Iqbal Hasanuddin

Apa Itu Pencerahan?

Posted by iqbalhasanuddin pada Desember 9, 2008

Pada bulan November tahun 1784, surat kabar Berlin (Berlinische Monatschrift) menurunkan sebuah head line berujudul: Was Heisst Aufklarung? Tentu saja, head line yang diangkat oleh surat kabar Berlin ini merupakan refleksi atas situasi baru yang tengah melanda Eropa ketika itu, di mana telah terjadi perubahan secara besar-besaran dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, keagamaan dan kebudayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Salah seorang kontributor yang menulis tentang topik Aufklarung atau Pencerahan di harian tersebut adalah Immanuel Kant, seorang filsuf terkemuka asal Konigsberg (kota kecil di Jerman). Melalui judul tulisan yang sama dengan judul head line surat kabar tersebut, Kant merasa perlu untuk menyampaikan pandangan-pandanganya kepada publik tentang apa itu Pencerahan. Menurut Kant, “Pencerahan adalah pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan manusia untuk memakai pengertiannya tanpa pengarahan orang lain. Diciptakan sendiri berarti bahwa ketidakmatangan ini tidak disebabkan oleh kekurangan dalam akal budi, melainkan dalam kurangnya ketegasan dan keberanian untuk memakainya tanpa pengarahan dari orang lain. Sapere aude! Beranilah memakai akal budimu sendiri.”

Setelah 224 tahun berlalu, teks yang ditulis olah Kant tersebut tampaknya layak untuk dikaji kembali. Sebab, bentuk-bentuk ketidakdewasaan yang disebut Kant dalam teks itu justeru masih menjadi fenomena umum dalam kebudayaan kita saat ini. Dalam kehidupan bangsa Indonesia saat ini, berbagai tanda irrasionalitas masih menggejala, tanpa bisa diketahui sampai kapan akan berakhir. Karenanya, untuk mencari pendasaran bagi penyembuhan berbagai bentuk irrasionalitas dalam kehidupan kita, pembacaan kembali topik “apa itu Pencerahan?” merupakan pilihan yang sangat masuk akal.

Kant vs Nietzsche

Dalam pemikiran Barat modern, Immanuel Kant ditahbiskan sebagai filsuf Pencerahan paling utama. Dari teks “Apa itu Pencerahan?,” tergambarlah optimisme Kant terhadap kemampuan akal budi manusia. Bagi Kant, dengan akal budi yang dimilikinya, manusia bisa menjadi subjek yang bebas dan otonom; bebas berarti manusia bisa mengaktualisaikan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya sehingg menjadi manusia sepenuhnya; sementara otonom berarti manusia bisa mengemansipasikan diri dari berbagai hambatan-hambatan apapun di luar dirinya, baik itu hambatan alam maupun sosial. Karenanya, akal budi dianggap sebagai norma bagi segalanya, termasuk ukuran kebenaran. Dengan akal budi, tidak saja manusia yang akan menggapai kebebasan dan otonomi, tapi alam dan masyarakat pun akan tertata secara rasional.

Tidak lama berselang, Nietzsche datang untuk mewartakan bahwa konsep Pencerahan Kantian merupakan sebuah ilusi yang harus ditinggalkan. Nietzsche juga hadir ke panggung filsafat Barat untuk memperkarakan konsep rasio dan subjectum yang diagung-agungkan oleh Kant. Menurut Nietzsche, sejarah rasio dan subjek telah dimulai sejak legislasi Sokrates atas Logos. Padahal, bagi Nietzsche, Logos tidak lain daripada sebuah mitos tentang kebenaran tunggal. Karenanya, berbagai atribut manusiawi yang divalidasi sebagai jalan menuju Logos, yakni rasio dan subjectum, harus dipertanyakan: rasio tidak akan mampu membawa progres kemanusiaan, sementara subjectum tidak asali. Sebagai alternatifnya, Nietzsche menawarkan agar Logos sebagai mitos tentang kebenaran tunggal harus diganti oleh pluralitas kebenaran berupa narasi-narasi kecil yang dibangun oleh diferensi-diferensi; rasio harus ditikam dan digantikan oleh daya arkais manusia yang disebut sebagai kehendak untuk berkuasa; terakhir, subjectum harus dibunuh sehingga yang muncul adalah kematian subjek.

Habermas vs Post-Modernisme

Setelah Nietzsche, filsafat Barat bergerak ke arah yang berlawanan dengan Kant. Horkheimer dan Adorno, misalnya, memandang bahwa manusia modern tengah mengalami momen “dialektika pencerahan.” Bagi dua orang ini, ilusi yang ada dalam pikiran Kant tampak tatkala penggunaan rasio manusia secara maksimal tidak mampu mencapai keadaan yang manusiawi, tapi manusia justeru diperbudak oleh produk rasionya sendiri. Dengan kata lain, justeru karena terobsesi kepada rasionalitas, manusia modern terpaksa menderita berbagai bentuk irrasionalitas. Intinya, Pencerahan adalah mitos. Genderang perang terhadap konsep Pencerahan Kantian juga datang dari kalangan post-modernis yang menganggap konsep rasio dan subjectum sebagai logosentrime atau metafisika kehadiran (Derrida), homogenisasi (Bataille), “lupa akan ada” (Heidegger) dan antroposentrisme (Foucault).

Di tengah arus kuat ketidakpercayaan pada konsep Pencerahan tersebut, Jurgen Habermas berdiri tegar untuk melanjutkan proyek Pencerahan. Bagi Habermas, berbagai gejala irrasionalitas yang menandai kehidupan masyarakat modern saat ini merupakan satu bentuk patologi modernitas. Patologi ini muncul dikarenakan proses rasionalisasi dan modernisasi terdistorsi secara sistematis oleh ekspansi negara dan kapitalisme ke dalam dunia kehidupan (lebenswelt). Akibatnya, terjadi dominasi rasio-intrumental terhadap rasio-komunikatif; rasio yang berpusat pada subjek mengkebiri rasio-intersubjektif. Menurut Habermas, kemunculan post-modernisme tidak lain daripada simtom-simtom patologi modernitas tersebut. Karenanya, bagi Habermas, cita-cita Pencerahan masih bisa dipancangkan dengan merekonstruksi modernitas melalui paradigma komunikatif.

Konsep Pencerahan dalam Pemikiran Islam Kontemporer

Dunia Islam tidak berkenalan dengan Pencerahan melalui Kant, tapi anak Pencerahan yang lain, yakni Napoleon Bonaparte (1798). Dihadapan rakyat Mesir Napoleon menyampaikan pidato tentang “kebebasan, persamaan dan keadilan.” Selain itu, Napoleon juga mendirikan Institut d’Egypte serta melengkapinya dengan banyak sarjana di berbagai bidang. Hal ini dilakukan dengan tujuan menyebarkan ilmu pengetahuan. Sungguhpun demikian, Napoleon tetaplah seorang panglima perang yang membawa banyak tentara. Keberadaanya di Mesir pun dalam kerangka ekspansi militer. Karenanya, bagi dunia Islam, kehadiran modernitas Barat tampak sebagai satu hal yang ambigu: pada satu sisi, modernitas Barat adalah teladan peradaban dan menjanjikan Pencerahan, namun di sisi yang lain juga musuh yang dibenci.

Bagi dunia Islam, kedatangan Napoleon di Mesir juga mewartakan hal lain: betapa Barat sedemikian majunya, sementara dunia Islam tertinggal. Berangkat dari kesadaran ini, dunia Muslim tergerak untuk bangkit dari ketertinggalannya dari Barat. Maka, suara Nahdlah (kebangkitan) bergema cukup kuat di dunia Islam. Namun demikian, kehendak untuk bangkit inipun lagi-lagi terbentur oleh keberadaan Barat yang ambigu: apakah kebangkitan harus dimulai dengan upaya membebaskan diri dari penjajahan bangsa-bangsa Eropa, atau justeru berkerja sama dengan mereka untuk mendidik umat Islam yang terbelakang agar bisa maju seperti Barat? Pada gilirannya, ambiguitas Barat inipun memunculnya sikap yang ambigu pula dari umat Islam. Al-Afghani, misalnya, lebih memilih titik-tolak kebangkitan dengan mengusir penjajah, sementara Abduh justeru bekerja sama dengan Inggris untuk melakukan pembaharuan umat Islam.

Setelah berhasil menggapai kemerdekaan, dunia Islam juga masih menghadapi kegamangan karena dominasi Barat masih tetap berlanjut dalam bidang lain. Karenanya, banyak di kalangan pemikir Islam yang sadar bahwa masalah utamanya terletak pada cara berpikir umat Islam sendiri dalam merespon masalah. Maka, pembaharuan harus dimulai dari dalam dengan melakukan kritik atas cara berpikir atau kritik nalar. Tujuannya tetap sama: menggapai kebangkitan dan Pencerahan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: