Iqbal Hasanuddin

Pergolakan Pemikiran Islam Modern

Posted by iqbalhasanuddin pada Desember 12, 2008

Sejak pertengahan abad ke-19, pemikiran Islam mencerminkan perasaan rendah diri (inferioritas) di hadapan dunia Barat modern, sekaligus memendam kerinduan atas kejayaan Islam di masa lalu. Dalam pemikiran Islam periode ini, Barat modern diakui memiliki keunggulan dalam bidang ekonomi, keilmuan, teknologi dan militer. Sungguhpun demikian, di balik inferioritas ini, pemikir-pemikir Islam juga menganggap bahwa dunia Islam pun pernah mencapai posisi tertinggi di dunia dalam kebudayaan dan bidang keilmuan di masa lalu, seperti yang dialami Barat di masa kini. Dengan demikian, perpaduan rasa rendah diri terhadap Barat modern dengan kebanggaan terhadap masa lalunya sendiri membuat pemikiran Islam berada di dalam sebuah tegangan antara “tradisi dan modernitas.”

Di tengah-tengah kondisi semacam ini, pemikiran Islam memunculkan pertanyaan-pertanyaan instropektif berikut: “Mengapa kita (bangsa Arab, umat Islam, atau dunia Timur pada umumnya) jadi terbelakang, sedang yang selain kita (Kristen, Eropa dan Barat pada umumnya) lebih maju?” “Bagaimana kita bisa bangkit? Bagaimana kita bisa mengikuti perkembangan zaman, yakni kemajuan perdaban modern?” Inilah suara zaman “kebangkitan” yang muncul di kalangan para pemikir di lingkungan Islam sebagai respon atas tegangan “tradisi dan modernitas” yang dialami oleh masyarakatnya.

Albert Hourani, seorang ahli sejarah pemikiran yang memiliki perhatian cukup tinggi terhadap pemikiran Islam modern, membagi berbagai pergulatan intelektual para pemikir Islam dalam kerangka “kebangkitan” tersebut ke dalam empat periode, yakni: generasi pertama (1830-1870 M); generasi kedua (1870-1900 M); generasi ketiga (1900-1939 M); dan generasi keempat (sejak pecahnya Perang Dunia Kedua). Tentu saja, bukannya tanpa alasan mengapa Hourani membagi diskursus kebangkitan Islam ke dalam empat generasi. Pembagian generasi ini tidak saja menunjukan perjalanan koronologis pemikiran Islam, tapi juga menggambarkan perbedaan kecenderungan dan orientasi pemikiran di masing-masing generasi. Perbedaan kecenderungan dan orientasi pemikiran pada setiap generasi ini pada gilirannya juga harus dilihat dari perspektif perbedaan tantangan zaman atau konteks sosial-politik yang melatarbelakangi munculnya pemikiran-pemikiran tersebut (Albert Hourani, Pemikiran Liberal di Dunia Arab, terj. Suparno dkk., [Jakarta: Mizan, 2004]).

Generasi pertama (1830-1870 M) terdiri dari sekelompok kecil para pejabat dan penulis dari Kairo, Tunis dan Istanbul yang memandang Eropa modern bukan sebagai ancaman, tapi sebuah model untuk ditiru oleh dunia Islam. Topik utama pembaharuan pemikiran dan kebudayaan diarahkan pada masalah bagaimana dunia Islam dapat mengejar ketertinggalan dari Barat modern. Al-Tahtawi, Khair al-Din dan al-Bustani merupakan pigur-pigur pemikir dalam generasi ini. Semangat yang muncul dalam artikulasi pemikiran mereka adalah: umat Islam harus berlajar kepada Barat modern untuk bisa keluar dari keterbelakangan serta menggapai kemajuan. Al-Tahtawi, misalnya, menulis sebuah buku berjudul Takhlish al-Ibriz ila Talkhis Bariz yang berisi tentang kekagumannya terhadap pola kehidupan masyarakat Perancis. Pesan yang ada dalam buku tersebut sangat jelas: Perancis harus dijadikan model bagi Islam untuk mencapai kemajuan.

Generasi kedua (1870-1900 M) telah menghadapi sebuah situasi yang banyak berbeda dari generasi pertama. Pada periode ini, Eropa tidak saja menampilkan diri sebagai model kemajuan, tapi juga menjadi lawan. Kekuatan militer Eropa telah hadir di Mesir, Aljazair dan Tunisia, serta pengaruh politiknya mulai mencengkeram banyak wilayah yang diduduki orang-orang Muslim. Selain itu, pranata-pranta sosial dan ekonomi modern khas Eropa juga telah mengisi ruang-ruang sosial di lingkungan Islam yang pada masa-masa sebelumnya tidak ada. Dalam konteks sosial seperti ini, para pemikir generasi kedua nahdlah tidak berbicara kepada masyarakatnya tentang kaharusan menerima perubahan, karena memang perubahan tersebut merupakan satu hal yang tidak bisa dielakan lagi. Sebaliknya, mereka berupaya meyakinkan bahwa dunia Islam masih bisa tetap berpegang kepada tradisinya sendiri, meskipun banyak terjadi perubahan di sana-sini. Karenanya, tugas utama yang diusung oleh generasi ini adalah mereinterpretasikan tradisi Islam sehingga bisa selaras dengan tuntutan-tuntutan dunia modern. Dalam rangka menunaikan tugas tersebut, Muhammad Abduh tampil ke permukaan sebagai tokoh utama dari generasi kedua ini.

Generasi ketiga (1900-1939 M) ditandai oleh munculnya ketidaksepakatan di antara para pemikir tentang strategi kebudayaan yang perlu dicanangkan oleh dunia Islam di masa depan. Di satu pihak, ada sekelompok pemikir yang bersikukuh menghendaki agar kehidupan masyarakat diatur dengan dasar-dasar Islam, di mana arah kelompok ini lebih menjurus kepada sejenis fundamentalisme Islam. Sementara di pihak yang lain, terdapat sekelompok pemikir yang menginginkan agar kehidupan masyarakat Islam diatur oleh norma-norma sekular. Terkait dengan gagasan politik misalnya, para pemikir dari generasi kedua ini terbelah ke dalam dua kelompok yang masing-masing kelompok diwakili oleh Rasyid Ridha dan Ali ‘Abd al-Raziq. Kelompok pertama menginginkan agar khilafah Islamiyyah tetap dipertahankan sebagai bentuk polity Islam. Sebaliknya, kelompok kedua menolak gagasan tentang khilafah.

Generasi keempat (sejak dimulainya Perang Dunia Kedua) para pemikir nahdlah hidup di saat dominasi Eropa di wilayah Islam telah digantikan oleh tampilnya kekuatan Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Kedua negara tersebut menancapkan perngaruh mereka tidak dengan penguasaan politik secara langsung, tapi melalui kekuatan militer dan ekonomi yang sangat signifikan. Karakteristik pemikiran dalam generasi kedua ini ditandai oleh kecenderungan untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya dasar yang valid dalam mengatur kehidupan masyarakat. Para pemikir yang berada dalam organisasi Ikhwan al-Muslimin semisal Hasan al-Bana dan Sayyid Qutb merupakan figur-figur utama dalam generasi keempat ini.

Kalau empat fase pemikiran Islam yang dibuat Hourani tersebut boleh ditambahkan, maka generasi kelima nahdlah telah muncul sejak peristiwa kalahnya negara-negara Arab dalam peperangan melawan Israel pada 1967. Para pemikir dari generasi ini mencoba ditandai oleh besarnya tekanan mental akibat kekalahan perang dari Israel tersebut, serta berupaya meletakkan tanggung jawab kekalahan itu pada kekurangan-kekuarangan yang ada dalan dunia Islam sendiri. Karakterisktik pemikiran dalam generasi ini, misalnya, bisa dilihat dari munculnya pertanyaan-pertanyaan instropektif berikut: Mengapa Jepang dapat melakukan modernisasi dan menjadi salah satu negara industri terkemuka di dunia, tapi mereka tetap menjaga otentisitas kebudayaannya pada satu sisi, sementara di sisi lain proses modernisasi yang sama dilakukan oleh Islam justeru menuai kegagalan?

Dalam merespon masalah ini, para pemikir generasi kelima terbagi-bagi ke dalam beberapa kelompok. Issa J. Boullata, misalnya, mengelompokkan para pemikir ini ke dalam tiga kelompok (Issa J. Boullata, Dekonstruksi Tradisi: Gelegar Pemikiran Arab-Islam, terj. Imam Khoiri [Yogyakarta: LKIS, 2001]):

(1) Kelompok pertama ini beranggapan bahwa revolusi kebudayaan yang singkat dan instan sama sekali tidak memadai bagi proyeksi kemajuan Islam di masa depan. Mereka memandang kebudayaan Islam mesti diubah dan dirumuskan kembali secara sempurna. Apa yang dianggap sebagai pandangan-pandangan keagamaan mendasar tetang kehidupan dan dunia mesti dihilangkan serta digantikan oleh pandangan sekular yang berakar pada rasionalisme, ilmu pengetahuan, teknologi, dan sistem ekonomi sosialis.

(2) Kelompok kedua menganggap bahwa tradisi dan kebudayaan Islam masih kompatibel di zaman modern asalkan diinterpretasikan dan dipahami secara lebih baik, serta bagian-bagian tertentu dari elemen tradisi tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan modern dan pengalaman negara-negara modern. Tujuan utama dari para pemikir kelompok kedua ini lebih bersifat reformis ketimbang radikal. Mereka menginginkan adanya pemisahan antara agama dan politik, serta menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi bagi lingkungan dunia Islam.

(3) Kelompok ketiga lebih banyak memberikan perhatian kepada aspek-aspek agama dalam kebudayaan Islam. Para pemikir dari kelompok ini memandang bahwa elemen-elemen Islam dalam kebudayaan Arab merupakan elemen prinsipil, jika malah bukan satu-satunya elemen yang harus ditonjolkan. Mereka berupaya untuk menyaring pengaruh-pengaruh budaya asing, khususnya Barat, dalam kebudayaan Islam, serta menyerukan untuk kembali kepada esensi Islam yang murni sebagaimana dipahami dan dipraktikan pada masa awal kehidupan nabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: