Iqbal Hasanuddin

THERAVADA DAN MAHAYANA: TELAAH ATAS DUA ALIRAN UTAMA AGAMA BUDDHA DI INDIA

Posted by iqbalhasanuddin pada Oktober 1, 2016

PENGANTAR

India adalah saksi bagaimana Buddhisme lahir, menjadi agama besar, namun akhirnya kembali menjadi agama minoritas. Kemunculan Buddhisme pada kurun antara 560 s.d. 600 S.M. tidak bisa dilepaskan dari sosok Siddharta Gautama yang mendapatkan pencerahan spiritual pada usia sekitar 30 tahun untuk kemudian menyebarkan ajarannya ke seluruh pelosok India selama 45 tahun.[1] Kemudian, Buddhisme menjadi agama terbesar di India berkat kepemimpinan raja Asoka pada 273 sampai 231 S.M.[2] Lantas, karena beberapa faktor yang sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan, Buddhisme mulai kehilangan daya tariknya di kalangan orang-orang India mulai 232 S.M.[3]

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab redupnya daya tarik Buddhisme di India? Apakah perpecahan yang terjadi di antara Theravada dan Mahayana menjadi penyebab utama redupnya daya tarik Buddhisme di India? Apakah orientasi Theravada pada kehidupan biara telah menyebabkan Buddhisme menjadi sangat elitis sehingga kurang bisa menyentuh hati mayoritas masyarakat awam India? Atau apakah orientasi mistik dan sinkretik Mahayana telah mendorong orang-orang India untuk tetap berada di dalam Hinduisme? Bagi orang-orang India, jika Mahayana menawarkan ajaran berorientasi mistik yang sama dengan tradisi Hinduisme, lantas atas dasar apa mereka merasa harus keluar dari Hinduisme dan menjadi pemeluk ajaran Sang Buddha?

Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyan itu melalui analisis atas munculnya aliran Theravada dan Mahayana di dalam Buddhisme, serta karakteristik khasnya masing-masing. Secara khusus, tulisan ini mencoba menunjukan dua hal. Pertama, dua dimensi pencerahan Sang Buddha yang ikut memberi andil dalam kemunculan kedua aliran tersebut. Kedua, munculnya kedua aliran tersebut menjadi tanda adanya hubungan dialektis antara Buddhisme dengan tradisi keagamaan dan filsafat India. Pada satu sisi, Buddhisme berhasil menyerap ajaran-ajaran India kuno untuk kemudian memperbaharuinya. Namun demikian, di lain sisi, Buddhisme juga dipengaruhi kembali oleh praktik-praktik keagaamaan serta filsafat India yang pada giliranya ikut mendorong munculnya Theravada dan Mahayana. Baca entri selengkapnya »

Posted in Article | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

FALSAFAH ISLAM DALAM EMPAT PERTANYAAN

Posted by iqbalhasanuddin pada Oktober 1, 2016

Pengantar

Dua hal yang perlu dijelaskan di awal tentang Falsafah Islam adalah persoalan istilah dan definisi. Terkait istilah, perlu diklarifikasi terlebih dahulu istilah manakah yang tepat untuk dipakai di antara “falsafah” ataukah “filsafat” di dalam penggunaannya dalam bahasa Indonesia untuk merujuk kepada kegiatan berpikir falsafi. Hal lain yang memerlukan juga penjelasan adalah penggunaan istilah “hikmah” untuk menyebut falsafah sebagaimana digunakan oleh Suhrawardi dan Mulla Shadra misalnya. Selain tentang peristilahan tersebut, hal lainnya yang sejatinya dijelaskan dari permulaan adalah soal definisi dan konsepsi Falsafah Islam sendiri: Apakah yang dimaksud dengan Falsafah Islam? Mengapa tidak menggunakan istilah Falsafah Arab? Mengapa bukan Falsafah Muslim? Apakah Falsafah Islam itu semata-mata terkait dengan pembahasan agama Islam dari sudut pandang falsafi atau mencakup juga pembahasan tema-tema pokok falsafah pada umumnya yang bersifat universal?

Makalah ini mencoba menjelaskan istilah, definisi dan konsepsi Falsafah Islam dengan tujuan untuk menentukan keabsahan posisinya sebagai bidang kajian yang khas dalam kajian-kajian sejarah falsafah dunia pada umunya. Secara khusus, makalah ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Falsafah Islam bukanlah Falsafah Yunani yang berbaju Arab. Falsafah Islam memang banyak dipengaruhi oleh Falsafah Yunani. Namun sejarah menunjukkan bahwa Falsafah Islam juga merumuskan persoalan-persoalan falsafinya sendiri yang khas berdasarkan konteks budaya dan pandangan dunia Islam. Baca entri selengkapnya »

Posted in Article | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

TEORI KEADILAN: TELAAH ATAS PEMIKIRAN JOHN RAWLS

Posted by iqbalhasanuddin pada Juni 27, 2014

PENGANTAR

John Rawls (1921-2002) adalah seorang pemikir yang memiliki pengaruh sangat besar di bidang filsafat politik dan filsafat moral. Melalui gagasan-gagasan yang dituangkan di dalam A Theory of Justice (1971), Rawls menjadikan dirinya pijakan utama bagi perdebatan filsafat politik dan filsafat moral kontemporer. Para pemikir setelah Rawls hanya punya dua pilihan: Menyetujui atau tidak menyetujui Rawls. Tidak ada pilihan untuk mengabaikan Rawls sama sekali. Hal ini dikarenakan jangkauan pemikiran Rawls yang sangat luas dan dalam, yakni: Upaya untuk melampaui paham utilitarianisme yang sangat dominan di era sebelum Rawls serta merekonstruksi warisan teori kontrak sosial dari Hobbes, Locke dan Kant sebagai titik tolak untuk merumuskan sebuah teori keadilan yang menyeluruh dan sistematis (Daniels: 1971).

Sebagai ilustrasi atas pengaruh besar Rawls dalam bidang filsafat politik dan filsafat moral tersebut, ada baiknya bila kata-kata dari Robert Nozick, seorang filsuf politik sezaman dan sekaligus kritikus paling utama bagi pikiran-pikiran Rawls, dikemukakan di sini:

A Theory of Justice adalah sebuah karya filsafat politik dan filsafat moral yang kuat, mendalam, subtil, luas, sistematik, yang tidak pernah terlihat lagi semenjak karya-karya John Stuart Mill, atau sebelumnya. Buku ini merupakan sumber mata air ide-ide, terintegrasi bersama dalam satu kesatuan yang bagus. Para pemikir filsafat politik sekarang harus bekerja di dalam teori Rawls, atau harus menjelaskan mengapa tidak (Nozick: 1974, h. 183).

Tanggapan-tanggapan atas pemikiran Rawls dalam A Theory of Justice tersebut datang dari berbagai kalangan, terutama dari para pemikir yang berada di barisan libertarian, feminis, pembela utilitarianisme, dan komunitarianisme neo-Aristotelian. Debat antara Rawls dan pendukungnya di satu sisi, serta pengkritiknya dari kalangan komunitarian neo-Aristotelian di lain sisi bahkan kemudian menjadi sangat terkenal sebagai “debat liberal-komunitarian” dalam percaturan filsafat kontemporer. Beberapa di antara filsuf terkenal yang melibatkan diri di dalam perdebatan ini adalah Rawls sendiri, Jurgen Habermas, Charles Taylor, Michael Sandel, dan Michael Walzer (Rasuanto: 2005, h. 26; Magnis-Susseno: 2005, h. 198-216).

Pertanyaannya adalah gagasan apa sebenarnya yang terkandung di dalam A Theory of Justice sehingga buku ini disebut-sebut sebagai salah satu buku yang paling berpengaruh di dalam filsafat politik dan filsafat moral kontemporer? Apa sebenarnya yang dimaksud Rawls dalam bukunya itu sebagai teori keadilan? Argumen-argumen apa yang Rawls pakai untuk mendukung teori keadilannya itu?

Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk itu, Pada bagian “Keadilan sebagai Fairness” dijelaskan tujuan utama Rawls merumuskan teori keadilannya. Selanjutnya, pada bagian “Posisi Asali” dijelaskan argumen-argumen Rawls untuk mendukung prinsip-prinsip keadilannya. Bagian “Prinsip-prinsip Keadilan” menjelaskan gagasan substantif Rawls tentang prinsip-prinsip untuk menata masyarakat modern yang tertata secara baik berdasarkan konsepsinya mengenai keadilan sebagai fairness. Kemudian, pada bagian “Tanggapan”, saya mencoba membuat refleksi kritis atas gagasan-gagasan Rawls. Tulisan ini diakhiri dengan sebuah catatan penutup yang berisi kesimpulan-kesimpulan. Baca entri selengkapnya »

Posted in Article | Dengan kaitkata: , , , , | 3 Comments »

DARI ‘FAKTA SOSIAL’ KE ‘PRAKTIK SOSIAL’: ANALISIS ATAS PERGESERAN PARADIGMA DALAM SOSIOLOGI

Posted by iqbalhasanuddin pada Februari 14, 2014

PENGANTAR

Kata ‘new’ (baru) dalam judul buku Anthony Giddens, New Rules of Sociological Method,[i] betul-betul menunjukan sesuatu yang baru dalam diskursus metode sosiologi kontemporer. Bagi Gidedens, sebagai salah satu pemikir sosial terkemuka masa kini, buku ini memang ditulis sebagai sebuah manifesto bagi sosiologi baru, sekaligus maklumat tentang krisis yang dialami oleh sosiologi lama, yang menifestonya ditulis oleh Emile Durkheim dalam The Rules of Sociological Method.[ii] Kebaruan dalam pemikiran sosial Giddens merupakan suatu petanda bagi munculnya suatu cara berpikir baru atau—meminjam istilah Thomas Kuhn—paradigma baru.[iii] Jika dikatakan bahwa ‘metode sosiologi’ yang dirumuskan oleh Durkheim adalah paradigm lama, sementara ‘metode sosiologi baru’ dari Giddens adalah paradigma baru, maka hal ini betul-betul menunjukan suatu proses pergeseran paradigma dalam sosiologi.

Sepanjang karirnya, Emile Durkheim terpanggil untuk melembagakan sosiologi sebagai satu disiplin akademis. Pada awal karirnya, Durkheim merasakan bahwa pendekatan filsafat tradisional sudah tidak relevan lagi dalam menjelaskan masalah-masalah sosial, karena pendekatan filsafat menurutnya cenderung bersifat abstrak dan spekulatif. Sebaliknya, dalam pandangan Durkheim, masalah-masalah sosial sejatinya dijelaskan secara lebih empiris dan objektif. Durkheim rupanya terinspirasi dengan keberhasilan ilmu-ilmu alam yang berhasil keluar dari dominasi filsafat untuk kemudian merumuskan objek (material maupun formal) kajiannya sendiri. Bagi Dukrheim, ilmu tentang masyarakat harus memiliki objek material dan formal yang berbeda dari filsafat, biologi dan bahkan psikologi. Dengan memiliki objek material dan formalnya sendiri, ilmu kemasyarakatan akan dianggap layak untuk menjadi satu disiplin akademis tersendiri.

Melalui berbagai upaya akademis yang dilakukan oleh Durkheim, sosiologi akhirnya berkembang menjadi ilmu yang memiliki kedudukan tersendiri di dunia ilmu pengetahuan. Bahkan, lebih dari itu, sosiologi Durkheimian kemudian meemiliki pengaruh dominan dalam ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Dalam hal ini, ‘metode sosiologi” yang dirumuskan oleh Durkheim kemudian menjadi ‘standar normal’ bagi ilmu-ilmu sosial moden dan kontemporer. Memang, sosiologi Weberian dan Marxian juga memiliki pengikut di dalam ilmu-ilmu sosial modern dan kontemporer, namun pengaruh keduanya tidak sekuat pengaruh Durkheim. Ilmuwan-ilmuwan sosial besar seperti Talcott Parsons dan Samuel Huntington bekerja dalam tradisi akademis yang ‘aturan-aturan metodis’-nya telah disusun oleh Durkheim.[iv]

Adalah Anthony Giddens—bersama dengan Jurgen Habermas[v] dan Pierre Bourdieu[vi]—yang menjadi pendobrak bagi paradigma sosiologi Durkhemian. Bagi Giddens, ‘aturan-aturan metode sosiologi’ yang dirumuskan Durkheim sudah tidak lagi memadai dalam menjelaskan berbagai gejala sosial yang ada. Karena itu, Giddens kemudian melakukan berbagai pengkajian teoritis untuk dapat merumuskan paradigma baru dalam sosiologi. Untuk itu, Giddens kemudian menulis ‘Aturan-aturan Baru Metode Sosiologi’ sebagai pengganti “Aturan-aturan Metode Sosiologi’ yang ditulis oleh Durkheim.

Pertanyaannya adalah: Apa isi dari paradigma lama dalam sosiologi, serta asumsi-asumsi apa yang menjadi pijakan dasarnya? Apa isi dari paradigma baru dalam sosiologi, serta asumsi-asumsi apa yang menjadi pijakan dasarnya? Kedua pertanyaan ini juga terkait dengan perbedaan di antara kedua paradigma sosiologi tersebut. Apakah pergeseran paradigma di dalam sosiologi ini ada kaitanya dengan perkembangan di dalam bidang pemikiran filosofis? Apa implikasi dari pergeseran paradigma dalam sosiologi tersebut bagi ilmu-ilmu sosial kontemporer pada umumnya?

Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk itu, tulisan ini ditulis dengan susunan sebagai berikut. Pada bagian “Pergeseran Paradigma”, dijelaskan pengertian ‘paradigma’ sebagaimana dimaksudkan oleh Thomas Kuhn, serta dipaparkan juga arti dari istilah pergeseran paradigma. Kemudian, bagian “Sosiologi Lama: Paradigma Fakta Sosial” berisi tentang paradigma sosiologi sebagaimana dirumuskan oleh Emile Durkheim yang akhirnya menjadi standar bagi sosiologi modern. Pada bagian “Sosiologi Baru: Paradigma Praktik Sosial”, dijelaskan upaya Giddens untuk merumuskan paradigma baru sosiologi untuk menggantikan sosiologi Durkheimian. Baca entri selengkapnya »

Posted in Article | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »