Iqbal Hasanuddin

Problem Hermeneutik

Posted by iqbalhasanuddin pada Desember 12, 2008

Kata “hermeneutik” atau “herme­neutika” berasal dari kata kerja Yunani hermeneuo yang berarti “mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata”. Kata hermeneutika ini juga berarti “menerjemahkan” dan “bertindak sebagai penafsir”. Kata ini sering dikait-kaitkan dengan Hermes dalam mitologi Yunani. Menurut Komaruddin Hidayat, peran Hermeus sesungguhnya mirip dengan para utusan (rasul) Tuhan yang bertugas sebagai juru penghubung pesan dan ajaran Tuhan kepada manusia. Tugas ini sangat berat karena para utusan tersebut harus menyampaikan kehendak Tuhan yang menggunakan “bahasa langit” kepada manusia yang menggunakan “bahasa bumi”. Singkatnya, hermeneutik bisa diartikan sebagai “proses mengubah situasi ketidaktahuan menjadi tahu.”

Dalam terminologi modern, her­meneutika dimaksudkan sebagai metode dan teori tentang pemahaman teks, baik teks yang ditulis oleh pengarang yang sezaman dengan kita maupun teks yang berasal dari tempo dulu. Dalam teks yang sezaman, kita tidak terlalu mendapat kesulitan dalam memahami kata-kata, kalimat-kalimat dan istilah-istilah yang digunakan pengarang. Sementara dalam kasus teks yang muncul dari tempo dulu, kita dan pengarang teks dihalangi oleh jarak waktu yang cukup panjang sehingga kata-kata, kalimat-kalimat, dan istilah-istilah dalam teks sulit untuk dipahami. Dalam hal ini, kita sedang berhadapan dengan “problem hermeneu­tik”: bagaimana menafsirkan teks itu? Apa yang menjadi jaminan bahwa penafsiran kita tidak keliru? Seberapa mungkin kita yang hidup di zaman dan tempat ini bisa menangkap secara benar gagasan dari generasi tempo dulu yang medianya hanya berupa sebuah teks? Pada intinya, bagaimana mengerti suatu teks yang “asing” bagi kita sebagai pembaca? Bagaimana mungkin menjembatani “keasingan” teks tersebut?

Untuk mengatasi “problem herme­neutik” tersebut, kita perlu menyebut dua tokoh penting yang menjadi pelopor hermeneutika modern: Friedrich Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey. Bagi Schleimacher, keasingan suatu teks harus diatasi dengan mencoba mengerti si pengarang. Dengan kata lain, untuk mengerti suatu teks dari tempo dulu, pembaca harus keluar dari zaman di mana ia hidup, kemudian merekonstruksi zaman si pengarang dan menampilkan kembali keadaan ketika teks ditulis. Dengan demikian, pembaca tidak akan sulit untuk membayangkan bagaimana pemikiran, perasaan dan maksud pengarang. Seperti halnya Schleiermacher, Dilthey juga berupaya mengatasi “keasingan” suatu teks. Menurutnya, suatu teks ditulis dalam dan untuk merespon peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Untuk memahami teks, kita harus berusaha merekonstruksi pe­ristiwa-peristiwa tersebut. Memang, kita tidak dapat secara langsung menghayati peristiwa-peristiwa dari tempo dulu itu. Namun, setidaknya kita bisa membayangkan bagaimana orang dulu menghayati peristiwa-peristiwa tersebut.

Menurut saya, ada beberapa hal menarik yang perlu dicatat dari pandangan hermeneutik Schleier­macher dan Dilthey. Pertama, makna objektif dari suatu teks adalah makna yang dihayati dan mau dikatakan oleh si pengarang. Karena itu, menafsirkan merupakan pekerjaan reproduktif, yakni mencari kembali makna objektif teks. Hal ini juga berarti bahwa penafsir harus mampu mengeliminir kecenderungan dan prasangka yang bersifat subjektif demi objektivitas pemahaman. Dan kedua, seorang penafsir teks diandaikan sanggup melepaskan diri dari situasi historisnya. Jadi, si penafsir sendiri tidak terikat oleh suatu horison ke-kini-an dan ke-di-sini-an yang melingkupinya. Dua asumsi tersebut menjadikan hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey benar-benar sangat menarik dan controversial. Pada perkembangan berikutnya, dua asumsi ini ternyata memicu perdebatan sengit dalam kancah pemikiran filsafat Barat kontomporer, khususnya antara dua arus utama (main stream) yang saling berseteru: kelompok Gadamer pada satu sisi, serta kelompok Betti dan Hirsch di sisi yang lain.

Berada daiam barisan kelompok pertama, Gadamer mengkritik dua asumsi hermeneutik Schleiermacher dan Dilthey tersebut. Menurutnya, interpretasi tidak sama dengan mengambil suatu teks, lalu mencari arti teks sebagaimana dimaksud penga­rang. Sebaliknya, arti suatu teks tetap terbuka sesuai dengan horison pe­nafsir. Dalam hal ini, tujuan inter­pretasi tidak bersifat reproduktif belaka, tetapi juga produktif. Hal ini terkait dengan kritik kedua bahwa kita sebagai penafsir tidak dapat melepaskan diri dari situasi historis di mana kita berada. Karena itu, upaya untuk menjembatani jurang antara waktu kita dengan waktu pengarang adalah mustahil atau ilusi. Bagi Gadamer, “prasangka” dan “tradisi” penafsir harus diafirmasi sebagai horison historis yang memungkinkan pemahaman terhadap teks.”

Berbeda dengan Gadamer, Emilio Betti dan E.D. Hirsch justru mengukuhkan kembali tujuan hermeneutik sebagaimana dirumuskan oleh Schleiermacher dan Dilthey. Pengukuhan ini pada intinya berusa­ha menegakkan objektivitas dalam penafsiran dengan membatasi subjektivitas penafsir. Betti ingin menegaskan lagi prioritas objek studi, yakni apa yang ia sebut hermeneutical au­tonomy. Tujuan hermeneutik adalah mencapai kebenaran yang terkandung dalam makna teks secara objektif. Adapun proses “signifikansi” atau “pembacaan kontekstual” bukan lagi tugas hermeneutik Dalam hal ini, “makna teks” (meaning) harus dibedakan dengan “signifikansi” untuk konteks ke-kini-an dan ke-di-sini-an penafsir. Oleh karena itu, Betti berupaya merumuskan pedoman kanonikal yang menjamin sejauh mungkin tegaknya otonomi objek sebagai objektivasi pengetahuan. Selain membedakan antara “makna” dan “signifikansi”, Hirsch lebih jauh menarik tujuan hermeneu­tik sebagai logika validasi: untuk menentukan keliru atau tidaknya suatu penafsiran teks.”

Demikianlah, hermeneutika dalam filsafat Barat modern berawal (Schleiermacher) dan berujung (Hirsch) pada upaya untuk menyusun kaidah-kaidah yang dapat mengarahkan penafsiran supaya bersifat objektif. Hanya saja, di tengah arus hermeneutik yang bersifat objektivistik tersebut, terdapat horison lain (Gadamer) yang lebih mengarahkan hermeneutik pada persoalan filosofis: apakah yang terjadi daiam penaf­siran? Pada yang pertama kecenderungan dan prasangka dari horison penafsir berusaha dieliminir karena dianggap akan merusak objektivitas penafsiran. Sementara pada yang kedua, horison ke-kini-an dan ke-di-sini-an penafsir tidak saja diafirmasi, tetapi juga dianggap sebagai” syarat-syarat kemungkinan” (the condition of possibility) bagi proses pemahaman. Pada yang pertama, hermeneutika dimaksudkan untuk mereproduksi makna teks, sedangkan yang kedua menjadikan proses hermeneutik sebagai proses penciptaan makna baru (hermeneutika produktif).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: