Iqbal Hasanuddin

Dua Orang Bijak dari Makassar Abad Ke-17: Karaeng Matoaya dan Karaeng Pattingaloang

Posted by iqbalhasanuddin pada September 26, 2008

PENGANTAR

Penampakan modernitas di wilayah Nusantara telah berlangsung pada masa-masa Abad ke-15 sampai ke-17.[1] Berbagai peristiwa sosial dan politik yang terjadi ketika itu mendatangkan tantangan sekaligus harapan menuju masa depan yang lebih baik. Respon yang dimunculkan terhadap penampakan modernitas ini tentunya akan sangat berpengaruh pada pola perubahan yang akan terjadi di masa-masa mendatang. Oleh karena itu, adalah pelajaran yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia saat ini yang tengah dilanda kegalauan dalam menapaki zaman modern untuk kembali menengok bagaimana orang-orang di masa lalu memberikan respon terhadap modernitas pada masa awal-awal penampakannya di wilayah Nusantara.

Sejarah mencatat bahwa dalam rangka merespon serangan monopolistik yang dilancarkan Belanda terhadap sistem perdagangan di Asia Tenggara, para pemimpin politik di wilayah Nusantara mengambil langkah-langkah mundur secara ekonomi dan politik serta defensif secara sosial dan budaya. Dalam hal ini, Sultan Agung dari Mataram (1613-1645), Sultan Iskandar Muda dari Aceh (1607-1637) dan Sultan Abdul Fatah dari Banten (1651-1683) merupakan contoh yang cukup mencolok. Tiga orang pemimpin ini memberlakukan kebijakan yang tidak toleran terhadap para warganya yang berinisiatif untuk melakukan kontak dagang dan perniagaan dengan pihak asing. Mereka berupaya sekuat mungkin untuk menciptakan kondisi di mana hanya mereka dan pihak istananya saja yang bisa melakukan tawar-menawar dagang dengan pihak asing. Mereka menumpuk kekayaan yang luar biasa banyak dan membangun pasukan bersenjata yang lebih kuat dari sebelumnya demi kepentingan ekonomi dan politik mereka sendiri.[2]

Sementara ditilik dari sisi personalitas politik, tiga tokoh pemimpin Nusantara ini juga bisa disebut sangat mengecewakan. Misalnya, orang-orang di sekeliling Sultan Iskandar Muda senantiasa dicekam oleh rasa takut akan ancaman hukuman mati dan penyiksaan. Siapapun yang gagal memenuhi kehendak sang Sultan, maka ia diberikan hukuman dera yang mengerikan.[3] Begitu juga dengan Sultan Agung. Ia sering digambarkan sebagai “raja yang tak kenal belas kasihan dan brutal.” Dia membawa kehancuran dahsyat di semua daerah yang ditaklukannya, khususnya kota-kota pesisir utara Jawa yang pernah berjaya di masa-masa sebelumnya. Bahkan, dalam rangka politik isolasi dari pengaruh ekonomi dan politik bangsa-bangsa Barat (Eropa), Sultan Agung tega menghancurkan kapal-kapal niaga orang-orang Jawa yang berakibat pada hancurnya semangat niaga dan maritim Nusantara yang dulu pernah begitu dikenal. Paga gilirannya, sikap dan praktik seperti ini bukannya membebaskan Nusantara dari cengkraman bangsa-bangsa Eropa, melainkan memperlemah kekuatan sendiri serta melapangkan kekuatan musuh untuk kemudian bercokol berabad-abad lamanya di Tanah Air.[4]

Namun demikian, di tengah arus respon yang sangat menyedihkan dari para pemimpin bangsa ini terhadap tantangan modernitas tersebut, terdapat pengecualian yang cukup menakjubkan dalam diri dua orang bijak dari Makassar: Karaeng Matoaya dan Karaeng Pattingaloang. Selain mampu mencipatakan semangat keterbukaan sekaligus stabilitas politik dan kesejahteraan ekonomi di sekitar wilayah Sulawesi Selatan, dua orang pemimpin Makassar ini juga mampu memaksa kuatan-kekuatan asing dari bangsa-bangsa Eropa (Belanda, Portugis, Spanyol dan Inggris) untuk meletakkan senjata sembari berniaga secara damai di Makassar. Lebih dari itu, ia juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan sikap keterbukaan yang mendalam untuk berdialog dengan kebudayaan Eropa modern. Selain mampu menguasai bahasa-bahasa Eropa, mereka juga tidak segan-segan untuk menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi yang lahir semangat Renaissance di Eropa. Bahkan, pada masa mereka, Makassar sangat dikenal oleh orang-orang di Eropa karena terdapat pemimpin yang senantiasa haus untuk mengoleksi produk-produk mutakhir teknologi dan juga mengumpulkan buku-buku yang berisikan penemuan ilmiah untuk melengkapi perpustakaan yang mereka miliki.[5]

Tulisan ini bermaskud mendeskripsikan kebijaksanaan-kebijaksanaan dari pemimpin Makassar Abad ke-17 tersebut guna melihat sebuah respon postitif namun tidak lazim dari sebuah bangsa yang ada di wilayah Nusantara terhadap tantangan modernitas pada masa-masa awal penampakannya. Karenanya, pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini lebih menekankan analisis sejarah dan analisis sosiologis. Namun, disebabkan oleh keterbatasan referensi yang saya dapatkan, maka untuk sebagian besar data sejarah yang digunakan dalam tulisan ini tidak bisa merujuk sumber-sumber primernya, tapi lebih mengandalkan bahan-bahan dari bukunya Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, terj. Sori Siregar, Hasif Amini dan Dahris Setiawan, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2004). Adapun rujukan lain yang dipakai dalam tulisan ini adalah karya M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004, terj. Satrio Wahono dkk., (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2005) dan Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Tiga Jilid), terj. Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat dan Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005).

Tulisan ini dibuat dengan sistematika berikut. Bagian “Penampakan Modernitas di Wilayah Nusantara” berisi tentang konteks historis bagi munculnya zaman modern di Nusantara. Bagian selanjutnya dengan topik “Karaeng Matoaya dan Masa Kejayaan Makassar” merupakan deskripsi yang lebih spesifik tentang konteks historis kejayaan Makassar di mana peran Karaeng Matoaya sangat signifikan di dalamnya. Adapun bagian selanjutnya adalah uraian tentang sosok Karaeng Pattingaloang yang mewarisi kebijaksanaan dari ayahnya sendiri Karaeng Matoaya. Terakhir, tulisan ini ditutup dengan sebuah catatan penutup.

PENAMPAKAN MODERNITAS DI WILAYAH NUSANTARA

Pada tahap awalnya, penampakan modernitas telah membawa peradaban manusia kepada titik peralihan yang sangat menentukan dalam perjalanan sejarah dunia. Secara fisik, periode awal modern menyaksikan dunia yang dipersatukan oleh terbukannya jalur-jalur perdagangan langsung antara Eropa dengan bagian-bagian lain dari penjuru dunia. Hingga abad ke-17, Eropa Barat Laut dan juga Jepang mengalami transformasi besar-besaran menjadi bangsa kapitalis yang membedakan keduanya dengan wilayah-wilayah lainnya di dunia, terutama di wilayah Eropa-Asia. Transformasi ini ditandai oleh munculnya kepincangan di antara negara-negara Eropa di pesisir Samudera Atlantik dengan dunia lainnya, baik dalam hal kekuatan militer, ekonomi, teknologi, penemuan ilmiah maupun harga diri. Di tengah “keajaiban” Eropa tersebut, Jepang menemukan “keajaiban”-nya sendiri dengan meraih kemajuan ekonomi yang berujung pada peningkatan kesejahteraan rakyatnya.[6]

Dalam konteks ini, negara-negara di wilayah Nusantara juga tidak ketinggalan dalam proses transformasi menuju sistem perniagaan global pada abad ke-15 sampai abad ke-17. Hanya saja, kalau Jepang bisa mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa Eropa dalam bidang ekonomi melalui politik isolasi, maka Nusantara mendapatkan dirinya pada kondisi sulit seperti dihadapkan pada buah simalakama yang serba dilematis: pada satu sisi, perniagaan global sangat menjanjikan kemakmuran karena potensi sumber daya alam yang melimpah ruang di wilayah ini semisal sumber rempah-rempah yang sangat dibutukan oleh dunia internasional; sementara di lain sisi, Nusantara dihadapkan pada sisi negatif dari perluasan perniagaan global dan kemajuan pesat di bidang teknologi militer yang berujung pada datangnya ancaman-ancaman penjarahan dan penaklukan.[7]

Terlepas dari persoalan dilematis yang dihadapi oleh negara-negara yang berada di wilayah Nusantara dalam menyongsong era perniagaan global tersebut, di sini bisa dikatakan bahwa penampakan modernitas di wilayah Nusantara sangat terkait erat dengan proses-proses perubahan sosio-budaya sebagai respon terhadap zaman baru yang sudah mulai menyingsing sebelum kedatangan armada-armada Eropa secara aktual. Merujuk kepada Anthony Reid, ahli sejarah asal Australia, terdapat empat faktor penting yang menandai munculnya zaman modern awal di wilayah Nusantara: kemajuan perniagaan, teknologi baru militer, pertumbuhan negara baru yang lebih terpusat dan penyebaran ortodoksi agama-agama kitabiah.[8]

Pertama, kemajuan perniagaan. Perlombaan antara Portrugis dan Spanyol untuk menemukan sumber lada, cengkeh dan pala di wilayah Nusantara merupakan pertanda bahwa Nusantara memiliki posisi penting dalam peta perniagaan global. Pada sekitar 1390-an, tidak kurang dari enam metrik ton cengkeh dan satu setengah metrik ton pala asal Maluku telah berhasil membanjiri pasar Eropa dalam setiap tahunnya. Satu abad kemudian volume perdagangan meningkat menjadi 52 ton cengkeh dan 26 ton pala. Sementara rempah-rempah dari Nusantara di bawa melintasi Samudera Hindia oleh para saudagar Muslim dari berbagai negeri ke pasar-pasar Mesir dan Beirut untuk kemudian dibeli oleh para pedagang Italia, terutama saudagar dari Venesia. Hal ini terus berlangsung hingga abad ke-17 di mana Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Spanyol, Portugal dan India berlomba-lomba untuk membeli produk-produk dari kawasan Nusantara berupa lada, cengkeh, pala, kayu manis, kayu cendana, pernis, sutera dan kulit rusa. Selain sebagai konsumen, mereka datang ke Nusantara juga disertai dengan penjualan barang-barang seperti kain, perak dan sebagainya.[9]

Kedua, teknik-teknik baru militer. Kedatangan bangsa-bangsa asing menawarkan teknologi kemiliteran yang dibutuhkan oleh para pemimpin politik di wilayah Nusantara untuk memperkuat dan mengakumulasikan kekuasaannya. Orang-orang asal Portugis, Turki, Gujarat, Jepang dan Spanyol adalah pihak-pihak yang berhasil menjajakan teknologi kemiliteran di Nusantara berupa senjata api, meriam, kapal perang dengan daya kecepatan tinggi dan pembuatan benteng sebagai teknik pertahanan. Teknologi baru dalam bidang kemiliteran ini telah membantu Demak menjadi kerajaan terkuat di Jawa pada masa Sultan Trenggana (1520-1551) serta mendorong Aceh dan Makassar untuk memperkokoh kekuatannya sehingga berhasil memunculkan kekuasaan terpusat pada awal abad ke-17.[10]

Ketiga, negara baru. Pada masa-masa sebelumnya, Nusantara dikenal sebagai wilayah yang ditandai dengan pluralisme kekuatan politik di mana negara-negara bangkit dan runtuh dalam jangka waktu yang realtif singkat. Namun, munculnya era perniagaan global dan teknik-teknik baru di bidang kemiliteran telah membawa perubahan signifikan bagi lahirnya negara-negara baru yang relatif kokoh dan terpusat. Demikian, Melaka, Gresik, Ternate, Makassar, Banten dan Aceh muncul sebagai negara yang memusat di mana pusatnya terletak di pusat perniagaan di wilayah pesisir laut. Pada gilirannya, keuntungan-keuntungan di bidang perniagaan ini memberikan timbal-balik bagi terakumulasinya kekayaan negara sehingga mampu menciptakan pasukan militer yang kuat dan berteknologi tinggi yang mampu menopang stabilitas negara-negara pesisir tersebut.[11]

Keempat, ortodoksi agama kitabiah. Kemunculan era perniagaan global jelas-jelas membutuhkan kerangka nilai yang sesuai di mana animisme dan dinamisme (dalam kadar tertentu juga Budhisme dan Hinduisme) tidak lagi dianggap memadai. Sebab, ajaran-ajaran yang berorientasi kepada stagnasi dan kejumudan tersebut tidak bisa memberikan dukungan acuan-acuan normatif yang melegitimasi dinamika cepat pada era perniagaan global. Karenannya, Islam dan Kristen muncul sebagai alternatif untuk memberikan kerangka nilai bagi perubahan-perubahan yang terjadi seriing dengan kemunculan era perniagaan global. Proses Islamisasi kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatra, Melaka dan Sulawesi serta Kristenisasi yang terjadi di Nusantara bagian Timur lainnya merupakan bukti nyata yang menandai proses perubahan besar-besaran di wilayah ini.[12]

MATOAYA DAN MASA KEJAYAAN MAKASSAR

Makassar pada abad ke-15 sampai abad ke-17 adalah satu tempat yang memiliki keunikan tersendiri di banding wilayah-wilayah lain di Nusantara. Keunikan-keunikan tersebut terkait dengan beberapa hal berikut. Pertama, karena kekuatan politik di wilayah Sulawesi Selatan relatif tidak terpusat, maka sistem politik yang dibangun di Makassar dan sekitarnya lebih mirip dengan tatanan negara semi-federal yang stabilitas politiknya didasarkan pada kontrak-kontrak politik di antara elemen-elemen kekuatan yang ada. Kedua, karena tidak diberkahi dengan sumber daya alam yang melimpah, Makassar lebih mengandalkan sistem perekonomiannya pada perdagangan bebas. Ketiga, karena tidak pernah mengalami masa-masa kebudayaan Hindu-Budha seperti halnya Jawa dan Sumatera, di Makassar terjadi perubahan budaya secara langsung dari budaya animisme-dinamisme kepada kebudayaan Islam. Namun demikian, catatan menarik dari proses Islamisasi Makassar ini adalah terjadinya pergulatan intelektual dari para elite politik Makassar untuk memilih dua alternatif untuk menggantikan animisme-dinamisme: Islam atau Kristen. Meskipun pada akhirnya Islam yang dipilih, namun terdapat kecenderungan dalam masyarakat Makassar untuk menghargai pluralisme agama, terutama toleransi yang cukup besar bagai keberadaan agama Kristen yang dipeluk orang-orang Eropa yang tinggal di Makassar.

Tatanan Politik

Sebagaimana telah disinggung di atas, keunikan pertama Makassar pada abad ke-15 sampai abad ke-17 adalah posisinya dalam tatanan politik di wilayah Sulawesi Selatan yang ditandai oleh adanya pluralisme kekuatan politik yang didasarkan pada kontrak-kontrak politik di antara elemen-elemen kekuatan yang ada guna mencapai keteraturan dan stabilitas. Secara umum, terdapat dua kelompok etnis besar di Sulawesi Selatan yang satu sama lain saling bersaing, yakni: Makassar dan Bugis. Di satu pihak, supremasi Makassar di topang oleh kerajaan Gowa dan Tallo, sementara di lain pihak, Bugis ditopang oleh kerajaan Bone, Sopeng dan Wajo. Selain terjadi di antara dua kelompok etnis besar ini, juga terdapat persaingan lain yang terjadi di antara masing-masing kerajaan, baik di kalangan etnis Makassar sendiri antara Gowa dan Tallo maupun di kalangan etnis Bugis sendiri antara Bone, Sopeng dan Wajo.

Dalam hal ini, hubungan penting yang perlu dikemukakan dalam tulisan ini adalah hubungan antara kerajaan Gowa dan Tallo yang kemudian membawa Makassar mencapai masa kejayaannya, tidak saja di wilayah Sulawesi Selatan, tapi juga di sebagian besar wilayah Nusantara. Meskipun pada awalnya terjadi persaingan antara Gowa dan Tallo yang disertai dengan berbagai peperangan sengit di antara keduanya, namun akhirnya muncul kesadaran di kalangan elite politik dari kedua kerajaan tersebut untuk mengakhiri persaingan dan peperangan guna menciptakan pedamaian dan kerja sama. Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa Tunipasuru, penguasa ketiga dalam silsilah kerajaan Tallo, mengadakan perjanjian sumpah setia dengan Tumpa’risi Kallona, penguasa kerajaan Gowa yang ekspansionis. Persekutuan antara Gowa dan Tallo tersebut kemudian menjadi langkah awal yang membuat Makkasar dengan cepat menjadi kekuatan dominan di wilayah Sulawesi Selatan.[13]

Kemunculan Makassar sebagai kekuatan dominan di wilayah Sulawesi Selatan tersebut tidak bisa dilepaskan dari proses penyatuan dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh Gowa dan Tallo. Kalau Gowa dikenal sebagai kerajaan yang memiliki keunggulan dalam bidang teknologi kemiliteran, maka Tallo lebih dikenal karena kekuatan perniagaan dan kemampuan dalam hal diplomasi politik. Walaupun posisi kerajaan Gowa dalam persekutuan ini lebih menonjol, namun keberadaan kerajaan Tallo tidaklah bersifat sekunder, melainkan sangat signifikan terutama dalam menentukan urusan-urusan kerajaan. Misalnya, ketika terjadi peperangan antara Gowa dan Tallo dari pihak Makassar melawan kerajaan Bone dari pihak Bugis, Tumenanga ri Makkoayang, raja Tallo, mengambil langkah-langkah diplomasi politik yang cemerlang untuk mengakhiri perang dan membuat perjanjian damai dengan kerajaan Bone. Peran yang dimainkan Makkoayang ini sangat penting dalam menciptakan stabilitas politik di wilayah Sulawesi Selatan yang tidak saja bermanfaat guna menjamin terjadinya perdagangan yang aman dan dinamis, tapi juga untuk mengantisipasi kemungkinan penyerangan oleh kekuatan-kekuatan asing dari Eropa.[14]

Dalam beberapa generasi, hubungan Gowa-Tallo ditandai oleh satu bentuk persekutuan yang cukup aneh di mana raja-raja Tallo senantiasa diangkat sebagai perdana menteri di kerajaan Gowa, meskipun mereka tetap memegang jabatannya sebagai raja Tallo. Misalnya, karena jasa-jasa dan kemampuan diplomasi politiknya, raja Gowa yang berusia muda bernama Tunajallo mengangkat raja Tallo Makkoayang sebagai perdana menterinya. Hubungan politik ini menjadi semakin erat tatkala Tunajallo menikahi I Sambo, anak tertua Makkoayang. Dalam hal ini, kedekatan hubungan Gowa-Tallo dalam persekutuan Makassar, bahkan setelah diikat oleh tali perkawinan di antara mereka, tidak lantas menghilangkan otonomi dari masing-masing kerajaan tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan tradisi politik di wilayah lain di mana dua kerajaan dilebur menjadi satu seiring dengan tali perkawinan di antara dua keluarga raja.[15]

Keinginan untuk tetap mempertahankan otonomi masing-masing kerajaan Makassar ini tampak dari penolakan, baik di kalangan Gowa maupun Tallo, terhadap berbagai upaya peleburan antara kerajaan Gowa dengan kerajaan Tallo. Setelah raja Tallo sekaligus perdana menteri Gowa Makkoayang wafat dan Tunajallo, raja Gowa, terbunuh dalam satu insiden, kemudian I Sambo kembali ke Tallo untuk memimpin kerajaan tersebut dan kekuasaan Gowa diserahkan kepada anak pertama hasil perkawinan Tunajallo dengan I Sambo yang dikenal dengan nama Tunipasulu. Raja muda ini memiliki watak keras kepala, bertabiat buruk dan melakukan tindakan-tindakan yang mengancam otonomi Gowa dan Tallo yang pada masa-masa sebelumnya begitu dihormati. Selain suka membunuh dan melakukan kejahatan-kejahatan lainnya, Tunipasulu juga mengecam adanya pemisahan kekuasaan antara Gowa dan Tallo serta bermaksud menyatukan dua kerajaan ini di bawah kekuasaannya sendiri. Selain itu, Tunipasulu juga merusak perjanjian damai antara Makassar (Gowa-Tallo) dengan kerajaan-kerajaan Bugis yang sudah terbina baik pada masa Makkoayang. Pada masa kepemimpinan Tunipasulu inilah perang Makassar-Bugis kembali berkobar. Kerajaan-kerajaan Bugis membentuk aliansi Tellumpoco yang bertujuan untuk menghancurkan Makassar.[16]

Dalam kondisi seperti ini, muncullah sosok Karaeng Matoaya, yang tidak lain dari adik tiri I Sambo dan juga anak Makkoayang sekaligus paman Tunipasulu, sebagai tokoh Tallo kedua yang berperan besar dalam menyelesaikan masalah-masalah politik di kalangan internal Makassar dan hubungan buruk antara Makassar dengan Bugis. Setalah berhasil menggulingkan raja Tunipasulu dari kursi kerajaan Gowa, Matoaya mengangkat I Mangngarangi, adik kandung Tunipasulu yang masih berusia 7 tahun yang nantinya lebih dikenal dengan nama Sultan Ala’uddin, sebagai raja Gowa. Sementara Matoaya sendiri memegang jabatan perdana menteri di kerajaan Gowa sekaligus raja di kerajaan Tallo. Dalam posisinya itu, Matoaya juga berhasil merehabilitasi perjanjian damai dan membangun kembali persekutuan politik dengan kerajaan-kerajaan Bugis (Bone, Sopeng dan Wajo). Dengan demikian, Matoaya telah mensejajarkan dirinya dengan ayahnya (Makkoayang) sebagai tokoh Tallo yang tidak saja memiliki kedudukan istimewa dalam persekutuan Gowa-Tallo, tapi juga memiliki kecenderungan untuk lebih mengedepankan persekutuan dan perdamaian daripada peperangan dan penaklukan.[17]

Perdagangan Bebas dan Teknologi Militer

Demikian, kekhasan Makassar dalam bidang politik. Selanjutnya, kekhasan Makassar yang kedua terdapat dalam bidang perekonomian. Meskipun tidak diberkahi dengan hasil bumi yang melimpah, Karaeng Matoaya dapat mengoptimalkan potensi Makassar dalam dua hal. Pertama, ia berhasil memanfaatkan satu-satunya hasil bumi Makassar berupa tanaman padi yang terutama banyak diproduksi di daerah Maros. Dengan kecakapannya dalam bidang pemerintahan, Matoaya menjadikan Maros sebagai lumbung padi yang tidak saja dapat mencukupi kebutuhan pangan di Makassar, tapi juga terjadi surplus padi untuk kemudian diekspor ke luar derah.[18] Kedua, melalui bandar pelabuhan yang dimilikinya, Makassar mendapatkan keuntungan yang melimpah ruah dari bidang perniagaan. Pada masa Matoaya ini, Makassar tidak saja menjadi bandar pelabuhan terkuat di wilayah Selawesi Selatan, melainkan juga menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan dalam jalur perdagangan Jawa-Luzon dengan hegemoni mencakup seluruh Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Lombok dan Sumbawa.[19]

Terkait dengan bidang perniagaan ini, Karaeng Matoaya dikenal juga sebagai pemimpin Makassar yang memberlakukan kebijakan pintu terbuka dan perdagangan bebas. Dengan kebijakan ini, Makassar tidak saja berhasil mendapat dukungan dari para pedagang Maluku yang berusaha menghindari cengkeraman Belanda, tapi juga saudagar-saudagar asing. Denmark mendirikan mendirikan loji pada 1612 dan disusul Inggris pada 1613. Sementara kapal-kapal dagang Cina bisa mendarat di pelabuhan Makassar pada tahun berikutnya. Berikutnya, Golconda dan Aceh menaruh agen-agen mereka di kota ini. Tidak mau ketinggalan, orang-orang Portugis menciptakan sebuah koloni cukup besar di Makassar. Begitu pula dengan Spanyol yang menempatkan seorang wakil resmi yang didatangkan dari Manila, Filipina sekitar 1615 dan pada tahun 1640-an.[20]

Tentu saja, keinginan kuat Matoaya untuk mempertahankan Makassar sebagai daerah yang menjamin terselenggaranya perdagangan bebas cukup mengejutkan karena ketika itu wilayah-wilayah lain di Nusantara sarat diwarnai oleh kecenderungan pada monopoli perdagangan. Belanda, misalnya, dengan sekuat tenaga berusaha melakukan monopoli di Maluku dengan melarang pedagan-pedagang lain untuk melakukan perdagangan di daerah yang dikuasainya itu. Hal yang sama juga terjadi dengan Malaka yang dikuasai oleh Portugis. Sementara itu, dalam rangka mengimbangi upaya monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Belanda dan Portugis tersebut, Aceh juga mencoba melakukan monopoli tandingan. Dalam hal ini, keinginan untuk mempertahankan kerja sama perniagaan dengan pihak manapun di bawah panji perdagangan bebas merupakan keunikan yang khas dimiliki Makassar ketika itu.[21]

Namun demikian, bisa dipastikan bahwa kemampuan diplomasi politik saja tidak cukup untuk mempertahankan kerja sama perniagaan dan rezim perdagangan bebas. Sebab, upaya-upaya monopoli yang dilakukan oleh Belanda, Portugis dan juga Aceh tidak akan ditegakkan tanpa adanya kekuatan militer yang menopangnya. Hanya saja, kekuatan militer yang dimilikinya tidak lantas membuat Belanda dengan sembarangan mencoba melakukan monopoli di Makassar. Begitu juga dengan pihak-pihak lain yang sebenarnya juga cukup kuat secara kemiliteran. Kalau demikian, apakah memang Belanda benar-benar tidak ingin memonopoli perdagangan di Makassar yang sangat menguntungkan itu? Atau terdapat faktor lain?

Ternyata, tidak adanya monopoli perdagangan di Makassar yang coba diterapkan oleh kekuatan-kekuatan seperti Belanda dan Portugis disebabkan oleh faktor lain: selain memiliki kemampuan dalam melakukan diplomasi politik, Makassar semasa kepemimpinan Matoaya juga memiliki kekuatan militer yang sangat diperhitungan oleh pihak-pihak lain, termasuk Belanda dan Portugis. Sejarah mencatat bahwa Matoaya adalah seorang pemimpin Makassar yang sadar bahwa perdamaian dan perniagaan bebas hanya bisa tegak dengan ditopang oleh kekuatan militer yang tangguh sebagai pelindungnya. Karenanya, Matoaya tidak segan-segan untuk melakukan penguasaan terhadap teknik-teknik militer yang sebelumnya telah dimiliki oleh bangsa-bangsa Eropa. Namun demikian, setelah memperlajari teknik-teknik militer dari Eropa tersebut, Matoaya secara kreatif melakukan berbagai inovasi-inovasi yang cukup menakjubkan.

Keunggulan teknik militer Makassar terletak pada beberapa hal. Pertama, pembuatan benteng sebagai alat pertahan tatkala diserang oleh musuh. Dengan bantuan Portugis, Matoaya berhasil membangun tembok-tembok batu bata yang dikemudian hari berjasa besar guna menghalau serangan-serangan yang dilancarkan oleh Belanda. Kedua, pengembangan teknologi pembuatan meriam dan senapan-senapan musket. Pengembangan teknologi persenjataan ini juga membuat Matoaya dikenal sebagai pemimpin Makassar yang ahli membuat bubuk mesiu, kembang api, petasan, dan kembang api yang dapat menyala di dalam air. Ketiga, pembuatan kapal-kapal perang. Dengan belajar kepada orang-orang Melayu, Cina, dan Eropa yang hidup di wilayah Makassar, Matoaya berhasil melakukan inovasi dalam bidang teknik perkapalan.[22]

Reformasi Keagamaan

Terakhir, keunikan yang dimiliki Makassar adalah dalam bidang reformasi keagamaan. Lagi-lagi, Karaeng Matoaya cukup dikenal sebagai pemimpin Makassar yang melakukan Islamisasi, meskipun tergolong terlambat di banding negara-negara pesisir lain di wilayah Nusantara. Keterlambatan proses Islamisasi ini dikarenakan oleh dua hal. Pertama, unsur asing yang menetap di Makassar tidak dapat mengusik sama sekali dunia animis Sulawesi Selatan yang sangat kuat. Kalau di daerah lain, animisme tidak dapat bertahan di tengah serbuan kebudayaan baru yang dibutuhkan guna menopang masalah-masalah hukum dan perniagaan, maka Makassar mampu melakukan adaptasi dunia animis ini dalam konteks kosmopolitanisme era perniagaan global. Kedua, kalaupun mau mengambil agama baru, maka Makassar menghadapi dilema untuk mengambil pilihan model Islam/Melayu atau Kristen/Portugis. Sebab, pelaku-pelaku perniagaan di wilayah Nusantara ini banyak berasal dari dua kelompok yang berbeda jenis agama ini. Kalau dengan mengislamkan Makassar, negara ini sangat dipermudah untuk memasuki kancah perniagaan di kalangan pedagang-pedangan Muslim/Melayu menuju dunia yang lebih luas, maka hal yang sama juga berlaku untuk dunia Kristen yang dipeluk oleh saudagar-saudagar Eropa. Dengan demikian, Makassar berada di persimpangan jalan dalam memasuki dunia yang lebih luas antara Islam dan Kristen.[23]

Pada perkembangan berikutnya, pandangan dunia animis Sulawesi Selatan ini tidak bisa selamanya bertahan. Sebab, terdapat banyak kebutuhan-kebutuhan baru dalam bidang hukum dan perniagaan yang tidak bisa lagi disediakan oleh kebudayaan yang berbasis animisme. Karenanya, kebutuhan untuk menentukan pilihan antara Islam atau Kristen semakin mendesak. Maka, atas inisiatif dari Matoaya, kerajaan Gowa (Makassar) mengirimkan surat undangan kepada Aceh untuk mengirimkan ahli teologi Islam dan kepada Portugis yang berkedudukan di Malaka untuk mengirimkan ahli teologi Kristen guna didengar pandangan-pendangan mereka tentang dua agama tersebut. Karena teolog Kristen yang diminta kepada Portugis tidak datang, sementara teolog Muslim dari Aceh bisa datang ke Makassar, maka dengan sendirinya Matoaya dan para pemimpin Makassar lainnya memilih Islam sebagai agama baru setelah mendengar presentasi dari teolog tersebut dan melalui proses pemikiran dan pengkajian yang berulang-ulang terhadap agama baru ini.[24]

Setelah mantap dan yakin dengan apa yang dipilihnya, Matoaya memeluk agama Islam pada 22 September 1605 dan mengganti namanya menjadi Sultan Abdullah Awalul Islam. Tatkala Matoaya memeluk Islam, maka orang-orang terdekatnya pun turut serta memeluk agama Islam. Kemudian, Matoaya melakukan berbagai upaya untuk menyebarkan Islam di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Walaupun orang-orang disekitarnya merekomendasikan penggunaan kekuatan senjata guna menyebarkan Islam, Matoaya sendiri lebih memilih menggunakan suri-tauladan dan persuasi guna menjadikan Islam sebagai agama yang bisa dipeluk oleh orang-orang Makassar. Beberapa waktu kemudian, orang-orang di Makassar secara sukarela mulai memeluk agama Islam, meskipun dalam kehidupan keseharian mereka masih terdapat banyak unsur-unsur pra-Islam yang dilakukan jika di banding masyarakat pesisir lainnya di wilayah Nusantara.[25]

Setelah melakukan proses Islamisasi di wilayah Makassar selama tiga tahun, Matoaya kemudian berupaya untuk menyebarkan Islam kepada orang-orang Bugis. Dalam konteks ini, Matoaya untuk pertama dan terakhir kalinya, menanggalkan kebijakan damai dengan kerajaan-kerajaan Bugis guna sesuatu yang ia yakini lebih besar manfaatnya jika orang-orang Bugis itu masuk Islam. Meskipun pada awalnya kerajaan-kerajaan Bugis menolak masuk Islam dan melakukan perlawanan dalam sebuah perang yang disebut dengan “perang Islam,” tapi akhirnya Matoaya berhasil melakukan Islamisasi di wilayah kerajaan-kerajaan Bugis yang membuat seluruh wilayah Sulawesi Selatan menjadi kerajaan-kerajaan Islam.[26]

Selanjutnya, Matoaya menyelengarakan pertemuan para pemimpin kerajaan di seluruh Sulawesi Selatan untuk membuat kontrak-kontrak politik yang baru. Semua peserta yang hadir dalam pertemuan itu diberikan satu buah cincin sebagai simbol perdamaian. Matoaya sendiri meminta mereka untuk tidak terlibat dalam perselisihan internal karena ancaman-ancaman eksternal siap menggangu. Setelah pertemuan tersebut, hubungan Makassar dengan Bugis menjadi solid dan damai. Berkat konsolidasi yang dilakukan oleh Matoaya tersebut, Makassar kemudian berhasil juga melakukan ekspedisi-ekspedisi, selain untuk tujuan perniagaan juga melakukan Islamisasi, ke wilayah-wilayah di luar Sulawesi Selatan. Di bawah arahan Matoaya, hegemoni Makassar semakin meluas ke hampir seluruh pesisir pulau Sulawesi, termasuk Mandar di daerah utara, pantai timur Pulau Kalimantan, dan daerah Sunda Kecil, mulai dari Lombok bagian Timur sampai sebagian Timor.[27]

Meskipun kegigihan Matoaya terhadap Islam sangat kuat, namun bukan berarti ia tidak memiliki toleransi terhadap agama-agama lain, khususnya Kristen yang banyak dipeluk oleh orang-orang Eropa yang tinggal di Makassar. Pada masa itu, beberapa rahib Fransiskan tiba di Makassar dan diberi ijin untuk melakukan pelayanan-pelayanan Kristen secara terbuka. Terlebih setelah Portugis kehilangan dominasinya di Malaka, maka Makassar kemudian menjadi basis utama bagi ordo-ordo Fransiskan, Jesuit serta Dominikan se-Asia Tenggara. Masing-masing ordo memiliki rumah ibadah sendiri di Makassar, termasuk keberadaan gereja kathedral yang dijalankan oleh bekas Keuskupan Malaka. Bahkan, berkat tingkat toleransi yang cukup tinggi di Makassar, setidak-tidaknya segelintir pemuka Makassar bisa ikut menikmati khotbah-khotbah Kristen.[28]

Selain berhasil membawa Makassar kepada masa kejayaannya, Matoaya juga berhasil mewariskan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada keturunannya di mana salah seorang anaknya juga akan menjadi tokoh besar Makassar yang tidak kalah dari sang ayah dalam hal kebijaksanaan. Anak tersebut adalah Karaeng Pattingaloang yang akan menjadi pokok bahasan pada bagian berikut.

PATTINGALOANG DAN MERCUSUAR PERADABAN ABAD KE-17

Setelah Matoaya (raja Tallo dan perdana menteri Gowa) serta anak didiknya Alauddin (raja Gowa) meninggal, maka kursi kerajaan Gowa diserahkan kepada putra sulung Alauddin berusia 30 tahun bernama Mohammad Said. Ketika Mohammad Said akan diangkat menjadi raja, konon ia mengatakan kepada para pejabat tinggi kerajaan bahwa ia akan menerima tahta jika Pattingaloang “duduk mendampingi saya dalam pemerintahan dan memimpin rakyat sebagai satu kesatuan.” Sejak saat itu, Pattingaloang meneruskan tradisi keluarga kerajaan Tallo yang menjadi bagian penting dalam masalah pemerintahan, militer dan diplomasi politik kerajaan Gowa. Sebagaimana kakek (Makkoayang) dan ayahnya (Matoaya), Pattingaloang merupakan orang Tallo ketiga yang menjadi perdana menteri di kerajaan Gowa.[29]

Sejak masa mudanya, Pattingaloang adalah seorang pemuda yang cerdas, mahir berbahasa Portugis dan Spanyol, selain bahasa Melayu dan Makassar. Selain itu, ia juga mewarisi rasa keingintahuan ayahnya yang besar dalam segala bidang. Hal ini terbukti, misalnya, dengan tindakannya yang meminta Inggris untuk mengirimkan penemuan-penemuan terbaru dalam bidang perkapalan yang ada di Inggris. Tentang hal ini, Alexandre de Rhodes, seorang misionaris Katolik yang ada di Makassar, memberikan catatan khusus:

Gubernur tinggi seluruh kerajaan ini…bernama Carim Patengaloa, yang saya perhatikan sangat arif bijaksana, dan terlepas dari agamanya yang jelek, dia adalah orang sangat jujur. Dia mengetahui dengan amat baik semua misteri kita, telah membaca secara seksama semua kronik raja-raja di Eropa. Dia senantiasa memegang buku di tangannya, khususnya yang bersangkut-paut dengan ilmu pasti, yang dikuasainya dengan cukup baik. Dia memiliki semacam gairah pada semua cabang ilmu, yang dipelajarinya di siang …dan malam hari. Jika orang mendengar dia berbicara tanpa langsung melihat dirinya, orang bisa menyangkanya orang Portugis asli karena dia memakai bahasa ini sefasih orang-orang dari Lisbon.[30]

Selain minatnya yang besar kepada ilmu pengetahuan yang menjadikannya sebagai orang pertama di Asia Tenggara yang memahami betul ihwal pentingnya ilmu matematik bagi ilmu-ilmu terapan, Pattingaloang juga berupaya sangat keras untuk senantiasa mengikuti inovasi-inovasi teknik Eropa. Tentang hal ini, de Rhodes juga memberikan catatan:

Karena tahu dia suka berbicara soal matematika, maka saya mulai memperbincangkan hal itu dengan dia, dan atas kehendak Tuhan dia memperoleh kesenangan di bidang ini. Seperti biasa, dia menghendaki saya tetap tinggal di istana setelah percakapan usai.

Secara kebetulan saya mengemukakan kepadanya sebuah ramalan tentang gerhana bulan beberapa hari kemudian terjadi. Saya menggambarkan gerhana tersebut tepat seperti yang disaksikannya kemudian. Hal itu amat memukaunya, sehingga dia menginginkan saya untuk mengajarkan segenap rahasia ilmu pengetahuan. Sebenarnya saya ingin mengajarkan dia ilmu mencapai surga daripada pengetahuan tentang peredaran bintang-bintang, sehingga setiap kali berjumpa seakan saya ingin menumpahkan segala hal yang mungkin mengerakan dia berpindah agama, dan sekalipun dia kadang-kadangmengalihkan topik pembicaraan, saya selalu kembali kepada tujuan itu…

Sewaktu saya kembali ke rumah, dia mengirimkan orang Portugis yang merupakan salah satu kepercayaannya, yang menyampaikan kepada saya ribuan pertanyaan bersahabat atas nama dia dan memberikan berbagai hadiah bersama sebuah pesan tentang karangan-karangan menarik yang dia minta dibawakan dari Eropa, dan akhirnya ditambahkan bahwa dia sangat ingin melihat saya kembali ke sini dan memohon dengan sangat agar saya singgah lagi di wilayah kekuasaannya, tempat saya senantiasa mendapatkan bukti tentang penghargaan tinggi yang selama ini diberikannya. Saya merasa senang dengan ucapannya itu dan membalasnya dengan cara serupa.[31]

Terdapat bukti-bukti lain yang menunjukan kegemaran Pattiangaloang terhadap ilmu pengetahuan yang bersifat ensiklopedis dan teknologi mutakhir. Hal ini tampak dalam surat-surat yang disampaikan atas nama kesultanan Gowa kepada Pemerintah Belanda di Batavia. Dalam surat yang diserahkan tanggal 3 Agustus 1641, sultan minta dikirimi “lonceng yang bunyinya bagus, beratnya sampai lima pikul” dan agar dia diberi tahu harganya. Dalam surat lain tanggal 4 Juni 1648, Karaeng Pattingaloang memberi tahu Gubernur Jenderal, “bahwa ia mengharapkan menerima sepasang unta, jantan dan betina”, dan menambahkan juga bahwa ia bersedia membayarnya.[32]

Pesan penting lainnya yang menarik adalah surat panjang yang dibawa ke Batavia tanggal 22 Juli 1644 di mana Karaeng Pattingaloang menyertakan sebelas bahar kayu cendana seharga 60 real tiap bahar sebagi uang muka dan meminta: “Yang pertama, dua bola dunia yang kelilingnya 157 hingga 160 inci, terbuat dari kayu atau tembaga, untuk dapat menentukan letak Kutub Utara dan Kutub Selatan; yang kedua, sebuah peta dunia yang besar, dengan keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis dan Latin; yang ketiga, sebuah atlas yang melukiskan seluruh dunia dengan peta-peta yang keterangannya ditulis dalam bahasa Latin, Spanyol dan Portugis; yang keempat, dua buah teropong berkualitas terbaik, yang bagus buatannya, dengan tabung logam yang ringan, serta sebuah suryakanta yang besar dan bagus; yang kelima, dua belas buah prisma segitiga yang memungkinkan untuk mendekomposisi cahaya; yang keenam, tiga sampai empat puluh buah tongkat baja kecil; yang ketujuh, sebuah bola dari tembaga atau baja.[33]

Dari berbagai pesanan yang tertulis dalam suratnya, Pattingaloang tampak sebagai orang yang tidak lazim bagi zaman dan tempatnya di wilayah Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Ia sangat bergairah untuk mendalami “ilmu-ilmu yang di Eropa sendiri masih baru.” Dalam satu catatan, disebutkan bahwa Pattiangaloang sangat tertarik untuk membeli “Teleskop Galileo” melalui orang-orang Inggris. Dan pada tahun 1652, teleskop yang terkenal tersebut dibawa ke Makassar dan dibeli dengan harga yang sangat tinggi. Kalau melihat catatan bahwa teleskop tersebut baru dibuat untuk pertama kalinya oleh Galileo pada tahun 1609, maka bisa disimpulkan bahwa Pattingaloang telah memegang “Teleskop Galileo” tersebut hanya berselang 41 tahun sejak ditemukannya benda tersebut. Artinya, Pattingaloang adalah orang Makassar yang senantiasa tidak mau ketinggalan untuk mengikuti perkembangan mutakhir ledakan ilmu pengetahuan zaman Renaissance.[34]

Ketidaklaziman Pattingaloang ini juga sangat mengherankan para peneliti masa kini dan membuat mereka takjub yang dipernuhi rasa hormat. Robert Cribb menulis:

…salah satu dari sedikit pemimpin pribumi yang menggumi peradaban Barat adalah Karaeng Pattingaloang, menteri utama di negara Goa di Sulawesi Selatan dari tahun 1639 sampai 1654. ia sempat menguasai lima bahasa Eropa, mengumpulkan buku dan peta dari Eropa, dan menyuruh menerjemahkan karya-karya Eropa tentang ilmu altileri ke dalam bahasa lokal guna meningkatkan keterampilan aparat militernya.

Perhatian Pattingaloang terhadap dunia Barat sangat tak lazim dilihat dari sudut agamanya. Dia seorang Muslim. Padahal, Islam sebagai pusat teladan lebih menarik ketimbang dunia Barat. Kekaisaran Ottoman sedang mengalami masa jayanya, dan komunikasi perdagangan langsung antara Nusantara dengan jazirah Arab telah menjadi saluran penting bagi pedagang dan penyebar agama Islam yang secara aktif mengajar orang lain supaya memeluk agama mereka. Akhir abad keenam belas merupakan masa jaya pengetahuan Islam di Asia Tenggara, di mana Mekah, Kairo dan Istambul merupakan titik acuan eksternal yang paling penting. Baik Portugis maupun Belanda tidak dapat menyaingi Islam dalam soal daya tarik kultural yang luas.[35]

Pada abad ke-17 ini, Pattinggaloang adalah mercusuar peradaban. Rasa ingin tahunya yang menggebu-gebu disertai dengan cara berpikirnya yang rasional telah berpengaruh pada terciptanya sebuah budaya baru. Salah satu budaya baru yang tercipta pada masa Pattingaloang ini adalah: pertama, terjadinya penterjemahan buku-buku tentang teknik Eropa ke dalam bahasa lokal. Di antaranya, naskah berbahasa Spanyol tentang persenjataan abad ke-16 yang ditulis oleh “Andreas dari Monyona” telah diringkas dalam bahasa Makassar pada 1635 dan kemudian diterjemahkan secara lengkap pada 1652. beberapa naskah tentang senjata api, serbuk mesiu, dan pembuatan bedil diterjemahkan dari bahasa Spanyol, Portugis, Turki dan Melayu. Kedua, munculnya tradisi penulisan. Tradisi ini dikenal karena kelengkapan catatan-catatan hariannya tentang berbagai peristiwa penting. Kalau pada masa sebelunya, catatan-catatan sejarah tersebut dibuat beberapa waktu yang cukup lama setelah kejadiannya berlangsung, maka pada masa Pattiangaloang pencatatan tersebut dilakukan tepat pada kejadian sedang berlangsung.[36]

Di luar bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, Pattingaloang juga dikenal sebagai perdana menteri yang mewarisi keahlian ayahnya Matoaya. Dia selalu mampu menyelesaikan persoalan-persoalan pemerintahan, baik internal maupun ekternal. Disebutkan dalam sebuah catatan bah a Pattingaloang menjalin hubungan dengan orang Portugis yang amat dibenci Belanda, namun orang-orang Belanda memperlakukan dia dengan penuh hormat. Catatan tersebut berbunyi seperti berikut:

Dia mengatur kerajaan dan bisa memberikan manfaat yang menguntungkan atau merugikan kita, sementara Raja menghabiskan sebagaian besar wakatunya untuk beranjang-sana dan berjudi…Kareng Pattingaloang menjalin hubungan akrab dengan Vlamingh dan banyak membahas kebijakan perdamaian antara Portugal dan tahta Spanyol, dia memperlihatkan diri sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan sangat luas dalam hal ilmu pasti dan memahaminya penuh kearifan.[37]

Juga terdapat sebuah catatan yang menyebutkan bahwa periode perdamaian antara VOC dengan Gowa-Tallo 1637 sampai 1654 sebagian besar karena kearifan dan efektivitas pemerintahan Pattingaloang. Dia selalu membuka pintu bagi datangnya utusan-utusan Belanda dengan cara yang amat baik dan berusaha keras untuk meyakinkan mereka bahwa perang akan jauh lebih berbahaya bagi kedua belah pihak ketimbang perdamaian. Pada masa ini, Pattingaloang lagi-lagi mewarisi ketenaran ayahnya dalam hal diplomasi politik.[38]

Di antara sekian banyak aspek dalam sepak terjang Pattingaloang, terdapat juga masalah menarik ihwal agama. Meskipun dia seorang Muslim, tapi Pattingaloang sangat tertarik untuk mengetahui teologi Kristen. Lagi-lagi Alexander de Rhodes memberikan kesaksian:

Dia sangat memahami segala segi ajaran agama kita, dan dia kerap memperdebatkannya dengan orang yang menganut kepercayaan lain serta mematahkan semua pendapat mereka…

Saya bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan orang ini bagi Kristus, karena perpindahan agama seluruh kerajaan tergantung kepadanya. Dia tidak pernah menolak saya, tapi dia juga tidak pernah berubah menjadi lebih baik. Saya tidak pernah bisa menemukan harus mulai dari mana karena segala sisi kehidupannya tidaklah buruk. Dia tidak pernah terlibat masalah dengan perempuan. Saya hanya bisa menyimpulkan bah a saya adalah seorang pendosa besar yang membawa sebuah tuga sedemikian berat yang bisa membuahkan hasil.

Ketika hampir tiba waktu pulang, sekali lagi saya mengunjunginya untuk memecahkan masalah keselamatan jiwanya. Saat berpamitan, saya berkata-kata penuh beruarai air mata dan menuturkan cukup banyak alasan yang sekiranya dapat menyentuh hatinya, namun sesudah saya selesai bertutur panjang lebar dia menjawab tidak lebih dari beberapa kata, “Baiklah, Bapa, anda telah melaksanakan tugas dengan baik sekali.” Setelah itu dia membungkukan badan berkali-kali dan mencium saya berulang-ulang, namun tentang soal terpenting itu dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.[39]

Pada 15 September 1654, Pattingaloang wafat (tanggal wafatnya tersebut juga menunjukan bahwa ia telah meninggal tatkala Makassar ditaklukan oleh Belanda) dan meninggalkan seorang anak laki-lai yang cerdas dan cakap bernama Karaeng Karunrung (1631-1685). Selain mewarisi kerafian, Karunrung juga mewarisi perpusataakan milik ayahnya yang berisikan buku sangat banyak dalam berbagai bahasa. Hanya saja, Karunrung tidak memiliki kesempatan yang sama seperti yang telah didapat para leluhurnya dari Tallo. Raja Gowa yang Baru yang dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin mengumumkan bahwa jabatan perdana menteri akan dia pegang sendiri. Demikian, pada masa Sultan Hasanuddin ini, pembagian kekuasaan semi-konstitusional yang menjadi pijakan kebangkitan Makassar selama 60 tahun tiba pada ujungnya. Kemudian, Makassar terjatuh kepada apa yang dialami oleh kerjaan-kerajaan lainnya di Nusantara di mana terjadi pemusatan kekuasaan di tangan penguasa yang bertindak sewenang-wenang dan kerap kali tidak memiliki batasan kekuasaan yang jelas. Akhirnya, Makassar takluk di tangan Belanda pada 1660-1669 di mana Makassar sudah tidak lagi memiliki kesatuan dan wawasan dalam menghadapi berbagai ancaman yang menghadang.[40]

PENUTUP

Kisah tentang masa Kejayaan Makassar abad ke-17 di mana dua orang bijak Karaeng Matoaya dan Karaeng Pattingaloang memainkan peran yang sangat penting. Matoaya meletakan fondasi bagi kebebesaran Makassar. Ia memanfaatkan tatanan politik yang terdesentrelasi (yang mana di daerah lain cenderung mengarah kepada konflik) untuk melakukan kontrak-kontrak sosial politik demi perdamaian. Berkat perdamaian yang terjadi di Makassar dan wilayah Sulawesi Selatan secara umum, maka tercipta sebuah suasan kondusif bagi kerja sama antara-kelompok dan antar-bangsa. Terlebih, Matoaya menerapkan kebijakan perdagangan bebas sehingga menjamin semua pihak untuk bisa berniaga secara aman di Makassar. Akibatnya, Makassar mendapatkan keuntungan yang melimpah ruah dari perniagaan ini. Maakssar sendiri ikut terlibat dalam perniagaan ini dengan mengandalkan surplus beras sebagai kunggulan komparatifnya. Pada masa itu, Makassar menjadi pusat perniagaan terpenting di zona perdagangan Jawa-Luzon dengan hegemoni yang luas mencakup hampir seluruh Seulawesi, pantai Timur Sulawesi, dan derah Sunda Kecil. Tentu saja, sebagaimana Max Weber, proses tranformasi sosial, ekonomi dan politik senantiasa memiliki hubungan elective affinity dengan bidang kebudayaan yang dalam hal ini adalah agama. Karena animisme dianggap sudah tidak memadai lagi guna menyediakan kerangka orientasi nilai bagi era perniagaan global yang melanda Makassar, maak Matoaya dengan bijak mengambil pilihan agama Islam sebagai agama yang ia peluk sendiri dan ia sebar luaskan ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Karaeng Pattingaloang menggunakan kekayaan yang melimpah ruah sebagai hasil dari perniagaan tersebut guna mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dia adalah orang yang memiliki minat ensiklopedis kepada semua bidang ilmu pengetahuan. Bahkan, dengan kemampuan lima bahasa yang dimilikinya, dia mengupayakan berbagai penterjemahan naskah-naskah yang berbahasa Eropa dalam bidang ilmu dan teknologi kepada bahasa Makassar. Selain itu, dia juga berupaya mendatangakan temuan-temuan terbaru teknologi semasa Renaissance Eropa semisal “Teleskop Galileo” selang 49 tahun sejak benda itu dibuat oleh Galileo. Pattingaloang juga orang Makassar yang sangat peduli terhadap upaya pengkajian perbandingan agama, khusuanya Islam dan Kristen. Dia adalah mercusuar peradaban abad ke-17.

Kemunculan peradaban yang begitu tinggi di Makassar abad ke-17 di bawah arahan Matoaya dan Pattingaloang dengan sendirinya akan mengundang kita untuk memunculkan pertanyaan hipotetis: senadainaya saja karajaan-kerajaan maritim di Nusantara seperti Makassar ini dapat terus mempertahankan peradabannya itu, tanpa terjebak dengan konflik internal yang mengarah pada dekadensi peradaban sehingga tidak mengalami penaklukan dan kolonialisasi oleh bangsa-bangsa Eropa, apakah akan muncul suatu bentuk pencerahan dan visi modernitas yang khas Nusantara?

DAFTAR PUSTAKA

Emerson, Donald K. (Ed.), Indonesia Beyond Suharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi, terj. Perikles Kattopo dan Arya Mahardika, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001)

Lombard, Denys, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid I: Batas-batas Pembaratan), terj. Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat dan Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005)

_______, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid II: Jaringan Asia), terj. Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat dan Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005)

_______, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid III: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris), terj. Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat dan Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005)

Reid, Anthony, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, terj. Sori Siregar, Hasif Amini dan Dahris Setiawan, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2004)

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004, terj. Satrio Wahono dkk., (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2005)

 


 

[1] Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, terj. Sori Siregar, Hasif Amini dan Dahris Setiawan, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2004), h.

[2] Ibid., h. 166.

[3] Ibid.

[4] Ibid., h. 167.

[5] Keistimewaan Karaeng Pattingaloang ini memaksa Denys Lombard untuk membuat catatan khusus tentang raja Tallo abad ke-17 tersebut dalam tiga jilid buku yang sebenarnya dimaksudkan untuk mengkaji sejarah Jawa. Lih. Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid I: Batas-batas Pembaratan), terj. Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat dan Nini Hidayati Yusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), h. 128-131.

[6] Lih. Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, h. 1.

[7] Ibid., h. 4.

[8] Ibid., h. 9.

[9] Ibid., h. 10.

[10] Ibid., h. 11-14.

[11] Ibid., h. 14-15.

[12] Ibid., h. 15-16.

[13] Ibid., h. 168.

[14] Ibid., h. 169.

[15] Dalam tahun ketiga peperangan antara Gowa-Tallo dengan Bone, raja Gowa Tunipalangga tewas terbunuh. Selanjutnya, saudara laki-laki Tunipalangga mengambil-alih pimpinan pasukan, tetapi juga tewas dalam pertempuran empat puluh hari kemudian. Akhirnya, Tumenanga ri Makkoayang, raja Tallo, segera mengambil-alih pimpinan pasukan. Dia mengatur peralihan kekuasaan kepada Tunijallo’ yang baru berusia 21 tahun, seorang anak sulung raja Gowa yang terbunuh itu. Di bawah pimpinan raja muda ini, Gowa-Tallo melakukan perjanjian damai dengan Bone. Makkoayang mendukung Tunijallo’ muda untuk menduduki tahta Gowa sambil menikahkannya dengan salah seorang anak perempuannya bernama I Sambo. Karena rasa hormat terhadap Makkoayang, raja Gowa berusia muda ini kemudian mengangkat Makkoayang menjadi perdana menteri kerajaan Gowa sambil tetap memegang kedudukannya sebagai raja Tallo. Sejak saat itu, penguasa-penguas Tallo senantiasa memainkan peranan diplomatis yang sangat penting, tidak saja dengan kerajaan-kerajaan Bugis, tapi juga kekuatan-kekuatan lain di wilayah Nusantara. Tentang hal ini, lih., Ibid.

[16] Ibid., h. 171-172.

[17] Tentang hal ini, terdapat kronik kronik Wajo yang juga menggambarkan kecenderungan pada perdamaian dan kemampuan diplomasi politik yang dimilikinya. Diceritakan bahwa Matoaya dengan rendah hati melakukan perjalanan ke Wajo (Bugis) untuk meluluhkan hati Arungmatoa (raja terpilih) yang sudah uzur, namun masih dihormati:

Matoaya berkata: “Bapak, saya harus datang ke mari, karena dikatakan bahwa Anda adalah seorang pahlawan, bahwa Anda telah mencapai umur panjang, dan bahwa tanaman-tanaman Anda selalu memberi hasil panen berlimpah-ruah, bahwa Anda memiliki banyak anak dan cucu. Sudilah kiranya Anda menerima kenang-kenangan kecil dari saya, dua gelang tangan, dan menerima saya sebagai anak Anda, dan mengajari saya, semoga kita beruntung; [katakanlah] bagaimana saya juga dapat mencapai umur panjang, menghasilkan panen berlimpah, dan memperoleh anak cucu, karena saya adalah Karaeng yang menangani urusan-urusan negeri Gowa. Arungmatoa [dari Wajo], To U’da berkata, “Bagaimana mungkin kehendak Tuhan dapat ditebak, agar kita bisa memperpanjang umur dan memperoleh panen berlimpah? Tentang keinginanmu agar dianggap sebagai anak, ini hanya bisa saya penuhi apabila Gowa dan Wajo telah bersekutu.” Karaeng Matoaya membalas, “Justru alasan itulah yang membuat saya harus datang ke mari, karena saya ingin menyatukan tanah-tanah Gowa dan Wajo dalam satu persekutuan, dan juga karena saya ingin diterima sebagai anak Anda.” Arungmatoa berkata: “ Tuhan yang satu (Dewata) menjadi saksi akan hal ini. Saya berkata kepadamu begini: karena saya bersikap jujur kepada Tuhan dan sesama manusia, maka saya dikaruniai umur panjang dan memperoleh anak-cucu. Dan saya mendapat penen padi yang baik karena saya tidak pernah mengancam Tuhan.” Karaeng Matoaya bertanya: “Bapak, apa artinya bersikap baik kepada Tuhan dan sesama kita?” Arungmatoa menjawab, “Inilah sikap jujur saya kepada Tuhan: bahwa kita jangan berbuat jahat terhadap apa yang telah diciptalan-Nya. Jika kita berbuat terhadap ciptaan-Nya, Tuhan akan marah kepada kita. Dan inilah cara saya bersikap baik kepada sesama: jika mereka berbuat jahat kepada kita, kita memaafkan dan menegur mereka, karena kita sesama manusia sesungguhnya tidak ingin berbuat jahat satu sama lain. Jika saya pergi berperang, saya berdoa kepada Tuhan, maka perang itu pun terjadi sesuai kehendak-Nya. Dan tidak mengancam Tuhan adalah ini: telah mantap dalam hati kita bahwa kita hanya ada karena Tuhan menciptakan kita; telah mantap di hati kita hanya bisa melakukan sesuatu bila kita yakin Tuhan mengizinkannya.” Tentang hal ini, lih. Ibid., h. 173.

[18] Keberhasilan Matoaya ini tercatat dalam satu sumber Belanda berikut:

Di seluruh penjuru negeri di setiap kota dan pasar, dia telah mendirikan lumbung-lumbung kukuh penuh beras, yang baru boleh dijual setelah hasil panen berikutnya, agar tidak terjadi kelangkaan pangan di saat-saat paceklik. Dia sangat rajin menghimbau perdagangan ke negerinya. Di ujung mata-rantai ini, dia menempatkan seorang agen di Banda yang setiap tahun dikirimi beras, pakaian, dan segala sesuatu yang diperlukan di sana demi memasukan sebanyak mungkin bunga pala ke negerinya, dan dengan demikian mendekatkan para saudagar kepadanya (Hagen 1646: 82).

Pada masa Matoaya ini, pedagang-pedagang Melayu, khususnya dari Patani dan Johor, yang jumlahnya bertambah banyak menjadikan Makassar sebagai pangkalan untuk mendapatkan beras yang ditukar dengan pala, bunga pala, dan cengkeh Maluku yang saat itu merupakan barang-barang perdaganagan dunia yang amat penting. Karenanya, surplus beras yang terjadi di Makassar ini memungkinkan perdagangan rempah-rempah yang berbasis di Makassar pada awal abad ke-17. Selain para pedagang dari Melayu tersebut, orang-orang Pertugis juga memanfaatkan surplus beras di Makassar tersebut sebagai sumber untuk perdagangan di Malaka dan Maluku. Hal ini terjadi karena Portugis kehilangan pangkalan yang sangat mereka andalkan di Jawa ketika Belambangan jatuh ke tangan pasukan Muslim. Karenanya, sumber beras yang ada di Makassar telah menjadi pilihan Portugis yang masuk akal guna menjadikan Makassar sebagai pangkalan baru yang aman dalam rangka pembelian pala dan cengkeh yang amat mereka butuhkan. Lih. Ibid., h. 176-177.

[19] Ibid., h. 175.

[20] Ibid., h. 179.

[21] Ibid., h. 178-179.

[22] Selain melakukan inovasi dalam bidang teknik kemiliteran, Matoaya juga cukup ahli dalam pengembangan teknik pencetakan uang emas dan mata uang dari timah putih. Dengan demikian, di bawah kepemimpinan Matoaya, Makassar merupakan satu-satunya negara prakolonial di Asia Tenggara, selain Aceh, yang sanggup mencetak mata uang emas sendiri dan juga uang logam. Keberadaan uang ini sangat penting sebagai alat tukar dalam perniagaan dan akumulasi modal. Tentang hal ini, lih. Ibid., h. 181-182.

[23] Ibid., h. 183.

[24] Ibid., h. 184.

[25] Ibid., h. 186.

[26] Ibid., h. 186-187.

[27] Ibid., h. 189.

[28] Ibid., h. 191.

[29] Ibid., h. 193.

[30] Ibid., h. 194.

[31] Ibid., h. 195.

[32] Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid I: Batas-batas Pembaratan), h. 129.

[33] Ibid., h. 130.

[34] Pesanan itu dikirim ke Belanda dengan kapal yang berangkat pada bulan Desember tahun itu juga, namun setelah tiga tahun ditunggu-tunggu, barulah barang-barang pertama diterima oleh Pattingaloang. Pada tanggal 15 November 1650, barang-barang langka tersebut dikirim ke Makassar. Lih. Ibid., 130.

[35] Lih. Robert Cribb, “Bangsa: Menciptakan Indonesia” dalam Donald K. Emerson (Ed.), Indonesia Beyond Suharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi, terj. Perikles Kattopo dan Arya Mahardika, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), h. 13-14.

[36]Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, h. 197-198.

[37] Ibid., h. 199.

[38] Ibid.

[39] Ibid., h. 200.

[40] Ibid., h. 203.

 

3 Tanggapan to “Dua Orang Bijak dari Makassar Abad Ke-17: Karaeng Matoaya dan Karaeng Pattingaloang”

  1. aditia said

    punya sumber tentang karaeng matoaya ga, soalnya saya tertarik dengan profil beliau. mohon bantuannya ya.

  2. aditia said

    kak iiqbal, punya sumber tentang karaeng matoaya ga?soalnya saya tertarik dengan profil raja tersebut.bales ya…makasih

  3. Abd.Kadir Syam said

    Info yang mantap……semoga makin banyak orang seperti anda yang mau berbagi info tentang sejarah Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: