Iqbal Hasanuddin

Tentang Ontologi dan Epistemologi Al-Qur’an

Posted by iqbalhasanuddin pada Desember 9, 2008

Saya punya catatan tentang ontologi dan epistemologi al-Qur’an. Menurut saya pribadi, manusia sebenarnya memiliki keterbatasan epistemologis untuk membicarakan hakikat al-Qur’an hingga ke level al-Lauh al-Mahfudz. Sebab, konon kata Immanuel Kant, kita tidak memiliki fakultas pengetahuan di dalam diri kita untuk dapat mencapai atau memahami hal-hal yang supraempiris.

Tapi, yang namanya manusia kan suka maksa-maksa. Ibn Sina aja maksa-maksa menjelaskan tentang proses relasi atau terjadinya “apa yang banyak dan relatif” ini dengan atau dari “yang satu dan absolut” dengan filsafat emanasi atau filsafat “akal-akalan.”

Kecenderungan maksa-maksa ini juga terjadi dalam filsafatnya Hegel. kata dia, logika atau rasio dapat mencapai apapun, termasuk “perjalanan roh” yang pada awalnya dianggap sebagai perkawinan antara “absolut being” dan “absolut non-being” (maaf, bukan absolut-nothing). lagi-lagi, kata Hegel, perkawinan antara “dua absolut” ini melahirkan “becoming.” Ya, mirip-mirip dengan tajalli-nya Ibn Arabi lah.

Dalam proses becoming ini, “being” atau “non-being” tidak lagi memiliki sifat absolut karena sudah memiliki karakter relasi antara satu dengan lainnya secara dialektis (meskipun hal ini kemudian dikritik oleh Ayatullah Murtadha Mutahari). karena ke-“ada”-annya itu sudah berelasi dengan yang lain, maka status “ada” yang dimilikinya pun menjadi relatif. Misalnya, ketika Ika mengatakan bahwa meja itu “ada” maka, kata Hegel, status atau identitas “ada” bagi meja tersebut sangat tergantung pada kategori ruang dan waktu. ini dalam bahasa filsafatnya adalah “ada” yang memiliki karakter “kontekstual” (menurut kategori ruang) dan “kontingensial” (menurut waktu). khusus tentang konsep yang terakhir itu (kontingensial), pararel dengan konsep “mumkin al-wujud” dalam filsafat skolastik. maka, kita bisa mengatakan bahwa meja itu ada saat ini, tapi tidak ada tiga hari kemudian karena sudah terbakar misalnya (berdasarkan waktu). atau, meja itu ada di kelas, tapi tidak ada di lapangan bola (berdasarkan ruang).

Selain itu, karena karekter ruang-waktunya, ada-ada relatif ini (atau dalam bahasa Hegelnya itu disebut dasein) sudah memiliki ukuran, warna, bau, dsb.

Sekarang kita kembali kepada pembahasan tentang “ada absolut” atau “ketiadaan absolut.” bagi Hegel, “ada absolut” ini berbeda dengan “ada relatif.” “ada absolut” itu tidak memiliki warna, bau dan ukuran. karena itu, ia adalah, bukan meja, bukan kursi, bukan gunung, bukan Ika, bukan Iqbal dan bukan apapun dari apa yang ada ini. karena bukan ini dan bukan itu (mirip dengan konsep laesa kamislihi syaiun-nya Asy’ariyyah), maka “ada absolut” itu sama saja dengan “ketiadaan absolut,” tapi secara negatif.

Sekarang, bagaimana jika filsafat Hegel, atau filsafat emanasi Ibn sina, atau wahdatul wujud-nya Ibn Arabi itu dipakai sebagai kerangka dasar untuk memahami hakikat kepriadaan atau status ontologi al-Qur’an?

Pertama-tama, kita harus membeda-bedakan hakikat al-Qur’an itu berdasarkan level-level ontologisnya, yakni al-Qur’an pada level: (1) logos atau alam pikiran Tuhan atau (mungkin) pada apa yang oleh al-Qur’an sendiri disebut dengan al-lauh al-mahfudz; (2) alam pikiran Malaikat Jibril (ini pun kalau level Jibril mau diterima atau dipakai); (3) alam pikiran Muhammad sebagai penerima wahyu; (4) wacana lisan atau ujaran al-Qur’an (Muhammad); (5) alam pikiran para sahabat yang mendengarkan wacana lisan al-Qur’an dari Muhammad; (6) ketika dituliskan, maka wacana ujaran al-Qur’an mengalami transformasi menjadi wacana tulis (perlu diingat bahwa di sini ada banyak versi atau apa yang disebut qira’ah sab’ah atau bahkan lebih banyak versi lagi berdasarkan logat bahasa Arab yang dimiliki para sahabat); (7) ketika wacana tulis tersebut dibakukan atau dikodifikasi menjadi mushaf, maka al-Qur’an sudah menjadi–meminjam istilah Mohammed Arkoun–“korpus resmi tertutup” baik versi mushaf Utsmani atau (kalau mungkin ada, tapi saya tidak tahu) versi ahl al-bait; (8) wacana al-Qur’an yang sudah dibakukan oleh tafsir-tafsir yang kemudian dikonstruksi para ulama pada abad k-2 dan ke-3 H menjadi–lagi-lagi meminjam kepada Arkoun–“korpus-korpus tertafsir”; (9) wacana al-Qur’an yang sudah ada pada alam pikiran para pembacanya, termasuk kita para al-Qur’an yang ada di zaman berabad-abad dari saat al-Qur’an itu diturunkan kepada Muhammad. harus diingat, bahwa  latar belakang sosial, ekonomi, politik, budaya, bahasa dan sejarah hidup si pembaca akan sangat menentukan persepsi atau wacana al-Qur’an pada alam pikiran pembaca tersebut.

Kalau mengacu kepada level-level eksistensi atau ontologi dalam filsafat Hegel, Ibn Sina dan Ibn Arabi, maka status “ada” atau “kebenaran” dari al-Qur’an tersebut juga akan berbeda-beda. Mislanya, hakikat kebenaran al-Qur’an pada alam pikiran Tuhan berbeda dengan pada alam pikiran Malaikat ataupun Muhhamad. terus, ketika al-Qur’an sudah menjadi korpus apalagi pada alam pikiran pembaca, maka hakikat kebenarannya sudah semakin jauh dari hakikat kebenarannya pada level alam pikiran Tuhan.

Oleh karena itu, jika muncul ajakan bahwa kita harus mengembalikan segala sesuatu kepada al-Qur’an, maka yang dimaksud oleh ajakan tersebut kepada level ontologis al-Qur’an yang mana? selain itu, tentu saja, jika kita sudah memberikan status absolut terhadap kebenaran al-Qur’an pada level ontologi mushaf atau pada wacana lisan atau alam pikiran Muhammad, maka kita sudah merebut hak Tuhan yang semestinya menjadi satu-satunya eksistensi yang menyandang status absolut. daalam konteks yang sama, kita bisa bertanya apakah perintah-perintah spesifik di dalam al-Qur’an pada wacana lisan atau mushaf seperti perintah tentang jilbab, zakat, salat, puasa, hukum potong tangan, rajam dll, apakah hal itu juga ada pada alam pikiran Tuhan? apakah dari diri Tuhan yang absolut itu juga terdapat masalah-masalah sepele seperti itu? Apakah Tuhan yang absolut juga ikut subuk memikirkan tentang masalah-masalah remeh seperti potong tangan, jilbab dsb? Lantas, kalau dalam filsafat “akal-akalan”-nya Ibn Sina, terletak pada akal keberapa atau yang mana masalah-masalah remeh-temeh tersebut?

Kalau pertanyaan tersebut diajukan kepada saya, maka jawabannya adalah: Subhanallah. Mahasuci Allah (pada levelnya sebagai ada absolut) dari semua masalah-masalah sepele seperti itu. kalau Allah juga ikut sibuk memikirkan masalah-masalah tersebut, maka ia bukan lagi Allah karena sudah kehilangan status absolutnya.

Demikian jika kita berbicara tentang ontologi al-Qur’an. sekarang, bagaimana dengan epistemologi al-Qur’an?

Menurut saya, sebagaimana terdapat jarak pada masing-masing level ontologi, juga terdapat jarak pada level-level epistemologi al-Qur’an. Bagaimana mungkin kita (para pembaca) yang hidup pada abad ke 21 ini dapat menjangkau hakikat kebenaran al-Quran pada alam pikiran Tuhan ataupun alam pikiran Jibril? Apakah kita mungkin untuk mencapai hakikat kebenaran al-Qur’an pada level alam pikiran Muhammad, wacana lisan Muhammad atau alam pikiran para sahabat, sementara kita tidak hidup sezaman dengan mereka? Secara sepintas, paling tidak kita hanya bisa menjangkau hakikat kebenaran al-Qur’an pada level mushaf dan level-level seterusnya karena ada bukti transmisi berupa mushaf yang sampai ke tangan kita.

Terkait dengan jarak epistemologis atau–dalam filsafat kontemporer disebut dengan–“problem hermeneutik” al-Qur’an tersebut, tradisi keilmuan Islam klasik terbagi-bagi ke dalam beberapa paradigma untuk dapat mencapai hakikat kebenaran al-Qur’an hingga ke level setinggi mungkin yang bisa dicapai: al-tafsir dan al-ta’wil. kemudian, al-ta’wil ini pun dibagi lagi menjadi al-ta’wil al-‘rfani dan al-ta’wil al-‘aqli.

Pertama, al-tafsir. secara etimologis, al-tafsir merupakan isim masdhar dari fasra-yufasiru-tafsir, yang artinya menguraikan. sementara secara terminologis, al-tafsir berarti melakukan analisis terhadap al-Qur’an berdasarkan pendekatan-pendekatan linguistik atau kebahasaan. adalah Muhammad ibn Idris al-Syafi’i (Imam Syafi’i) yang berjasa besar dalam meletakan fondasi-fondasi bagi paradigma al-tafsir ini. berdasarkan pendekatan kebahasaan, al-Syafi’i berhasil merumusakn metode al-bayan, dengan membuat kategori-kategori seperti ‘am-khas, mutlaq-muqayyad, mafhum-manthuq, mujmal-mubayan, dsb. pada intinya, metode al-bayan atau paradigma al-tafsir ini berusaha untuk memahami kehendak Tuhan berdasarkan asas-asas linguistik. mereka tidak mau mereka-reka apa makna al-Qur’an seandainya tidak ada preseden atau dilalah-nya secara langsung dari teks al-Qur’an, baik eksplisit maupun implisit. hal ini tentu saja berangkat dari asumsi ontologi dan epistemologi al-Qur’an yang sama dengan kalangan Asy’ariyyah bahwa kebenaran al-Qur’an terletak pada makna harfiyyahnya. semakin dekat kepada makna harfiyyah teks, maka semakin dekat pula kepada hakikat kebenaran al-Qur’an.

Kedua, al-ta’wil. secara etimologis, al-ta’wil berasal dari awala-yuawilu-ta’wil, yang artinya mengembalikan kepada yang awal. secara terminologis, al-ta’wil berarti mengurai untuk kemudian menemukan makna hakiki al-Qur’an. hal ini berarngkat dari asumsi bahwa teks al-Qur’an memiliki dua level makna: dzahir dan bathin. paradigma al-ta’wil ini tidak cukup berpuas diri pada makna dzahir, tapi ingin labih jauh menjangkau makna bathinnya. lantas, bagaimana cara untuk mencapai makna bathin tersebut? di sini, al-ta’wil terbagi ke dalam dua paradigma lagi, yakni: al-ta’wil al-irfani dan al-ta’wil al-aqli.

bagi paradigma al-ta’wil al-irfani, makna bathin al-Qur’an hanya bisa dicapai dengan cara al-kasyaf, artinya penyingkapan langsung kebenaran Tuhan kepada diri seseorang. hanya saja, tidak semua orang bisa mencapai tahap kasyaf ini. hanya orang-orang yang berhati bersih lah yang dapat mencapainya. oleh karena itu, konsep al-kasyaf ini sebenarnya tidak memiliki motode ilmiah yang bisa diuji secara rasional, tapi hanya mengandalkan pada kesucian seseorang. di kalangan ahl al-bait, para imam dipercaya telah mencapai level kasyaf ini sehingga pandangan-pandangan mereka tentang makna al-Qur’an memiliki otoritas sedemikian tinggi yang tidak dapat dibantah oleh kalangan awam.

sementara bagi paradigma al-ta’wil al-‘aqli, pencapaian makna bathin al-Qur’an tersebut bisa dilakukan melalui penalaran rasional dengan mengaitkan antara makna dzahir atau makna harfiyyah dengan konteks spasio-temporal masyarakat Arab ketika wahyu itu turun, termasuk konteks linguistiknya. dengan demikian, maksud-maksud pewahyuan dapat ditangkap oleh rasion tanpa harus terjebak dengan kungkungan makna-makna harfiyyah semata. di antara kalangan yang menggunakan paradigma al-ta’wil al-‘aqli ini adalah kalangan mu’tazilah dan juga ibn Rusyd seperti yang termaktub dalam buku kecilnya Fashl al-Maqal.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan begitu saja memakai paradigma-paradigma klasik tersebut atau menciptakan paradigma baru yang sesuai dengan tantangan zaman sekarang?

Manurut saya, kita bisa memanfaatkan temuan-temuan para ahli ilmu di masa klasik tersebut (baik al-tafsir maupun al-ta’wil), tapi dengan adaptasi dan penyesuaian serta pemanfaatan temuan-temuan terbaru dalam bidang ilmu-ilmu sosial, humaniora, termasuk lingusitik kontemporer, hermeneutika, antropologi dan sebagainya.

Manurut saya, kita bisa memanfaatkan temuan-temuan para ahli ilmu di masa klasik tersebut (baik al-tafsir maupun al-ta’wil), tapi dengan adaptasi dan penyesuaian serta pemanfaatan temuan-temuan terbaru dalam bidang ilmu-ilmu sosial, humaniora, termasuk lingusitik kontemporer, hermeneutika, antropologi dan sebagainya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: