judul yang dipilih M. Dawam Rahardjo untuk sebuah risalah yang sengaja ditulisnya berkenaan dengan pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah Satu Abad alias Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta 3-8 Juli 2010. Saya tertarik untuk membuat tanggapan terhadap aspek-aspek yang bersifat filosofis dari tulisan Dawam tersebut, khususnya tentang masalah kritik atas dogmatisme pemikiran Islam. Apa yang dimaksud dengan dogmatisme di sini adalah kebekuan pemikiran yang membuat Muhamadiyah, sebagaimana dikatakan Dawam, tidak mampu menjadi organisasi yang beroientasi pembaruan.

Di bagian akhir tulisannya ini, Dawam mengatakan:

“Muhammadiyah mengalami kemunduran lantaran sikap konservatisme dan fundamentalismenya. Hari depan Muhammadiyah dengan demikian adalah hari depan yang suram karena tidak lagi mewakili pemikiran yang moderat dan modern di Indonesia. Padahal, semestinya, Muhammadiyah harus diisi oleh anak-anak muda progresif, berpandangan liberal dan pluralis. Muhammadiyah dewasa ini setengahnya masih hidup dalam paradigma jahiliyah, tetapi jahiliyah modern—meminjam istilah Sayyid Qutub dengan makna yang lain. Amat sangat disayangkan, Muhammadiyah tidak punya nyali untuk melakukan pembaruan sosial ini, karena disandera oleh anggota-anggotanya dan kader-kadernya sendiri yang telah menjadi komunitas konservatif tradisional.”

Melihat kecenderungan itu maka, sekali lagi, Muhammadiyah memang tidak akan lagi menjadi organisasi pembaru yang liberal dan progresif. Dalam suatu tulisan saya yang belum dipublikasikan, saya melukiskan Muhammadiyah sebagai matahari yang sedang tenggelam di ufuk barat. Organisasi ini perlu digantikan dengan organisasi Islam lain yang liberal dan progresif.”

“Kritik atas dogmatisme” adalah konsep kunci yang sangat kental dalam tulisan Dawam ini. Tatkala membaca tulisan ini, serta beberapa tulisannya yang lain, saya menjadi teringat dengan Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman terkemuka yang, sebagaimana Dawam, banyak bicara tentang masalah dogmatisme serta berbagai upaya untuk melakukan kritik atasnya. Seperti sudah kita ketahui bersama, Kant memahami dogmatisme sebagai sejenis ketidakdewasaan yang diakibatkan oleh tidak adanya keberanian untuk memakai akal budi.

Tulisan ini bermaksud menganalisis gagasan-gagasan Dawam Rahardjo mutakhir, khususnya yang tertuang dalam risalah “Mengkaji Ulang Muhammadiyah sebagai Organisasi Islam Berorientasi Pembaruan” dengan menggunakan kerangka filsafat Kantian—meskipun tentu saja,  analisis atas risalah “Mengkaji Ulang Muhammadiyah” juga mengandaikan pembacaan secara seksama atas tulisan-tulisan Dawam lainnya. Karenanya, tulisan ini berupaya menganalisis gagasan-gagasan Dawam Rahardjo tersebut melalui tiga konsep kunci dalam filsafat Immanuel Kant: Kritik, rasionalitas dan otonomi. Ketiga konsep kunci ini terkait erat dengan masalah-masalah yang bersifat teoritis (tentang pengetahuan) dan masalah-masalah praktis (tentang bagaimana sejatinya kehidupan sosial diatur).

Kritik dan Rasionalitas

Pada bulan November tahun 1784, surat kabar Berlin (Berlinische Monatschrift) menurunkan sebuah head line berujudul: Was Heisst Aufklarung?  Tentu saja, head line yang diangkat oleh surat kabar Berlin ini merupakan refleksi atas situasi baru yang tengah melanda Eropa ketika itu, di mana telah terjadi perubahan secara besar-besaran dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, keagamaan dan kebudayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Salah seorang kontributor yang menulis tentang topik Aufklarung atau Pencerahan di harian tersebut adalah Immanuel Kant, seorang filsuf terkemuka asal Konigsberg (kota kecil di Jerman). Melalui judul tulisan yang sama dengan judul head line surat kabar tersebut, Kant merasa perlu untuk menyampaikan pandangan-pandanganya kepada publik tentang apa itu Pencerahan. Menurut Kant (Immanuel Kant, Foundation of Metaphysics of Morals and What is Enlightenment, 1990):

Pencerahan adalah pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan manusia untuk memakai pengertiannya tanpa pengarahan orang lain. Diciptakan sendiri berarti bahwa ketidakmatangan ini tidak disebabkan oleh kekurangan dalam akal budi, melainkan dalam kurangnya ketegasan dan keberanian untuk memakainya tanpa pengarahan dari orang lain. Sapere aude! Beranilah memakai akal budimu sendiri.

Dalam pemikiran Barat modern, Immanuel Kant ditahbiskan sebagai filsuf Pencerahan paling utama. Dari teks “Apa itu Pencerahan?,” tergambarlah optimisme Kant terhadap kemampuan akal budi manusia. Bagi Kant, dengan akal budi yang dimilikinya, manusia bisa menjadi subjek yang bebas dan otonom; bebas berarti manusia bisa mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya sehingga menjadi manusia sepenuhnya; sementara otonom berarti manusia bisa mengemansipasikan diri dari berbagai hambatan-hambatan apapun di luar dirinya, baik itu hambatan alam maupun sosial. Karenanya, akal budi dianggap sebagai norma bagi segalanya, termasuk ukuran kebenaran. Dengan akal budi, tidak saja manusia yang akan menggapai kebebasan dan otonomi, tapi alam dan masyarakat pun akan tertata secara rasional.

Pada titik ini, bisa dikatakan bahwa Kant mengaitkan konsep Pencerahan dengan akal-budi-kritis yang tidak mau menerima begitu saja asumsi-asumsi yang belum teruji. Bahkan, dalam “Kritik Rasio Murni”-nya, Kant secara tegas melakukan kritik atas rasio itu sendiri, yang dalam bahasa Kant sendiri disebut sebagai “rasio murni.” Menurut Kant (Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, 1990: h. 29):

“Kritik saya…ditujukan pada dogmatisme saja, yaitu pengandaian bahwa mungkinlah membuat suatu kemajuan dengan pengetahuan murni (filosofis) yang terdiri atas konsep-konsep dan yang diarahkan oleh prinsip-prinsip, seperti yang telah lama dijalankan oleh rasio, tanpa terlebih dahulu menyelidiki dengan cara apa dan dengan hak apa rasio sampai memiliki konsep-konsep dan prinsip-prinsip itu. Karena itu, dogmatisme adalah jalan yang dipakai oleh rasio murni tanpa kritik lebih dahulu atas kemampuan-kemampuannya sendiri.”

Kalau Kant bicara tentang dogmatisme sebagai ketidakmampuan untuk menggunakan akal budi secara kritis, maka Dawam juga memberikan penekanan yang sama terhadap masalah dogmatisme di kalangan Muhammadiyah dan Umat Islam pada umumnya. Dalam “Mengkaji Ulang Muhammadiyah,” Dawam dalam mengatakan:

Dari segi pemikiran, konon Muhammadiyah diilhami oleh pemikiran pembaruan pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan Islam dari Muhammad Abduh. Yang saya ingin katakan di sini adalah bahwa sampai sekarang Muhammadiyah belum melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang terkemuka seperti misalnya Prof. Abdul Salam, ahli Fisika dari gerakan Ahmadiyah. Demikian juga isu epistimologi, yaitu filsafat ilmu pengetahuan di dalam Islam, tidak pernah dikembangkan oleh Muhammadiyah, kecuali oleh Amin Abdullah, pakar hermeneutika dari UIN Sunan Kalijaga. Seharusnya pemikiran-pemikiran mengenai “nalar Islam” ini, paling tidak mendapat tanggapan dari lingkungan Muhammadiyah…. Di sinilah sebetulnya Muhammadiyah telah gagal di dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran yang diilhami oleh pemikiran pembaruan dan modernisasi Muhammad Abduh. Dengan demikian, maka secara tegas saya katakan bahwa  Muhammadiyah tidak bisa disebut sebagai organisasi pembaru.

Di sini, Dawam melihat penyebab kegagalan Muhamadiyah untuk dapat menempatkan dirinya sebagai organisasi pembaru adalah karena ketidakmampuan organisasi ini dalam mengadopsi dan mengembangkan pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh yang dikenal bersifat sangat rasional dan progresif. Dengan demikian, Dawam tampaknya menolak sebuah klaim yang menyatakan bahwa Muhamadiyyah sejak awal kelahirannya telah dipengaruhi oleh rasionalisme yang dicanangkan oleh Abduh. Dawam menunjuk tidak adanya pengaruh rasionalisme dalam tubuh Muhamadiyah dengan fakta tidak adanya ilmuwan-ilmuwan terkemuka semisal Prof. Abdul Salam yang ahli dalam bidang fisika. Lantas, mengapa Muhamadiyah tidak tertarik dengan proyek rasionalisme Abduh? Menurut Dawam, sebabnya adalah karena Muhammadiyah tidak mengembangkan epistemologi atau filsafat ilmu dalam Islam.

Tentu saja, epistemologi yang dimaksud oleh Dawam bukanlah semata-mata pengantar filsafat pengetahuan sebagaimana diajarkan di kalangan mahasiswa Jurusan Aqidah-Filsafat di Universitas Islan Negeri (UIN), melainkan diskursus kritis tentang pemikiran keagamaan dalam Islam sebagaimana dikembangkan oleh para pemikir garda depan seperti Hasan Hanafi, Abu Zayd, Mohammed Arkoun atau Mohammed Abid al-Jabiri. Bagi Dawam, ketidakpedulian Muhammadiyah terhadap kritik epistemologis dari para pemikir garda depan ini juga merupakan bukti sahih betapa Muhammadiyah bukanlah merupakan organisasi yang berorientasi pembaruan.

Menurut hemat saya, posisi penting kata “pembaruan” bagi Dawam sama dengan pentingnya kata “Pencerahan” bagi Immanuel Kant. Bahkan, dalam kadar tertentu, istilah “pembaruan” dalam tulisan Dawam bisa dikatakan analog dengan istilah “Pencerahan” bagi Kant. Karenanya, ketika Dawam bicara tentang “pembaruan,” maka dia sebetulnya tengah berbicara tentang “Pencerahan” dalam arti Kantian. Makanya, tatkala Muhamadiyah dikatakan sebagai organisasi yang tidak berorientasi pembaruan, maka itu berarti Muhamadiyah dianggap sebagai organisasi yang tidak memiliki semangat Pencerahan di dalamnya. Dengan kata lain, Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang berada dalam kubangan dogmatisme.

Mengapa Muhammadiyah begitu dogmatis, menolak Pembaruan atau Pencerahan, dan anti terhadap rasionalisme atau penggunaan rasio secara optimal? Terkait dengan masalah ini, dalam “Mengkaji Ulang Muhammadiyah,” Dawam menyatakan bahwa Muhammadiyah pada dasarnya masih berpegang pada epistemologi bayani, sebuah istilah yang dipinjam Dawam dari al-Jabiri. Meskipun tidak secara eksplisit, tapi Dawam tampaknya menyoroti kecenderungan kepada epistemologi bayani inilah yang membuat Muhammadiyah terjebak dalam dogmatisme pemikiran, anti-pembaruan atau anti-Pencerahan serta menolak rasionalisme (penggunaan rasio secara optimal).

Sampai di sini, kita tampaknya perlu mengingat kembali apa yang disebut sebagai epistemologi bayani oleh Dawam Rahardjo. Epistemologi bayani atau lebih tepatnya episteme bayani adalah satu istilah yang diintroduksi oleh Muhammad Abid al-Jabiri dalam buku serial Naqd al-Aql al-‘Arabi (Kritik Nalar Arab). Menurut al-Jabiri, istilah episteme bayani dimaksudkan sebagai sistem berpikir yang menjadikan bahasa Arab sebagai basis bagi sistem penalarannya, serta menjadikan qiyas (analogi) sebagai metode berpikirnya. Dalam tradisi Arab-Islam, ilmu-ilmu yang masuk ke dalam ruang lingkup episteme bayani adalah ushul al-fiqh (jurisprudensi), ilmu kalam (teologi), nahwu (gramatika), sharaf dan balaghah (retorika). Dalam pandangan al-Jabiri, karakteristik utama yang ada dalam episteme bayani ini adalah tersingkirnya akal-budi. Sebab, akal-budi disubordinasikan sedemikian rupa di bawah kuasa teks. Kalaupun memiliki peran, maka akal-budi berperan secara terbatas, yakni hanya untuk melakukan analogi (qiyas) antara kasus-kasus baru (cabang) terhadap teks yang sudah ada (pokok) (Mohammed Abid al-Jabiri, 1992: 137).

Pada titik ini, kita bisa simpulkan bahwa tatkala Dawam menyebut episteme bayani sebagai penyebab utama mengapa Muhammadiyah demikian anti-rasionalisme, kontra-Pencerahan, atau kontra-Pembaruan, maka pada saat bersamaan Dawam sebetulnya sedang menyinggung suatu gejala umum yang terjadi dalam pemikiran Islam, yang juga berpijak pada episteme bayani. Dalam hal ini, dogmatisme dalam tubuh Muhammadiyah bukanlah kasus unik, karena umat Islam pada umumnya memang cenderung dogmatis.

Bagi Dawam, dominasi episteme bayani dalam pemikiran Islam kontemporer telah membawa Umat Islam, termasuk di dalamnya Muhammadiyah, kepada suatu krisis rasionalitas.  Menurut Dawam, krisis rasionalitas dimaksud adalah krisis nalar atau krisis epistemologi keagamaan yang tidak lagi sanggup merespon secara tepat dan proporsional terhadap masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh umat Islam dalam konteks ke-kini-an dank ke-di-sini-an. Dalam hal ini, umat Islam tidak bisa memilah-milah secara kritis antara teks-teks keagamaan dan maksud-maksud pewahyuan yang menjadi elan vital dari kemunculan Islam pada satu sisi, dengan realitas historis yang senantiasa berkembang di lain sisi. Maka, tak heran jika umat Islam tidak mampu memberi respon aktual terhadap persoalan-persoalan kontemporer.

Dalam pemikiran Islam, krisis rasionalitas ini terjadi karena rasio begitu saja disubordinasikan di bawah teks-teks keagamaan. Hal ini merupakan warisan dari paradigma episteme bayani, yang anti-rasionalitas, bernuansa teosentris serta disemangati oleh pendekatan harfiyah dan fiqhiyah dalam memahami al-Qur’an dan al-sunnah, serta dalam melihat dan menyikapi setiap masalah yang muncul. Paradigma bayani seperti ini akan senantiasa membutakan mata umat Islam terhadap gerak realitas yang terus berubah dari masa ke masa. Akibatnya, dalam menghadapi setiap masalah yang ada, umat Islam akan selalu berpaling kepada teks-teks kitab suci untuk mencari jawabannya. Padahal, menurut Dawam, al-Qur’an dan al-sunnah adalah diskursus keagamaan yang muncul untuk merespon masalah-masalah masyarakat Arab pada abad ke-7 M.

Pada titik ini, ajakan Dawam kepada umat Islam untuk melakukan pembaruan dan kritik pemikiran Islam tidak lain dari pantulan gema seruan Immanuel Kant untuk berani memakai akal budi, menggunakan rasionalitas: Sapere Aude! Menurut Dawam, tujuan utama proyek kritik pemikiran Islam adalah upaya membebaskan diri dari dogmatisme keagamaan berbentuk ortodoksi pemikiran Islam di bidang fiqih, kalam, filsafat dan tasawuf yang menghegemoni dan mendominasi keberagamaan umat Islam. Kritik ini sangat diperlukan karena saat ini terdapat premis yang diyakini secara umum di kalangan umat Islam bahwa wacana hegemonik itu seolah-olah telah mencapai kebenaran akhir dan karena itu merupakan—meminjam istilah Francis Fukuyama—the end of history, yaitu puncak dan akhir dari evolusi pemikiran keagamaan dalam Islam. Persepsi mengenai hal ini juga tercermin dalam pandangan “pintu ijtihad telah tertutup”  yang melahirkan sikap taqlid.

Dengan demikian, tujuan akhir dari proyek kritik pemikiran Islam adalah munculnya otonomi rasio yang sejatinya digunakan dalam menyikapi masalah-masalah kontemporer, seperti demokrasi, hak-hak asasi manusia, kesetaraan jender, kesetaraan agama-agama dan hubungan antar-agama. Di sini, rasio menjadi otonom karena tidak lagi terikat pada paradigma lama dan tidak terikat pula pada teks yang tidak berubah dan tidak bisa diubah itu. Bagi Dawam sendiri, penggunaan rasio secara otonom sama sekali tidak bertentangan dengan spirit agama, karena akal budi manusia merupakan anugerah yang diberikan Tuhan untuk merumuskan solusi terhadap masalah-masalah kontemporer tersebut. Bahkan, Tuhan dan rasul-Nya justru memberikan perintah kepada umat Islam guna menggunakan akal pikiran seoptimal mungkin.

Pertanyaannya adalah apakah Muhammadiyah dapat keluar dari dogmatisme seperti yang dinyatakan oleh Dawam? Apakah Muhammadiyah bisa berbalik dari kecenderungan anti-rasionalisme menjadi pendukung rasionalisme? Apakah Muhammadiyah bisa betul-betul mengubah dirinya menjadi organisasi Islam yang berorientasi pembaruan? Tentang pertanyaan-pertanyaan ini, Dawam tampaknya memiliki pandangan yang sangat pesimistis. Dalam “Mengkaji Ulang Muhammadiyah,” Dawam menulis, …Muhammadiyah memang tidak akan lagi menjadi organisasi pembaharu yang liberal dan progresif….  Saya melukiskan Muhammadiyah sebagai matahari yang sedang tenggelam di ufuk Barat. Organisasi ini perlu digantikan dengan organisasi Islam lain yang liberal dan progresif.”

Otonomi

Dalam filsafat Kantian, kepercayaan terhadap penggunaan rasionalitas sangat terkait erat dengan konsep otonomi dan kebebasan manusia. Dalam risalah bertajuk Idea for a universal history from a cosmopolitan point of view, Immanuel Kant mengatakan bahwa “semua bakat alamiah dari setiap mahluk ditakdirkan untuk berkembang sepenuh-penuhnya menuju tujuan kodratnya.” Kemudian, Kant melanjutkan tulisannya: “Pada manusia (sebagai satu-satunya makhluk berakal budi di atas bumi) bakat-bakat alamiah tersebut, yang diarahkan kepada penggunaan akal-budi, akan berkembang sepenuh-penuhnya dalam jenis, dan bukannya dalam setiap diri seorang individu.” Dalam risalah ini, Kant tampak jelas berupaya meradikalisasi cita-cita humanisme Renaissance: humanitas expleta et eloquens (kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri). Bagi Kant, setiap manusia tidak boleh dijadikan alat untuk tujuan-tujuan lain, tetapi harus dijadikan tujuan pada dirinya.

Sejalan dengan semangat humanisme Kantian ini, Dawam juga menegaskan pentingnya konsep otonomi dan kebebasan manusia yang rumusan isinya telah secara gamblang termaktub dalam hak-hak asasi manusia (HAM), suatu traktat internasional yang sudah diakui keberadaannya melalui sebuah deklarasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Lebih dari itu, dalam pandangan Dawam, Indonesia sendiri telah mengakui prinsip-prinsip HAM tersebut sebagai bagian integral dari nilai-nilai dan sistem hukum nasional. Aspek-aspek HAM dimaksud di antaranya, ialah: Hak-hak politik untuk memilih dan dipilih; hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan sesuai dengan kemanusiaan, paling tidak hak-hak dasarnya, yaitu akses terhadap kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan yang merupakan freedom from want; hak terhadap kebutuhan keamanan (freedom from fear), kebebasan berpendapat dan berekspresi (freedom of spech and expresion), serta kebebasan beragama.

Dalam kerangka konsep otonomi dan kebebasan manusia Kantian inilah, kita sebenarnya dapat memahami rumusan trilogi Dawam seputar diskursus sekularisme, liberalisme dan pluralisme. Tentang hal ini, di bagian akhir “Mengkaji Ulang Muhammadiyah,” Dawam menulis:

“… Saya adalah orang yang pertama kali menentang fatwa MUI (Majlis Ulama Indonesia) mengenai pengharaman sekularisme, liberalisme dan pluralisme. Dan saya mereaksi itu dengan suara yang lantang untuk membela dan mengatakan bahwa trilogi (pluralisme, liberalisme, sekularisme) inilah yang sebenarnya merupakan kunci bagi pemecahan krisis di lingkungan umat Islam. Dengan puritanisme itu Muhammadiyah sebenarnya memakai sebuah baju sempit.

Di sini, saya mengembangkan argumen-argumen, mengapa trilogi ini merupakan satu panacea terhadap penyakit umat Islam yang dihadapi dewasa ini yang mengalami stagnasi dan bahkan makin lama makin terpojokkan. Saya tidak menginginkan bahwa nanti terjadi suatu revolusi atau tindakan seperti yang terjadi di Turki yang secara radikal menyingkirkan agama dari wacana publik. Saya berpendapat bahwa justru trilogi itulah yang akan memberikan peluang atau kesempatan bagi Islam untuk melakukan wacana publik, tetapi wacana yang dilakukan secara bebas, terbuka dan demokratis.

Dalam tulisan ini, Dawam tampaknya sangat yakin bahwa sekularisme, liberalisme dan pluralisme merupakan trilogi yang mampu menjadi jalan keluar umat Islam dari stagnasi atau bahkan krisis peradaban. Dalam hal ini, Dawam sepertinya ingin menawarkan jalan keluar dengan suatu rumusan pemikiran sosial yang bersifat praktis. Setelah dogmatisme diritik, serta diberikan obat penawar dengan rasionalisme yang bersifat kritis, maka Dawam selanjutnya berusaha menjadikan trilogi sekularisme, liberalisme dan pluralisme sebagai suatu paradigm baru yang mampu membawa gerakan Islam menjadi “agama publik,” yang terlibat aktif dalam kehidupan publik, tapi sudah mampu melepaskan diri dari kecenderungan ekslusifnya, mampu melakukan diskursus publik dengan menggunakan bahasa publik, menghargai otonomi dan kebebasan setiap manusia, serta mampu bekerja sama dengan agama-agama lain dalam rangka kemaslahatan bersama.

Dari sekian banyak pembahasan Dawam tentang trilogi sekularisme, liberalisme dan pluralisme, menurut hemat saya, salah satu aspeknya yang paling menarik untuk dikemukakan di sini adalah bagaimana Dawam mencoba menempatkan triloginya ini dalam konteks kebebasan beragama. Bagi Dawam, konsep otonomi dan kebebasan manusia dalam kehidupan beragama pertama-tama harus diletakan pada lokus akidah dan keimanan, karena keduanya merupakan masalah individual. Penempatan iman dan akidah kepada otoritas setiap individu dengan sendirinya akan menciptakan kebebasan beragama. Pengembalian iman dan akidah kepada otoritas individu yang otonom inilah yang dijadikan dasar pemikiran dalam prinsip liberalisme. Hal ini berbeda, misalnya, dengan masalah negara dan masyarakat yang termasuk ke dalam wilayah publik, yang karenanya harus dibahas secara rasional dan demokratis.

Selanjutnya, Dawam berkeyakinan bahwa konsekuensi logis dari konsep otonomi iman dan akidah bagi setiap individu yang melahirkan konsep kebebasan beragama adalah lahirnya pluralitas pandangan dan ekspresi keberagamaan. Karenanya, cara yang paling masuk akal dalam menyikapi pluralitas ini adalah prinsip pluralisme. Tentu saja, istilah pluralisme di sini tidak boleh disamakan secara serampangan dengan indiferentisme, yakni paham yang menganggap bahwa semua agama itu sama saja. Sebaliknya, prinsip pluralisme justru berasumsi bahwa setiap agama, bahkan semua penghayatan individual terhadap agama, memiliki keunikannya sendiri, yang harus dihargai. Karena itu, bisa dikatakan bahwa seorang liberal sejati yang menghargai otonomi dan kebebasan individu dalam beragama sudah pasti juga akan menjadi seorang pluralis.

Hanya saja, bagi Dawam, prinsip liberalisme dan pluralisme dalam kehidupan beragama tersebut juga tidak akan terwujud dengan baik jika negara sebagai organisasi kekuasaan didasarkan pada satu agama tertentu dalam bentuk teokrasi. Karenanya, prinsip lain yang juga harus ditegakan guna mewujudkan otonomi dan kebebasan manusia adalah sekularisme, yakni pemisahan antara agama dengan negara. Pemisahan ini mutlak harus dilakukan agar tidak terjadi dominasi dan hegemoni negara terhadap agama. Dalam hal ini, Dawam tidak mengartikan sekularisme sebagai paham anti-agama yang mengarah kepada ateisme, melainkan menyamakan sekularisme dengan konsep teori sosial tentang sekularisasi dan diferensiasi peran agama dalam kehidupan sosial.

Demikianlah, karena kecenderungannya pada kritik, rasionalitas, otonomi dan kebebasan dalam bidang pemikiran teoritis dan praktis, M. Dawam Rahardjo tampaknya bisa kita masukan ke dalam kelompok pemikir neo-Kantian yang berdiri sejajar dengan orang-orang seperti Jurgen Habermas dan John Rawls, meskipun kemungkinan besar Dawam tidak membaca secara langsung pikiran-pikiran Immanuel Kant. Sebagai neo-Kantian, orang-orang seperti Habermas, Rawls dan—lagi-lagi kalau kita sepakati—Dawam terobsesi untuk menciptakan tatatan sosial dan politik yang adil, yakni tatanan yang menghargai manusia sebagai makhluk yang bebas dan otonom. Dalam bidang pemikiran teoritis, para pemikir ini juga senantiasa percaya terhadap prinsip kebebasan dan otonomi rasio, meskipun mereka menolak asumsi-asumsi metafisik dari Immanuel Kant. Tapi yang pasti, baik Habermas, Rawls maupun Dawam Rahardjo tidak akan pernah menolak untuk senantiasa menubuatkan kepada setiap manusia guna berani menggunakan akal budinya sendiri secara optimal tanpa harus takut pada apapun. Sapere Aude!

Catatan Penutup: Kritik dan Utopia

Tulisan ini saya beri judul “Kritik dan Utopia.” Dengan kata “kritik,” saya maksudkan sebagai upaya keras dari seorang M. Dawam Rahardjo, sebagaimana juga Immanuel Kant, untuk mengatasi segala macam dogmatisme pemikiran dan ekspresinya dalam tindakan yang terjadi di dalam masyarakat. Dalam “Mengkaji Ulang Muhammadiyah,” Dawam melakukan kritik atas konservatisme dan puritanisme Muhamadiyah yang dinyatakannya sebagai organisasi Islam yang tidak berorientasi kepada pembaruan, atau dalam bahasa lain, anti-Pencerahan, serta menolak rasionalisme (penggunaan rasio secara optimal). Dawam mensinyalir kecenderungan anti-pembaruan ini sudah ada dalam “DNA” Muhammadiyah yang memang lebih banyak dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Wahabisme yang sangat harfiyah dalam memahami pesan-pesan pewahyuan yang ada dalam teks-teks keagamaan. Bagi Dawam, Muhammadiyah sama sekali bukan organisasi Islam yang mengadopsi dan mengembangkan rasionalisme Muhammad Abduh.

Sementara kata “Utopia” saya maksudkan sebagai suatu mimpi tentang kenyataan yang diharapkan terjadi di masa depan akibat ketidakpuasan atas kondisi yang saat ini ada. Dalam hal ini, Dawam bermimpi tentang kondisi di mana umat Islam mampu keluar dari kubangan dogmatisme, serta merayakan rasionalisme sebagai pilihan epistemologis. Sementara dalam ranah pemikiran praktis, Dawam bermimpi tentang kehidupan masyarakat yang terbuka dan bebas dari berbagai dominasi di mana agama berperan sebagai kekuatan publik untuk mendukung mimpi tersebut. Untuk mencapai mimpi tersebut, bahkan Dawam sudah membayangkan sarana yang tepat bagi umat Islam dalam bertansformasi diri menjadi agama publik, yakni: sekularisme, liberlisme dan pluralisme. Trilogi ini dibayangkan Dawam dapat menjadi obat mujarab bagi krisis peradaban yang saat ini menerpa umat Islam.

Kritik dan utopia adalah dua kata yang saling mengandaikan. Kritik biasanya diikuti atau dilatarbelakangi oleh suatu utopia; kritik biasanya muncul karena adanya ketidakpuasan atas kondisi yang terjadi saat ini, serta diikuti dengan mimpi tentang kondisi yang lebih baik di masa depan. Namun demikian, sering kali setelah melakukan kritik, utopia tinggal utopia di mana mimpi tidak pernah menjadi kenyataan. Tidak selamanya kritik membawa perubahan ke arah yang diinginkan. Tapi, tanpa kritik, stagnasi dan kondisi yang tidak memuaskan di masa kini tidak akan mendapat perlawanan.

Dalam hal ini, kritik Dawam terhadap Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya bisa jadi tidak memberikan dampak apapun, yang karenanya membuat utopia tetaplah menjadi utopia belaka. Bahkan, bukan tidak mungkin kritik yang dilancarkan Dawam akan mendapatkan tanggapan sinis atau sikap yang reaksioner. Namun demikian, kritik seperti yang dilakukan Dawam tetap dibutuhkan guna menunjukan bahwa masih ada hal yang harus diperbaiki di masa depan. Terkait dengan pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta 3-8 Juli 2010, kritik Dawam bisa jadi merupakan satu masukan bagus untuk didiskusikan oleh para peserta muktamar demi perbaikan organisasi di masa depan. Kecuali jika memang Muhammadiyah tidak mau lagi menjadi organisasi yang berorientasi pembaruan, kritik Dawam mungkin akan dibiarkan sebagai kritik belaka, dan utopia tetaplah menjadi utopia.

DAFTAR ISI

Al-Jabiri, Mohammed Abid, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyah li Nuzum al-Marifah fi al-Tsaqafah al-‘Arabiyah (Bairut: Markaz Dirasat al-Wihdah al-‘Arabiyah, 1992).

Kant, Immanuel, Foundation of Metaphysics of Morals and What is Enlightenment, 2nd ed., The Library of Liberal Arts, (New York London: Macmillan; Collier Macmillan, 1990).

_____________, Critique of Pure Reason, trans. JMD Meiklejohn, (New York: Prometheus Books, 1990), h. 29.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: