Iqbal Hasanuddin

Kesultanan Demak dan Islamisasi Pulau Jawa: Tentang Peran Tionghoa Peranakan

Posted by iqbalhasanuddin pada September 26, 2008

I. PENGANTAR

Pada 1928, Residen Poortman ditugasi oleh pemerintah kolonial untuk menyelediki apakah Raden Patah alias Panembahan Jimbun itu orang Cina. Untuk menunaikan tugas tersebut, Poortman menggeledah kelenteng Sam Po Kong di Semarang. Dari kelenteng tersebut, Poortman berhasil mengangkut naskah berbahasa Tionghoa berusia 400 tahun sebanyak tiga pedati. Naskah tersebut kemudian diterjemahkan sendiri oleh Poortman yang kemudian dijadikan bahan laporan bagi pemerintah kolonial dengan dibubuhi tanda GZG (Geheim Zeer Geheim) yang berarti sangat rahasia. Lantas, apakah Raden Patah yang berhasil menghancurkan Majapahit dan mendirikan kerajaan Islam Demak itu memang orang Cina?[1]

Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting artinya, tidak saja bagi para ahli sejarah yang ingin mengetahui secara pasti alasan-alasan di balik kehancuran kerajaan Hindu-Budha Majapahit dan menyingsingnya Islam di Jawa, tapi juga bagi bangsa Indonesia secara umum, terlebih bagi kalangan Tionghoa peranakan di Indonesia khususnya. Sejauh ini, terdapat stigma yang cukup berakar kuat di Indonesia bahwa orang-orang Tionghoa peranakan merupakan kelompok homo economicus yang hanya mempedulikan keuntungan material belaka tanpa mau tahu masalah-masalah lain, termasuk politik dan kebudayaan di Tanah Air. Jika Raden Patah memang orang Cina, maka Tionghoa peranakan di negeri ini pantas berbangga: ada orang Tionghoa peranakan yang berjasa besar dalam sejarah bangsa ini, baik dalam bidang ketatanegaraan maupun keagamaan.

Namun sangat disayangkan apa yang didapat oleh Poortman di kelenteng Sam Po Kong tersebut tetap menjadi rahasia berpuluh-puluh tahun lamanya. Pada 1964, rahasia itu sempat sedikit terkuak melalui buku Tuanku Rao yang ditulis oleh M.O. Parlindungan. Sungguhpun demikian, rahasia itu berhasil diketahui hanya oleh sedikit orang saja karena tidak lama setelah itu rezim Orde Baru meminta penerbit buku tersebut untuk menariknya dari peredaran dan tidak boleh menerbitkannya lagi. Patut disyukuri bahwa pada akhirnya, buku Tuanku Rao itu berhasil diterbitkan kembali oleh penerbit LKIS pada Juni 2007.[2] Bahkan, elaborasi atas naskah tersebut yang ditulis oleh murid Parlindungan, yakni Prof. Slamet Muljana, berujudul Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara yang pernah terbit pada 1969, namun ikut serta dilarang oleh Orde Baru, telah diterbitkan kembali oleh LKIS sejak 2005.

Dari bahan-bahan tersebut, kita mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkan. Tidak saja Raden Patah itu memang orang Cina, tapi hampir semua anggota walisongo yang berjasa dalam penyebaran Islam di pulau Jawa juga adalah peranakan Tionghoa-Jawa. Mereka adalah Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Sementara Tionghoa peranakan yang berperan penting dalam perombakan ketatanegaraan di Jawa adalah Pati Unus, Sultan Trenggana, dan Sultan Prawata yang berturut-turut menjadi Sultan Demak menggantikan Raden Patah.

Memang, sebagaimana dikatakan Asvi Warman Adam dalam pengantar buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara yang ditulis Prof. Slamet Muljana, tidak ada larangan untuk berpendapat bahwa walisongo berasal dari Cina atau keturunan Cina. Namun demikian, informasi yang kita dapatkan dari naskah kelenteng Sam Po Kong tersebut layak dikaji lebih lanjut dan disosialisasikan, karena tidak banyak orang yang mengetahuinya. Di kalangan masyarakat Jawa, walisongo lebih banyak dianggap sebagai ulama-ulama keturunan Arab, tanpa ada hubungan apapun dengan Cina.[3]

Tulisan ini bermaksud melakukan analisis sosiologis atas posisi penting orang-orang Tionghoa peranakan dalam pendirian Kesultanan Demak dan proses Islamisasi Jawa. Tulisan ini terdiri dari empat bagian utama: (1) Munculnya Kota Pesisir sebagai Kekuatan Ekonomi-Politik; (2) Kesultanan Demak; (3) Islamisasi Pulau Jawa; dan (4) Pergeseran Orientasi Masyarakat Jawa: Dari Pesisir ke Pedalaman. Tulisan ini diharapkan bisa lebih memperjelas proses Islamisasi Jawa sebagai konsekuansi dari era perniagaan global di Asia Tenggara sebagaimana dikatakan Anthony Reid, atau akibat dari persilangan budaya-budaya besar dunia di Jawa seperti dimaklumatkan Denys Lombard.[4]

II. MUNCULNYA KOTA PESISIR SEBAGAI KEKUATAN EKONOMI-POLITIK

Berdasarkan pendekatan sosiologis, satu fenomena sosial selalu memiliki hubungan logis dengan fenomena sosial lainnya, meskipun tidak selalu merupakan hubungan sebab-akibat. Bahkan, seringkali sangat sulit untuk menentukan satu fenomena sosial sebagai sebab bagi fenomena lainnya. Rangkaian fenomena sosial yang saling terkait di sini adalah ekonomi, politik dan sosial keagamaan. Apalagi kalau kita berbicara tentang motif-motif yang menggerakan suatu tindakan sosial. Apakah motif ekonomi kemudian melahirkan sebuah tindakan politik, atau motif politik yang memunculkan tindakan ekonomi. Begitu pula kita tidak mudah untuk membuat penjelasan kausal antara tindakan ekonomi dan politik dengan tindakan keagamaan.

Dalam konteks tulisan ini, kesulitan yang sama juga terjadi tatkala kita mencoba menjelaskan hubungan antara berbagai rangkaian tindakan sosial terkait dengan kemunculan ekonomi perniagaan di pesisir utara pulau Jawa, berdirinya Demak sebagai kekuatan politik dan proses Islamisasi Jawa. Akan lebih baik jika tidak menentukan mana yang lebih utama dalam berbagai rangkaian tindakan sosial tersebut, tapi lebih melihatnya sebagai hubungan elective affinity seperti yang telah digariskan dalam teori sosial Weberian. Sungguhpun demikian, analisis atas faktor-faktor ekonomi dan politik akan lebih didahulukan dalam tulisan ini untuk kemudian diikuti dengan analisis atas faktor keagamaan.

1. Kemunduran Majapahit

Kemunculan Demak sebagai kekuatan ekonomi, politik dan keagamaan berdiri di atas kerajaan Hindu Majapahit yang sudah tua dan keropos. Karenanya, penjelasan tentang kemunculan Demak tidak mungkin dilakukan tanpa menganalisis terlebih dahulu faktor-faktor internal yang menyebabkan kemerosotan kerajaan tua yang di masa lalu pernah begitu disegani di seantero Nusantara. Setelah itu, penjelasan tentang emigrasi orang-orang Tionghoa di pesisir utara pulau Jawa layak di kedepankan sebagai embrio bagi lahirnya kerajaan Demak untuk menggantikan posisi Majapahit sebagai penguasa Jawa.

Di manakah kita harus mencari sebab-sebab kemersotan Majapahit? Tentu saja, diperlukan analisis perbandingan atas kondisi-kondisi sosial yang melatarbelakangi Majapahit di masa jayanya dengan masa akhir menjelang kemerosotannya. Terkait dengan hal ini, penjelasan Denys Lombard sangat bermanfaat. Menurut Lombard, di masa jayanya, Majapahit ditandai oleh hubungan-hubungan sosial agraris yang bersifat terpusat, di mana raja berdiri di urutan piramida paling atas. Kekuasaan raja ini sangat kuat karena mendapat legitimasi religius dari para agamawan. Sebagai imbalannya, raja memberikan tanah garapan yang tidak dikenai pajak kerajaan. Selain itu, para agamawan juga berperan sebagai pejabat administrasi kerajaan.[5]

Adapun upaya untuk mencegah pembangkangan para penguasa lokal, raja di pusat kekuasaan menggunakan dua cara. Pertama, politik perkawinan. Para penguasa lokal tersebut dikawinkan dengan keluarga raja, atau sebaliknya raja mempersitri salah seorang keluarga dari penguasa lokal, sehingga antara penguasa pusat dan daerah terikat oleh hubungan keluarga. Kedua, para penguasa lokal diwajibkan untuk menetap di ibu kota kerajaan selama tiga bulan dalam setahun. Jika penguasa lokal tersebut kembali ke tempatnya masing-masing, maka ia harus meninggalkan salah seorang keluarga pentingnya di istana raja yang bisa dikatakan sebagai sandera.[6]

Kondisi-kondisi sosial seperti ini kemudian sudah tidak tampak lagi menjelang keruntuhan Majapahit. Kaum agamawan sudah menjauh dari raja dan melakukan pembukaan tanah sendiri. Juga muncul kalangan “swasta“ dengan peranan sangat besar yang terdiri dari kaum pedagang, para pengerajin dan petani dengan tanah milik pribadi. Terakhir, karena posisi sudah lemah secara ekonomi dan sosial serta tidak lagi mendapatkan legitimasi religius, maka para penguasa lokal banyak yang berani untuk memisahkan diri dari kekuasaan pusat.[7]

Dalam kondisi seperti inilah, perebutan kekuasaan di antara keluarga kerajaan terjadi. Setelah Hayam Wuruk mangkat menyusul mangkatnya Amangkubumi Gadjah Mada, Kusumawardhani sebagai anak permaisuri diangkat sebagai penguasa. Selanjutnya, Kusumawardhani menyerahkan tahta kepada suaminya, yakni Kusumawardhana. Sebagai anak laki-laki Hayam Wuruk dari selir, Bhre Wirabumi tidak senang dengan pengangkatan Kusumawardhana tersebut, karena Bhre Wirabumi merasa lebih berhak atas tahta Majapahit. Atas alasan tersebut, terjadilah perang yang berakibat pada mersosotnya kekuatan Majapahit, baik karena banyak orang yang mati terbunuh maupun karena kegiatan produksi pertanian yang terhenti sebagai konsekuensi dari kepergian rakyat untuk ikut serta dalam peperangan sehingga persediaan pangan menjadi jauh lebih berkurang dari sebelumnya.[8]

Demikian faktor-faktor internal kemerosotan Majapahit yang mempermudah Demak untuk tampil menggantikan posisi Majapahit sebagai kekuatan politik paling berkuasa di Jawa. Sekarang kita beralih pada faktor-faktor lain yang ikut serta mempersiapkan kelahiran kerajaan Demak, yakni semakin majunya perniagaan laut di Nusantara, emigrasi orang-orang Tionghoa ke Jawa dan terbentuknya kota-kota pelabuhan di pesisir utara pulau Jawa.

2. Perniagaan Laut dan Terbentuknya Kota-kota Pesisir

Pada masa Raja Hayam Wuruk dan Amangkubumi Gadjah Mada, Majapahit dikenal di kepulauann Nusantara karena armada lautnya yang kuat, selain kemampuan dasarnya di bidang pertanian. Mengingat posisi pusat kerajaan yang terletak agak di pedalaman pulau Jawa, maka kita pantas bertanya-tanya dari mana Majapahit mendapatkan kemampuan maritimnya? Memang, pada masa Singasari, Kartanegara telah melakukan ekspedisi laut yang berarti Jawa sudah memiliki kemampuan navigasi yang cukup baik. Tapi, jarak waktu dari masa Kartanegara hingga Hayam Wuruk terrentang cukup jauh. Terlebih, pada masa Kartanegara, ekspedisi laut adalah kegiatan yang bersifat insidentil demi tujuan-tujuan politik, bukan semata-mata ekonomi. Sementara pada masa Majapahit periode 1331-1351, ekspedisi laut tidak saja bermotif politik, tapi juga dilakukan guna mencari keuntungan material. Karenanya, Majapahit membutuhkan kelompok profesional yang bergerak di bidang navigasi. Siapakah sebenarnya para profesional ini?

Menurut Anthony Reid, jauh sebelum ekspedisi laut Majapahit di bawah arahan Gadjah Mada dilakukan,para pedagang Cina telah terlebih dahulu melakukan aktivitas perniagaan di lautan Nusantara, termasuk upaya untuk membeli rempah-rempah dari Maluku. Sejak politik maritim dijalankan oleh Majapahit, maka tidak ada lagi saudagar-saudagar Cina secara perorangan yang melakukan perniagaan hingga ke Maluku. Peran tersebut digantikan oleh Majapahit. Namun demikian, bukan berarti peran para pelaut Cina tersebut terhenti, melainkan manjadi bagian penting dalam proyek perniagaan laut Gadjah Mada di Nusantara. Bahkan, bisa dikatakan, hanya dengan bantuan orang-orang Cina dan Muslim (kemungkinan keduanya identik, yakni orang-orang Cina beragama Islam), Gadjah Mada bisa menjalankan ekspedisi laut tersebut. Orang-orang Cina Muslim ini banyak menetap di pesisir utara pulau Jawa, terutama Tuban dan Gresik.[9]

Dengan demikian, tatkala Majapahit masih berada dalam masa jaya-jayanya, orang-orang Cina-Muslim telah banyak menetap di sebelah utara pulau Jawa serta memainkan peran penting dalam politik maritim Gadjah Mada. Selain kemampuan teksnis yang dimiliki oleh orang-orang Cina-Muslim di pesisir utara Jawa dalam bidang navigasi pelayaran, posisi mereka kiranya cukup dihormati oleh para pembesar Majapahit mengingat hubungan diplomatik yang terjaga secara baik antara Majapahit dengan Kekaisaran Tiongkok ketika itu. Tentu sangat logis jika dalam perkembangan berikutnya posisi orang-orang Cina-Muslim ini semakin mendapatkan tempat di kalangan orang-orang Jawa pada umumnya. Bahkan, di kemudian hari, Kertabhumi, seorang raja Majapahit, berkenan memperistri seorang putri Cina-Muslim yang menandakan adanya kesan baik terhadap orang-orang Cina di mata para petinggi Majapahit.

Titik penting dalam perkembangan hubungan Cina-Jawa yang perlu dikemukakan di sini adalah naik tahtanya Dinasti Ming di atas kursi Kekaisaran Tiongkok pada 1368 menggantikan Dinasti Mongol. Pada masa-masa sebelumnya, orang-orang Cina, khususnya Cina bagian Selatan, bebas bergerak untuk melakukan perniagaan di wilayah Asia Tenggara, termasuk ke Jawa. Namun, pada Dinasti Ming mengambil prakarsa untuk melarang berbagai perniagaan orang-orang Cina secara perseorangan, karena semua kegiatan dagang dirancang sedemikian rupa agar terjadi dalam bentuk hubungan diplomatik dan pengiriman upeti secara berkala dari kerajaan-kerajaan Asia Tenggara ke istana kekaisaran. Siapa saja yang ketahuan tidak mengindahkan ketentuan ini pasti akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Dengan kebijakan baru ini, banyak orang-orang Cina yang kadung terlibat dalam perdagangan pribadi dan menjadi makmur karenanya tidak mau kembali ke Cina, mereka takut menerima hukuman dari kaisar serta lebih memilih menetap di tempat semula ia berdagang.[10]

Untuk memuluskan upaya perniagaan laut tersebut, Kekaisaran Cina melakukan ekspedisi maritim secara besar-besaran yang terdiri dari 62 kapal jung besar dengan 27.800 orang penumpang ke berbagai wilayah, termasuk Jawa, di bawah komando laksamana Zheng He atau Cheng Ho yang beragama Islam.[11] Dalam armada laut Cina tersebut, ikut pula seorang Muslim bernama Ma Huan yang berperan sebagai juru bahasa dan juru tulis bagi laksamana Zheng He. Berdasarkan catatan-catatan Ma Huan inilah, kita mendapatkan kesaksian tentang posisi penting orang-orang Cina dalam bidang perniagaan di pesisir utara pulau Jawa. Ma Huan melaporkan (dikutip dalam Anthony Reid):

Tuban…adalah nama sebuah distrik; di sini ada lebih dari seribu keluarga dengan dua orang pemuka yang memerintah mereka; banyak di antara mereka adalah orang-orang dari [propinsi] Guangdong dan [Prefektur] Changchou di Cina yang beremigrasi untuk tinggal di tempat ini…

Dari Tuban, setelah berlayar ke arah timur sekitar setengah hari, anda sampai kampung Baru [Szu-ts’un] yang nama asingnya [Jawa] adalah Gresik. Semula kawasan ini adalah tanah pasir; karena orang dari Cina datang ke tempat ini dan membangunnya sendiri, maka mereka menamakannya Kampung Baru. Sejak saat itu sampai sekarang penguasa kampung ini adalah seroang yang berasal dari Guangdong. Orang-orang asing dari segala penjuru datang ke mari dalam jumlah sangat besar untuk berdagang…orang-orang ini sangat makmur…

[Tujuh mil agak ke timur] kapal tiba di Su-lu-ma-i yang nama asingnya [Jawa] adalah Surabaya…. Di sini ada seorang penguasa kampung yang memerintah lebih dari seribu keluarga asing [Jawa] dan di antara mereka ada juga orang-orang dari Cina (Ma Huan, 1433: 89-90).[12]

Demikian, orang-orang Cina-Muslim di pesisir utara pulau Jawa hingga abad ke-15 telah berhasil memainkan peranan yang cukup dominan dalam kegiatan perdagangan dan pembentukan kota-kota pelabuhan. Dari perniagaan ini, mereka mendapatkan keuantungan material yang berlimpah serta menjadi makmur. Secara sosiologis, keberadaan mereka ini telah menciptakan kelas sosial baru yang tidak berada dalam relasi produksi agraris di pedalaman pulau Jawa. Seiring dengan berjalannya waktu serta semakin melemahnya kemampuan Majapahit untuk melakukan pengawasan daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan, maka kelas para pedagang kaya ini menjadi semakin otonom, serta kota-kota pelabuhan di wilayah pesisir juga semakin lebih bebas dari cengkeraman kerajaan Majapahit yang telah merosot tersebut.

3. Masyarakat Cina-Muslim di Pulau Jawa

Dalam telaah Prof. Selamet Muljana berdasarkan naskah kelenteng Sam Po Kong, pembentukan komunitas Cina-Muslim di Jawa tidak semata-mata memiliki arti ekonomi, tapi juga politis. Kecenderungan politis yang muncul dalam komunitas-komunitas Cina-Muslim di Jawa ini terutama diakibatkan oleh kenginan Laksamana Cheng Ho sendiri (Sam Po Bo) untuk membuat dominasi ekonomi dan politik sekaligus atas nama Kekaisaran Tiongkok di perairan Nusantara. Misalnya saja, Palembang, yang pada 1397 jatuh di bawah kekuasaan Majapahit, direbut oleh armada Tiongkok dari Dinasti Ming pada 1407. Palembang diduduki oleh orang-orang Tiongkok Islam asal Yunan. Karenanya, terbentuklah masyarakat Tionghoa Islam Palembang. Hal yang sama juga terjadi di Sambas. Secara berangsur-angsur, wilayah-wilayah pesisir di Asia Tenggara dimasukkan dalam kekuasaan Laksamana Cheng Ho.[13]

Untuk memimpin masyarakat Tionghoa Islam di seluruh wilayah Asia Tenggara ini, pada 1419 Laksamana Cheng Ho mengangkat Bong Ta Keng yang berkedudukan di Campa untuk mengawasi perkembangan masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara. Dengan wewenang ini, Bong Ta Keng memindahkan Gang Eng Cu dari Manila ke Tuban pada 1423 guna mempercepat pertumbuhan masyarakat Tionghoa Islam di Jawa. Sementara itu, Swan Liong, yang pada awalnya bekerja sebagai kepala pabrik mesiu di Semarang, dipindahtugaskan menjadi kapten Cina di Palembang. Pada 1445, Bong Swi Hoo, yang kemudian hari dikenal sebagai Sunan Ampel atau Raden Rahmat, didatangkan dari Campa untuk membantu tugas Swan Liong di Palembang. Pada 1447, Bong Swi Hoo kemudian diangkat sebagai kapten Cina di Bangil, di muara kali Porong.[14] Pada tahun itu juga, Bong Swi Hoo menikai Ni Gede Manila, anak Gang Eng Cu di Tuban. Dari pernikahan ini, Bong Swi Hoo dan Ni Gede Manila memiliki dua orang anak yang kelak sangat dalam penyebaran Islam di Jawa. Dua orang anak ini kenal dikenal dengan sebagai Sunan Drajat dan Sunan Bonang.[15]

Perlu dicatat pula di sini peristiwa pernikahan raja-raja Majahapit dengan putri-putri Cina-Muslim yang pada gilirannya mempermudah berkembangnya masyarakat Cina-Muslim di Jawa. Hyang Wisesa atau Kusumawardhana telah menikahi seorang putri Cina-Muslim sebagai selir. Dari pernikahan ini, lahirlah Arya Damar atau Jaka Dilah alias Swan Liong yang kemudian bertugas di Palembang. Sementara itu, Raja Majapahit lainnya, Kertabhumi, menikahi anak dari Ban Hong sebagai selir. Melalui pernikahan ini, Ban Hong meminta sebidang tanah kepada Kertabhumi untuk kepentingan masyarakat Cina-Muslim di Jawa. Kemudian, Kertabhumi memberikan sebidang tanah di daerah Kedu. Dari pernikahan Kertabhumi dengan anak Ban Hong ini, lahirlah Jin Bun yang dikemudian hari dikenal sebagai Raden Patah.[16]

Ketika anak Ban Hong ini sedang hamil, permaisuri menginginkan agar Kertabhumi menceraikan selirnya itu. Maka, Kertabhumi menyerahkan anak Ban Hong ini untuk diperistri oleh Arya Damar atau Swan Liong di Palembang. Karenanya, Jin Bun tidak lahir di istana Majapahit, melainkan di Palembang. Dari pernikahan Swan Liong dengan anak Ban Hong ini, lahir pula Kusen atau Husen yang dikemudian hari menjadi seorang adipati di Terung. Jin Bun dan Kusen dididik dan dibesarkan oleh Swan Liong di Palembang. Setelah menginjak dewasa, Jin Bun dan Kusen berangkat ke Jawa melalui Semarang pada 1474. Selanjutnya, mereka bertemu dengan Bong Swi Hoo dan berguru kepadanya. Dari sana, Kusen diminta pergi ke istana Majapahit oleh Bong Swi Hoo untuk mengabdi yang kemudian diterima 1475. Setelah beberapa waktu, Kusen diangkat menjadi Adipati Terung. Sementara itu, Jin Bun tidak mau mengabdi kepada Majapahit yang beragama Hindu dan lebih memilih berlajar agama kepada Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Selanjutnya, Sunan Ampel meminta Jin Bun untuk membuka hutan Bintara di daerah Demak untuk menciptakan dan membina masyarakat Muslim.[17]

Keuletan Jin Bun untuk membuka hutan Bintara dan membina agama Islam di sana akhirnya tercium juga oleh Kertabhumi. Kemudian, Kertabhumi menyuruh orang-orangnya untuk mendatangkan Jin Bun ke istana. Sementara itu, Kusen memberitahukan kepada Raja Kertabhumi bahwa Jin Bun adalah anak sang prabu sendiri. Mendengar informasi ini, Kertabhumi merasa sangat gembira karena setelah sekian lama akhirnya akan bertemu dengan anaknya yang tak sempat dilihatnya seumur hidup. Karenanya, ketika Jin Bun datang ke istana, Kertabhumi menyambutnya dengan hangat dan Jin Bun kemudian dikukuhkan sebagai adipati di Demak dengan diberi gelar pengeran yang sangat bergengsi di Majapahit.[18]

Pada 1447, Jin Bun alias Raden Patah membawa lebih dari seribu orang untuk menyerang Semarang. Serbuah ini berhasil yang membuat Semarang kemudian berada di bawah kekuasaan Demak. Sungguhpun demikian, dalam penyerbuan ini, Jin Bun bersikap sangat bijaksana karena tidak mau melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Cina yang tidak beragama Islam ataupun memaksa mereka untuk masuk Islam. Jin Bun sangat sadar bahwa masyarakat Semarang sangat dibutuhkannya untuk membangun kota tersebut sebagai pelabuhan laut sebagai tempat untuk melalukan perniagaan dengan dunia luar.

Jin Bun sendiri tampaknya sudah membulatkan tekad untuk membangun kerajaan Islam di Demak, sekaligus menghancurkan kerajaan Hindu Majapahit. Kenapa Jin Bun memiliki tekad untuk membuat kerajaan sendiri serta tidak melanjutkan saja karirnya sebagai abdi Majapahit yang dikemudian hari bisa saja ia berhasil menjadi Raja Majapahit? Bukankah Jin Bun adalah anak Kertabhumi yang karenanya memiliki persyaratan untuk menjadi raja? Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi karena beberapa hal. Pertama, agama Islam yang diyakininya telah memberikan dasar bagi Jin Bun untuk menolak menjadi abdi atau Raja Majapahit yang mensponsori agama Hindu secara resmi. Kedua, Jin Bun adalah anak Kertabhumi dari seorang selir Cina-Muslim yang “dibuang“ ke Palembang ketika Jin Bun masih dikandung. Karenanya, Jin Bun sama sekali tidak merasa dekat dengan Kertabhumi maupun kelangan istana Majapahit. Walaupun Jin Bun memiliki darah Jawa dari ayahnya, tapi ia dibesarkan oleh keluarga dan masyarakat Cina-Muslim di Pelambang di bawah asuhan Swan Liong. Karenanya, afiliasi kultural Jin Bun lebih dekat kepada kelompok Cina-Muslim ketimbang orang-orang Jawa atau Majapahit yang Hindu.

Setelah Demak cukup kuat dengan komunitas Muslimnya serta kemakmuran ekonomi dari perniagaan laut di kota pelabuhan Semarang, Jin Bun sebenarnya ingin sekali menyerang Majapahit. Hanya saja, Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel mengingatkan Jin Bun untuk tidak melakukan hal itu, karena menurutnya, Majapahit sama sekali tidak menggangu penyebaran agama Islam maupun masyarakat Cina di pesisir utara pulau Jawa. Jin Bun pun menuruti permintaan guru yang sangat dihormatinya itu. Namun, tatkala Sunan Ampel wafat, bukannya melayat ke Ampel, Jin Bun malahan membawa pasukan tentara Demak untuk menyerbu istana Majapahit pada 1478. Dengan penyerbuan ini, Majapahit yang sudah sangat merosot kekuatannya pada akhirnya takluk kepada Demak. Kertabhumi diboyong ke Demak dan diperlakukan secara baik oleh Jin Bun, karena bagaimanapun Kertabhumi adalah ayahnya sendiri.[19]

Berakhirnya kekuasaan Majapahit dan menyingsingnya Demak merupakan titik sejarah yang menandai sebuah era baru di Jawa. Tidak lama setelah berdirinya Demak sebagai kuatan ekonomi dan politik, pulau Jawa mengalami perubahan yang sangat fundamental dalam berbagai segi kehidupan. Islam kemudian berkembang sebagai agama yang paling banyak dipeluk oleh penduduk pulau ini, sementara agama Hindu mulai tersisih. Dengan menguatnya Islam, banyak di antara pemeluk agama Hindu yang menyingkir ke daerah pegunungan, atau ke wilayah timur Jawa seperti Blambangan, serta tidak sedikit pula yang bermigrasi ke pulau Bali di mana agama Hindu tetap merupakan agama dominan di pulau ini hingga sekarang.

Namun demikian, sebelum berbicara tentang proses Islamilasi pulau Jawa ini, kita sebagaiknya meninjau terlebih dahulu berbagai dinamika sosial dalam bidang ekonomi dan politik di Jawa di bawah arahan Kesultanan Demak. Pada masa-masa ini, Jawa mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, khususnya dalam bidang perniagaan maritim, yang membawa kemakmuran bagi para penduduknya.

III. KESULTANAN DEMAK

Setelah sebelumnya melakukan ekspedisi laut secara besar-besaran, Dinasti Ming generasi keempat di Tiongkok mulai mengambil kebijakan yang berbalik arah. Tiongkok lebih memfokuskan diri pada upaya mengurusi masalah-masalah ekonomi dan politik di dalam negerinya sendiri. Hal ini membuat Jin Bun mulai berpikir untuk membangun kebesaran Demak sendiri tanpa harus ada sangkut-pautnya dengan Kekaisaran Tiongkok. Karenanya, Demak kemudian lebih memilih untuk mengembangkan perekonomian melalui perniagaan maritim, mengembangkan kekuatan politik melalui perluasan wilayah dan ekspansi militer, serta menyebarkan Islam di Jawa.

Di atas reruntuhan kerajaan Majapahit, Jin Bun mendirikan Demak sebagai negara Islam pertama di Jawa, negara Islam ketiga di Nusantara dan yang keempat di Asia Tenggara. Setelah dikukuhkan sebagai raja Demak, Jin Bun mengambil nama Patah, sebuah kata yang berasal dari al-fath yang berarti kemenangan. Sebagai raja pertama Demak, Raden Patah menjadikan kota Demak sebagai ibu kota atau pusat administrasi kerajaan, serta menjadikan Semarang sebagai pelabuhan utama atau pusat kegiatan ekonomi. Jin Bun alias Raden Patah berkuasa di Demak pada 1478-1518.

1. Kesultanan Demak sebagai Negara Maritim

Demak adalah negara maritim. Posisi Demak menghadap ke laut Jawa, sementara di belakangnya terdapat lahan pertanian yang luas dan subut, serta dipenuhi oleh hutan jati yang lebat. Sebagai negara maritim, Demak memiliki berbagai prasyarat geografis yang sangat menguntungkan. Laut berperan sebagai tempat kegiatan ekonomi utama melalui perniagaan. Sementara tanah pertanian yang subur dan luas menyediakan persediaan pangan yang cukup untuk menopang kegiatan perniagaan laut. Di samping itu, hutan jati yang lebat memberikan bahan baku utama bagi pembuatan kapal-kapal layar yang diperlukan bagi perniagaan laut.[20]

Selain itu, Demak juga memiliki basis sosial yang sangat memadai untuk menjadi negara maritim. Sebagaimana telah disebutkan, sudah sejak lama pesisir utara pulau Jawa dihuni oleh orang-orang Cina yang berprofesi sebagai pedagang. Orang-orang Cina ini memiliki etos dan keahlian dagang yang sangat tinggi sehingga memberikan sumber daya manusia yang cukup bagi Demak untuk menjadi negara maritim. Melalui merekalah, kerajaan Demak tidak saja menjadi bandar pelabuhan yang banyak disinggahi oleh para saudagar dari berbagai daerah, tapi juga aktif untuk melakukan perniagaan sampai ke Maluku dan Malaka.[21]

Di kota pelabuhan Semarang, Raden Patah mengangkat adik tirinya, Kusen untuk menjadi penguasa utama sekaligus membangun kota tersebut agar menjadi bandar pelabuhan yang strategis. Untuk menjalankan tugasnya ini, Kusen meminta bantuan Gan Si Cang untuk menjadi kapten Cina di Semarang pada 1478. Kusen bersama Gan Si Cang memanfaatkan orang-orang Cina Semarang, yang tidak saja kuat dalam perdagangan, tapi juga memiliki keahlian dalam bidang pertukangan, untuk memproduksi banyak kapal. Kusen dan Gan Si Cang juga membuka kembali upaya pengergajian kayu serta galangan kapal yang sudah lama terbengkalai sejak masa Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang.[22]

Menurut Prof. Slamet Mujana, Gan Si Cang sendiri adalah anak dari Gang Eng Cu alias Arya Teja dari Tuban. Karenanya, Gan Si Cang ini adalah saudara dari Ni Gede Manila, istri Bong Swi Hoo atau Raden Rahmat alias Sunan Ampel. Di masa mudanya, Gan Si Cang banyak melakukan kejahatan, sampai akhirnya bertemu dengan Sunan Bonang yang tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Melalui Sunan Bonang inilah, Gan Si Cang yang juga dikenal dengan nama Raden Said bertobat dan mendalami agama Islam. Di kemudian hari, Gan Si Cang atau Raden Said ini banyak dikenal sebagai Sunan Kalijaga.[23]

Namun demikian, identifikasi Gan Si Cang sebagai Sunan Kalijaga oleh Prof. Slamet Muljana tampaknya kurang konsisten dan layak dipertanyakan kebenarannya. Selain menyebutkan bahwa Gan Si Cang ini adalah Sunan Kalijaga, yang tentu saja seorang Muslim, Prof. Slamet Muljana di tempat lain juga mengatakan bahwa Gan Si Cang adalah seorang Cina beragama Tao. Bahkan, Prof. Slamet Muljana dengan tegas mengatakan bahwa Kusen adalah pemimpin umat Islam di Semarang, sementara Gan Si Cang merupakan pemimpin orang-orang Cina beragama Tao.[24] Oleh karena itu, identifikasi sosok Gan Si Cang dengan Sunan Kalijaga masih sangat meragukan, serta membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kebenarannya.

Terlepas dari persoalan tersebut, kerja sama yang baik dari berbagai elemen masyarakat Cina Semarang di bawah arahan Kusen dan Gan Si Cang telah menjadikan Kesultanan Demak sebagai negeri yang kaya-.raya. Para pedagang Demak membeli rempah-rempah dari Maluku untuk kemudian dijual di pasar Malaka. Bahkan, banyak pula para pedagang dari Tiongkok yang membeli rempah-rempah secara langsung di bandar pelabuhan Semarang.[25]

Lantas, digunakan untuk apakah keuntungan material yang didapat dari perniagaan maritim tersebut? Tentu saja, sebagai negara yang baru berdiri, Demak memanfaatkan kekayaannya untuk memperkuat kekuasaan politiknya melalui pembangunan angkatan perang dan teknologi kemiliteran. Selain memproduksi kapal layar untuk perniagaan laut, Demak juga banyak membuat kapal-kapal perang yang dilengkapi dengan meriam berukuran besar. Ini bukan persoalan yang sulit buat Demak. Bukankah Kusen dan Jin Bun sendiri telah belajar banyak dari Swan Liong ihwal pembuatan senjata? Bukankah sejak zaman Majapahit, Semarang adalah pabrik pembuatan mesiu di bawah arahan Swan Liong? Pada gilirannya, kekayaan, kekuasaan, dan kekuatan armada perang sangat berperan besar dalam proses perluasaan kekuasaan Demak di Jawa serta penyebaran agama Islam.

2. Ekspedisi Militer dan Perluasan Wilayah

Pada masa Raden Patah Berkuasa pada 1478-1518, Demak memang lebih banyak bergerak dalam kegiatan perniagaan. Kalaupun terjadi ekspedisi militer, itu dilakukan untuk memuluskan tujuan-tujuan perniagaan. Setelah berdiri sebagai berdiri sebagai negara maritim yang cukup kuat dengan Semarang sebagai kota pelabuhannya, maka satu hambatan yang muncul bagi Demak kemudian adalah kehadiran Portugis di perairan Nusantara. Bagi Demak, Portugis benar-benar menjadi hambatan dan bahkan ancaman, bukan saja karena alasan-alasan ekonomi, tapi juga politik dan keagamaan. Sebab, tujuan Portugis sendiri dalam melakukan pelayaran tidak semata-mata bermotifkan ekonomi, tapi juga berusaha mendapatkan dominasi politik serta menyebarkan agama Kristen.

Pada 1510, Portugis telah membuat pangkalan yang cukup kuat di Gowa, Sulawesi Selatan. Selanjutnya, pada 1511, Portugis berhasil merebut merebut Malaka serta mendirikan benteng A-Famosa yang strategis di atas sebuah bukit, di sebelah kiri sungai Malaka, menghadap ke laut luas. Dangan memiliki pangkalan yang kuat di Sulawesi Selatan dan menguasai Malaka, Portugis dengan leluasa pergi ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hal ini tentu saja sangat merugikan Demak.[26]

Karena alasan-alasan inilah, Adipati Unus alias Yunus alias Yat Sun, anak Raden Patah, berniat untuk menyerbu Portugis di Malaka. Pada 1512, Adipati Unus memimpin armada Demak untuk menyerang Malaka. Serangan Demak ini mengalami kegagalan total. Armada Demak dihujani peluru oleh pasukan Portugis dari bentang A-Famosa yang terletak di atas bukit. Akhirnya, Adipati Unus bersama armadanya kembali ke Semarang sambil merencanakan serangan berikutnya ke Malaka. Setelah kegagalan serangan pertama tersebut, Adipati Unus betul-betul ingin lebih mempersiapkan pasukannya sehingga tidak mengulangi kegagalan tidak terulangi. Dengan bantuan Kusen dan para tukang di Semarang Adipati Unus berupaya membuat kapal-kapal perang yang lebih baik, terutama kapal-kapal yang dapat bergerak lebih cepat dari kapal-kapal Demak sebelumnya.[27]

Di tengah-tengah persiapannya itu, terjadi sebuah peristiwa yang membuat Demak benar-benar murka. Orang-orang Portugis mengadakan hubungan dengan Girindrawardhana, bupati Majapahit. Setelah mengetahui hal ini, Raden Patah mengutus tentara Demak yang dipimpin oleh Toh A Bo untuk menyerang Majapahit. Bala tentara Demak ini kemudian menjarah-rayah Majapahit. Sungguhpun demikian, Raden Patah tidak mau mengambil tindakan kasar kepada Girindrawardhana atas tindakan tersebut, karena ia masih mempertimbangkan bahwa istri Girindrawardhana adalah adik tirinya sendiri. Setelah itu, Kabupaten Majapahit diawasi secara ketat.[28]

Pada 1518, Jin Bun alias Raden Patah meninggal dunia. Sebagai anak dari Raden Patah, maka Adipati Unus kemudian dikukuhkan menjadi Raja di Demak. Sebagaimana pada masa ayahnya, Unus menghadapi keadaan di mana Portugis semakin mendominasi perniagaan di perairan Nusantara. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Portugis melakukan monopoli atas perdagangan rempah-rempah di Maluku. Karenanya, Unus mempersiapkan kembali armadanya untuk menyerang Malaka. Akhirnya, pada 1521, tentara Demak menyerang Malaka untuk kali kedua, tapi tetap tidak membawa hasil. Bahkan setelah penyerangan ini, Unus pun meninggal dunia.[29]

Setelah terjadi beberapa kericuhan ihwal pengganti Unus, akhirnya Trenggana alias Tung Ka Lo naik tahta. Lagi-lagi, Demak melakukan upaya-upaya untuk menghancurkan dominasi Portugis di Nusantara. Tatkala terdengar kabar bahwa Portugis telah membuat perjanjian dagang dengan raja Pasundan di Jawa Barat serta Portugis diizinkan mendirikan sebuah benteng di pelabuhan Sunda Kelapa pada 1522, Demak segera bersiap diri untuk mencegah hal itu terjadi. Maklum, letak Sunda Kelapa berada di pulau Jawa dan tidak jauh dari Demak, sehingga dianggap sangat membahayakan. Untunglah bahwa realisasi dari perjanjian tersebut agak tertunda karena Portugis harus menghadapi dahulu perlawanan dari orang-orang Melayu yang disingkirkannya dari Malaka hingga 1526. pada tahun inilah, Portugis baru bergerak menuju Sunda Kelapa.[30]

Untuk mengantisipasi kedatangan Portugis ini, Trenggana mengutus anaknya yang bernama Toh A Bo untuk membawa tentara Demak bergerak ke Jawa Barat. Sebelum Portugis sampai, armada Demak terlebih dahulu menyerang kerajaan Pasundan dan berhasil mengalahkannya. Armada Demak bersiap-siap untuk menghalau Portugis di Sunda Kelapa. Tatkala Portugis sampai, terjadilah peperangan yang cukup dahsyat. Akhirnya, Portugis berhasil dikalahkan pada tahun itu juga (1526).[31]

Di tengah-tengah konflik bersenjata antara Demak dengan Portugis, Bupati Girindrawardhana dari Majapahit untuk membuat hubungan dengan Portugis. Rupa-rupanya, bupati bawahan Demak tersebut senantiasa tidak bisa menerima kenyataan bahwa Majapahit, yang dulunya pernah begitu berjaya, harus berada di bawah kekuasaan Demak. Tentu saja, ini membuat Demak marah besar. Toh A Bo, yang berhasil secara gemilang mengalahkan Pasundan dan Portugis, kembali diutus oleh Trenggana untuk menghukum Majapahit. Kali ini, Demak tidak mau lagi memaafkan tindakan Majapahit tersebut. Toh A Bo dan armada Demak yang dipimpinnya kemudian berhasil menghancurleburkan Majapahit.[32]

Selanjutnya, untuk mencegah kedatangan kembali Portugis di Jawa, Toh A Bo ditugaskan untuk mendirikan kerajaan Banten sebagai bawahan Demak. Toh A Bo sendiri akhirnya menjadi sultan pertama di Banten kira-kira pada 1528. Setelah beberapa tahun memimpin Banten, ia menyerahkan tahta Banten kepada anaknya yang bernama Hasanuddin. Pada 1546, Toh A Bo masih diminta untuk memimpin tentara Demak dalam ekspedisi ke Panarukan. Pada 1552, setelah Demak runtuh, kembali ke Cirebon dengan niat menjadi guru agama Islam. Namun demikian, Toh A Bo diminta oleh masyarakat Cina-Muslim Cirebon untuk mendirikan sebuah kesultanan. Akhirnya, Toh A Bo bersedia untuk mendirikan Kesultanan Cirebon dan menjadi sultannya yang pertama. Pada 1570, Toh A Bo wafat dan dikuburkan di Gunung Jati. Demikian, Toh A Bo adalah anak Sultan Trenggana yang menjadi panglima perang Kesultanan Demak, pendiri Kesultanan Banten dan Cirebon. Toh A Bo tidak lain adalah Sunan Gunung Jati yang terkenal itu, salah seorang dari walisongo.[33]

Di samping melakukan ekspedisi militer untuk mengimbangi dominasi Portugis, Demak juga melakukan beberapa penaklukan di beberapa daerah di Jawa. Secara berturut-turut, daerah-daerah berikut ini tunduk kepada Demak: Tuban (1527), Wirasari (1528), Gegelang atau Madiun (1529), Mendakungan yang terletak dekat Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), Lamongan, Blitar dan Wirasaba (1541 dan 1542), serta Gunung Penanggungan (1543). Semuanya menuai keberhasilan, kecuali ekspedisi ke Blambangan. Selain gagal, ekspedisi ini mengakibatkan terbunuhnya Sultan Trenggana (1546).[34]

Sebelum ekspedisi Blambangan yang gagal tersebut, Trenggana sempat memerintahkan anaknya, Muk Ming alias Prawata, untuk membantu Kusen dalam pembuatan kapal perang di galangan Semarang guna menyerang Portuguis di Maluku. Tatkala sudah cukup siap, pada 1546 armada Demak berjumlah 1000 kapal bergerak ke arah Timur untuk mengusir Portugis dari kepulauan rempah-rempah. Namun, lagi-lagi, armada Demak menuai kegagalan. Ini adalah akhir dari ekspedisi-ekspedisi militer ke luar pulau Jawa.[35]

3. Runtuhnya Kesultanan Demak

Kematian Trenggana menandai akhir dari kejayaan kesultanan Demak. Kala itu, keluarga kesultanan Demak saling berrebut untuk menggantikan posisi Trenggana sebagai sultan Demak. Perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kesusultanan Demak sebenarnya sudah terjadi hanya berselang lima tahun setelah wafatnya Raden Patah, tepatnya setelah kematian Pati Unus. Raden Patah memang memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan dari tiga ibu. Mereka adalah Unus dan Trenggana yang lahir dari cucu perempuan Sunan Ampel, Kanduruwan yang lahir dari putri Randu Sanga, serta Raden Kinkin alias Pangeran Seda Lepen yang lahir dari putri adipati Jipang. Sementara anak perempuan Raden Patah adalah Ratu Mas Nyawa yang sama sekali tidak terlibat dalam perebutan kekuasaan.[36]

Pengangkatan Pati Unus sebagai pengganti Raden Patah tidak banyak dipersolkan, karena ia memang putra mahkota sulung. Masalah muncul tatkala Pati Unus tewas pada 1521 tanpa meninggalkan keturunan. Raden Kinkin adalah anak tertua kedua setelah Pati Unus, namun lahir dari istri ketiga. Sementara itu, Trenggana adalah anak yang lebih muda dari Raden Kinkin, tapi ia lahir dari istri pertama Raden Patah. Maka, terjadilah perebutan kekuasaan antara Trenggana dengan Raden Kinkin. Dalam konteks ini, Prawata (anak Trenggana) memainkan peran untuk mengangkat ayahnya ke tampuk kekuasaan dengan membunuh Raden Kinkin dari Jipang.[37]

Tatkala Trenggana wafat pada 1546, Prawata memang naik tahta di Demak. Namun, Arya Panangsang dari Jipang (anaknya Raden Kinkin), yang memiliki dendam kepada Prawata atas kematian ayahnya sekaligus berambisi untuk menjadi sultan, tidak mau tinggal diam. Tatkala tentara Demak masih bergerak di wilayah Maluku untuk mengusir Portugis, Arya Panangsang membawa pasukannya bergerak untuk menyerang Demak. Dalam penyerangan ini, Prawata mati dan banyak orang-orang Tionghoa peranakan dibunuh secara kejam oleh pasukan dari Jipang. Sungguhpun Prawata berhasil dibunuh, Arya Panangsang tidak bisa secara mulus menjadi sultan karena mendapat halangan dari Jaka Tingkir dari Pajang.[38]

Jaka Tingkir adalah putra Kebo Kenangan alias Ki Ageng Pengging. Memang, Ki Ageng Pengging telah masuk Islam. Namun, ia tidak mau tunduk kepada Demak, karena merasa berbeda paham keagamaan. Perlu dicatat bahwa Ki Ageng Pengging bersama Ki Ageng Tingkir adalah murid dari Syeikh Siti Jenar yang keislamannya berbeda haluan dengan walisongo dari kesultanan Demak. Karenanya, Ki Ageng Pengging dan Ki Ageng Tingkir kemudian dibunuh oleh Sunan Kudus. Kemudian, Jaka Tingkir dipungut oleh janda Ki Ageng Tingkir sehingga dirinya dikenal dengan Jaka Tingkir. Berkat kepandaian ilmu kanuragan dan pengabdiannya di Demak, Jaka Tingkir diangkat menjadi petinggi kemiliteran Demak. Bahkan, ia diangkat menjadi menantu oleh Trenggana. Jaka Tingkir juga menguasai daerah Pengging dan Tingkir di daerah Pajang.[39]

Ketika Arya Panangsang berhasil membunuh Prawata, Jaka Tingkir bergerak untuk mencegah Arya Panangsang menjadi sultan. Ia membawa tentara Pajang, serta meminta bantuan Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Panjawi, untuk menyerang Arya Panangsang dari Jipang. Di dalam pertempuran, Jaka Tingkir berhasil membunuh Arya Panangsang. Selanjutnya, Jaka Tingkir mendirikan kesultanan Pajang, sementara Ki Ageng Pamanahan dihadiahi tanah di daerah Mataram dan Ki Ageng Panjawi mendapat daerah Pati.[40]

Demikian, berdirinya kesultanan Pajang untuk menggantikan kesultanan Demak telah mengakhiri sejarah kerajaan Islam pesisir. Sebab, Pajang terletak di pedalaman, jauh dari laut. Karenanya, peralihan ini juga menandai peralihan orientasi ekonomi Islam Jawa, dari ekonomi perniagaan ke pertanian. Selain itu, hal ini juga diikuti dengan peralihan paham keislaman, dari madzhab Hanafi ke madzhab Syiah ajaran Syeikh Siti Jenar. Inilah momen penting dalam sejarah Islam di Jawa di mana terjadi peralihan orientasi ekonomi, politik dan keagamaan. Tentu saja, akan sangat menarik dapat mengetahui sebab-sebab pergeseran orientasi tersebut. Hanya saja, sebelum mengelaborasi masalah ini, ada baiknya kita terlebih dahulu melihat peran orang-orang Tionghoa peranakan dalam penyebaran Islam di Jawa. Tionghoa peranakan yang berjasa besar dalam Islamisasi pulau Jawa ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan walisongo yang berarti sembilan wali atau wali sembilan.

IV. ISLAMISASI JAWA

Teori tentang Islamisasi pulau Jawa tidak tunggal. Anthony Reid menyebutkan bahwa secara umum Islamisasi Jawa dipandang dimulai dari Aceh atau Campa. Namun satu hal yang pasti, proses Islamisasi Jawa mestilah dimulai dari perubahan secara besar-besaran yang terjadi di Asia Tenggara. Denys Lombard menyatakan bahwa Islamisasi Asia Tenggara adalah konsekuansi dari munculnya era perniagaan yang terjadi di Samudera Hindia dan laut Cina Selatan. Era inilah yang telah menciptakan sebuah jaringan Asia yang bernafaskan Islam.[41]

Demikian, selama dua abad, Samudera Hindia menjadi arena perniagaan besar yang hampir sepenuhnya bernuansakan Islam. Di dalamnya, orang-orang dari Cina, India dan Arab secara bersama-sama menghidupkan jaringan Asia yang, tidak saja bergerak dalam kegiatan jual-beli, tapi juga proses Islamisasi yang sangat bersemangat. Lagi-lagi, keberadaan jaringan Asia yang merentang dari wilayah Maghribi sampai Timur Jauh ini seolah-olah memberikan pembenaran atas tesis Weberian yang menyatakan bahwa perubahan di bidang keagamaan memiliki hubungan ellective affinity (konsistensi logis, bukan sebab-akibat) dengan perubahan di bidang sosial, ekonomi dan politik.[42]

Sebagai bagian tak terpisahkan dari jalur perdagangan dalam jaringan Asia ini, Nusantara—dan juga Asia Tenggara secara umum—seperti tidak mau ketinggalan untuk mendapatkan berkah di era perniagaan global tersebut. Dalam konteks inilah, kelompok-kelompok sosial baru bermunculan dengan modal bergerak sebagai harta kekayaannya. Semangat kosmopolitanisme dunia perdagangan juga telah membentuk mentalitas elite-elite di sekitar pelabuhan ini sangat berbeda dengan mentalitas para bangsawan dalam kerajaan-kerajaan lama di pedalaman. Selain itu, sektor-sektor ekonomi berbasis perdagangan tersebut dengan sendirinya memisahkan atau bahkan menciptakan otonomi kota-kota pesisir dari kekuasaan ibu kota-ibu kota lama yang basis perekonomiannya lebih disandarkan pada sawah dan sistem pertanian. Pada akhirnya, di bandar-bandar pelabuhan laut ini terbentuklah suatu tatanan politik baru berbentuk kesultanan. Pada abad ke-13, Samudera Pasai telah menjadi kesultanan Islam pertama di ujung utara pulau Sumatera yang kemudian diikuti oleh wilayah-wilayah lainnya di seluruh Nusantara beberapa periode setelahnya.[43]

Sampai di sini, permasalahan belum menemukan jawabannya: dari manakah prosoes Islamisasi pulau Jawa dimulai? Dari Aceh, Malaka atau Campa? Agak sulit memang menentukan secara pasti titik awal Islamisasi Jawa. Selain kekuarangan bahan-bahan informasi yang cukup memadai, juga tidak mudah memilah-milah manakah di antara Aceh, Malaka atau Campa yang paling berpengaruh kepada Jawa, karena satu sama lain saling berhubungan sebagai sebuah jaringan perniagaan dan kebudayaan. Uraian yang panjang tentang peran orang-orang Tionghoa dalam pendirian Kesultanan Demak dalam tulisan ini sebenarnya sudah menyiratkan pengandaian bahwa Islamisasi Jawa tidak dimulai dari Aceh atau Malaka, tapi dari Cina melalui Campa. Sungguhpun demikian, analisis lebih lanjut atas jenis, aliran atau madzhab keislaman yang ada di Aceh, Malaka, Campa dan Jawa mungkin akan sangat membantu menemukan kepastian ihwal Islamisasi pulau Jawa.

1. Islam di Asia Tenggara

Sebagaimana telah lazim diketahui, Islam lahir di tanah Arab, tepatnya di kota Makkah dan Madinah, yang kemudian menyebar ke kota Damaskus, Bagdad dan wilayah Parsi. Penyebaran Islam dari tanah Arab ke Asia Tenggara dibawa oleh para saudagar yang melakukan kegiatan niaga dengan berlayar menyisir pantai ke arah timur menuju Tiongkok. Namun demikian, pelayaran ini tidak dilakukan secara langsung, melainkan berangsur-angsur secara berranting dan sambung-menyambung. Demikian, para saudagar Muslim asal Arab dan Parsi pertama-tama berniaga ke Gujarat di pantai barat India, lalu ke Koromandel dan Benggala di pantai timur India.[44]

Di India, saudagar-saudagar Arab dan Parsi ini membawa komoditas perdagangan berupa kain, tembaga, minyak wangi, dan gincu untuk dijual. Sementara itu, dari orang-orang India, para saudagar Arab dan Parsi tersebut membeli komoditas yang berasal dari Tiongkok dan Asia Tenggara berupa rempah-rempah, cengkeh, pala, biji timah, tembikar Cina, kain sutra, kayu cendana dan teh. Barang-barang ini kemudian mereka jual di negeri-negeri Arab dan Eropa, khususnya Venesia. Melalui para saudagar Arab dan Parsi inilah orang-orang Eropa bisa menikmati komoditas Tiongkok dan Asia Tenggara sekedarnya dengan harga yang mahal. Di India pula, para saudagar Arab dan Parsi yan beragama Islam ini mungkin banyak bertemu dengan para pedagang dari Malaka untuk urusan perdagangan. Khusus untuk komoditas yang didatangkan dari Indonesia, para saudagar Malaka ini memberinya dari orang-orang Majapahit yang datang ke pelabuhan Malaka.[45]

Melalui kegiatan niaga ini, muncullah masyarakat pesisir di India yang beragama Islam. Semakin lama, masyarakat pedagang Muslim ini semakin kuat dan mampu menciptakan kekuatan politik yang menggeser agama Hindu dan kerajaan-kerajaan Hindu ke pedalaman. Maka, Islamisasi India dimulai. Suku Turki Ibari dan suku Afghanistan Khiliji berhasil memperkuat Kesultanan Delhi di utara. Berikutnya, Muhammad bin Tughluk (1325-1351) memindahkan perbatasan kesultanan ke selatan sampai daerah aliran sungai Kaveri dan mendirikan ibu kota Daulatabad di mana hampir seluruh wilayah India berada di bawah kekuasaannya. Setelah penyerangan Timur Leng yang menghancurkan Delhi (1398-1399), kekaisaran Tughluk terpecah-belah ke dalam beberapa kesultanan. Di antaranya adalah Bengali dan Gujarat yang kemudian mengalami kemajuan pesat di bawah pemerintahan Ahmad Shah (1411-1441) dan Mahmud Baikara (1458-1511). Sementara itu, bangsa Bahmanid Syiah juga berhasil mendesak Kerajaan Vijayanagar Hindu di daerah Dekan. Pada masa-masa ini, orang-orang India Muslim dikenal sebagai pengendali kegiatan perdagangan dengan negeri-negeri Arab, Ormuz dan Maladewa.[46]

Pada akhir abad ke-12, di pantai timur Sumatra muncul kerajaan Islam Perlak yang didirikan oleh para sudagar dari Mesir, Maroko, Parsi dan Gujarat beragama Islam-Syiah. Selain kesultanan Perlak, di pantai timur Sumatra bagian utara juga muncul kerajaan Pasai pada 1128 yang didirikan oleh Nazimuddin al-Kamil, seorang laksamana laut dinasti Fatimiyyah dari Mesir. Dinansti Fatimiyyah di Mesir sengaja mendirikan kesultanan Pasai agar dapat menguasai perdagangan rempah-rempah dari wilayah Nusantara yang sangat menguntungkan. Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam yang pertama kali dikembangkan di Sumatra melalui dua kesultanan tersebut berhaluan Syi’ah.[47]

Pada 1168, Dinasti Syiah Fatimiah di Mesir berhasil digulingkan oleh Salahuddin al-Ayubi dari Dinasti Mamluk yang berhaluan Islam Suni-Syafi’i. Selanjutnya, Dinasti Mamluk di Mesir ingin menguasai jaringan perniagaan rempah-rempah yang sebelumnya dikuasai Dinasti Fatimiyyah. Karenanya, pada 1284, dinasti Mamluk mengirim Syaikh Ismail ke Sumatra untuk mendirikan kesultanan Samudera dan menghabisi pengaruh-pengaruh ajaran Syiah di sana. Selama beberapa lama, Islam Syiah dan Islam Suni-Syafi’i saling berebut kekuasaan, kegiatan perdagangan dan pengaruh. Pada akhirnya, Islam Suni-Syafi’i menjadi lebih dominan, sementara Islam Syiah menjadi kelompok minoritas.[48]

Sementara itu, muncul pula kerajaan lain di Malaka yang didirikan secara berangsur-angsur oleh Prameswara pada 1405-1409. Raja Prameswara memiliki seorang istri asal Aceh yang beragama Islam madzhab Syafi’i. Atas bujukan istrinya ini, Prameswara kemudian masuk Islam dan menjadi penyokong penyebaran agama Islam-Syafi’i di Malaka, bahkan di seluruh Malaya. Setelah masuk Islam, Prameswara menggambil nama Megat Iskandar Syah. Demikian, kesultanan Malaka menjadi negara Islam berikutnya yang berdiri di Asia Tenggara setelah Perlak, Pasai dan Samudera sebagai buah dari kegiatan perniagaan yang telah dirintis oleh para saudagar Arab dan Parsi melalui India.[49]

Namun demikian, penyebaran Islam ke Asia Tenggara melalui pelayaran laut bukanlah satu-satunya jalan. Terdapat satu jalan lain melalui darat yang bergerak dari tanah Arab melalui Asia Tengah (Bukhara, Samarkand dan Turkestan) ke Tiongkok dan Campa di Asia Tenggara. Jalur penyebaran Islam ini muncul sebagai akibat sampingan dari berkuasanya Dinasti Mongol di daratan Asia dan sekitarnya. Kita tahu bahwa hal ini dimulai tatkala pada 1225 Jengis Khan memimpin tentara Mongol untuk menyerbu Asia Tengah. Tentara Mongol berhasil menghancurkan negara Islam Khwarezm-Turki yang menguasai Parsi dan Afghanistan. Mongol kemudian menguasai Bukhara, Samarkand, Blach, Bamyan dan sekitarnya. Tentara Mongol terus bergerak utuk mengaklukkan daerah-daerah yang dilaluinya, mulai dari wilayah tepi sungai Indus, Iran Utara, Kaukasus, Azov (Rusia), Krim, dan Turkestan..Jengis Khan kemudian menjadikan Turkestan sebagai markas besar pasukannya.[50]

Tatkala Jengis Khan meninggal dunia pada 1225, pasukan Mongol secara berturut-turut dipimpin oleh Guyuk, Mongka dan Kubilai sebagai penerus Jengis Khan. Pada 1258, Mongka berhasil menghancurkan Khilifah Abasyyiah di Baghdad. Pada tahun itu juga, Kubilai yang telah menggantikan Mongka dan sedang bergerak di wilayah Tiongkok Selatan, segera pulang ke Mongolia untuk ikut serta pemilihan Khan. Setelah terpilih sebagai khan, Kubilai mengutus adiknya untuk pergi ke selatan guna menundukan kerajaan Nan Chao di Yunan. Pada 1259, Kubilai berhasil menguasai seluruh Tiongkok dan memaklumatkan dirinya sebagai putra langit. Selanjutnya, Kubilai Khan juga berhasil menaklukan kerajaan-kerajaan di sepanjang laut Cina seperti Campa, Annam, Kamboja dan Birma pada 1280-1287.[51]

Pada saat dinasti Mongol muncul di panggung sejarah dengan wilayah kekuasaan yang begitu luas, Islam merupakan agama minoritas di daratan Tiongkok. Sungguhpun demikian, posisi Turkestan sebagai markas besar pasukan Mongol sangat penting untuk dikemukakan sebagai titik awal penyebaran Islam ke wilayah Tiongkok, karena Turkestan adalah sebuah kota yang mayoritas warganya adalah penganut Islam madzhab Hanafi. Di kota ini, para tentara Mongol banyak yang menikah dengan perempuan-perempuan setempat beragama Islam dari madzhab Hanafi. Tatkala di antara mereka banyak yang dipindahtugaskan ke daerah lain dan membawa serta keluarganya, maka kemungkinan besar para perempuan beragama Islam madzhan Hanafi tersebut ikut serta yang membuat terjadi penyebaran Islam secara tidak langsung. Bahkan, konon banyak tentara Mongol yang kemudian memeluk agama Islam. Pada masa dinasti Mongol ini, Islam madzhab Hanafi yang dibawa dari Turkestan banyak tersebar di wilayah Yunan dan Tiongkok Selatan, terutama Campa.[52]

Pergantian dinasti Mongol oleh dinasti Ming di di atas tahta kekaisaran Tiongkok merupakan momen penting dalam perkembangan Islam madzhab Hanafi di negeri tersebut dan sekitarnya. Pada 1405 sampai 1453, ketujuh pelayaran besar armada Laksamana Zheng He (Cheng Ho) untuk perniagaan maritim atas nama dinasti Ming ke arah pelabuhan-pelabuhan Nusantara dan Samudera Hindia, sampai ke Srilangka, Quilon, Kocin, Kalikut, Ormuz, Jeddah, Mogadisco dan Malindi, banyak melibatkan orang-orang Muslim bermadzhab Hanafi, terutama dari Yunan. Laksamana Zheng He sendiri adalah Muslim, anak seorang haji dari Yunan. Begitu pula dengan sang juru bahasa, Ma Hua. Ia adalah seorang Muslim bermadzhab Hanafi. Melalui ekspedisi-ekspedisi tersebut, laksamana Zheng He sangat banyak membantu untuk memperkuat dan menyebarkan Islam madzhab Hanafi di wilayah Asia Tenggara.[53]

Kita sudah banyak berbicara tentang peran Tionghoa peranakan dalam pendirian kesultanan Demak dan penyebaran Islam di Jawa. Apakah memang Islam yang disebarkan oleh Tionghoa peranakan di Jawa tersebut adalah Islam madzhab Hanafi, bukan Syafi’i atau Syi’ah? Jenis Islam yang disebarkan di Jawa ini sangat pernting artinya untu mengetahui asal-usul kedatangannya, apakah dari Aceh yang Syiah dan Syafi’i, dari Malaka yang Syafi’i atau dari Cina dan Campa yang Hanafi? Kalau memang Islam yang disebarkan di Jawa adalah beraliran Hanafi, maka sudah bisa dipastikan bahwa memang Tionghoa peranakan dari asal Cina dan Campa yang berjasa besar dalam pengembangan ekonomi perniagaan di kota-kota pesisir Jawa, pendirian kesultanan Demak dan juga penyebaran Islam.

2. Walisongo dan Islamisasi Jawa

Lagi-lagi, kita mendapatkan informasi menarik dari naskah kelenteng Sam Po Kong ihwal aliran Islam yang disebarkan di pulau Jawa, terutama oleh walisongo dan disponsori secara resmi oleh kesultanan Demak. Menurut naskah kelenteng Sam Po Kong tersebut, Islam yang dianut dan disebarkan oleh orang-orang Tionghoa dari Tiongkok Selatan dan Campa adalah Islam aliran Hanafi. Dengan demikian, jelas sudah bahwa Islam di Jawa didatangkan dari Cina Selatan dan Campa, bukan dari Aceh atau Malaka sebagaimana banyak diyakini orang selama ini.[54]

Penyebaran Islam di pulau Jawa oleh orang-orang Tionghoa (khususnya Tionghoa peranakan) di Jawa tidak lain adalah sebuah mekanisme ideologis untuk memperkuat masyarakat pesisir Jawa yang berbasis pada ekonomi perniagaan maritim guna pengancuran saingannya, yakni kerajaan Hindu Majapahit. Dengan kata lain, Islamisasi Jawa adalah alat yang digunakan, sekaligus akibat yang muncul, dalam pertarungan ekonomi dan politik antara masyarakat pesisir yang banyak dikuasasi oleh orang-orang Tiongoa dengan masyarakat pedalaman yang banyak dikuasai oleh orang-orang Jawa beragama Hindu. Artinya, penyebaran Islam di Jawa tidak semata-mata bermuatan keagamaan dan kebudayaan, tapi juga sarat dengan kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik.

Hubungan antara Islamisasi dengan kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik bisa kita lihat dari sosok, posisi dan kiprah para penyebar Islam di Jawa yang banyak dikenal sebagai walisongo atau wali sembilan. Memang, kita tidak bisa secara gegabah menyebutkan begitu saja bahwa Islamisasi Jawa oleh walisongo semata-mata dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik. Barangkali akan lebih tepat jika hubungan antara ekonomi dan politik dengan Islamisasi Jawa dilihat sebagai hubungan logis yang kadang tidak disadari oleh para pelakunya. Namum demikian, penjelasan tentang tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa sangat penting untuk dikemukakan guna menunjukan bahwa Tionghoa peranakan tidak saja berjasa dalam upaya penghancurkan kerajaan Hindu Majapahit, membangun sektor ekonomi non-agraris dan mendirikan kesultanan Demak, tapi juga dalam upaya pengislaman Jawa.

Satu nama yang perlu disebut petama kali di sini adalah Bong Tak Keng di Campa. Ia adalah seorang kapten Cina yang dipercaya oleh laksamana Zheng He atau Ceng Ho untuk mengurus orang-orang Tionghoa di seluruh Asia Tenggara sejak 1419. Bong Tak Keng adalah seorang Muslim beraliran Hanafi. Ia memiliki beberapa anak yang salah satunya dinikahi oleh Kertabhumi sebagai selir. Bong Tak Keng inilah yang kiranya banyak disebut sebagai raja Campa yang sengat berkuasa di wilayahnya itu. Untuk mempermudah tugasnya di wilayah Asia Tenggara, Bong Tak Keng menugaskan Swan Liong alias Arya Damar di Palembang dan Bong Swi Hoo di Tuban. Bong Tak Keng memang bukan walisongo, tapi ia adalah titik awal yang perlu disebut untuk menjelaskan kemunculan walisongi di Jawa.[55]

Maulana Malik Ibrahim al-Samarkandy adalah salah seorang penyebar Islam di Jawa paling tua di antara walisongo. Ia lahir di Samarkand pada paruh awal abad ke-14. Sejak 1379, al-Samarkandy menetap di Campa selama tiga belas tahun lamanya, serta menikah dengan anak perempuan Bong Tak Keng. Dari asal-usul kelahiran dan lamanya menetap di Campa, kita bisa memaklumi jika Maulana Malik Ibrahim adalah seorang Muslim bermadzhab Hanafi yang melakukan migrasi dari Asia Tengah ke Tiongkok Selatan pada masa Dinsti Mongol. Di Camapa, ia memiliki dua orang anak, yang salah satu di antaranya adalah Bong Swi Hoo yang kemudian dikenal sebagai Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa bersama dengan adiknya, Maulana Ishak, yang pernah tinggal di Aceh. Sementara Maulana Ishak adalah ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri, hasil pernikahannya dengan seorang putri asal Blambangan. Setalah sekian lama melakukan aktivitas sosial dan keagamaan, Maulana Malik Ibrahim meninggal pada 1419 di Gresik.[56]

Tokoh kedua di antara walisongo adalah anak dari Maulana Malik Ibrahim al-Samarkandy, yakni Bong Swi Hoo, Karenanya, kita juga bisa tahu bahwa Bwong Swi Ho adalah seorang Muslim beraliran Hanafi kelahiran Campa yang juga adalah cucu dari Bong Tak Keng. Bong Swi Hoo dikemudian hari dikenal juga dengan nama Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Ia pernah melakukan ibadah haji ke Mekah tatkala ikut serta dalam armada laut yang dipimpin oleh laksamana Cheng Ho ke daerah Arab. Ia datang ke Jawa pada dan kemudian menikah dengan Ni Gede Manila, anak Gan Eng Cu, kapten Cina yang bertugas di Manila kemudian pindah ke Tuban pada 1423. Perlu diketahui pula bahwa selain Ni Gede Manila, Gan Eng Cu juga memiliki seorang anak laki-laki bernama Gan Si Cang yang di kemudian hari ikut membantu pendirian mesjid Demak. Gan Si Cang ini bernama Jawa Raden Said yang kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga, salah seorang angota walisongo yang paling banyak dikenal oleh masyarakat Jawa.[57]

Sementara itu, Bong Swi Hoo atau Sunan Ampel bersama Ni Gede Manila memiliki dua orang anak yang kemudian dikenal dengan Sunan Drajat dan Sunan Bonang. Kedua orang anaknya ini juga dikenal sebagai bagian dari walisongo yang berjasa besar dalam Islamisai pulau Jawa.Selain membesarkan dan mendidik Sunan Drajat dan Sunan Bonang, Bong Swi Hoo atau Sunan Ampel juga memiliki anak angkat sekaligus muridnya bernama Raden Paku atau Sunan Giri. Sunan Giri adalah anak dari Maulana Iskak atau Wali Lanang dari seorang ibu asal Blambangan. Ayah Sunan Giri ini berasal dari Pasai, tapi keturunan Bong Tak Keng dari Campa. Berdasarkan silsilahnya, Maulana Iskak atau Wali Lanang adalah paman dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel alias Bong Swi Hoo. Karenanya, Sunan Giri juga memiliki darah Tionghoa dari garis ayah, serta masih memiliki hubungan famili dengan Sunan Ampel.[58]

Seorang murid Bong Swi Hoo lainnya yang juga berasal dari Tionghoa peranakan adalah Jin Bun. Jin Bun ini memiliki garis keturunan penting dalam silsilah kerajaan di Jawa karena ia adalah anak raja Majapahit dari istri berdarah Cina. Pada perkembangan berikutnya, Jin Bun yang beragama Islam kuat berhasil menjatuhkan Majapahit dan mendirikan kerajaan Demak. Dengan kata lain, Jin bun tidak lain adalah Raden Patah. Sebagai raja Demak, Jin Bun atau Raden Fatah melahirkan beberapa orang anak yang berjasa besar mengangkat Kesultanan Demak mencapai masa kejayaannya serta membantu proses Islamisasi di tanah Jawa. Di antara anak-anaknya yang terpenting adalah Yat Sun dan Tu Kang Lo. Setelah Jin Bun wafat, Yat Sun menggantikan posisi ayahnya sebagai Sultan Demak dari 1518 sampai 1521. Yut Sun yang juga bernama Yunus atau Unus ini meninggal dalam serangan armada laut Demak ke Malaka yang dikuasasi oleh Portugis. Karenanya, Tu Kang Lo kemudian mengantikan posisi kakaknya sebagai sultan Demak. Tu Kang Lo ini lebih banyak dikenal dengan nama Pengeran Trenggana di kalangan orang-orang Jawa.[59]

Pada masa Sultan Trenggana inilah kita bisa melihat peran seorang walisongo lainnya, yakni Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Sultan Trenggana atau Tu Kang lo memiliki anak yang di antaranya adalah Muk Ming yang juga dikenal sebagai Prawata dan Toh A Bo. Pada masa itu, Toh A Bo dipercaya sebagai panglima perang Kesultanan Demak. Toh A Bo memimpin tentara Demak untuk menghukum bupati Majapahit yang dianggap berkhianat karena berhubungan dengan Portugis dan merencanakan kudeta terhadap Demak. Setahun sebelumnya, Toh A Bo bersama tentara Demak berangkat ke Jawa Barat untuk mencegah Portugis membangun sebuah benteng di Sunda Kelapa. Setelah mengalahkan raja Sunda, Toh A Bo juga berhasil menghalau serangan tentara Portugis dari laut. Selanjutnya, Toh A Bo mendirikan kerajaan Banten sebagai bawahan Demak dan ia sendiri menjadi sultan pertamanya. Karena di Demak terjadi perebutan kekuasaan, Toh A Bo tidak mau kembali ke Demak dan memilih tinggal di Cirebon. Di sana ia mendirikan Kesultanan Cirebon sekaligus menjadi Sultannya, sementara Benten diserahkan kepada anaknya yang bernama Hasanuddin. Demikian, Toh A Bo tidak lain adalah Sunan Gunung Jati yang terkenal itu.[60]

Tokoh lainnya dari kalangan walisongo adalah Sunan Muria dan Sunan Kudus, Sunan Muria adalah anak dari Gan Si Cang alias Sunan Kalijaga dan Saroh (adik kandung Sunan Giri). Nama kecil Sunan Muria adalah Prawoto, sementara nama Muria diambil dari temapt tinggal terakhirnya di gunung Muria. Kalau Sunan Muria adalah anak dari Sunan Kalijaga, maka Sunan Kudus adalah murid Sunan Kalijaga. Sunan Kudus, yang nama kecilnya adalah Jaffar Shadiq, merupakan anak dari Sunan Undung dan Syarifah (adik Sunan Bonang).[61]

Pada titik ini, bisa dikatakan bahwa pada awalnya walisongo adalah orang-orang Tionghoa atau Tionghoa peranakan yang terkait secara organis dengan kepentingan-kepentingan ekonomi-politik masyarakat niaga Tionghoa dipesisir utara pulau Jawa dan juga kesultanan Demak. Nyatanya, Bwong Swi Hoo memang merupakan kapten Cina yang ditugaskan oleh kakeknya, Bong Tak Keng dari Campa, untuk mengorganisir masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa. Pengorganisasian masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa ini juga merupakan arahan langsung dari Laksamana Cheng Ho sebagai wali kekaisaran Tiongkok di Nan Yang (Asia Tenggara). Karenanya, kesultanan Demak adalah aparatus politik untuk tujuan yang diinginkan oleh Cheng Ho tersebut, sementara masyarakat Niaga Tionghoa pesisir adalah aparatus ekonominya, dan walisongo merupakan aparatus ideologi atau kebudayaannya.

Namun demikian, tujuan-tujuan ini kemudian terbengkalai karena beberapa hal. Pertama, Dinasti Ming generasi keempat di Tiongkok meninggalkan kebijakan luar negeri untuk melakukan diplomasi politik dan kerja sama niaga dengan kerajaan-kerajaan di luar Tiongkok. Sang kaisar lebih banyak disibukan untuk menghadapi pemberontakan orang-orang Mongol di pedalaman Tiongkok. Hal ini menyebabkan hilangnya hubungan antara kekaisaran Tiongkok dengan masyarakat Tionghoa peranakan di Nan Yang (Asia Tenggara), serta Jawa pada khususnya. Kedua, kematian Laksamana Cheng Ho dan Bong Tak Keng menyebabkan hilangnya dua orang pelindung masyarakat Tionghoa peranakan di daerah Nan Yang.[62]

Atas dasar itu, Sunan Ampel alias Bong Swi Hoo kemudian mengambil inisiatif untuk mengembangkan masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa secara mandiri, tanpa ada kaitan lagi dengan Tiongkok. Pada praktinya, karena jumlah orang-orang Tionghoa peranakan di Jawa pada dasarnya sangat sedikit, maka Sunan Ampel memilih untuk meraih orang-orang Jawa asli guna terlibat dalam upaya-upaya memperkuat kesultanan Demak, masyarakat niaga pesisir dan penyebaran Islam. Karenanya, Sunan Ampel dan anggota walisongo lainnya lantas melakukan pendekatan kepada masyarakat Jawa di bawah panji penyebaran agama Islam. Upaya ini tentu saja tidak terlalu sulit bagi Sunan Ampel dan walisongo, karena agama Islam yang mereka sebarkan beraliran Hanafi. Kita tahu bahwa Islam madzhab Hanafi tidak terlalu saklek dan puritan sehingga sangat mudah untuk disesuaikan dengan kebudayaan lokal di Jawa. Misalnya, hal ini tampak di dalam kitab hukum kesultanan Demak (Salokantara) yang merupakan perpaduan antara fiqih Islam dengan warisan hukum zaman Majapahit.[63]

V. PERGESERAN ORIENTASI MASYARAKAT JAWA: DARI PESISIR KE PEDALAMAN

Sebagaimana telah disinggung, keruntuhan Demak dan berdirinya kesultanan Pajang merupakan satu tanda yang menunjukan terjadinya pergeseran orientasi ekonomi, politik dan keagamaan masyarakat Jawa. Pergerseran orientasi ini juga berarti pergantian basis sosial kerajaan Islam, dari kesultanan Demak yang ditopang oleh kalangan Tionghoa peranakan kepada kesultanan Pajang yang basis sosialnya kebanyakan adalah orang-orang Jawa tulen. Bagaimana menjelaskan ini semua? Mengapa Jaka Tingkir tidak melanjutkan silsilah keturunan Raden Patah dengan menjadi sultan di Demak? Mengapa pula penyerangan Arya Panangsang dari Jipang ke Demak disertai dengan pembunuhan orang-orang Tionghoa peranakan? Apakah perebutan kekuasaan dan pergeseran orientasi Islam Jawa juga terkait dengan konflik bernuansa etnik antara orang-orang Jawa dengan orang-orang Tionghoa peranakan?

1. Masyarakat Pedalaman yang Terabaikan

Kesultanan Demak yang didirikan oleh Raden Patah adalah negara dengan basis sosial utama masyarakat Tionghoa peranakan, yang menyandarkan kehidupan ekonominya pada perniagaan maritim. Demak sendiri kurang memiliki kesadaran atau kepentingan untuk meraih masyarakat Jawa pedalaman yang banyak bergerak di bidang pertanian, serta masih banyak yang memeluk agama Hindu. Karenanya, terdapat hubungan yang kurang baik antara Demak sebagai pusat kekuasaan politik dengan daerah-daerah bawahan di sekitarnya.

Runtuhnya Majapahit serta ketidakpedulian Demak terhadap masyarakat pedalaman Jawa telah membawa beberapa implikasi yang sama sekali tidak menguntungkan kesultanan Demak sendiri. Pertama, masyarakat pedalaman Jawa banyak yang tidak mengatahui dan tidak merasa menjadi bagian dari kesultanan Demak. Dalam alam pikiran orang-orang Jawa pedalaman, Majapahit barangkali masih dianggap sebagai kesatuan politik yang belum tergantikan. Kedua, kehidupan ekonomi masyarakat agraris di pedalaman merosot sangat tajam. Ketiga, masyarakat pealaman Jawa tetap berpegang kepada agama Hindu yang sama sekali suda tidak memiliki pendukung kuat dengan hilangnya kerajaan Majapahit. Kalaupun ada yang masuk Islam, itupun hanya segelintir orang-orang yang memiki kepentingan dengan masyarajat pesisir untuk menjual hasil pertanian, serta para elite politik lokal yang mau tidak mau harus tunduk kepada kehendak Demak.

Ketidakharmonisan antara Demak dengan negara-negara bawahannya, khususnya Majapahit, bisa dilihat melalui upaya-upaya Girindrawardhana untuk menggalang hubungan dengan pihak-pihak luar guna merevitalisasi Majapahit serta keluar dari dominasi Demak. Ia beberapa kali ketahuan berhubungan dengan Portugis dan kaisar Tiongkok. Sebagai menantu Kertabhumi (raja terakhir Majapahit sebelum dikalahkan Demak) dan bupati Majapahit di bawah Demak, Girindrawardhana tidak pernah merasa puas dengan kondisi yang dihadapinya itu. Ia bahkan tidak mau masuk Islam. Hanya dengan kekuatan militerlah kemudian Demak mampu menghancurkan upaya-upaya Girindrawardhana tersebut. Pada gilirannya, ketidakharmonisan ini merupakan bom waktu yang nantinya akan menghancurkan kesultanan Demak dan ekonomi maritim di pesisir utara pulau Jawa.

2. Revitalisasi Politik Masyarakat Agraris Jawa

Setelah konflik keluarga kesultanan Demak berakhir yang ditandai oleh kematian Prawata dan Arya Panangsang, Jaka Tingkir alias Sultan Adiwijaya kemudian mendirikan kesultanan Pajang di pedalaman pada 1546. Beberapa orang yang membantu Jaka Tingkir mengalahkan pasukan Jipang diberikan konpensasi sebagai penguasa di wilayah Pati dan Mataram. Pati diberikan kepada Ki Ageng Panjawi, sementara Mataram diserahkan kepada Ki Ageng Pamanahan beserta keluarganya. Mereka berperan sebagai penguasa daerah bawahan kesultanan Pajang.[64]

Dalam rentang waktu dari 1546 hingga 1582, Jaka Tingkir kokoh di singgasana kekuasaannya. Pada masa-masa ini, terjadi revitalisasi ekonomi agraris melalui berbagai pembukaan hutan. Di samping itu, disinyalir juga terjadi proses masifikasi pengislaman pedalaman Jawa. Kemapanan kesultanan Pajang ini baru berakhir tatkala Mataram di bawah kepemimpinan Ngabei Loring Pasar atau Senapati (anaknya Ki Ageng Pamanahan) berupaya membangun kekuasaannya sendiri, serta tidak mau lagi terikat sebagai bawahan Pajang. Pada 1582, Jaka Tingkir bermaksud menyerbu Mataram. Namun, di tengah jalan, ia keburu wafat. Setalah wafatnya Jaka Tingkir, terjadi kericuhan di antara keluarga Pajang ihwal penggantinya sebagai sultan Pajang. Karena itu, Pajang menjadi terbengkalai.

Pada 1586, muncullah Ngabei Loring Pasar atau Senapati sebagai raja baru di pedalaman Jawa yang berkedudukan di Mataram. Sebagai sultan Mataram, Senapati berhasil memperkuat kembali kekuatan ekonomi agraris Jawa. Keberhasilannya ini memberikan modal untuk memperkuat pasukannya sehingga dalam waktu singkat berhasil menyatukan hampir semua daerah di Jawa di bawah kekuasaanya. Berturut-turut, Madiun, Pasuruan, Kediri dan Ponorogo berhasil ditaklukan oleh Mataram. Itu semua daerah-daerah yang ada di sebelah timur Mataram. Sementara ke arah barat, Mataram berhasil menundukan Kedu, Bagelen, Banyumas dan bagian selatan Cirebon. Ke jurusan utara, Mataram juga berhasil menaklukan Rembang, Pati, Demak dan Pekalongan. Perlu dicatat bahwa ekspansi Mataram ini dilakukan hanya di wilayah Jawa, tanpa menyentuh urusan perniagaan laut. Karenanya, kebangkitan Mataram sama sekali tidak punya implikasi apa-apa terhadap Portugis yang tetap menguasai jalur perdagangan rempah-rempah dari Maluku ke Malaka. Dengan kata lain, kebangkitan Mataram adalah era revitalisasi kekuasaan politik agraris Jawa, serta memudarnya perniagaan maritim.[65]

3. Islam Kejawen

Sejak kemunculan kesultanan Pajang, Islam yang berkembang bukan lagi beraliran Hanafi sebagaimana pada masa Demak, melainkan bermadzhab Syi’ah. Bahkan, kemungkinan besar kesultanan Pajang mensponsori aliran keislaman yang diajarkan oleh Syeikh Siti Jenar. Kalaupun bukan murni aliran Syiah, kemungkinan besar jenis keislamannya lebih bernuansa tasawuf. Hal ini bisa dimaklumi, karena orang-orang Jawa pedalaman masih banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu pada masa Majapahit. Kalaupun terjadi pengislaman, maka Islam tersebut adalah Islam yang bisa dipertemukan dengan keyakinan-keyakinan agama Hindu. Dan itu adalah Islam aliran tasawuf atau Syiah.[66]

Masuknya ajaran Islam beraliran tasawuf atau Syiah di pedalaman Jawa juga bisa dilihat dari kecenderungan masyarak agraris pada umumnya ketika itu. Kita tahu bahwa masyarakat pedalaman yang agraris memiliki perbedaan karakter dengan masyarakat masyarakat pesisir yang mendasarkan kehidupannya pada perniagaan. Kalau masyarakat pesisir lebih banyak ditandai oleh budaya kosmopolit di mana orang-orangnya banyak bergaul dan memiliki inisiatif serta kreativitas, maka masyarakat agraris cenderung tertutup, ketergantungan yang tinggi pada alam dan fatalistik. Karenanya, keislaman yang banyak diterima adalah jenis Islam yang dekat dengan animisme dan dinamisme, yakni Islam yang dekat dengan keyakinan pada kekuatan ruh-ruh dan alam ghaib. Maka, tidak heran kemudian, jika aliran Islam tasawuf dan Syiah lebih bisa berkembang. Aliran Islam tasawuf dan Syiah banyak meyakini kemampuan manusia untuk berhubungan dengan dimensi-dimensi ghaib, khususnya melalui mediasi para wali dan imam. Perpaduan antara Islam tasawuf atau Syiah dengan kebudayaan Jawa zaman Majapahit inilah kemudian yang memunculkan jenis Islam kejawen.

VI. PENUTUP

Sampai di sini, pembahasan tentang kesultanan Demak dan Islamisasi Jawa akan segera berkahir, kalau bukan sudah benar-benar berakhir. Sebagai penutup, berikut akan dibuat beberapa catatan penyimpul. Berikut adalah kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan ini.

Pertama, masyarakat pesisir utara pulau Jawa yang dibentuk oleh kalangan Tionghoa perantauan telah menciptakan masyarakat baru. Orang-orang Tionghoa ini telah menyiapkan jalan bagi keruntuhan kerajaan Hindu Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak. Melalui keuntungan material yang berlimpah-ruah sebagai hasil dari perniagaan maritim, masyarakat Tionghoa di pesisir utara Jawa ini memiliki modal yang cukup untuk melakukan konsolidasi politik dan sosial. Hal ini mendapatkan dukungan dari kekaisaran Ming di Tiongkok melalui laksamana Cheng Ho.

Kedua, selain memiliki sumber daya ekonomi yang cukup kuat, masyarakat Tionghoa di pesisir utara Jawa juga mempunyai senjata ideologis yang ampuh untuk menghancurkan ideologi Hindu yang selama ratusan tahun melanggengkan kekuasaan Majapahit. Senjata ideologi dimaksud adalah agama Islam, khususnya Islam madzhab Hanafi. Melalui Islamisasi ini, masyarakat Tionghoa tidak saja berhasil menkonsolidasikan dirinya, tapi juga mampu mengajak orang-orang Jawa untuk menjadi bagian dalam upaya-upaya penghancuran Majapahit. Dalam waktu yang tidak terlampau lama, masyarakat Tionghoa ini berhasil meluluhlantakan Majapahit yang memang sudah banyak merosot akibat perang saudara dan hancurnya produksi pertanian sebagai sumber ekonomi mereka. Maka, berdirilah kesultanan Demak.

Ketiga, Islamisasi pulau Jawa bukanlah datang dari Aceh atau Malaka sebagaiman diyakini selama ini, melainkan dari Cina dan Campa. Hal ini bisa dilihat dari aliran kesialaman yang ada di Jawa, khususnya yang berkembang di kesultanan Demak. Sementara di Aceh dan Malaka, Islam yang berkembang adalah Islam bermadzhab Syafi’i dan Syiah, maka di Demak, Islamnya beraliran Hanafi. Aliran Hanafi yang ada di Demak ini juga berkembang sebelumnya di Cina bagian selatan dan Campa. Maka, adalah sangat logis jika kita meyakini bahwa Islamisasi Jawa dilakukan oleh orang-orang Tionghoa perantauan asal Cina Selatan dan Campa. Islam aliran Hanafi ini memiliki kaitan organis dengan berkembangnya ekonomi maritim di pesisir utara Jawa dan munculnya kesultanan Demak. Kesemuanya memilki basis yang sama: Tionghoa perantauan atau Tionghoa peranakan. Bahkan, walisongo yang dikenal berjasa menyebarkan Islam di Jawa adalah orang-orang Tionghoa peranakan asal Campa.

Keempat, kehancuran kesultanan Demak berarti pula kehancuran ekonomi perniagaan pesisir dan Islam madzhab Hanafi yang ditopang oleh orang-orang Tionghoa peranakan, serta menandai bangkitnya kekuasaan politik masyarakat agraris di pedalaman Jawa. Demikian, tatkala kesultanan Demak runtuh, bangkitlah Pajang dan Mataram yang banyak menyandarkan dirinya pada ekonomi pertanian. Islam yang dikembangkannyapun bukan lagi Islam madzhab Hanafi sebagaimana pada masa kesultanan Demak, melainkan tasawuf atau Syiah. Inilah akhir dari kejayaan masyarakat pesisir, serta dimulainya era revitalisasi kekuatan masyarakat pedalaman di pulau Jawa.

DAFTAR BACAAN

De Graaf, H.J., & TH. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Politik Abad XV dan XVI, Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens (Ed.), (Jakarta: Grafiti, 2003).

Lombard, Denys, Nusa Jawa: Silang Budaya (Tiga Jilid), terj. Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat dan Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005).

Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta: LKIS, 2005).

Parlindungan, Manggaradja Onggang, Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 18-16-1833 (Yogyakarta: LKIS, 2007).

Reid, Anthony, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, terj. Sori Siregar, Hasif Amini dan Dahris Setiawan, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2004).

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004, terj. Satrio Wahono dkk., (Jakarta: Serambi, 2005).

Yuanzhi, Kong, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Ed. Hembing Wijayakusuma, (Jakarta: Obor, 2000).

 


 

[1] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta: LKIS, 2005), h. 54-56.

[2] Lih. Manggaradja Onggang Parlindungan, Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 18-16-1833 (Yogyakarta: LKIS, 2007).

[3] Asvi Warman Adam, “Kata Pengantar: Walisongo Berasal dari Cina?” dalam Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, h. x.

[4] Lih. Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Tiga Jilid), terj. Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat dan Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005). Lihat pula, Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, terj. Sori Siregar, Hasif Amini dan Dahris Setiawan, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2004).

[5] Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid III): Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, h. 16.

[6] Lih., Ibid., h. 30. Bandingkan, M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004, terj. Satrio Wahono dkk., (Jakarta: Serambi, 2005), h. 53-54.

[7] Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid III): Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, h. 35.

[8] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, h. 178-180.

[9] Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, h. 81-83.

[10] Ibid., h. 84-85.

[11] Tentang kisah perjalanan laksamana Cheng Ho ini, lih. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Ed. Hembing Wijayakusuma, (Jakarta: Obor, 2000).

[12] Ibid.

[13] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, h. 185.

[14] Ibid., h. 185-186.

[15] Ibid., h. 97.

[16] Ibid., h. 89 dan 186.

[17] Ibid., h. 89-91.

[18] Ibid., h. 92.

[19] Ibid., h. 190-191.

[20] Ibid., h. 196.

[21] Ibid.

[22] Ibid., h. 195.

[23] Ibid.., h. 99.

[24] Ibid., h. 99 dan 195.

[25] Ibid., h. 195-196.

[26] Ibid., h. 211-213.

[27] Ibid., h. 215-216.

[28] Ibid., h. 219-220.

[29] Ibid., h. 219.

[30] Ibid., h. 230.

[31] Ibid., h. 231-232.

[32] Ibid..

[33] Ibid., h. 231-237.

[34] Lih. M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004, h. 90-91; Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid II): Jaringan Asia, h. 56; H.J. De Graaf & TH. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Politik Abad XV dan XVI, Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens (Ed.), (Jakarta: Grafiti, 2003), h. 65-66.

[35] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, h. 234.

[36] Ibid., h. 242.

[37] Ibid., h. 242-243.

[38] Ibid., h. 244-245.

[39] Ibid., h. 245-246.

[40] Ibid.

[41] Lih. Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, h. 41-42; Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid II): Jaringan Asia, h. 30-31.

[42] Denys Lombard, Ibid, h. 31.

[43] Ibid., h. 32.

[44] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, h. 144-145.

[45] Ibid.

[46] Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid II): Jaringan Asia, h. 30-31.

[47] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, h. 155-156.

[48] Ibid., h. 162-163.

[49] Ibid.

[50] Ibid., h. 166.

[51] Ibid., h. 167.

[52] Ibid., h. 167-168.

[53] Ibid., h. 170-171. Lihat pula Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid II): Jaringan Asia, h. 30.

[54] Lih. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, h. 170-174.

[55] Lih. Ibid., h. 185.

[56] Lih. Ibid., h.

[57] Ibid., h. 95-98 dan 103-108.

[58] Ibid.

[59] Ibid., h. 88-93.

[60] Ibid., h. 122-128.

[61] Ibid.

[62] Ibid., h. 174.

[63] Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid II): Jaringan Asia, h. 54.

[64] Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid III): Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, h. 36.

[65] Ibid., h. 36-44.

[66] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, h. 248.

2 Tanggapan to “Kesultanan Demak dan Islamisasi Pulau Jawa: Tentang Peran Tionghoa Peranakan”

  1. Anda tidak mengenal budaya tradisi keimanan bani Jawa yg sesungguhnya telah beriman kepada Tuhan YME sejak ribuan tahun sebelum datangnya agama impor dan penjajah hindu, budha, katholik, kristen, islam, konghucu. Jika anda pelajari keimanan Bani Jawa maka seluruh agama penjajah akan mengakui keluhuran budipekerti dan budaya Bani Jawa yg hidup rukun damai penuh cinta kasih pada sesama mahluk ciptaan Tuhan. Agama impor penjajah sepanjang sejarah telah mengusik ketenteraman kehidupan, menciptakan empayar haus kekuasaan dan peperangan penuh darah airmata. Bani Jawa akhirnya mendapatkan sebagian ruang kehidupannya kembali sejak NKRI merdeka 17-8-1945. Namun dalam kemerdekaan tsb sisa2 empayar impor berdiaspora bercokol mendapat legitimasi negara. Sedangkan keimanan agama budaya asli Nusantara termasuk Bani Jawa hanya diakui sebagai aliran kepercayaan. Tuhan Maha Tahu, Adil, Kasih dan Sayang akan selalu melindungi bangsa Nusantara dari penjajahan.

  2. Pada tahun 1404 Sultan Muhammad I raja empayar islam ottoman Istambul,Turki mengirim 9 orang intelijen penyusup (walisongo) diantaranya :
    1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
    2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
    3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
    4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
    5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
    6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
    7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
    8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
    9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat.
    Dengan missi islamisasi pulau Jawa dan mendirikan negara/empayar islam di Jawa sebagai negara bagian dari empayar Ottoman Turki. Langkah awal secara tersamar mendirikan kerajaan islam Giri Kedaton di Gresik Jawa Timur. Secara nyata mendirikan “Kerajaan Boneka” yaitu Kerajaan Demak didalam wilayah negara Majpahit dengan rajanya Raden Patah anak Brawijaya V. Politik “adudomba dan pendurhakaan” Demak menghancurkan Majapahit (anak menghancurkan tahta ayahnya). Ini bukti sejarah islamisasi pulau Jawa melalui cara politik penjajahan pemaksaan militer dengan taktik adudomba. Taktik ini dipelajari dan digunakan oleh penjajah selanjutnya yaitu Belanda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: